[ UIC 9.1 ] Sekelumit Tentang Ilmu Tafsir 08

TAFSIR DENGAN LOGIKA (AKAL)

Menafsirkan Al-Qur’an dengan logika semata hukumnya haram. Allah Ta’ala telah berfirman:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

“Janganlah kamu ucapkan sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati akan ditanya dari hal itu.” (QS. Al-Isra’ [17]: 36)

Dalam ayat lain Allah عزّوجلّ berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُواْ بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya Rabbku telah mengharamkan kejahatan yang lahir dan yang batin, dosa dan aniaya tanpa hak, dan Allah mengharamkan kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang Dia tidak menurunkan keterangan tentangnya, dan Allah haramkan kamu berkata tentang agama Allah tanpa ilmu.” (QS. Al-A’raf: 33)

Dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما , Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa yang berkata tentang Al-Qur’an tanpa ilmu, maka ia tetah menyiapkan tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi)

Dari keterangan ayat dari hadits di atas jelaslah bahwa menafsirkan Al-Qur’an dengan logika semata haram hukumnya. Para Salafus Shalih sangat keras melarang hal ini, Abu Bakar Ash-‘ Shiddiq رضي الله عنه pernah berkata:

“Bumi manakah tempat aku berpijak dan langit manakah tempat aku berlindung, bila aku berbicara tentang Al-Qur’an tanpa ilmu.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar dalam Jami’ Bayanil Ilmi Wa Fadlihi no. 1561 dan Ibnu Abi Syaibah no. 30,107).

Demikian pula Umar bin Khathab رضي الله عنه pernah ditanya tentang hakikat “abba” yang disebutkan dalam Al-Qur’an surat Abasa ayat 31. Beliau menjawab:

“Itulah pekerjaan memberatkan diri sendiri! Apa salahnya jika kamu tidak mengetahuinya!”

Ibnu Abi Mulaikah رحمه الله pernah menuturkan: Ibnu Abbas رضي الله عنهما pernah ditanya tentang tafsir sebuah ayat, namun beliau menolak menjawabnya. Sekiranya ia menjawabnya, niscaya kami akan menjawabnya.

Para Tabi’in pun bersikap demikian. Diriwayatkan dari Said bin Musayyib رحمه الله bahwa jika beliau ditanya tentang tafsir sebuah ayat. beiiau menjawab “kami tidak akan berkomentar tentang Al-Qur’an sedikitpun (tanpa ilmu).

Ubaidullah bin Umar رحمه الله mengungkapkan: “Aku telah bertemu dengan fuqaha Madinah, diantaranya Salim bin Abdullah, Al-Qasim bin Muhammad, Said bin Musayyib dani Nafi’ رحمهم الله, mereka menganggap menafsirkan Al-Qur’an adalah suatu pekerjaan yang besar (berat)”.

Dari penukilan di atas dapat kita ketahui bahwa Salafus Shalih melarang dengan keras menafsirkan Al-Qur’an dengan logika semata!.

  والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *