[ UIC 9.1 ] Sekelumit Tentang Ilmu Tafsir 07

RIWAYAT ISRAILIYAT

Yaitu hikayat-hikayat yang dibawakan oleh Ahlul Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Di dalam Al-Qur’an banyak disebutkan kisah-kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu secara global. Karena maksud pencantuman kisah-kisah tersebut adalah untuk mengambil ibrah (pelajaran) darinya. Tidak disebutkan secara mendetail tentang tarikh/waktu terjadinya, tempat, dan nama-nama pelaku kisah tersebut.

Di dalam Kitab Taurat dan Injil hal tersebut disebutkan secara mendetail. Namun yang menjadi masalah adalah Taurat dan Injil tersebut telah banyak diubah-ubuh oleh tangan-tangan manusia, sehingga tidak terjaga keautentikannya. Berbeda dengan Al-Qur’an yang telan dijamin oleh Allah عزّوجلّ kemurniannya. Ketika orang Yahudi berbondong-bondong masuk Islam, mereka masih membawa maklumat/pengetahuan lama mereka, khususnya yang berkaitan dengan sejarah Nabi dan umat terdahulu. Sehingga maklumat/pengetahuan tersebut diserap juga oleh sebagian kaum muslimin. Hikayat-hikayat tersebut kemudian dikenai dengan sebutan Israiliyat.

Beberapa sahabat, seperti Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Amr dan Abdullah bin Salam رضي الله عنهم juga menukil hikayat-hikayat israiliyat ini. Namun mereka membawakannya hanya sebagai penguat saja. Mereka tidak menganggapnya sebagai hujjah, terutama dalam masalah aqidah; Rasulullah صلي الله عليه وسلم juga tidak melarang membawakan hikayat-hikayat ahlul Kitab ini. Beliau bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ

Sampaikanlah ajaranku meskipun satu ayat, silakan kalian menukil Ahli Kitab. (HR. Bukhari)

Dari hadits di atas, para sahabat memahami bahwa menukil hikayat ahli Kitab dibolehkan, namun mereka tetap berhati-hati dalam menukilkannya. Sebab Rasulullah صلي الله عليه وسلم melarang kita mempercayai Secara mutlak hikayat-hikayat tersebut dan melarang menolaknya secara mutlak. Beliau صلي الله عليه وسلم bersabda:

لَا تُصَدِّقُوا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا

“Janganlah kamu benarkan Ahlu Kitab dan jangan pula kamu tolak. Namun katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan apa-apa yang diturunkan kepada kami.” (HR. Bukhari)

Oleh sebab itulah, para sahabat jarang menggunakan hikayat israiliyat dalam menafsirkan Al-Qur’an.

Penggunaan hikayat-hikayat israiliyat dalam menafsirkan Al-Qur’an mulai marak pada generasi tabi’in. Diantara para tabi’in yang sering memakai hikayat israiiiyat seperti Ka’ab al-Ahbar, Wahb bin Munabbih, ibnu-Juraij dan lain-lain رحمهم الله. Dari kedua hadits di atas dapat kita simpulkan bahwa: Hikayat Israiliyat tidak dapat dijadikan sebagai hujjah, baik dalam aqidah, ibadah ataupun muamalah, ia hanya sekedar maklumat tambahan untuk kisah-kisah yang disebutkan secara global di dalam Al-Qur’an, tanpa membenarkan atau menolaknya secara mutlak. Menukil hikayat ahli Kitab hukumnya dibolehkan selama tidak jelas-jelas bertentangan dengan aqidah dienul Islam. seperti mengenai aqidah trinitas, pelecehan para nabi atau sejenisnya…

  والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *