[ UIC 9.1 ] Sekelumit Tentang Ilmu Tafsir 06

LANGKAH-LANGKAH DALAM MENAFSIRKAN AL-QUR’AN

Jika ada yang bertanya tentang metode tafsir yang paling tepat? Maka jawabannya sebagai berikut:

 

MENAFSIRKAN AL-QUR’AN DENGAN AL-QUR’AN ITU SENDIRI

Metode tafsir yang paling tepat adalah menafsirkan al-Qur’an dengan Al-Qur’an itu sendiri; Sesuatu yang disebutkan secara global di dalam suatu ayat, boleh jadi telah dirinci dalam ayat yang lain. Sesuatu yang disebut secara ringkas dalam sebuah ayat, boleh jadi telah diceritakan panjang lebar dalam ayat yang lainnya. Contohnya kalimat (الظلم) kezhaliman” yang disebutkan dalam surat al-An’am ayat 82 yang berbunyi:

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. al-An’am [6]: 82)

Dalam surat Luqman ayat 13 Allah عزّوجلّ menjelaskan bahwa syirik termasuk kezhaliman yang sangat besar.

يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Hai anakku janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah kezhaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13)

Jelaslah bahwa yang dimaksud dengan tidak mencampuradukkan keimanan dengan kezhaliman yang disebutkan dalam surat Al-An’am tadi adalah tidak mencampur-adukkan dengan dosa syirik.

Dalam sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه disebutkan bahwa ketika turun ayat 82 surat al-Anam tersebut, para sahabat mengeluhkannya seraya berkata: “Siapakah diantara kita yang tidak mencampuradukkan keimanannya dengan kezhaliman?”. Lalu Rasulullah صلي الله عليه وسلم mengisyaratkan mereka kepada firman Allah dalam surat Luqman ayat 13 di atas tadi.

Contoh lainnya: Firman Allah Ta’ala dalam surat al-Fatihah:

اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ

“Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka.” (QS. Al-Fatihah [1]: 6)

Dalam surat an-Nisa Allah telah menerangkan siapa mereka [yang diberi nikmat], Allah عزّوجلّ berfirman:

وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah atas mereka, yaitu: Nabi-Nabi, para Shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 69)

 

MENAFSIRKAN AL-QUR’AN DENGAN HADITS YANG SHAHIH

Jika kita tidak menemukan ayat lain yang menerangkan maksudnya, maka kita melihat apakah ada hadits shahih dari Rasulullah صلي الله عليه وسلم yang menerangkannya! Sebab hadits Nabi صلي الله عليه وسلم adalah penjelas dari apa yang tertuang di dalam Al-Qur’an. Allah عزّوجلّ berfirman:

إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللّهُ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa-kebenaran supaya kamu mengadili diantara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu.” (QS.An- Nisa’ [4]: 105)

Dalam ayat lain Allah عزّوجلّ berfirman:

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ

“Dan Kami turunkan kepada kamu at-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS.An-Nahl [16]: 44)

Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

أَلَا إِنِّي أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ

“Ketahuilah bahwa telah dianugrahkan kepadaku al-Our’an dan yang semisalnya bersamanya.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Imam Asy-Syafi’i رحمه الله berkata: “Semua hukum yang ditetapkan Rasulullah صلي الله عليه وسلم pasti bersumber dari paham beliau terhadap Al-Qur’an”

Di antara contoh nyata tentang ini adalah tafsir shalatul wustha (صَلاَةُ الْوُسْطَي) yang disebutkan dalam firman Allah عزّوجلّ surat al-Baqarah ayat 238. Rasulullah صلي الله عليه وسلم menjelaskan bahwa yang dimaksud shalatul wustha adalah shalat ashar.

 

MENAFSIRKAN AL-QUR’AN DENGAN TAFSIR SAHABAT

Jika kita tidak menemukan hadits Nabi صلي الله عليه وسلم yang menafsirkannya, maka kita melihat apakah ada sahabat Nabi صلي الله عليه وسلم yang menafsirkannya? Jika ada maka kita harus meruju’ kepadanya. Mereka (para sahabat) tentu lebih paham dan lebih mengetahui maknanya, karena mereka secara langsung telah menyaksikan penerapannya di zaman Rasulullah صلي الله عليه وسلم. Mereka juga mengetahui asbahun-nuzul (sebab turunnya) ayat-ayat tersebut. Terutama para sahabat yang banyak belajar secara langsung dari Rasulullah صلي الله عليه وسلم seperti Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali رضي الله عنهم), Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه dan Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما yang telah dido’akan Rasulullah صلي الله عليه وسلم:

اللَّهُمَّ فَقِّهُّ فِي الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

“Ya Allah ajarkanlah kepadanya (Ibnu Abbas) ilmu tafsir dan anugrahkanlah kepadanya pemahaman di dalam agama.”

Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه pernah berkata:

Demi Dzat yang tiada Sesembahan yang diibadahi dengan benar kecuali Dia, Tidaklah turun satu ayat pun kecuali aku mesti mengetahui, tentang masalah apa ayat tersebut turun dan kapan ayat tersebut turun. Seandainya aku mengetahui ada orang lain yang lebih alim daripadaku tentang Kitabullah, di tempat yang masih mungkin kujangkau dengan kendaraan-ku, niscaya aku akan mendatanginya.”

Beliau juga berkata: Sesungguhnya seseorang di antara kami (para sahabat), jika tengah mempelajari sepuluh ayat, tidak akan melanjutkan kepada ayat berikutnya sehingga mengetahui maknanya dan mengamalkannya.

Contoh tafsir Al-Qur’an dengan ucapan sahabat:

Kata “al-fitnah” di dalam firman Allah surat al-Baqarah ayat 191 dan 193 yang berbunyi:

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ

”Fitnah lebih jahat daripada pembunuhan” Dan firman Allah عزّوجلّ:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ

“Dan perangilah mereka, itu hingga tidak ada lagi fitnah”

Maksudnya adalah syirik, demikian penuturan Ibnu Abbas رضي الله عنهما.

Contoh lain adalah kata “Nikmat Allah” pada surat Ibrahim ayat 28 yang berbunyi:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ بَدَّلُواْ نِعْمَةَ اللّهِ كُفْراً وَأَحَلُّواْ قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِ

“Tidaklah engkau, lihat orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan kekufuran dan menjerumuskan kaum mereka dalam kebinasaan?” (QS. Ibrahim: 28)

Ibnu Abbas رضي الله عنهما menafsirkan: “nikmat Allah” dengan nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم.

 

MENAFSIRKAN AL-QUR’AN DENGAN TAFSIR TABIIN

Jika tidak kita temukan seorang sahabat pun menafsirkannya maka kita beralih kepada tafsir para tabi’in seperti Mujahid bin Jabr, Said bin Jubeir, Abul Aliyah, Ar-Rabi bin Anas dan lain-lain رحمهم الله.

Tafsir para tabiin ini lebih di dahulukan dan tafsir lainnya karena mereka menimba ilmu tafsir langsung dari para sahabat. Muhammad bin ishaq menceritakan dari Aban bin Shalih dari Mujahid رحمه الله ia berkata;

“Aku mempelajari tafsir dan ibnu Abbas رضي الله عنهما sebanyak tiga kali dari awal-sampai akhir. Setiap ayat pasti aku tanyakan maknanya kepada beliau”. Ia juga pernah berkata: “Tidaklah ada satu ayatpun kecuali aku telah mengetahui suatu ilmu tentangnya.”

Dalam kesempatan lain Ibnu Abu Mulaikah رحمه الله menuturkan: “Aku pernah melihat Mujahid رحمه الله bertanya kepada Ibnu Abbas رضي الله عنهما tentang tafsir Al-Qur’an dengan buku tulisannya, Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata kepadanya; “Tulislah!, maka jika engkau bertanya tentang tafsir dari Mujahid, maka cukuplah itu bagimu!”

Namun para ulama berbeda pendapat: tentang kedudukan tafsir Tabiin ini, apakah dapat dijadikan hujjah atau tidak, menurut Imam Syu’bah bin al-Hajjaj رحمه الله, tatsir tabi’in tidak dapat dijadikan sebagai hujjah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله menyatakan jika para tabiin sepakat atas sebuah tafsir ayat maka tidak syak lagi bahwa hal itu adalah hujjah, namun jika mereka berbeda pendapat maka pendapat seorang tabiin tidak dapat menghapus pendapat tabiin lainnya. Jika demikian keadaannya, maka kita harus melihat adakah indikasi-indikasi yang menguatkan salah satu dari tafsir tabiin tersebut. Yang jelas tafsir tabi’in tentu lebih dekat kepada kebenaran dari pada taisir-tafsir sesudah mereka, karena semakin dekat masa kenabian, demikian pula semakin dekat kepada kebenaran daripada yang lain yang datang sesudah mereka.

Contoh tafsir Tabiin:

Kata “Al-Hikmah” dalam firman Allah عزّوجلّ:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“Ya Rabb kami bangkitkanlah di antara mereka itu searang Rasul dari kaum mereka, yang membacakan kepada mereka firman-firman-Mu, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah.” (Al-Baqarah [2]: 129)

Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, Muqatil, Abu Malik dan Tabiin lainnya رحمهم الله menafsirkan kata “al-Hikmah” dengan “as-Sunnah”. Dan masih banyak lagi contoh lainnya yang dapat kita temui dalam buku-buku tafsir seperti tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Jarir Ath-Thabari, Al-Baqhawi رحمهم الله dan lain lain.

  والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *