[ UIC 9.1 ] Sekelumit Tentang Ilmu Tafsir 04

LARANGAN MENGKHATAMKAN AL-QUR’AN KURANG DARI TIGA HARI

Demikian juga, Rasulullah صلي الله عليه وسلم melarang seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari, sebab cara seperti itu akan menghilangkan makna yang dibacanya, ayat demi ayat yang dibaca akan berlalu begitu saja tanpa ada faedah yang berarti. Dalam sebuah hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ لَمْ يَفْقَهْهُ

“Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an kurang dari tiga hari, dia tidak akan memahaminya.” [HR. Ahmad]

Para sahabat sendiri belajar Al-Qur’an dari Rasulullah صلي الله عليه وسلم bertahun-tahun lamanya. Mereka mempelajari dan mendalaminya ayat demi ayat.

Abu Abdir-Rahman As-Sulami menuturkan kepada kita: “Orang-orang yang mengajari kami Al-Qur’an seperti Utsman bin Affan رضي الله عنه dan Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه telah menceritakan kepada kami bahwa apabila mereka belajar Al-Qur’an dari Nabi صلي الله عليه وسلم sebanyak sepuluh ayat, mereka tidak akan melampauinya sehingga mereka menguak ilmu yang terkandung di dalamnya dan mengamalkannya. Mereka berkata; “Kami mempelajari Al-Qur’an, menguak ilmu yang terkandung di dalamnya sekaligus mengamalkannya!” Oleh karena itu, mereka membutuhkan waktu yang panjang hanya untuk menghafal satu surat saja.

Anas bin Malik رضي الله عنه menuturkan: “Di tengah-tengah kami, orang yang dapat menghafal surat al-Baqarah dan Ali-Imran amatlah mulia kedudukannya!”

Lantaran mereka menghafalkannya sekaligus memahami dan mengamalkannya.

Ibnu Umar رضي الله عنهما sendiri membutuhkan waktu bertahun-tahun -ada yang mengatakan delapan tahun-hanya untuk menghafal surat al-Baqarah, Sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Malik dalam Muwaththa’nya.

Semua itu menunjukkan bahwa mereka membaca dan menghafal Al-Qur’an dengan mentadabburinya.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak mentadabburkan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci ?” (QS. Muhammad [47]: 24)

Sungguh suatu pemandangan yang kontradiktif, seorang qari atau qari’ah yang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan syahdu, namun pada saat yang bersamaan mereka justru melanggarnya. Sungguh sangat berbeda jauh dengan apa yang diterapkan para sahabat Nabi صلي الله عليه وسلم.

Pada ebook ini kami akan mengupas sekelumit tentang metode yang benar dalam memahami ai-Qur’an. Mudah-mudahan tulisan kami dapat bermanfaat bagi kaum muslimin dalam memahami Kitabullah dan sekaligus meningkatkan kwalitas amal mereka, serta menjadi motivasi bagi segenap kaum muslimin untuk mentadabburkan Kalamullah yang tidak ada kebatilan di dalamnya, baik dari depan maupun dari belakang.

  والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *