[ UIC 14 ] – Tazkiyatun Nufus 370-2

Bab 370 – 2 –  …… bersambung dari Bab 370

1809 Dari Anas r.a. pula bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Yang mengikuti Dajjal dari golongan kaum Yahudi Ashbihan itu ada sebanyak tujuh puluh ribu orang. Mereka itu mengenakan pakaian kependetaan.” (Riwayat Muslim)

1810. Dari Ummu Syarik radhiallahu ‘anha bahawasanya ia mendengar Nabi s.a.w. bersabda: “Nescayalah sekalian manusia itu sama melarikan diri dari gangguan Dajjal iaitu ke gunung-gunung.” (Riwayat Muslim)

1811. Dari Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada suatu peristiwa pun antara jarak waktu semenjak Allah menciptakan Adam sampai datangnya hari kiamat nanti, yang lebih besar daripada perkara Dajjal.” (Riwayat Muslim)

1812. Dari Abu Said al-Khudri r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya: “Dajjal keluar lalu ada seseorang dari golongan kaum mu’minin, ia ditemui oleh beberapa orang penyelidik yakni para penyelidik dari Dajjal. Mereka berkata kepada orang itu: “Ke mana engkau bersengaja pergi?” la menjawab: “Saya sengaja akan pergi ke tempat orang yang keluar – yakni yang baru muncul dan yang dimaksudkan ialah Dajjal.” Mereka berkata: “Adakah engkau tidak beriman dengan Tuhan kita.” la menjawab: “Tuhan kita tidak samar-samar lagi sifat-sifat keagungannya – sedangkan Dajjal itu tampaknya saja menunjukkan kedustaannya.” Orang-orang itu sama berkata: “Bunuhlah ia.” Sebahagian orang berkata kepada yang lainnya: “Bukankah engkau semua telah dilarang oleh Tuhanmu kalau membunuh seseorang tanpa memperoleh persetujuannya.” Mereka pun pergilah dengan membawa orang itu ke Dajjal.

Setelah Dajjal dilihat oleh orang mu’min itu, lalu orang mu’min tadi berkata: “Hai sekalian manusia, sesungguhnya inilah Dajjal yang disebut-sebutkan oleh Rasulullah s.a.w. Dajjal memerintah pengikut-pengikutnya menangkap orang mu’min itu lalu ia ditelentangkan pada perutnya. Dajjal berkata: “Ambillah ia lalu lukailah – kepala dan mukanya.” Seterusnya ia diberi pukulan bertubi-tubi pada punggung serta perutnya. Dajjal berkata: “Adakah engkau tidak suka beriman kepadaku?” Orang mu’min itu berkata: “Engkau adalah al-Masih maha pendusta.” la diperintah menghadap kemudian digergajilah ia dengan gergaji dari pertengahan tubuhnya, iaitu antara kedua kakinya – maksudnya dibelah dua. Dajjal lalu berjalan antara dua potongan tubuh itu, kemudian berkata: “Berdirilah.” Orang mu’min tadi terus berdiri lurus-lurus, kemudian Dajjal berkata padanya. “Adakah engkau tidak suka beriman kepadaku.” la berkata: “Saya tidak bertambah melainkan kewas-padaan dalam menilai siapa sebenarnya engkau itu.” Selanjutnya orang mu’min itu berkata: “Hai sekalian manusia, janganlah ia sampai dapat berbuat sedemikian tadi kepada seseorang pun dari para manusia, setelah saya sendiri mengalaminya.” la diambil lagi oleh Dajjal untuk disembelih. Kemudian Allah membuat tabir tembaga yang terletak antara leher sampai ke tengkuknya, maka tidak ada jalan bagi Dajjal untuk dapat membunuhnya. Seterusnya Dajjal lalu mengambil orang tadi, iaitu kedua tangan serta kedua kakinya, lalu melemparkannya. Orang-orang sama mengira bahawa hanyasanya orang itu dilemparkan olehnya ke neraka, tetapi se-benarnya ia dimasukkan dalam syurga.” Setelah itu Rasulullah s.a.w. bersabda: “Orang itulah sebesar-besar para manusia dalam hal kesyahidannya – yakni kematian syahidnya – di sisi Allah yang menguasai semesta alam ini.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim. Imam Bukhari juga meriwayat-kan sebahagiannya dengan huraian yang semakna dengan di atas itu. Almasalihu iaitu para pengintai atau penyelidik.

1813. Dari al-Mughirah bin Syu’bah r.a., katanya: “Tiada seorang pun yang lebih banyak pertanyaannya mengenai hal Dajjal daripada saya sendiri. Sesungguhnya Dajjal itu tidak akan membahayakan dirimu.” Saya berkata: “Orang-orang sama berkata bahawa Dajjal itu mempunyai segunung tompokan roti dan sungai air.” Beliau s.a.w. bersabda: “Hal itu adalah lebih mudah bagi Allah daripada yang dapat dilakukan oleh Dajjal.” (Muttafaq ‘alaih)

1814. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada seorang Nabi pun yang diutus oleh Allah, melainkan ia benar-benar memberikan peringatan kepada ummatnya tentang makhluk yang buta sebelah matanya serta maha pendusta. Ingatlah sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah matanya dan sesungguhnya Tuhanmu ‘Azza wa jalla semua itu tidaklah buta sebelah mata seperti Dajjal. Di antara kedua matanya itu tertulislah huruf-huruf kaf, fa’, ra’ – yakni kafir.” (Muttafaq ‘alaih)

1815. Dari Buraidah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidakkah engkau semua suka saya beritahu perihal Dajjal,iaitu yang belum pernah diberitahukan oleh seseorang Nabi pun kepada kaumnya. Sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah matanya dan sesungguhnya ia datang dengan sesuatu sebagai perumpamaan syurga dan neraka. Maka yang ia katakan bahawa itu adalah syurga, sebenarnya adalah neraka.” (Muttafaq ‘alaih)

1816. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahawasanya Rasulullah s.a.w. menyebut-nyebutkan Dajjal di hadapan orang banyak, lalu berkata: “Sesungguhnya Allah itu tidak buta sebelah matanya. Ingatlah bahawa sesungguhnya al-Masih Dajjal itu buta sebelah matanya yang sebahagian kanan, seolah-olah matanya itu adalah sebuah biji anggur yang menonjol.” (Muttafaq ‘alaih)

1817. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidaklah akan terjadi hari kiamat, sehingga kaum Muslimin sama memerangi kaum Yahudi dan sehingga kaum Yahudi itu bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon itu berkata: “Hai orang Islam, inilah orang Yahudi ada di belakang saya. Ke marilah, lalu bunuhlah ia,” kecuali pohon gharqad – semacam pohon yang berduri dan tumbuh di Baitul Maqdis, kerana sesungguhnya pohon ini adalah dari pohon kaum Yahudi – dan oleh sebab itu suka melindunginya.” (Muttafaq’alaih)

1818. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaanNya, dunia ini tidak akan lenyap – yakni timbul hari kiamat, sehingga seseorang lelaki berjalan melalui makam, lalu ia mundar-mandir di situ, kemudian berkata: “Aduhai diriku, alangkah baiknya kalau saya yang menempati kubur ini.” la mengharap sedemikian itu bukan kerana tertekan oleh urusan agamanya. Tidak ada lain yang menyebabkan ia berkata sedemikian tadi, kecuali kerana adanya bencana duniawiyah yang menimpa dirinya.” (Muttafaq ‘alaih)

1819. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak akan terjadi hari kiamat, sehingga sungai Furat itu terbuka, nampak tompokan gunung emas – kerana airnya telah kering – yang diperebutkan sehingga terjadi peperangan, kemudian terbunuhlah dalam berebutan itu dari setiap seratus tentera ada sembilan puluh sembilan orang, sehingga setiap orang yang mengikuti pertempuran itu berkata: “Barangkali saja, semogalah saya yang selamat – yakni termasuk satu dari seratus tadi.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Hampir sekali sungai Furat itu terbuka lalu menampakkan simpanan gudang emasnya, maka barangsiapa yang hadhir di situ, janganlah sampai mengambil sesuatu pun dari harta itu.” (Muttafaq ‘alaih)

1820. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Orang-orang sama meninggalkan Madinah dalam sebaik-baiknya keadaan yang pernah ada dan tidak ada yang mendiami itu melainkan binatang ‘Awafi (yang dimaksudkan dengan binatang ‘Awafi yakni burung dari golongan binatang buas serta burung). Ada pun manusia yang terakhir sekali dikumpulkan ialah dua orang penggembala dari suku Mizainah yang keduanya itu hendak menuju ke Madinah. Keduanya berteriak-teriak dengan menggembala kambing. Tiba-tiba Madinah ditemukannya penuh binatang buas belaka – sebab penghuninya sudah habis sama sekali. Setelah keduanya sampai di Tsaniyyatul Wada’ lalu tersungkurlah pada mukanya.” (Muttafaq ‘alaih)

1821. Dari Abu Said al-Khudri r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Ada seorang khalifah dari beberapa khalifah yang memerintah engkau semua pada akhir zaman nanti, ia menyebar-nyebarkan harta dan sama sekali tidak menghitung-hitung berapa banyaknya.” (Riwayat Muslim)

1822. Dari Abu Musa r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Nescayalah akan datang pada sekalian manusia suatu zaman yang seseorang itu berkeliling dengan membawa harta yang akan disedekahkan berupa emas, tetapi ia tidak menemukan seseorang-pun yang suka mengambil sedekah itu daripadanya. Juga akan datanglah suatu zaman yang di situ seorang lelaki dapat dilihat oleh orang banyak, ia diikuti oleh empat puluh orang perempuan yang semua ini menggantungkan nasibnya pada lelaki tersebut. lni disebabkan kerana sedikitnya kaum lelaki dan banyaknya kaum wanita. (Riwayat Muslim)

1823. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Ada seorang lelaki membeli sebidang tanah dari lelaki lain, kemudian orang yang membeli sebidang tanah tadi menemukan sebuah kendil yang di dalamnya terdapat emas dalam tanah itu. Orang yang membeli tanah itu berkata kepada penjualnya: “Ambillah emasmu, sebab hanyasanya yang saya beli daripadamu itu adalah tanahnya saja dan saya tidak merasa membeli emasnya.” Tetapi orang yang mempunyai tanah-yakni penjualnya- berkata: “Hanya-sanya yang saya jual kepadamu itu adalah tanah beserta apa yang ada di dalamnya – jadi termasuk emas itu pula.” Keduanya berselisih lalu meminta hukum kepada seseorang lain. Kemudian orang yang dimintai pertimbangan hukum ini berkata: “Apakah salah seorang dari engkau berdua ini ada yang mempunyai anak lelaki?” Seorang di antara keduanya berkata: “Saya mempunyai seorang anak lelaki. Yang seorang lagi berkata: “Saya mempunyai seorang anak perempuan.” Orang tadi lalu berkata: “Kahwinkan sajalah anak lelaki dengan anak perempuan itu dan belanjakanlah untuk kepentingan kedua anak itu dari emas ini dan bersedekahlah engkau berdua dengan harta itu.” (Muttafaq ‘alaih)

1824. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya ia mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ada dua orang wanita yang disertai oleh anaknya masing-masing. Lalu datanglah seekor serigala, kemudian serigala ini pergi membawa anak salah seorang dari keduanya itu. Yang seorang berkata kepada kawannya: “Hanyasanya serigala tadi pergi dengan membawa anakmu,” sedang lainnya berkata: “Hanyasanya yang dibawa pergi olehnya tadi adalah anakmu.” Keduanya meminta keputusan hukum kepada Nabi Dawud a.s., lalu memutuskan untuk diberikan kepada yang tertua di antara kedua wanita tadi. Keduanya keluar untuk meminta keputusan hukum kepada Nabi Sulaiman bin Dawud a.s., lalu keduanya memberitahukan hal- ihwalnya. Sulaiman berkata: “Bawalah ke mari pisau itu, agar saya dapat membelahnya untuk dibahagikan kepada keduanya.” Tiba-tiba yang kecil – yakni yang muda – di antara kedua wanita itu berkata: “Jangan anda kerjakan itu, semoga Allah memberikan kerahmatan kepada anda. Memang itu adalah anak sahabatku ini.” Tetapi Sulaiman a.s. lalu memutuskan bahawa anak itu adalah milik yang muda.” (Muttafaq ‘alaih)

1825. Dari Mirdas al-Aslami r.a., katanya: “Nabi s.a.w. bersabda: “Orang-orang yang shalih itu pergi – yakni habis kerana meninggal dunia, seangkatan demi seangkatan dan akhirnya tertinggallah sisa-sisa yang buruk dari ummat manusia itu bagaikan hampas buah sya’ir atau seperti sisa-sisa kurma – yakni tinggal yang buruk-buruk setelah dipilih-pilih waktu memakannya. Allah tidak menghargai sedikitpun nilai mereka ini.” (Riwayat Bukhari)

1826. Dari Rifa’ah bin Rafi’ az-Zuraqiy r.a., katanya: “Jibril datang kepada Nabi s.a.w., lalu berkata: “Anda masukkan golongan apakah para ahli Badar – yakni orang-orang yang mengikuti peperangan Badar – di kalangan anda sekalian – yakni kaum Muslimin?” Beliau s.a.w. bersabda: “Mereka termasuk golongan seutama-utama kaum Muslimin.” Atau semakna dengan itulah yang disabdakan oleh Nabi s.a.w. itu. Kemudian Jibril berkata: “Begitu pulalah yang menyaksikan perang Badar dari golongan malaikat.” (Riwayat Bukhari)

1827. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: ”Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jikalau Allah Ta’ala menurunkan siksa kepada sesuatu kaum, maka siksa itu mengenai semua orang yang termasuk dalam kalangan kaum itu, kemudian mereka dibangkitkan – diba’ats pada hari kiamat – menurut masing-masing keniatannya.” (Muttafaq ‘alaih)

1828. Dari Jabir r.a., katanya: “Ada sesuatu batang pohon kurma yang digunakan oleh Nabi s.a.w. untuk berdiri (yakni di waktu berkhutbah). Setelah mimbar sudah diletakkan – sebagai ganti batang pohon tersebut dan batang itu tidak digunakan lagi, kita semua mendengar dari arah batang tadi seperti suara unta yang sakit kerana akan mengeluarkan kandungannya, sehingga Nabi s.a.w. turun lalu meletakkan tangannya di atas batang tersebut, kemudian berdiamlah ia.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Ketika datang hari Jum’at, Nabi s.a.w. duduk di atas mimbar lalu berteriaklah batang pohon yang biasa digunakan oleh Nabi s.a.w. untuk berdiri waktu berkhutbah, sehingga hampir-hampir ia belah.” Dalam riwayat lain lagi disebutkan: “Batang pohon kurma itu lalu menjerit bagaikan jeritan anak kecil, lalu Nabi s.a.w. turun sehingga dapat memegangnya kemudian memeluknya. la merintih bagaikan rintihan anak kecil yang perlu didiamkan, sehingga akhirnya tenanglah ia.” Nabi s.a.w. lalu bersabda: la menangis kerana mendengar peringatan – dalam khutbah itu.” (Riwayat Bukhari)

1829. Dari Abu Tsa’labah al-Khusyani iaitu Jurtsum bin Nasyir r.a. dari Rasulullah s.a.w., sabdanya: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu mewajibkan kepadamu semua akan beberapa kewajiban, maka janganlah engkau semua menyia-nyiakannya dan memberikan batas akan beberapa ketentuan batas, maka janganlah engkau semua melampauinya, juga mengharamkan beberapa hal, maka janganlah engkau semua melanggarnya dan mendiamkan – yakni tidak menyebutkan akan halal atau haramnya, beberapa hal kerana belas kasihan padamu, bukannya yang sedemikian itu kerana kelupaan, maka dari itu janganlah engkau semua mempertajam pembahasannya mengenai hal-hal itu.” Hadis hasan yang diriwayatkan oleh Imam Daraquthni dan lain-lainnya.

1830. Dari Abdullah bin Abu Aufa radhiallahu ‘anhuma, kata-nya: “Kita semua berperang bersama Rasulullah s.a.w. sebanyak tujuh kali peperangan dan kita makan belalang.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Kita semua bersama Nabi s.a.w. juga, sama makan belalang.” (Muttafaq ‘alaih)

1831. Dari Abu Hurairah r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Janganlah seseorang mu’min itu disengat dari lubang satu sampai dua kali.” Maksudnya janganlah tertipu dari satu orang sampai dua kali. (Muttafaq ‘alaih)

1832. Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ada tiga macam orang yang tidak diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat – dengan pembicaraan yang menunjukkan keredhaan, tidak pula mereka itu dilihat olehNya – dengan pandangan kerah-matan -dan mereka akan memperoleh siksa yang pedih sekali, iaitu: Seseorang yang mempunyai kelebihan air di suatu padang tandus, lalu ia menolak memberikannya itu kepada ibnus sabil -yakni orang yang sedang mengadakan perjalanan. Juga seseorang yang menjual kepada seseorang dengan sesuatu benda dagangan sesudah shalat Ashar, lalu ia bersumpah dengan menyebutkan nama Allah bahawa ia nescayalah mengambil dagangan

1833. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Jarak waktu antara dua tiupan sangkakala itu adalah selama empat puluh.” Orang-orang sama bertanya kepada Abu Hurairah: “Apakah empat puluh hari?” Abu Hurairah menjawab: “Saya tidak dapat menentukan.” Mereka bertanya lagi: “Apakah empat puluh tahun?” la menjawab: “Saya tidak dapat menentukan.” Mereka sekali lagi bertanya: “Apakah empat puluh bulan?” la menjawab: “Saya tidak dapat menentukan.” Selanjutnya Nabi s.a.w. bersabda: “Semua anggota tubuh manusia itu rosak binasa, kecuali tulang punggung yang terbawah sekali – atau ‘ajbadz dzanab. Di situlah nanti tumbuhnya kejadian manusia – setelah diba’ats dari kubur. Kemudian Allah menurunkan air dari langit, lalu tumbuhlah para manusia itu bagaikan tumbuhnya sayur-mayur.” (Muttafaq ‘alaih)

1834. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Pada suatu ketika Nabi s.a.w. dalam sesuatu majlis, sedang memberikan pembicaraan kepada kaum – yakni orang banyak, lalu datanglah seorang A’rab -iaitu penduduk negeri Arab bahagian pedalaman, kemudian orang ini bertanya: “Bilakah tibanya hari kiamat.” Rasulullah s.a.w. terus saja dalam berbicara itu, sehingga sementara kaum ada yang berkata: “Beliau s.a.w. sebenarnya mendengar ucapan orang itu, tetapi beliau benci kepada isi pembicaraannya.” Sementara kaum lagi berkata: “Ah, beliau s.a.w. tidak mendengarnya.” Selanjutnya setelah beliau s.a.w. selesai pembicaraannya lalu bertanya: “Manakah orang yang menanyakan perihal hari kiamat tadi?” Orang itu berkata: “Ya, sayalah itu ya Rasulullah.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Iaitu apabila amanat sudah disia-siakan, maka nantikan sajalah tibanya hari kiamat.” Orang itu bertanya lagi: “Bagaimanakah cara menyia-nyiakan amanat itu?” Beliau s.a.w. menjawab: “Jikalau sesuatu perkara sudah diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka nantikanlah tibanya hari kiamat itu – ada yang menafsiri: Maka nantikanlah saat kehancurannya sesuatu perkara yang diserahkan tadi.” (Riwayat Bukhari)

1835. Dari Abu Hurairah r.a. pula, bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Para imam – yakni pemimpin-pemimpin – itu bersembahyang sebagai imammu semua. Maka jikalau amalan mereka itu benar, maka pahalanya adalah untukmu – dan untuk mereka pula, tetapi jikalau amalan mereka itu salah, maka pahalanya adalah untukmu semua dan dosanya atas mereka sendiri.” (Riwayat Bukhari)

1836. Dari Abu Hurairah r.a. dalam menafsiri ayat yang ertinya: “Adalah engkau semua itu sebaik-baik ummat yang dikeluarkan untuk para manusia,” ia berkata: “Sebaik-baik para manusia untuk ummat manusia ialah mereka yang datang membawa para manusia itu dalam keadaan tertawan, dengan diikatkan rantai-rantai pada leher mereka, sehingga orang-orang yang tertawan itu dengan senang hati masuk dalam Agama Islam.”

1837. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Allah ‘Azzawajalla merasa hairan dari sesuatu kaum yang sama masuk syurga dalam keadaan mereka itu terbelenggu dengan rantai-rantai.” Kedua Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Maknanya ialah bahawa mereka itu asalnya menjadi tawanan dalam peperangan, lalu diikat, tetapi kemudian mereka masuk Agama Islam dan akhirnya masuk syurga – sebab sampai matinya tetap sebagai seorang Muslim.

1838. Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Yang paling dicintai oleh Allah di antara segala sesuatu yang ada dalam negeri-negeri itu ialah masjid-masjidnya, sedang yang paling dibenci di antara segala sesuatu yang ada dalam negeri itu ialah pasar-pasarnya.” (Riwayat Muslim)

1839. Dari Salman al-Farisi r.a., dari salah satu ucapannya, ia berkata: “Janganlah engkau sekali-kali menjadi orang yang paling pertama kali masuk pasar, jikalau engkau dapat, juga janganlah menjadi orang yang paling akhir keluar daripadanya, sebab sesungguhnya pasar itu adalah tempat pergulatan syaitan – maksudnya tempat keburukan seperti menipu, mengicuh, sumpah palsu dan Iain-Iain – dan di pasar itu pulalah syaitan itu menegakkan benderanya.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim sedemikian. Imam al-Barqani meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Salman, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Janganlah engkau menjadi orang yang pertama kali masuk pasar dan jangan pula menjadi orang yang akhir sekali keluar dari pasar itu. Di pasar itulah syaitan bertelur dan menetaskan anaknya,” – ini adalah sebagai kiasan bahawa pasar itulah tempat berbagai kemaksiatan dilakukan.

1840. Dari Ashim al-Ahwal dari Abdullah bin Sarjis r.a., katanya: “Saya berkata kepada Rasulullah s.a.w.: “Ya Rasulullah, semoga Allah memberikan pengampunan kepada Tuan.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Juga kepadamu – semoga Allah memberikan pengampunan.” Ashim berkata: “Saya berkata kepada Abdullah bin Sarjis: “Apakah Rasulullah s.a.w. memohonkan pengampunan untukmu?” la menjawab: “Ya dan juga untukmu.” Kemudian ia membacakan ayat ini – yang ertinya: “Dan mohonlah pengampunan – kepada Allah – untuk melebur dosamu dan juga untuk sekalian orang-orang mu’min, baik lelaki atau pun perempuan.” (Riwayat Muslim)

1841. Dari Abu Mas’ud al-Anshari r.a., katanya: “Nabi s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya sebahagian dari apa-apa yang ditemukan oleh para manusia dari ucapan kenubuwatan yang pertama ialah: “Jikalau engkau tidak mempunyai rasa malu – untuk mengerjakan keburukan, maka berbuatlah menurut kehendakmu.” (Riwayat Bukhari)

1842. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Nabi s.a.w. bersabda: “Pertama-tama persoalan yang diputuskan di antara sekalian manusia pada hari kiamat ialah dalam soal darah – yakni bunuh membunuh.” (Muttafaq ‘alaih)

1843. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Malaikat itu diciptakan dari nur – yakni cahaya – dan jin diciptakan dari api yang menyala-nyala, sedang Adam diciptakan dari apa yang sudah diterangkan kepadamu semua – yakni dari tanah.” (Riwayat Muslim)

1844. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha pula, katanya: “Budi pekerti Nabi s.a.w. itu adalah sesuai dengan ajaran al-Quran.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam serangkaian Hadis yang panjang.

1845. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang ingin bertemu Allah, maka Allah juga ingin bertemu dengannya dan barangsiapa yang tidak senang untuk bertemu dengan Allah, maka Allah juga tidak senang untuk bertemu dengannya.” Saya lalu berkata: “Ya Rasulullah, apakah ertinya tidak senang untuk bertemu dengan Allah itu ialah benci kepada kematian. Kalau begitu kita semua pun benci akan kematian itu?” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Bukan demikian yang dimaksudkan. Tetapi seseorang mu’min itu apabila diberi kegembiraan dengan kerahmatan Allah serta keredhaanNya, juga syurgaNya, maka ia ingin sekali bertemu dengan Allah, maka itu Allah juga ingin bertemu dengannya, sedang sesungguhnya orang kafir itu apabila diberi ancaman perihal siksa-nya Allah dan kemurkaanNya, maka ia tidak senang untuk bertemu dengan Allah itu dan oleh sebab itu Allah juga tidak senang untuk bertemu dengannya.” (Riwayat Muslim)

1846. Dari Ummul mu’minin Shafiyah binti Huyay radhiallahu ‘anha, katanya: “Nabi s.a.w. pada suatu saat beri’tikaf, lalu saya datang untuk menengoknya di waktu malam, lalu saya berbicara dengannya, kemudian saya berdiri untuk kembali ke rumah. Tiba- tiba beliau s.a.w. juga berdiri beserta saya untuk menghantarkan saya pulang. Selanjutnya ada dua orang lelaki dari kaum Anshar radhiallahu ‘anhuma berjalan melalui tempat itu. Setelah keduanya melihat Nabi s.a.w. lalu keduanya pun bercepat-cepat menyingkir. Nabi s.a.w. lalu bersabda: “Perlahan-lahanlah berjalan, hai saudara berdua. Ini adalah Shafiyah binti Huyay.” Keduanya lalu berkata:”Subhanallah, ya Rasulullah.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Sesungguhnya syaitan itu berjalan dalam tubuh anak Adam – yakni manusia – sebagaimana aliran darah. Sesungguhnya saya takut kalau-kalau dalam hatimu berdua itu timbul sesuatu yang jahat atau mengatakan sesuatu yang tidak baik.” (Muttafaq ‘alaih)

1847. Dari Abul Fadhl yaitu al-Abbas bin Abdul Muththalib r.a., katanya: “Saya menyaksikan pada hari peperangan Hunain bersama Rasulullah s.a.w. Saya dan Abu Sufyan bin al-Harits bin Abdul Muththalib senantiasa tetap mengawani Rasulullah s.a.w. itu. Jadi kita tidak pernah berpisah dengannya. Rasulullah s.a.w. menaiki seekor baghal – sebangsa keldai, miliknya sendiri yang putih warnanya. Setelah kaum Muslimin dan kaum musyrikin bertemu, lalu kaum Muslimin sama menyingkir ke belakang mengundurkan diri. Mulailah Rasulullah s.a.w. melarikan baghalnya menuju ke muka orang-orang kafir, sedang saya memegang kendali baghalnya, RasuluIlah s.a.w., yang saya tahan-tahanlah kendalinya itu agar tidak terlampau cepat larinya. Abu Sufyan memegang sanggurdi Rasulullah s.a.w.

Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “Hai Abbas, panggillah orang-orang yang mengikut Bai’atur Ridhwan di Samurah dulu.” Al-Abbas berkata dan ia adalah seorang lelaki yang keras sekali suaranya: “Saya berseru dengan sekeras-keras suara saya: “Mana orang-orang yang ikut berbai’at di Samurah dulu.” Maka demi Allah, seolah-olah penerimaan mereka ketika mendengar suara saya itu adalah bagaikan lembu yang menerima dengan senang hati akan anak-anaknya. Mereka berkata: “Ya labbaik, ya labbaik – ertinya: Kita akan datang.” Seterusnya mereka itu lalu berperang berhadap-hadapan dengan orang-orang kafir. Ada pun undangan yang disampaikan kepada kaum Anshar ialah mereka berkata: “Hai seluruh kaum Anshar, hai seluruh kaum Anshar.” Seterusnya terbataslah undangan itu kepada keluarga al-Harits bin al-Khazraj. Rasulullah s.a.w. yang di waktu itu sedang menaiki baghalnya melihat kepada jalannya peperangan itu sebagai seorang yang merasa terlampau lama saatnya pertempuran tadi. Kemudian beliau s.a.w. bersabda: “Inilah saatnya berkecamuknya peperangan yang sedahsyat-dahsyatnya.” Seterusnya Rasulullah s.a.w. lalu mengambil beberapa batu kerikil kemudian melemparkannya pada muka-muka kaum kafirin itu, terus berkata: “Hancur leburlah mereka semua demi Tuhannya Muhammad.” Saya mulai memperhatikan suasana-nya tiba-tiba peperangan itu berlangsung terus sebagaimana keadaannya yang saya saksikan itu. Tetapi demi Allah, tiada lain hanyalah lemparan Rasulullah s.a.w. dengan kerikil-kerikil itu – yang menyebabkan suasana berubah sama sekali. Akhirnya sedikit demi sedikit, tidak henti-hentinya saya melihat bahawa kekuatan mereka menjadi lemah dan perkara mereka pun membelakang – yakni bahawa mereka kalah dalam keadaan yang hina-dina.” (Riwayat Muslim)

Alwathis, arti asalnya ialah dapur api. Maknanya ialah bahawa peperangan itu berkecamuk dengan dahsyat sekali. Ucapannya: haddahum, dengan ha’ muhmalah, ertinya ialah kekuatan mereka.

1848. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Hai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu adalah Maha Baik, maka Allah tidak menerima kecuali yang baik-baik saja. Sesungguhnya Allah menyuruh kaum mu’minin sebagaimana yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah Ta’ala berfirman: “Hai sekalian para Rasul, makanlah engkau semua dari apa-apa yang baik – yakni halal bendanya dan halal pula cara mengusahakannya serta beramal shalihlah engkau semua.” (al-Mu’minun: 51).

Allah Ta’ala juga berfirman: “Hai sekalian orang yang beriman, makanlah engkau semua akan yang baik-baik – yakni halal bendanya dan halal pula cara mengusahakannya – dari apa-apa yang Kami rezekikan kepadamu semua.” Selanjutnya Rasulullah s.a.w. menyebutkan seseorang lelaki yang lama sekali menempuh perjalanan, keadaannya kusut masai, penuh debu. la mengangkatkan kedua tangannya ke langit sambil memohon: “Ya Tuhanku, ya Tuhanku,” tetapi yang dimakannya haram, yang diminumnya haram, juga dulunya diberi makanan yang haram – oleh kedua orang tuanya, maka bagaimanakah orang sedemikian itu dapat dikabulkan doanya.” (Riwayat Muslim)

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *