[ UIC 14 ] – Tazkiyatun Nufus 284

Bab 284 – Haramnya Menunda-nundanya Seorang Kaya Pada Sesuatu Hak Yang Diminta Oleh Orang Yang Berhak Memperolehinya

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kepadamu semua supaya engkau semua memberikan semua amanat itu kepada para ahlinya – yakni yang berhak menerima amanal-amanat itu.” (an-Nisa’: 58)

Allah Ta’ala juga berfirman:

“Tetapi jikalau yang seorang mempercayai kepada yang lainnya, maka hendaklah yang dipercaya itu memberikan – yakni mengem-balikan – barang yang diamanatkan padanya.” (al-Baqarah: 283)

1608. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Menunda-nundanya seseorang kaya – dalam memberikan pembayaran atau mengembalikan hutang – adalah suatu penganiayaan. Dan jikalau seseorang di antara engkau semua dihiwalahkan-dipertukarkan hutangnya -atas seseorang yang kaya, maka hendaknya suka dihiwalahkan itu.” (Muttafaq ‘alaih)

Makna utbi’a ialah dihiwalahkan atau dipertukarkan. Misalnya A mempunyai hutang pada B dan B mempunyai hutang pada C. Lalu B berkata kepada A: “Hutangmu kepadaku itu saya hiwalahkan kepada C. Jadi mengembalikannya juga kepada C sebanyak jumlah hutangmu kepadaku itu.”

A yang diminta demikian itu hendaklah suka menerima, sebab pokoknya ia berhutang dan wajib mengembalikan.

Jikalau hutang B kepada C lebih banyak daripada hutang A kepada B, tentulah sisanya itu tetap menjadi urusan antara B dan C saja, setelah sebahagian hutang itu dihiwalahkan kepada A.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *