[ UIC 14 ] – Tazkiyatun Nufus 262

Bab 262 – Memiliki Ketetapan Dalam Apa Yang Diucapkan Atau Apa Yang Diceritakan

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah engkau turut pada sesuatu yang engkau tidak mempunyai pengertian dalam hal itu.” (al-lsra’: 36)

Allah Ta’ala berfirman pula:

“Tidaklah seseorang itu mengucapkan sesuatu ucapan, melainkan di sisinya ada malaikat Raqib – pencatat kebaikan – dan ‘Atid – pencatat keburukan.” (Qaf:18)

1544. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Cukuplah seseorang itu dustanya apabila ia mengutarakan segala sesuatu yang didengar olehnya.” (Riwayat Muslim)

1545. Dari Samurah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang membicarakan sesuatu Hadis daripada saya – Nabi s.a.w., sedang ia mengetahui bahwa apa yang dibicarakan olehnya itu adalah dusta, maka ia adalah seseorang di antara golongan kaum pendusta.” (Riwayat Muslim)

1546. Dari Asma’ radhiallahu ‘anha bahwasanya ada seorang perempuan berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya saya ini mempunyai seorang madu, maka apakah kiranya saya memperoleh dosa jikalau saya berpura-pura kenyang dari suami saya itu selain yang ia berikan pada saya?” Nabi s.a.w bersabda; “Seseorang yang berpura-pura kenyang dengan sesuatu yang ia tidak diberi, maka ia adalah orang yang mengenakan dua macam pakaian kedustaan.” (Muttafaq ‘alaih)

Almutasyabbi’ ialah seseorang yang menampakkan dirinya sebagai seseorang yang kenyang, padahal ia sebenarnya bukan seorang yang kenyang. Adapun maknanya di sini ialah bahwa ia menampakkan bahwa ia memperoleh sesuatu keutamaan – seperti pemberian dan Iain-Iain, padahal sebenarnya ia tidak memperoleh itu.

Adapun labisu tsaubai zurin yaitu yang menanggung kedustaan, maksudnya ialah memalsukan dirinya sendiri di hadapan orang banyak bahwa ia seolah-olah mengenakan pakaian ahli zuhud, ahli ilmu pengetahuan atau seorang yang berharta banyak dengan tujuan agar orang-orang itu tertipu oleh apa yang dilihatnya, padahal sebenarnya ia tidak memiliki sifat sebagaimana yang di-perlihatkan kepada orang banyak itu. Ada pula ulama yang me-nerangkan bahwa maksudnya tidak sebagaimana yang diuraikan di atas.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *