[ UIC 14 ] – Tazkiyatun Nufus 260

Bab 260 – Haramnya Berdusta

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah engkau turut apa yang tidak engkau mengerti.” (al-lsra’: 36)

Allah Ta’ala juga berfirman:

“Tiadalah seseorang itu mengucapkan sesuatu perkataan, me-lainkan di sisinya ada malaikat Raqib – pencatat kebaikan – dan ‘Atid-pencatat keburukan.” (Qaf: 18)

1539. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Sesungguhnya kata benar itu menunjukkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan kepada syurga dan sesungguhnya seseorang itu niscayalah berkata benar, sehingga dicatatlah ia di sisi Allah sebagai seorang yang ahli berkata benar. Dan sesungguhnya kata dusta itu menunjukkan kepada kecurangan dan sesungguhnya kecurangan itu menunjukkan kepada neraka dan sesungguhnya seseorang itu niscayalah berkata dusta sehingga dicatatlah ia di sisi Allah sebagai seorang yang ahli berkata dusta.” (Muttafaq ‘alaih)

1540. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Empat macam perkara, barangsiapa dalam dirinya terdapat semua perkara itu, maka ia adalah seorang munafik murni dan barangsiapa yang dalam dirinya terdapat salah satu daripada empat perkara tadi, maka ia telah memiliki satu macam sifat dari kemunafikan, sehingga ia meninggalkan sifat itu, yaitu: apabila ia dipercaya berkhianat, apabila berkata berdusta, apabila berjanji bercidera – menyalahi janjinya – dan apabila bertengkar, jahat kelakuannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Huraian Hadis di atas sudah lampau bersama Hadis Abu Hurairah r.a. yang seumpama dengan itu dalam bab Menetapi perjanjian – lihat Hadis no. 187.

1541. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w. sabdanya:

“Barangsiapa yang mengaku-aku bermimpi melihat sesuatu yang sebenarnya tidak dilihatnya dalam impian, maka ia akan dipaksa untuk mengikatkan dua biji syair, tetapi ia tidak kuasa untuk melakukannya dan barangsiapa yang mencuri untuk mendengar pembicaraan sesuatu kaum, sedangkan mereka benci kalau hal itu didengar olehnya, maka dituangkanlah di kedua telinganya itu timah yang cair pada hari kiamat.

Juga barangsiapa yang menggambar sesuatu gambaran – yang mempunyai ruh dan berbentuk jisim, maka ia akan disiksa dan dipaksa untuk meniupkan ruh di dalam gambarannya itu, sedangkan ia tidak kuasa meniupkan ruh di dalamnya.” (Riwayat Bukhari)

Tahallama yaitu berkata bahwasanya ia bermimpi dalam tidurnya dan melihat demikian dan demikian, padahal sebenarnya ia berdusta – yakni tidak bermimpi sedemikian itu. Al-anuk dengan dibaca mad dan dhammahnya nun ringannya kaf – yakni tidak disyaddah – ialah timah yang dicairkan – yakni panas sekali.

1542. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Nabi s.a.w. bersabda:

“Sesangat-sangatnya dusta yang diperbuat ialah apabila seseorang itu mengaku bahwa kedua matanya melihat sesuatu – dalam impian – yang sebenarnya tidak dilihat – atau diimpikan.” (Riwayat Bukhari)

Maknanya ialah bahwa ia mengatakan: “Saya bermimpi melihat sesuatu,” padahal tidak dilihatnya – yakni tidak diimpikannya.

1543. Dari Samurah bin Jundub r.a. katanya: “Rasulullah s.a.w. itu sering benar bersabda kepada sahabat-sahabatnya: “Adakah seseorang di antara engkau semua ini ada melihat sesuatu impian?” Kemudian kepada beliau s.a.w. itu diceriterakanlah sekehendak Allah perihal apa yang diceriterakan itu – oleh sahabat-sahabatnya. Sesungguhnya beliau s.a.w. pernah bersabda pada suatu pagi, demikian:

“Tadi malam saya didatangi oleh dua orang pendatang. Kedua-nya berkata kepada saya: “Berangkatlah.” Sayapun berangkatlah bersama dua orang itu. Kita lalu datang kepada seorang lelaki yang sedang berbaring, tiba-tiba ada orang lain yang sedang berdiri di atasnya dengan membawa sebuah batu besar. Sekonyong-konyong orang yang berdiri itu menjatuhkan batu tersebut ke arah kepala orang yang berbaring tadi, kemudian pecahlah kepalanya, sedang batu itu terus menggelinding ke arah sana. Yang melempar itu mengikuti perginya batu tersebut lalu mengambilnya. la tidak kembali kepada orang yang disiksanya itu, sehingga orang ini sembuh kembali kepalanya sebagaimana keadaannya semula. Orang yang berdiri itu lalu kembali mendekati orang yang berbaring dan melakukan sebagaimana yang dilakukan dalam kali pertama tadi -dan demikian seterusnya yaitu dijatuhi batu, kepalanya pecah lalu sembuh dijatuhi batu lagi, kepalanya pecah dan sembuh lagi dan selanjutnya.”

Beliau s.a.w bersabda: “Saya lalu bertanya kepada dua orang yang mengajak berangkat dulu: “Subhanallah, siapakah ini?” Lalu keduanya berkata: “Berangkatlah, berangkatlah!” Kitapun berangkatlah, sehingga datanglah kita kepada seorang lelaki yang tidur terlentang pada tengkuknya, tiba-tiba di situ ada pula orang yang berdiri di atasnya dengan membawa sebuah alat pengait dari besi, sekonyong-konyong ia mendatangi orang yang terlentang tadi menuju ke salah satu belahan mukanya, kemudian memotong-motong ujung mulutnya sampai ke tengkuknya, juga dari lobang hidung ke tengkuknya serta dari mata ke tengkuknya. Setelah itu ia berpindah kepada belahan mukanya yang lain, lalu mengerjakan sebagaimana yang dikerjakan terhadap belahan muka yang satunya tadi. Belum lagi ia selesai mengerjakan yang ini, sehingga belahan pertama itu telah menjadi sembuh kembali sebagaimana dulunya, lalu diulangkanlah mengerjakan terhadap belahan pertama tadi sebagaimana cara melakukan pekerjaan yang mula-mula untuk pertama kalinya itu.”

Beliau s.a.w. bersabda: “Saya lalu bertanya: “Subhanallah, siapakah kedua orang ini?” Kedua orang yang menyertai saya itu berkata: “Berangkatlah, berangkatlah!” Kitapun berangkatlah, sehingga datanglah kita kepada sebuah tempat semacam dapur besar.” Orang yang meriwayatkan Hadis ini berkata: “Saya mengira beliau s.a.w. juga menyebutkan: “Dalam dapur itu terdengar teriakan yang bercampur-baur serta berbagai suara gemuruh.” Kita menjenguk di dalamnya, tiba-tiba yang ada di situ adalah orang-orang lelaki dan orang-orang perempuan yang semuanya telanjang bulat. Mereka itu didatangi oleh nyala api yang berasal dari bawah mereka, Jikalau nyala api itu menjiiat-jilat tubuh mereka, maka merekapun gemuruhlah suaranya. Saya bertanya: “Siapakah orang-orang itu?” Kedua kawan saya itu menjawab: “Berangkatlah, berangkatlah!” Kitapun berangkatlah, sehingga kita datang di suatu sungai.” Orang yang meriwayatkan Hadis ini berkata: “Saya mengira beliau s.a.w. juga mengucapkan: “Sungai itu merah warnanya bagaikan darah.” Tiba-tiba di sungai itu ada seorang yang berenang menuju tepinya, sekonyong-konyong di tepi sungai tadi ada pula seorang lelaki lain yang telah mengumpulkan batu-batu besar di sisinya. Orang yang berenang itu terus berenang sekuat ia me itu?”

Keduanya men-jawab: “Berangkatlah, berangkatlah!” Kitapun berangkatlah, se-hingga datanglah kita di suatu taman yang rimbun tanamannya lagi panjang-panjang, di dalamnya tampaklah penuh sinar cahaya musim bunga, tiba-tiba di antara kedua sudut taman itu ada seorang lelaki yang tinggi perawakannya, hampir-hampir saya tidak dapat melihat kepalanya karena menjulang tinggi sekali ke langit, sedang di sekitar orang tersebut ada beberapa anak dan amat banyak sekali jumlah-nya dan saya tidak pernah samasekali melihat mereka itu. Saya bertanya: “Siapakah orang ini dan siapa pula anak-anak itu?” Kedua kawan saya menjawab: “Berangkatlah, berangkatlah!” Kitapun berangkatlah sehingga datanglah kita di suatu pohon besar yang belum pernah samasekali saya melihat pohon yang lebih besar serta lebih indah daripadanya. Kedua kawan saya itu berkata: “Naiklah di taman itu!” Kitapun naiklah menuju ke suatu kota yang dibangun dengan bata-bata yang terbuat dari emas dan bata-bata dari perak.

Kita mendatangi pintu kota, lalu kita minta supaya dibukakan, kemudian pintupun dibukalah untuk kita. Kita masuk di dalamnya, lalu kita dijemput oleh beberapa orang lelaki yang sebagian muka-muka mereka itu bagus-bagus sebagaimana yang pernah lakukannya, setelah hampir di tepinya, lalu datanglah orang yang sudah mengumpulkan batu-batu tadi dan yang berenang itu mem-bukakan mulutnya, kemudian dilemparnya dengan batu oleh yang ada di tepi. Sekali lagi orang itu berenang ke tengah terus kembali lagi dan setiap kembali, ia pun membukakan mulutnya lalu yang di tepi melemparkan batu tepat di mulutnya itu. Saya bertanya kepada kedua kawan saya: “Siapakah kedua orang itu – yakni yang berenang dan yang melempari?” Keduanya berkata kepada saya: “Berangkatlah, berangkatlah!” Kitapun berangkatlah sehingga datanglah kita kepada seseorang yang buruk sekali rupa roman mukanya, atau ia adalah sejelek-jelek orang lelaki yang pernah engkau lihat tentang rupa roman mukanya. Di sisinya ada api dan ia menyalakan itu dan ia berjalan di sekelilingnya. Saya bertanya lagi kepada kedua kawan saya: “Siapakah orang engkau lihat, sedang sebagiannya Iagi buruk sebagaimana yang pernah engkau lihat. Kedua kawan saya itu berkata kepada orang-orang tersebut: “Pergilah lalu terjunlah dalam sungai itu. Tiba-tiba sungai itu adalah sungai yang melintang dan airnya mengalir, seolah-olah airnya adalah susu kerena putihnya. Mereka lalu terjun di dalamnya kemudian kembali ke tempat kita, sedang keburukan muka-muka-nya sudah lenyap semua dan mereka berganti memiliki roman muka yang sebagus-bagusnya.

Beliau s.a.w. bersabda; kedua kawan berkata kepada saya: “Inilah yang disebut syurga ‘Adn dan di sana itu tempat kediaman Tuan.” Penglihatan saya lalu naik ke atas, amat tinggi sekali, sekonyong-konyong tampaklah sebuah istana bagaikan awan yang putih sekali. Sekali Iagi keduanya berkata: “Nah, di sana itulah tempat tinggal Tuan.” Saya berkata kepada keduanya: “Semoga Allah memberikan keberkahan kepada anda berdua. Sekarang biarkanlah saya ke sana akan masuk ke dalamnya.” Keduanya berkata: “Adapun sekarang, maka jangan dulu, tetapi Tuan akan memasukinya nanti.”

Seterusnya saya berkata kepada kedua kawan saya itu: “Sejak tadi malam saya telah melihat berbagai keajaiban, maka apakah sebenarnya yang saya lihat itu?” Keduanya berkata kepada saya: “Kini saya akan memberitahukan kepada Tuan.

Adapun orang pertama yang Tuan datangi, ia dipecah kepalanya dengan batu, maka sesungguhnya itulah orang yang mengambil al-Quran lalu menyisihkannya-yakni menolaknya sesudah mengerti isi dan maknanya, juga itulah orang yang tidur – yakni lalai – dari melakukan shalat-shalat yang diwajibkan.

Adapun orang yang Tuan datangi, ia sedang dipotong-potong ujung mulutnya sampai ke tengkuknya dan dari lobang hidung sampai ketengkuknya dan juga dari matanya sampai ketengkuknya itu ialah orang-orang yang pergi dari rumahnya lalu membuat kata-kata dusta dengan kedustaan yang sampai mencapai ke segaia penjuru – yakni mengobral kata-kata bohong.

Adapun orang-orang lelaki dan perempuan yang berada di dalam tempat semacam bangunan dapur besar itu adalah para pezina lelaki dan wanita.

Adapun orang lelaki yang Tuan datangi sedang berenang dalam sungai dan dilempari batu di mulutnya itu ialah pemakan riba.

Adapun orang yang tampak buruk sekali roman mukanya yang di sisinya ada api yang dinyalakan olehnya dan ia berjalan di sekelilingnya itu ialah malaikat Khazin, yaitu penjaga neraka Jahanam.

Adapun orang yang tinggi perawakannya yang ada di dalam taman, maka ia adalah Nabi Ibrahim a.s. sedang anak-anak yang di sekelilingnya itu ialah setiap anak bayi yang mati atas kefitrahan.”

Dalam riwayat al-Barqani disebutkan: “Anak yang mati menetapi kefitrahan.”

Sampai di sini lalu sebagian kaum Muslimin ada yang berkata: “Dan anak-anaknya kaum musyrikin bagaimanakah nasibnya, ya Rasulullah?” Beliau s.a.w. menjawab: “Juga anak-anaknya kaum musyrikin termasuk di kalangan mereka itu.”

Adapun orang yang sebagian mukanya bagus dan sebagian Iagi buruk, maka mereka itu ialah orang-orang yang mencampur- adukkan antara amal perbuatan yang shalih sedang yang lainnya jelek, tetapi Allah telah memberikan pengampunan kepada mereka itu.” (Riwayat Bukhari)

Dalam riwayat Imam Bukhari lainnya disebutkan demikian:

“Tadi malam saya melihat dua orang lelaki, lalu keduanya itu mengeluarkan saya dan mengajak pergi ke tanah yang suci.” Kemudian beliau s.a.w. menyebutkan Hadis di atas dan selanjutnya bersabda: “Kita bertiga lalu pergi ke sebuah lobang sebagai bentuk dapur besar, bagian atasnya adalah sempit sedang bagian bawahnya lebar sekali dan di bawahnya itu ada api menyala. Jikalau api itu menjulang ke atas, maka orang-orang yang ada di situ sama naik pula ke atas, sehingga hampir-hampir mereka itu akan dapat keluar dari dalamnya, tetapi jikalau api itu padam, maka merekapun kembali ke bawah lagi. Di situ terdapatlah orang-orang lelaki dan perempuan yang semuanya telanjang bulat.”

Dalam riwayat Hadis itu disebutkan pula: “Sehingga datanglah kita ke suatu sungai dari darah.” Yang meriwayatkan tidak sangsi lagi dalam keadaan sungai yang dikatakan dari darah itu. “Di situ ada seorang lelaki yang berdiri di tengah sungai, sedang di tepi sungai ada pula seorang lelaki lain dan di mukanya ada batu-batu. Orang yang di sungai itu hendak maju ke tepi, tetapi apabila ia ber-kehendak keluar, lalu orang yang di tepi itu melemparnya dengan batu, tepat mengenai mulutnya lalu mengembalikan ke tengah sungai sebagaimana keadaannya semula. Jadi setiap kali ia akan keluar, setiap itu pula yang di tepi melemparnya dengan batu mengenai mulutnya dan kembalilah ia ke tengah lagi sebagai tadinya.”

Dalam riwayat Hadis tadi juga disebutkan: “Kedua kawan saya itu naik ke pohon dengan membawa saya lalu keduanya memasuk-kan saya ke dalam sebuah rumah yang saya samasekali belum pernah melihat rumah yang seindah itu. Di dalamnya ada beberapa orang tua dan para pemuda.”

Dalamnya juga disebutkan: “Adapun yang Tuan lihatdipotong-potong tepi mulutnya itu, maka ia adalah seorang tukang dusta yang berbicara dengan kedustaan lalu disiar-siarkanlah dustanya itu sampai mencapai ke segenap penjuru alam. Maka diperlakukanlah orang tersebut sedemikian rupa sampai pada hari kiamat.”

Dalamnya disebutkan pula: “Orang yang Tuan lihat dipecah kepalanya itu ialah orang yang telah diajari al-Quran oleh Allah, lalu tidur – lalai – untuk membacanya di waktu malam dan tidak pula mengerjakan isinya pada siang harinya, maka itu diperlakukanlah orang itu sedemikian rupa sampai pada hari kiamat. Adapun rumah pertama yang Tuan masuki itu ialah perumahan umumnya kaum Muslimin. Adapun yang ini, ialah perumahan kaum syuhada – yakni mati dalam peperangan untuk membela agama Allah. Saya adalah Jibril dan ini adalah Mikail. Maka angkatlah kepala Tuan sekarang.” Saya – Nabi s.a.w. – mengangkat kepala saya, tiba-tiba tampak di atas saya itu bagaikan awan. Keduanya berkata: “Di sana itulah tempat kediaman Tuan.” Saya berkata: “Kalau begitu biarkanlah saya hendak memasuki rumah saya.” Keduanya menjawab: “Sesungguhnya saja masih ada usia Tuan yang tertinggal dan belum lagi Tuan sempurnakan. Andaikata sudah Tuan sempurnakan, maka Tuan boleh mendatangi tempat kediaman Tuan itu.” (Riwayat Bukhari)

Sabdanya: yuslaghu ra’suhu dengan menggunakan tsa’ bertitik tiga dan ghain mu’jamah, artinya memecah dan membelahnya.” Yatadahdahu artinya menggelinding. Alkallub dengan fathahnya kaf dan dhammahnya lam musyaddadah, adalah sudah dimaklumi maknanya – yaitu alat pengait. Yusyarsyiru, artinya memotong-motong. Dhaudhau dengan dua dhad yang keduanya mu’jamah, artinya berteriak-teriak. Fa-yafgharu dengan fa’ dan ghain mu’jamah, artinya membukakan. Almar-aah dengan fathahnya mim, artinya pandangan yakni air muka. Yahusysyuha dengan fathahnya ya’ dan dhammahnya ha’ muhmalah serta syin mu’jamah, artinya menyalah-kan. Rawdhatun mu’tammah dengan dhammahnya mim, sukunnya ‘ain, fathahnya ta’ dan syaddahnya mim, artinya ialah rimbun tanamannya lagi panjang-panjang. Dawhah dengan fathahnya dal, sukunnya wawu dan dengan ha’ muhmalah, artinya ialah pohon besar. Almahdhu dengan fathahnya mim, sukunnya ha’ muhmalah dengan dhad mu’jamah, artinya ialah susu. Fa-sama bashari artinya melihat ke atas. Shu’udan dengan dhammahnya shad dan ‘ain, artinya tinggi-tinggi. Arrababah dengan fathahnya ra’ dan dengan ba’ bertitik satu yang didobbelkan, artinya ialah awan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *