[ UIC 14 ] – Tazkiyatun Nufus 244

Bab 244 – Kitab Berbagai Zikir – Keutamaan Zikir Dan anjuran Mengerjakannya

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan niscayalah berzikir kepada Allah itu adalah lebih besar -keutamaannya.” (al-‘Ankabut: 45)

Allah Ta’ala juga berfirman:

“Maka berzikirlah engkau semua kepadaKu, tentu Aku akan ingat padamu semua.” (al-Baqarah: 152)

Allah Ta’ala berfirman pula:

“Dan berzikirlah kepada Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan takut dan bukan dengan suara keras, di waktu pagi dan petang dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai” (al-A’raf: 205)

Allah Ta’ala berfirman lagi:

“Dan berzikirlah engkau semua kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya, supaya
engkau semua berbahagia.” (al-Jumu’ah: 10)

Allah Ta’ala juga berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang Islam, lelaki dan perempuan,” sampai kepada firman Allah Ta’ala: “Dan orang-orang’yang berzikir kepada Allah, lelaki dan perempuan dengan sebanyak-banyaknya, maka Allah menyediakan kepada mereka itu pengampunan serta pahala yang besar.” (al-Ahzab: 35)

Allah Ta’ala berfirman lagi:

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya dan Maha Sucikanlah Allah itu di waktu pagi dan sore,” sampai akhir ayat. (al-Ahzab: 41-42)

Ayat-ayat dalam bab ini banyak sekali dan dapat dimaklumi.

1405. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Ada dua kalimat yang ringan pada lisan – yakni mudah diucapkan, tetapi berat sekali dalam timbangan – di akhirat, dicintai oleh Allah Maria Pengasih, yaitu Subhanallah wa bihamdih dan Subhanallabil ‘azhim.”

Artinya: Maha Suci Allah dan dengan mengucapkan puji-pujian padaNya dan Maha Suci Allah yang Maha Agung. (Muttafaq ‘alaih)

1406. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Niscayalah kalau saya mengucapkan:

Subhanallah walhamdu lillah wa la ilaha illallah wallahu akbar -Maha Suci Allah, segenap puji bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah adalah Maha Besar, maka itu adalah lebih saya sukai daripada apa saja yang matahari terbit atasnya – yakni lebih disukai dari dunia dan seisinya ini.” (Riwayat Muslim)

1407. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa mengucapkan:

La ilaha illallah wahdahu la syarikalah, labul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir – Tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. BagiNya adalah semua kerajaan dan puji-pujian dan Allah adalah Maha Kuasa atas segala scsuatu, dalam sehari seratus kali, maka ia memperoleh pahala yang menyamai dengan memerdekakan sepuluh orang hambasahaya, juga untuknya dicatatlah sebanyak seratus kebaikan dan dihapuskanlah dari dirinya sebanyak seratus keburukan, juga ia dapat memperoleh perjagaan dari godaan syaitan pada harinya itu sampai waktu sore. Tiada seorangpun yang dapat memperoleh sesuatu yang lebih utama dari apa yang dilakukan oleh orang di atas itu, melainkan seseorang yang mengerjakan lebih banyak dari itu.”

Beliau s.a.w. selanjutnya bersabda:

“Barangsiapa yang mengucapkan: Subhanallah wa bihamdih -Maha Suci Allah dan dengan mengucapkan puji-pujian padaNya, dalam sehari sebanyak seratus kali, maka dihapuskanlah dari dirinya Semua kesalahan-kesalahannya, sekalipun kesalahan-kesalahannya itu banyaknya seperti buih lautan.” (Muttafaq ‘alaih)

1408. Dari Abu Ayyub al-Anshari r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Barangsiapa mengucapkan: La ilaha illallahu wahdahu la syarikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir -artinya lihat Hadis no. 1407, sebanyak sepuluh kali, maka ia adalah sebagaimana seseorang yang memerdekakan empat jiwa dari keturunan Ismail.” (Muttafaq ‘alaih)

1409. Dari Abu Zar r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda kepada saya:

“Tidakkah engkau semua suka kalau saya beritahukan kepadamu perihal ucapan yang paling dicintai oleh Allah? Sesungguhnya ucapan yang paling dicintai oleh Allah ialah Subhanallah wa bihamdih.” (Riwayat Muslim)

1410. Dari Abu Malik al-Asy’ari r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Bersuci itu adalah separuh keimanan, bacaan Alhamdulillah itu adalah memenuhi beratnya timbangan – di akhirat, sedang Subhanallah dan Alhamdulillah itu memenuhi apa yang ada di antara langit dan bumi.” (Riwayat Muslim)

1411. Dari Sa’ad bin Abu Waqqash r.a., katanya: “Ada seorang A’rab- penghuni pedalaman negeri Arab – datang kepada Rasulullah s.a.w., lalu berkata: “Ajarkanlah kepada saya sesuatu ucapan yang baik saya ucapkan!” Beliau s.a.w. bersabda: “Katakanlah:

La ilaha illallah wahdahu la syarikalah, Allahu Akbar kabira, walhamdu lillahi katsira, wa subhanaliahi rabbil ‘alamin wa la haula wa la quwwata illa billahil ‘azizil hakim.”

Artinya:Tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. Allah adalah Maha Besar dengan sebesar-besarnya, segala puji bagi Allah dengan sebanyak-banyaknya, Maha Suci Allah yang menguasai seluruh alam dan tiada daya serta tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah yang Maha Mulia lagi Bijaksana.

Orang A’rab tadi lalu berkata: “Itu semua adalah untuk memuji Tuhanku. Lalu manakah yang untuk kepentinganku?” Beliau s.a.w. bersabda: “Katakanlah: Allahummaghfir li warhamni wahdini warzuqni” – Ya Allah, berilah pengampunan pada saya, berilah kerahmatan, juga petunjuk dan rezeki kepada saya. (Riwayat Muslim)

1412. Dari Tsauban r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. itu apabila selesai dari sembahyangnya, beliau s.a.w. lalu mengucapkan istighfar “‘ yakni Astaghfirullah, artinya: Saya mohon ampun kepada Allah, sebanyak tiga kali, kemudian mengucapkan: Allahumma antas salam, wa minkas salam, tabarakta ya Dzaljalali wal-ikram.”

Ya Allah, Engkau adalah Maha Menyelamatkan, daripadaMulah datangnya keselamatan, Engkau Maha Tinggi, hai Zat yang memiliki keperkasaan dan kemuliaan.

Kepada al-Auza’i ditanyakan-dan ini adalah salah seorang yang meriwayatkan Hadis: “Bagaimanakah ucapan istighfar itu?” la menjawab: “Orang yang beristighfar itu supaya mengucapkan: Astaghfirullah, astaghfirullah.” (Riwayat Muslim)

1413. Dari Almughirah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. itu apabila selesai dari shalat dan telah bersalam, lalu mengucapkan:

La ilaha illalahu wahdahu la syarikatah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir – artinya lihat Hadis no. 1407.

Allahumma la mani’a lima a’thaita wa la mu’thia lima mana’ta wa la yanfa’u dzaljaddi minkal jaddu – Ya Allah, tiada yang kuasa menolak terhadap apa saja yang Engkau berikan dan tiada yang kuasa memberi terhadap apa saja yang Engkau tolak dan tiada akan memberikan kemanfaatan kekayaan itu kepada orang yang me-milikinya daripada siksaMu. (Muttafaq ‘alaih)

1414. Dari Abdullah bin az-Zubair radhiallahu ‘Anhuma bahwasanya ia mengucapkan setiap selesai mengerjakan shalat dan bersalam:

La ilaha illallahu wahdahu la syarikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir- artinya lihat Hadis no. 1407. Lahaula wa la quwwata illabillah – Tiada daya dan tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah.

La ilaha illallahu wa la na’budu illa iyyahu, lahun ni’mati wa lahut stsana-ul hasan. La ilaha illallahu mukhlishina lahuddina wa Iau karihal kafirun.

Tiada Tuhan melainkan Allah dan kita tidak menyembah selain daripadaNya. BagiNyalah segala kenikmatan dan keutamaan bagi-Nya pula puji-pujian yang baik. Tiada Tuhan melainkan Allah, kita berikhlas hati menjalankan agama untukNya, sekalipun orang-orang kafir sama membenci.

Abdullah bin az-Zubair berkata: “Rasulullah s.a.w. bertahlil dengan yang tersebut di atas itu sehabis setiap bersembahyang.” (Riwayat Muslim)

1415. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya kaum fakir dari golongan para sahabat Muhajirin mendatangi Rasulullah s.a.w. lalu berkata: “Orang-orang yang memiliki harta banyak itu sama pergi -yakni meninggal dunia – dengan membawa derajat yang tinggi-tinggi dan kenikmatan yang kekal. Sebabnya ialah karena mereka bersembahyang sebagaimana kita bersembahyang, mereka ber-puasa sebagaimana kita berpuasa, lagi mereka mempunyai ke-lebihan dari harta-harta mereka dan dapat mereka gunakan untuk beribadat haji, berumrah, berjihad serta bersedekah.” Beliau s.a.w. lalu bersabda:

“Tidakkah engkau semua suka kalau saya ajarkan kepadamu semua sesuatu yang dengannya itu engkau semua dapat mencapai pahala orang yang telah mendahuluimu dan dapat men-dahului orang yang sesudahmu. Juga tiada seorangpun yang lebih utama pahalanya daripadamu semua, selain orang yang mengerjakan sebagaimana yang engkau kerjakan itu?” Mereka menjawab: “Baiklah, ya Rasulullah.” Beliau s.a.w. bersabda: “Hendaklah engkau semua membaca tasbih, tahmid dan takbir sehabis shalat – wajib -sebanyak tigapuluh tiga kali masing-masing.”

Abu Shalih yang meriwayatkan Hadis ini dari Abu Hurairah, ketika ditanya bagaimana cara menyebutkan tasbih, tahmid dan takbir itu, lalu menjawab: “Orang yang berzikir itu supaya me-ngucapkan: “Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar – Maha Suci Allah dan segenap puji bagi Allah dan Allah adalah Maha Besar.” Sehingga jumlah semuanya itu ada tigapuluh tiga kali. (Muttafaq *a!alh)

Imam Muslim menambahkan dalam riwayatnya: “Lalu kembalilah kaum fakir dari golongan sahabat Muhajirin itu kepada Rasulullah s.a.w. lalu mereka berkata: “Saudara-saudara kita yakni orang-orang yang berharta sudah sama mendengar apa yang kita kerjakan ini, kemudian merekapun mengerjakan seperti itu pula.” Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Yang sedemikian itu adalah keutamaan Allah yang diberikan kepada orang yang di- kehendaki.”

Addutsur adalah jamaknya datsrun dengan fathahnya dal dan saknahnya tsa’ yang bertitik tiga, artinya ialah harta yang banyak.

1416. Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Rasulullah s.a.w. bersabda :

“Barangsiapa yang membaca Subhanallah sehabis tiap bersembahyang – wajib – sebanyak tigapuluh tiga kali dan membaca Alhamdudillah sebanyak tigapuluh tiga kali dan pula membaca Allahu Akbar sebanyak tigapuluh tiga kali dan untuk menyempurna-kan keseratusnya ia membaca: La iiaha illallahu wahdahu la syarikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir -artinya lihatlah dalam Hadis no. 1407, maka diampunkanlah untuknya semua kesalahan-kesalahannya,sekalipun banyaknya itu seperti buih lautan.” (Riwayat Muslim)

1417. Dari Ka’ab bin ‘Ujrah r.a. dari Rasulullah s.a.w. sabdanya: “Beberapa penghujung yang tidak akan rugilah orang yang mengucapkannya atau yang mengerjakannya sehabis setiap shalat yang diwajibkan, yaitu tigapuluh tiga kali bacaan tasbih, tigapuluh tiga kali bacaan tahmid dan tigapuluh empat kali bacaan takbir.” (Riwayat Muslim)

1418. Dari Sa’ad bin Abu Waqqash r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. itu berta’awwudz – yakni berdoa untuk mohon perlindungan -pada setiap selesai shalat dengan kalimat-kalimat ini – yang artinya -Ya Allah, saya mohon perlindungan kepadaMu daripada licik dan kikir, saya mohon perlindungan pula padaMu kalau saya sampai dikembalikan kepada serendah-rendahnya usia – yakni usia ter-lampau tua, juga saya mohon perlindungan padaMu daripada fitnah dunia serta saya mohon perlindungan padaMu daripada fitnah kubur.” (Riwayat Bukhari)

1419. Dari Mu’az r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. mengambil tangannya dan berkata: “Hai Mu’az, demi Allah, sesungguhnya saya ini mencintaimu.” Beliau s.a.w. lalu melanjutkan sabdanya: “Saya berwasiat padamu, hai Mu’az, janganlah sekali-kali engkau meninggalkan setiap selesai bersembahyang mengucapkan – yang artinya: “Ya Allah, berilah saya pertolongan untuk tetap berzikir kepadaMu, serta bersyukur kepadaMu dan beribadat secara baik kepadaMu.” Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih

1420. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Jikalau seseorang di antara engkau semua bertasyahhud – yaitu mengucapkan bacaan Attahiyyat dan seterusnya, maka pada penghabisannya hendaklah mohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara. Maka supaya ia mengucapkan – yang artinya: “Ya Allah,sesungguhnya saya mohon perlindungan kepadaMu daripada siksa neraka Jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah di waktu hidup dan setelah mati dan pula dari kejahatan fitnahnya Dajjal yang mengembara.” (Riwayat Muslim)

1421. Dari Ali r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. itu apabila berdiri mengerjakan shalat, maka salah satu dari yang terakhir sekali beliau ucapkan antara tasyahhud dan salam, yaitu bacaan – yang artinya: “Ya Allah, ampunilah saya dosa-dosa yang lampau dan yang akan datang, juga yang saya sembunyikan serta yang saya tampakkan, bahkan juga yang saya perlebih-lebihkan dan dosa yang Engkau adalah lebih mengetahui daripada saya sendiri. Engkau adalah Maha Mendahulukan serta Maha Mengakhirkan, tiada Tuhan melainkan Engkau.” (Riwayat Muslim)

1422. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Nabi s.a.w. itu memperbanyak dalam mengucapkan ketika ruku’ dan sujudnya, yaitu Subhanakallahumma rabbana wa bihamdikallahummaghfirli -Maha Suci Engkau ya Allah, Tuhan kita dan dengan mengucapkan puji-pujian padaMu, ya Allah berilah pengampunan padaku.” (Muttafaq ‘alaih)

1423. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah s.a.w. mengucapkan dalam ruku’ dan sujudnya: “Subbuhun quddusun Rabbul malaikati warruh – Maha Suci dan Maha Bersih, yaitu Tuhan semua malaikat serta Jibril.” (Riwayat Muslim)

1424. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Adapun ketika ruku’ maka Maha Agungkanlah Tuhan di dalamnya, sedang ketika sujud, maka giatlah dalam berdoa, sebab nyata engkau semua akan dikabulkan doamu semua itu.” (Riwayat Muslim)

1425. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Sedekat-dekat keadaan seseorang hamba dari Tuhannya ialah di waktu ia sedang bersujud, maka perbanyakkanlah berdoa dalam sujud itu.” (Riwayat Muslim)

1426. Dari Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. mengucapkan dalam sujudnya: Allahummaghfir li dzanbi kullahu, diqqabu wa jillahu wa awwalahu wa akhirahu wa ‘alaniatahu wa sirrabu – ya Allah, berilah pengampunan padaku akan semua dosaku, yang kecil dan yang besar, yang permulaan dan yang penghabisan, yang terang-terangan dan yang rahasia.” (Riwayat Muslim)

1427. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, katanya: “Pada suatu malam saya kehilangan Nabi s.a.w., lalu saya selidiki,tiba-tiba beliau s.a.w. sedang melakukan ruku’ atau sujud dan di situ beliau mengucapkan: Subhanaka wa bihamdika la ilaha ilia anta – Maha Suci Engkau dan dengan mengucapkan puji-pujian padaMu, tiada Tuhan melainkan Engkau.”

Dalam riwayat lain disebutkan: “Lalu jatuhlah tanganku -Aisyah- pada kedua tapak kakinya yang bagian dalam dan beliau sedang ada di dalam masjid, sedang kedua tapak kaki itu didirikan. Diwaktu itu beliau s.a.w. mengucapkan – yang artinya: Ya Allah, sesungguhnya saya mohon perlindungan dengan keridhaanMu daripada kemurkaanMu dan dengan pengampunanMu dari siksaanMu. ]uga saya mohon perlindungan padaMu, saya tidak menghitung-hitungkan pujian atasMu. Engkau adalah sebagaimana yang Engkau pujikan pada diriMu sendiri. (Riwayat Muslim)

1428. Dari Sa’ad bin Abu Waqqash r.a., katanya: “Kita semua berada di sisi Rasulullah s.a.w., lalu beliau bersabda: “Adakah seseorang di antara engkau semua itu tidak kuasa mencari seribu kebaikan dalam setiap harinya?” Kemudian ada seorang dari golongan yang duduk-duduk di waktu itu bertanya pada beliau s.a.w.: “Bagaimanakah caranya mencari seribu kebaikan itu?” Beliau s.a.w. menjawab: “Hendaknya orang – yang ingin mendapat seribu kebaikan dalam sehari itu – tadi membaca tasbih seratus kali, maka untuknya dicatatlah sebanyak seribu kebaikan atau dihapuskanlah dari dirinya seribu kesalahan.” (Riwayat Muslim)

Al-Humaidi berkata: “Demikianlah yang disebutkan dalam kitab Muslim yakni dengan kata-kata: “Au yuhaththu” – artinya: atau dihapuskan. Al-Barqani berkata: “Hadis ini dtriwayatkan oleh Syu’bah dan juga Abu ‘Awanah dan Yahya al-Qaththan dari Musa yang diriwayatkan oleh Imam

Muslim dari arahnya itu. Mereka mengatakan: Wa yuhaththu – artinya: dan dihapuskan, tanpa kata: “Alfin – yakni seribu.”

1429. Dari Abu Zar r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Atas setiap ruas tulang dari seseorang di antara engkau semua itu pada setiap paginya harus ada masing-masing sedekahnya. Maka setiap sekali bacaan tasbih adalah sedekah, setiap sekali bacaan tahmid adalah sedekah, setiap sekali bacaan tahlil adalah sedekah, setiap sekali bacaan takbir adalah sedekah, memerintahkan kepada kebaikan juga sedekah, mencegah dari kemungkaran juga sedekah dan keseluruhannya itu dapat dicukupi oleh dua rakaat yang dikerjakan oleh seseorang itu dari shalat Dhuha.” (Riwayat Muslim)

1430. Dari Ummul mu’minin yaitu Juwairiyah binti al-Harits radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi s.a.w. keluar dari rumahnya pada pagi hari ketika bersembahyang Subuh. Waktu itu Juwairiyah ada di dalam masjidnya. Kemudian beliau s.a.w. kembali setelah melakukan shalat Dhuha, sedangkan Juwairiyah duduk. Kemudian beliau s.a.w. bersabda: “Engkau masih tetap dalam keadaan di waktu tadi saya tinggalkan.” Juwairiyah menjawab: “Ya.” Nabi s.a.w. lalu bersabda: “Saya telah mengucapkan setelah meninggalkan engkau tadi empat macam kalimat, sebanyak tiga kali, andaikata kalimat-kalimat itu ditimbang dengan kalimat-kalimat yang engkau ucapkan sejak hari ini tadi, niscaya kalimat-kalimat yang saya ucapkan itu menang daripada yang engkau ucapkan. Kalimat-kalimat itu ialah: “Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridba nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kaiimatibi – Maha Suci Allah dan dengan mengucapkan puji-pujian padaNya, sebanyak hitungan makhluk-Nya, sesuai dengan keridhaan ZatNya, seberat timbangan ‘arasyNya dan sepanjang beberapa kalimatNya.” (Riwayat Muslim)

Dalam riwayat Imam Muslim lainnya disebutkan: Subhanallah ‘adada khalqihi. Subhanalfah ridha nafsihi. Subhanallah zinata ‘arsyihi. Subbanallah midada kalimatihi.”

Dalam riwayat Imam Termidzi disebutkan: Nabi s.a.w. bersabda: “Tidakkah engkau suka kalau saya ajari beberapa kalimat yang baik engkau membacanya, yaitu: Subhanallah ‘adada khalqihi, tiga kali; Subhanallah ridha nafsihi, tiga kali; Subhanatlah zinata ‘arsyihi, tiga kali; Subhanallah midada kalimatihi, tiga kali.”

1431. Dari Abu Musa al-Asy’ari r.a. dari Nabi s.a.w,, sabdanya: “Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berzikir kepadaNya ialah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.” Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, yaitu sabda Nabi s.a.w. “Perumpamaan rumah yang di dalamnya digunakan untuk berzikir kepada Allah dan rumah yang tidak digunakan untuk berzikir kepada Allah adalah seperti benda yang hidup dan benda yang mati.”

1432. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Allah Ta’ala berfirman – dalam Hadis qudsi: “Aku adalah menurut sangkaan – keyakinan – hambaKu kepadaKu. Aku adalah beserta hambaKu itu apabila ia berzikir – ingat – kepadaKu. Maka jikalau ia berzikir kepadaKu dalam dirinya, maka Akupun ingat padanya dalam diriKu dan jikalau ia berzikir kepadaKu di kalangan orang banyak, maka Aku ingat pada orang itu di kalangan makhluk yang lebih baik dari mereka itu – yakni di kalangan para malaikat.” (Muttafaq ‘alaih)

1433. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Telah dahululah orang-orang yang menyendiri.” Para sahabat bertanya: “Siapakah orang-orang yang menyendiri itu, ya Rasulullah?” Beliau s.a.w. menjawab: “Mereka itu ialah yang sama berzikir kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya, baik lelaki ataupun perempuan.” (Riwayat Muslim)

Maksudnya: Menyendiri dalam ingatnya kepada Allah di waktu orang-orang lain tidak mengingat kepadaNya. Inilah yang lebih dahulu memperoleh keridhaan Allah Ta’ala.

Diriwayatkan Almufarridun dengan tasydidnya ra’ dan ada yang meriwayatkan dengan takhfifnya – yakni ra’nya tanpa syaddah lalu dibaca mufridun. Tetapi yang masyhur yang dikatakan oleh Jumhur Ulama ialah dengan tasydid.

1434. Dari Jabir r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Seutama-utama zikir ialah lafaz La ilaha illallah.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1435. Dari Abdullah bin Busr r.a. bahwasanya ada seorang lelaki berkata:”Ya Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak-yakni hukum-hukumnya sudah lengkap-atas diriku, maka beritahukanlah kepada saya akan sesuatu yang saya dapat ber-pegang padanya.” Beliau s.a.w. bersabda: “Supaya lisanmu itu senantiasa basah dengan berzikir kepada Allah.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah hadis hasan.

1436. Dari Jabir r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Barangsiapa mengucapkan: Subhanallah wa bihamdih, maka ditanamlah untuknya sebatang pohon kurma dalam syurga.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1437. Dari Ibnu Mas’ud r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Saya bertemu Nabi Ibrahim a.s., pada malam saya diisra’kan, lalu beliau berkata: “Hai Muhammad, sampaikanlah salam saya kepada ummatmu dan beritahukanlah kepada mereka bahwasanya syurga itu bagus tanahnya, tawar airnya dan bahwasanya ia adalah merupakan tanah datar yang rata dan benih tanaman syurga itu ialah: Subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illallah wallahu Akbar.”

Diriwayatkan oleh I mam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1438. Dari Abuddarda’ r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidakkah engkau semua suka kalau saya beritahukan kepadamu semua akan sebaik-baik amalanmu, juga seindah-indahnya bagi Tuhan yang Maha Merajaimu semua, serta yang tertinggi dalam derajat-derajatmu semua, bahkan lebih baik untukmu semua dari-pada menafkahkan emas dan perak, juga lebih baik untukmu semua daripada engkau semua bertemu dengan musuhmu lalu engkau tebas leher-leher mereka itu dan merekapun menebas leher-lehermu semua?” Para sahabat berkata: “Baiklah.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Yaitu berzikir kepada Allah Ta’ala.”

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi. Imam Hakim, Abu Abdillah mengatakan bahwa isnad Hadis ini adalah shahih.

1439. Dari Sa’ad bin Abu Waqqash r.a. bahwasanya ia bersama Rasulullah s.a.w. masuk ke tempat seorang wanita dan di mukanya ada beberapa biji atau beberapa kerikil – batu-batu kecil – yang digunakan untuk menghitung tasbihnya, lalu beliau s.a.w. bersabda: “Tidakkah engkau suka kalau saya memberitahukan padamu tentang sesuatu yang lebih mudah untukmu daripada ini dan bahkan lebih utama?” Selanjutnya beliau s.a.w. bersabda: “Yaitu suatu bacaan – yang artinya: Maha Suci Allah sebanyak hitungan apa-apa yang diciptakan olehNya di langit. Maha Suci Allah sebanyak hitungan apa-apa yang diciptakan olehNya di bumi. Juga Maha Suci Allah sebanyak hitungan apa-apa yang ada di antara langit dan bumi. Maha Suci Allah sebanyak hitungan apa-apa yang diciptakan olehNya. Allah adalah Maha Besar sebanyak seperti itu pula.segenap puji bagi Allah sebanyak seperti itu pula. Tiada Tuhan melainkan Allah sebanyak seperti itu pula dan tiada daya serta tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah sebanyak seperti itu pula.”

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

1440. Dari Abu Musa al-Asy’ari r.a., katanya: “Rasulullah sa..w. bersabda kepadaku:

“Tidakkah engkau suka kalau saya tunjukkan kepadamu pada sesuatu gedung simpanan dari beberapa gedung simpanan syurga?” Saya – Abu Musa – berkata: “Baiklah, ya Rasulullah.” Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Yaitu ucapan: La haula wala quwwata ilia billah -Tiada daya dan tiada kekuatan, melainkan dengan pertolongan Allah.” (Muttafaq ‘alaih)

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *