[ UIC 14 ] – Tazkiyatun Nufus 221

Bab 221 – Keutamaan Bersahur Dan Mengakhirkannya Selama Tidak Takut Menyingsingnya Fajar

1226. Dari Anas r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bersahurlah engkau semua, kerana sesungguhnya di dalam sahur itu ada keberkahannya.” (Muttafaq ‘alaih)

1227. Dari Zaid bin Tsabit r.a., katanya: “Kita bersahur bersama Rasulullah s.a.w. kemudian kita berdiri untuk melakukan shalat -yakni shalat Subuh.” Kepadanya ditanyakan: “Berapa jarak waktu antara keduanya itu?” Yakni antara selesainya sahur dengan berdirinya untuk shalat Subuh. la menjawab: “Sekira cukup membaca lima puluh ayat.” (Muttafaq ‘alaih)

1228. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.vv. itu mempunyai dua orang juru azan, iaitu Bilal dan Ibnu Ummi Maktum. Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Sesungguhnya Bilal itu berazan di waktu masih malam – yakni sebelum menyingsingnya fajar sadik, maka makanlah dan minumlah engkau semua – untuk bersahur – sehingga Ibnu Ummi Maktum berazan – sebagai tanda masuknya waktu Subuh.”

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: “Tidak ada jaraknya antara kedua orang juru azan itu, melainkan kalau yang ini turun -yakni Bilal – lalu yang ini – yakni Ibnu Ummi Maktum – naik.” Maksudnya jarak waktu antara keduanya itu tidak terlalu lama. (Muttafaq ‘alaih)

1229. Dari ‘Amr bin al-‘Ash r.a. bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Pemisahan – yakni perbezaan – antara puasa kita dengan puasanya kaum ahlulkitab -yakni kaum Yahudi dan Nasrani – itu ialah adanya makan sahur.” (Riwayat Muslim)

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *