[ UIC 14 ] – Tazkiyatun Nufus 170

Bab 170 – Apa-Apa Yang diucapkan apabila seseorang itu menaiki kenderaannya untuk perjalanan.

Allah Ta’ala berfirman:

Allah menjadikan untukmu semua kapal dan binatang ternak itu sebagai kenderaan untukmu, agar supaya engkau semua dapat duduk di atas punggungnya, kemudian ingatlah akan kenikmatan Tuhanmu, ketika engkau semua telah tetap di atasnya dan supaya engkau mengucapkan – yang ertinya: “Maha Suci Zat Allah yang telah menundukkan semua ini untuk kita dan kita semua tidak dapat mengendalikannya – kecuali dengan pertolongan Tuhan. Dan sesungguhnya kita semua akan kembali kepada Tuhan kita.” (az-Zukhruf: 12-14)

969. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahawasanya Rasulullah s.a.w. apabila berada di atas punggung untanya untuk keluar berpergian, maka beliau s.a.w. itu bertakbir dulu sebanyak tiga kali, kemudian mengucapkan – yang ertinya: “Maha Suci Zat Allah yang menundukkan kenderaan ini pada kita dan kita tidak kuasa rnengendalikannya – melainkan dengan pertolongan Allah – dan sesungguhnya kita akan kembali kepada Allah. Ya Allah, sesungguhnya kita memohonkan kepadaMu dalam berpergian kita ini akan kebajikan dan ketaqwaan,juga apa-apa yang Engkau redhai dari amal perbuatan. Ya Allah, mudahkanlah segala sesuatu untuk kita dalam berpergian kita ini dan lipatlah-dekatkanlah-mana-mana yang jauh. Engkau adalah kawan dalam perjalanan, pengganti – yang mengawas-awasi – dalam keluarga. Ya Allah, sesungguhnya saya mohon perlindungan kepadaMu dari kesukaran perjalanan, kesedihan pandangan dan buruknya keadaan ketika kembali, baik mengenai harta, keluarga ataupun anak.”

Selanjutnya apabila beliau s.a.w. kembali lalu mengucapkan kalimat-kalimat di atas itu pula dan menambahkan dengan ucapan-yang ertinya: “Kita telah kembali, kita semua bertaubat – kepada Allah, menyembah kepada Tuhan kita serta mengucapkan puji-pujian padaNya.” (Riwayat Muslim)

970. Dari Abdullah bin Sarjis r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. itu apabila berpergian, beliau s.a.w. mohon perlindungan – kepada Allah daripada kesukaran perjalanan, kesedihan keadaan waktu kembali, adanya kekurangan sesudah berlebihan, juga dari doa orang yang teraniaya, buruknya pandangan dalam keluarga dan harta.”

(Riwayat Muslim)

Demikianlah yang terdapat dalam kitab Shahih Muslim, iaitu Alhaur ba’dal kaun dengan nun, demikian pula yang diriwayatkan Oleh Imam-imam Termidzi dan Nasa’i. ImamTermidzi mengatakan: . “Ada yang meriwayatkan dengan lafaz alkaur dengan ra’ dan keduanya itu mempunyai wajah masing-masing.”

Para alim ulama berkata: “Maknanya dengan nun dan ra’ semuanya ialah kembali dari ketetapan dan kelebihan menjadi kekurangan.” Mereka mengatakan: “Riwayat ra’ – kaur – itu diambil dari kata mentakwirkan sorban ertinya ialah melipat dan mengumpulkannya, sedang riwayat nun ialah dari kata kaun, sebagai mashdarnyakana yakunu kaunan, jikalau didapatkan dan menetap.”

971. Dari Ali bin Rabi’ah, katanya: “Saya menyaksikan Ali bin Abu Thalib r.a. diberi seekor kenderaan untuk dinaiki olehnya. Ketika ia meletakkan kakinya pada sanggurdi, ia berkata – yang ertinya: “Dengan nama Allah – Bismillah.” Setelah berada di punggungnya,lalu mengucapkan -yang ertinya: “Segenap puji bagi Allah yang menundukkan kenderaan ini untuk kita dan kita tidak kuasa mengendalikannya – tanpa pertolongan Allah. Sesungguhnya kita akan kembali kepadaNya.” Selanjutnya ia mengucapkan – yang ertinya: “Segenap puji bagi Allah – Alhamdulillah,” tiga kali. Seterusnya mengucapkan – yang ertinya: “Allah adalah Maha Besar -Allahu Akbar,” tiga kali. Kemudian mengucapkan pula – yang ertinya: “Maha Suci Engkau, sesungguhnya saya menganiaya diri saya sendiri, maka berikanlah pengampunan kepada saya, sesungguhnya saja tidak ada yang dapat memberikan pengampunan melainkan Engkau.”

Setelah mengucapkan semua itu lalu Ali r.a. ketawa. Kepadanya ditanyakan: “Ya Amirul mu’minin, mengapa anda ketawa?” la menjawab: “Saya pernah melihat Nabi s.a.w. mengerjakan sebagai-mana yang saya kerjakan itu, lalu beliau s.a.w. ketawa. Saya bertanya: “Ya Rasulullah, kerana apakah Tuan ketawa?” Beliau s.a.w. menjawab:

“Sesungguhnya Tuhanmu yang Maha Suci itu merasa hairan terhadap hambaNya apabila ia mengucapkan: “Ampunkanlah untukku dosa-dosaku,” ia mengetahui bahawasanya memang tidak ada yang kuasa mengampuni dosa selain daripadaKu.”

Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud serta Termidzi dan Termidzi mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan, sedang dalam sebahagian naskhah dianggap hasan shahih. Hadis seperti di atas adalah lafaznya Imam Abu Dawud.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *