[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 99

02.09. BAB SHALAT SUNNAH (TATHAWWU’) 05

0344

344 – وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: لَيْسَ الْوِتْرُ بِحَتْمٍ كَهَيْئَةِ الْمَكْتُوبَةِ، وَلَكِنْ سُنَّةٌ سَنَّهَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ وَالنَّسَائِيُّ، وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ

344. Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Witir itu tidak wajib sebagaimana perihal shalat maktubah, akan tetapi ia sunnah yang biasa dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Aliahi wa Sallam.” (HR. An-Nasai dan Tirmidzi menghasankannya dan Al-Hakim menshahihkannya)

[shahih: At Tirmidzi 454]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsif Hadits

Hadits ini telah dijadikan hujjah oleh jumhur tentang tidak wajibnya shalat witir.

Dalam hadits Ali ini ada Ashim bin Dhamrah. Ia banyak diperbicarakan oleh sebagian sedikit ulama. Al-Qadhi Al-Khaimi menyebutkannya dalam kitabnya Hasyiyah Bulugh Al-Maram, dan saya tidak menemukannya dalam At-Talkhish. Akan tetapi yang disebutkan di sini, bahwa hadits ini dishahihkan oleh Al-Hakim dan ia tidak mengakhirinya. Saya tidak tahu darimana Al-Qadhi menukilnya? Kemudian aku melihatnya dalam At-Taqrib yang lafazhnya, “Ashim bin Damrah As-Saluli Al-Kufi orang yang jujur termasuk generasi yang ketiga. Meninggal pada tahun 74 H demikian keterangan dalam At-Taqrib.” Sedangkan dalam Al-Talkhish hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari jalan Ashim bin Damrah yang dishahihkan oleh Al-Hakim.

0345

345 – وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَامَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، ثُمَّ انْتَظَرُوهُ مِنْ الْقَابِلَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ، وَقَالَ: إنِّي خَشِيتُ أَنْ يُكْتَبَ عَلَيْكُمْ الْوِتْرُ» رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ

345. Dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat pada bulan Ramadhan. Kemudian para shahabat menunggu beliau pada malam berikutnya dan beliau tidak keluar. beliau bersabda, “Sesungguhnya aku khawatir shalat witir akan difardhukan atas kalian.” (HR. Ibnu Hibban)

[Hasan lighairihi tanpa lafadz ‘witir’, yang shahih dengan lafadz ‘malam’; dengan lafazh witir statusnya menjadi munkar. Lihat Ta’liq Al-Albani atas shahih Ibnu Hibban 2409. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Sedangkan dalam lafazh Al-Bukhari berbunyi,

أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“Diwajibkan atas kalian shalat malam.”

Abu Dawud mengeluarkan dari hadits Aisyah, dan lafazhnya adalah,

«أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ – صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا فِي اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ – فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْت الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إلَيْكُمْ إلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ»

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat di masjid, maka orang-orang pun shalat sebagaimana shalat beliau. Kemudian beliau shalat lagi pada malam berikutnya. Maka bertambah banyaklah orang-orang. Kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga. Tetapi ternyata Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menjumpai mereka, sampai ketika Subuh beliau bersabda, “Aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan, dan tidak ada yang mencegahku untuk menjumpai kalian kecuali aku khawatir akan difardhukan shalat ini atas kalian.” [Shahih: Abu Daud 1373]

Hadits ini mendekati lafazh yang ada dalam Al-Bukhari.

Ketahuilah, bahwa telah jelas alasan tidak keluarnya Rasulullah, yakni beliau khawatir shalat tersebut akan difardhukan atas mereka, dan juga telah tetapnya hadits yang berbunyi,

هِيَ خَمْسٌ وَهِيَ خَمْسُونَ لَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ

“Ini lima dan ini lima puluh, tidaklah dirubah ucapan di sisi Ku.” [Shahih: Al Bukhari 349 dan Muslim 163]

Dan ketika aman dari perubahan, kenapa khawatir dari tambahan? Pengarang telah menukil jawaban yang banyak dan memperluas pembahasannya. Beliau menjawab dengan tiga jawaban yang terdapat dalam Fath Al-Bari sebagaimana yang telah dijelaskannya dan bagusnya penjelasan tersebut, “Sesungguhnya kekhawatiran Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam akan difardhukannya shalat malam. Yakni dijadikannya tahajjud di masjid secara jamaah menjadi syarat sahnya shalat sunnah pada malam hari.” Beliau berkata, “Telah disyaratkan hal tersebut dalam hadits Zaid bin Tsabit, “Sehingga aku khawatir akan diwajibkan atas kalian. Jika difardhukan atas kalian maka kalian tidak dapat melakukannya. Oleh karena itu, shalatlah kalian wahai para manusia di rumah-rumah kalian.” [akan dijelaskan di depan]

Larangan Rasulullah kepada kaumnya untuk berkumpul di masjid sebagai rasa kasih sayang beliau atas mereka, agar hal tersebut tidak menjadi syaratnya shalat sunnah —tahajjud- dengan berjamaah.

Saya berkata, “Tidak dipungkiri, bahwa pendapat ini tidak sesuai dengan sabda Rasulullah, “Difardhukannya atas kalian shalat malam.” Sebagaimana juga yang terdapat dalam Al-Bukhari, bahwa secara jelas yang dikhawatirkan oleh beliau adalah kefardhuan secara mutlak. Hal itu terjadi pada Bulan Ramadhan yang menunjukkan bahwa beliau shalat dengan orang-orang di dua malam. Hadits kitab ini meriwayatkan bahwa beliau shalat dengan orang-orang tersebut pada malam pertama. Dalam riwayat Ahmad, “Sesungguhnya beliau shalat dengan orang-orang tersebut selama tiga malam dan masjid dipenuhi oleh orang-orang pada malam keempat.” Dan ucapan beliau, “Aku khawatir difardhukannya atas kalian witir.” Ini menunjukkan bahwa witir tidak wajib.

Ketahuilah, sesungguhnya orang yang menetapkan shalat tarawih dan menjadikannya sunnah pada bulan Ramadhan berdalil dengan hadits ini. Yang mana dalam dalil ini tidak disebutkan tata cara dan jumlahnya sebagaimana yang mereka lakukan. Sesungguhnya mereka shalat tarawih secara berjamaah dua puluh rakaat dengan diselingi istirahat pada setiap dua rakaat.

Adapun mengenai pelaksaannya dengan berjamaah, sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat bersama mereka secara berjamaah kemudian meninggalkannya karena khawatir difardhukan atas mereka. Kemudian orang yang pertama kali menjadikan mereka berjamaah dengan satu imam adalah Umar, ia berkata, “Sesungguhnya ini adalah bid’ah.” Sebagaimana yang dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya.

Perawi lain -selain Muslim- mengeluarkan riwayat ini dari hadits Abu Hurairah; Sesungguhnya Rasulullah Shallallaku Alaihi wa Sallam selalu memotivasi shahabat-shahabatnya untuk menghidupkan malam Ramadhan. Namun tidak ada penekanan dalam perintah itu. Beliau bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa shalat malam pada bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan ganjaran, maka akan diampunkan apa yang telah lalu dari dosa-dosanya.” [Shahih: Al Bukhari 37 dan Muslim 759]

Abu Hurairah berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah wafat, kebiasaan para shahabat melaksanakan shalat pada malam Ramadhan tetap berlangsung. Mulai dari khilafah Abu Bakar sampai Umar bin Khaththab.

Ada tambahan riwayat dari Al-Baihaqi, Urwah telah berkata, “Telah mengabarkan kepadaku Abdurrahman Al-Qari bahwa Umar keluar pada suatu malam di bulan Ramadhan. Beliau berkeliling di masjid, sementara orang-orang yang berada di masjid terpisah-pisah. Ada seseorang yang shalat sendirian, ada pula orang yang shalat mengimami yang lainnya. Maka Umar berkata, “Demi Allah, saya kira jika kami kumpulkan mereka dengan satu qari’ (imam) maka akan lebih baik, maka beliau berketetapan untuk mengumpulkan mereka dengan satu qari’. Beliau memerintahkan Ubay bin Kaab untuk menjadi imam mengimami mereka pada bulan Ramadhan itu. Maka keluarlah Umar dan orang-orang untuk shalat dengan shalatnya Ubay, kemudian beliau berkata, “Inilah sebaik-baiknya bid’ah”. Al-Baihaqi menurunkan banyak riwayat serupa dengan makna hadits ini.

Jika Anda telah mengetahui hal ini, maka Anda akan mengetahui bahwa Umarlah yang menjadikan manusia berjamaah dan menamakannya sebagai bid’ah.

Adapun ucapan beliau, “Sebaik-baiknya bid’ah.” Bukanlah yang dimaksud adanya bid’ah yang dipuji, tetapi semua bid’ah itu sesat. Dan ketahuilah, bahwa dapat dipastikan pemahaman ucapan bid’ah ini karena beliau menjadikan mereka berjamaah atas satu imam dan memerintahkan mereka berbuat demikian. Bukan yang dimaksud bahwa jamaahnya yang bid’ah karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menjadikan mereka berjamaah sebagaimana yang Anda ketahui.

Adapun jumlah rakaat yang beliau jadikan dua puluh rakaat tidak ada hadits marfu yang menjelaskan demikian kecuali yang diriwayatkan oleh Abdun bin Humaid dan Ath-Thabrani dari jalur periwayatan Abu Syaibah Ibrahim bin Utsman dari Hakam dari Muqsim dari Ibnu Abbas,

«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يُصَلِّي فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً، وَالْوِتْرَ»

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu shalat di bulan Ramadhan dua puluh rakaat disertai witir.” [Dhaif Jiddan: lihat kitab shalat Tarawih, Al-Albani hal. 19]

Telah berkata di dalam Subul Ar-Rasyad: Abu Syaibah telah didhaifkan oleh Ahmad, Ibnu Ma’in, Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan selain mereka. Mereka mendustakan Syu’bah. Ibnu Ma’in berkata, “Dia bukanlah orang yang tsiqah.” Beliau memasukkan hadits ini ke dalam hadits mungkar. Berkata Al-Adzra’i berkata dalam Al-Mutawassith, “Apa yang dinukil tentang shalatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada dua malam yang beliau keluar, malam itu dengan mengerjakan dua puluh rakaat adalah riwayat yang mungkar.” Berkata Az-Zarkasyi di dalam Al-Khadim, “Klaim bahwa Rasulullah shalat mengimami manusia pada malam itu dengan dua puluh rakaat adalah tidak sah. Tetapi riwayat yang kokoh dalam hadits yang shahih adalah tidak disebutkannya bilangan rakaat.”

Dalam sebuah riwayat Jabir,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَّى بِهِمْ ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ، وَالْوِتْرَ ثُمَّ انْتَظَرُوهُ فِي الْقَابِلَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إلَيْهِمْ»

“Sesungguhnya Rasulullah shalat bersama dengan manusia delapan rakaat dan witir. Kemudian mereka menunggu beliau pada malam berikutnya. namun beliau tidak keluar menemui mereka.” (HR. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dalam kitab-kitab Shahih mereka)

Al-Baihaqi mengeluarkan riwayat dari Ibnu Abbas dari jalan Abu Syaibah. Kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya Abu Syaibah itu dhaif.” Beliau juga meriwayatkan, “Sesungguhnya Umar memerintahkan kepada Ubay dan Tamim Ad-Dari untuk mengimami manusia dengan dua puluh rakaat.” Dalam riwayat yang lain, “Sesungguhnya mereka melaksanakan shalat Ramadhan pada zaman Umar dengan dua puluh rakaat.” Dalam riwayat yang lain, “Dua puluh tiga rakaat.” Dalam riwayat yang lain, “Sesungguhnya Ali Radhiyallahu Anhu pernah mengimami manusia dengan dua puluh rakaat dan berwitir dengan tiga rakaat.” Beliau berkata, “Dalam hadits ini ada riwayat yang kuat.”

Jika Anda mengetahui hal ini, maka Anda akan mengetahui bahwa tidak ada riwayat marfu’ yang menjelaskan bahwa shalat malam pada bulan Ramadhan dua puluh rakaat. Bahkan ada riwayat Aisyah yang disepakati keshahihannya menyatakan, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah menambah pada bulan Ramadhan dan lainnya lebih dari sebelas rakaat.” Dengan demikian dapat Anda ketahui, bahwa shalat tarawih dengan tata cara yang banyak dilakukan belakangan ini adalah bid’ah.

Memang benar, shalat pada malam Ramadhan adalah sunnah dan berjamaah dalam melaksanakannya juga sunnah yang tidak dapat diingkari. Ibnu Abbas dan shahabat yang lainnya telah bermakmum kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada shalat malam. Akan tetapi menjadikan tatacara dan jumlah bilangan menjadi sunnah dan menjaga perbuatan inilah yang kami katakan dengan bid’ah. Umar ketika keluar pertama kali mendapatkan manusia terpisah-pisah. Di antara mereka ada yang shalat sendirian. Ada juga ada yang shalat secara berjamaah sebagaimana yang terjadi pada masa Rasulullah. Dan sebaik-baiknya perkara adalah yang terjadi pada masa beliau.

Adapun penamaannya dengan tarawih, maka pandangannya seperti riwayat yang dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dari hadits Aisyah, ia berkata,

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي اللَّيْلِ ثُمَّ يَتَرَوَّحُ فَأَطَالَ حَتَّى رَحِمْتَهُ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat empat rakaat pada malam hari kemudian beliau beristirahat, kemudian beliau memperpanjang shalatnya sehingga aku merasa kasihan kepadanya.” [Al Baihaqi 2/497]

Al-Baihaqi berkata, “Al-Mughirah bin Ziyad meriwayatkan hadits ini dengan seorang diri. Ia bukanlah orang yang kuat. Jika hadits ini benar, maka hadits ini menjadi dasar bagi istirahatnya imam di dalam shalat tarawih.”

Adapun hadits, “Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khalifah yang diberi petunjuk setelahku, maka berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham.” Dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Hakim.

Ia berkata, “Hadits ini sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim. Serupa dengan hadits ini, “Menirulah kalian dengan orang-orang setelahku, Abu Bakar dan Umar.’ Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits ini hasan.” Dikeluarkan oleh Ahmad, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Hadits ini juga memiliki jalur periwayatan lain yang menjadi pembicaraan, namun hadits ini saling menguatkan antara yang satu dengan yang lain. Sesungguhnya bukanlah yang dimaksud sunnah khulafaur Rasyidin kecuali tatacara mereka yang sesuai dengan tatacara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam berjihad melawan musuh menguatkan syiar agama dan semisalnya.

Hadits ini umum bagi seluruh khalifah yang diberi petunjuk tidak terkhusus pada Abu Bakar dan Umar saja. Sesuatu yang diketahui dalam kaidah syariah bahwa tidaklah khalifah Ar-Rasyidin membuat sebuah syariat yang bertentangan dengan syariat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Umar Radhiyallahu Anhu saja yang dirinya termasuk Khulafaur Rasyidin menamakan apa yang ia lihat dari berjamaahnya orang yang melakukan shalat malam pada bulan Ramadhan sebagai bid’ah. Ia tidak mengatakan bahwa itu sunnah. Maka pikirkanlah ini.

Dan sesungguhnya banyak shahabat Radhiyallahu Anhum yang bertentangan dengan Abu Bakar dan Umar di berbagai tempat dan masalah. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak memahami hadits bahwa segala apa yang diucapkan dan diperbuat oleh mereka sebagai hujjah.

Al-Barmawi telah meneliti tentang masalah ini di dalam kitabnya Syarah Alfiyah dalam ilmu ushul fikih. Ia mengucapkan, “Adapun hadits yang pertama menunjukkan bahwa jika mereka -Khulafaur Rasyidin- bersepakat atas sebuah ucapan, maka ucapan itu sebagai hujjah, kecuali jika ucapan mereka itu tidak didukung oleh ucapan shahabat yang lain.” Yang benar adalah bahwa Al-Iqtida’ (mengikut) bukanlah At-taqlid (meniru), tetapi memiliki makna lain. Sebagaimana yang telah kami tahqiq di dalam syarah Nazhm Al-Kafil dalam pembahasan masalah ijma.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *