[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 98

02.09. BAB SHALAT SUNNAH (TATHAWWU’) 04

0341

341 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةٍ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

وَلِلْخَمْسَةِ – وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ – بِلَفْظِ «صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى»

341. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat, jika salah seorang di antara kalian khawatir masuk waktu Subuh, hendaklah ia shalat satu rakaat sebagai witir bagi shalat-shalat yang telah ia lakukan.” (Muttafaq Alaih)

[Al-Bukhari (472) dan Muslim (749)]

Menurut Al-Khamsah –Perawi yang lima- yang dishahihkan oleh Ibnu Hibban dengan lafadz “Shalat malam dan siang dua rakat-dua rakaat.’

[shahih: At Tirmidzi 597]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsit Hadits

Hadits ini sebagai dalil disyariatkannya shalat sunnah malam dua rakaat-dua rakaat, dengan salam pada setiap rakaat keduanya. Pendapat ini telah didukung oleh mayoritas ulama.

Berkata Imam Malik, “Tidak boleh menambah lebih dari dua rakaat, karena hadits ini memberikan pemahaman pembatasan lafadz ini menyamai kekuatan lafadz “Tidaklah ada shalat malam itu kecuali dua rakaat-dua rakaat”.

Pendapat ini ditolak mayoritas ulama. Mereka menjawab pendapat ini, “Hadits ini terjadi sebagai jawaban dari pertanyaan tentang shalat malam, maka tidak ada petunjuk adanya pembatasan. Sekiranya pendapat ini diterima, maka akan bertolak belakang dengan perbuatan Rasulullah. Yakni adanya nash yang menunjukkan witir beliau lima rakaat, sebagaimana hadits Aisyah yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Perbuatan Rasulullah ini menunjukkan tidak adanya pembatasan.

Sabda beliau, “Jika salah seorang di antara kalian khawatir masuk waktu Shubuh, maka hendaklah ia shalat satu rakaat” merupakan dalil yang menunjukkan tidak bolehnya melakukan witir satu rakaat kecuali karena khawatir masuknya waktu Shubuh. Dan jika tidak ada kekhawatiran itu, maka berwitir dengan lima atau tujuh rakaat dan seterusnya. Dan tidak dengan tiga rakaat karena adanya larangan tiga rakaat ini. Ad-Daruquthni, Ibnu Hibban dan Al-Hakim meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah secara marfu’,

«أَوْتِرُوا بِخَمْسٍ أَوْ بِسَبْعٍ أَوْ بِتِسْعٍ أَوْ بِإِحْدَى عَشْرَةَ»

“Berwitirlah kalian dengan lima rakaat, tujuh, sembilan atau sebelas.”

Al-Hakim menambahkan dalam riwayatnya,

«وَلَا تُوتِرُوا لَا تَشَبَّهُوا بِصَلَاةِ الْمَغْرِبِ»

“Janganlah kalian berwitir dengan tiga rakaat, janganlah kalian serupakan dengan shalat Magrib.”

Pengarang (Ibnu Hajar Al-Asqalani) mengatakan, “Rawi hadits ini semuanya tsiqah (dapat dipercaya) tidak ada masalah orang yang merawikan hadits ini secara mauquf.

Hadits ini bertentangan dengan Hadits Abu Ayyub,

«مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ فَلْيَفْعَلْ»

“Barangsiapa yang menginginkan untuk berwitir dengan tiga rakaat silahkan ia melakukannya.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan lain-lainnya.)

Para ulama menggabungkan antara dua pemahaman hadits ini. Bahwa larangan witir dengan tiga rakaat itu jika dilakukan dengan duduk tasyahud awal karena hal ini menyerupai shalat Magrib. Namun, jika tidak duduk (untuk tasyahud), kecuali untuk tasyahud akhir, maka witir ini tidak menyerupai shalat Magrib. Ini adalah penggabungan yang baik. Pendapat ini didukung oleh hadits Aisyah dalam riwayat Ahmad, An-Nasa’i, Al-Baihaqi, Al-Hakim,

«كَانَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُوتِرُ بِثَلَاثٍ لَا يَجْلِسُ إلَّا فِي آخِرَتِهِنَّ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berwitir dengan tiga rakaat, tidaklah beliau duduk, kecuali pada rakaat akhir.”

Menurut lafadz Ahmad,

«كَانَ يُوتِرُ بِثَلَاثٍ لَا يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ»

“Beliau witir dengan tiga rakaat, dan tidaklah beliau memisahkan di antara keduanya.”

Adapun ‘lafadz Al-Hakim berbunyi

لَا يَقْعُدُ

“Tidak duduk…”

Adapun pemahaman bahwa tidak boleh witir dengan satu rakaat kecuali karena khawatir masuknya waktu Shubuh bertentangan dengan hadits Abu Ayyub ini, di dalamnya disebutkan,

«وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ»

“Barangsiapa yang menginginkan untuk berwitir dengan satu rakaat silahkan ia melakukannya.”

Hadits ini lebih kuat dari pemahaman hadits dalam kitab ini (Bulugh Al-Maram) sekaligus hadits Abu Ayyub ini menjadi dalil sahnya bertakbiratul ihram dengan satu rakaat.

Menurut perawi yang lima (Al-Khamsah), hadits Abu Hurairah yang dishahihkan oleh Ibnu Hibban dengan lafadz, “Shalat malam dan siang dua rakaat dua rakaat.” An-Nasa’i berkata, “Ini sebuah kekeliruan.” Hadits ini dikeluarkan oleh rawi-rawi yang disebutkan dalam hadits Ali bin Abdillah Al-Bariqi Al-Azdi dari Ibnu Umar sebagaimana hadits ini. Asal hadits ini ada di kitab Ash-Shahihain tanpa menyebutkan lafadz “النَّهَارَ ” (siang).

Hadits ini juga diriwayatkan dengan sanad dari Yahya bin Ma’in. Sesungguhnya dia berkata, “Shalat siang empat rakaat tidak dipisah di antara keduanya.” Kemudian dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya Ahmad bin Hambal berkata, “Shalat malam dan siang dua rakaat dua rakaat.” Yahya berkata, “Dengan hadits apa beliau berkata demikian?” Dikatakan kepadanya, “Dengan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Azdi. Beliau berkata, “Siapakah Al-Azdi itu, sehingga saya harus menerima riwayatnya?!

An-Nasa’i berkata, “Hadits ini menurut saya keliru.” Demikian juga Al-Hakim berkata dalam Ulum Al-Hadits, Ad-Daraquthni dalam Al-Ilal bahwa penyebutan kata An-Nahar adalah sebuah kekeliruan. Al-Khatabi berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thawus, Nafi’ dan lainnya dari Ibnu Umar. Tidak ada salah seorang pun dari mereka menyebutkan lafadz An-Nahar, kecuali tambahan ini tsiqah dan dapat diterima. Al-Baihaqi berkata, “Hadits ini shahih.” Ia melanjutkan, “Al-Bariqi dipakai hujjah oleh Muslim, dan tambahan dari tsiqah diterima.” Sampai di sini ucapan pengarang (Ibnu Hajar) dalam At-Talkhish.

Lihatlah bagaimana perbincangan ulama tentang tambahan ini. Mereka berselisih pendapat dengan perselisihan yang hebat, dan semoga dua perkara ini boleh dua-duanya. Abu Hanifah berkata, “Seseorang boleh memilih pada siang hari antara shalat dua rakaat dua rakaat atau empat rakaat, dan tidak lebih dari itu.” Al-Bukhari telah mengeluarkan delapan hadits tentang shalat sunnah siang dua rakaat dua rakaat.

0342

342 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ» أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

342. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat sunnah pada malam hari.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 1163]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Hadits Rasulullah, “Shalat yang paling utama setelah shalat fardhu” (karena shalat fardhu adalah yang paling utama) dan “shalat malam” (bisa dipahami bahwa yang dimaksud adalah pada larut malam). Hal ini sesuai dengan hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh jamaah kecuali Al-Bukhari, ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya, “Shalat apakah yang paling utama setelah shalat wajib? Beliau menjawab, “Shalat pada tengah malam.”

Dalam hadits Amr bin Abasah yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia menshahihkan hadits ini,

«أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الرَّبُّ مِنْ الْعَبْدِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ الْآخِرِ فَإِنْ اسْتَطَعْت أَنْ تَكُونَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللَّهَ فِي تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ»

“Saat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb adalah pada tengah malam yang terakhir, jika ia mampu untuk menjadi orang yang berdzikir kepada Rabbnya pada saat itu maka hendaklah dilakukan.” [Shahih: At Tirmidzi 3579]

Dalam riwayat At-Tirmidzi juga diriwayat oleh Abu Dawud,

«قُلْت يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ اللَّيْلِ أَسْمَعُ قَالَ جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرِ فَصَلِّ مَا شِئْت فَإِنَّ الصَّلَاةَ فِيهِ مَكْتُوبَةٌ مَشْهُودَةٌ»

“Aku berkata, “Ya Rasulullah, (waktu) malam manakah yang paling didengar? Beliau menjawab, “Pada pertengahan malam terakhir, shalatlah pada waktu itu jika kau mau, sesunguhnya shalat pada saat ini disaksikan dan ditulis (di sisi Allah).” [Shahih: Abu Daud 1277]

Yang dimaksud dengan pertengahan malam adalah sepertiga terakhir, sebagaimana telah diriwayatkan beberapa hadits dalam hal ini.

0343

343 – وَعَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثِ فَلْيَفْعَلْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ» رَوَاهُ الْأَرْبَعَةُ إلَّا التِّرْمِذِيَّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ، وَرَجَّحَ النَّسَائِيّ وَقْفَهُ

343. Dari Abu Ayyub AlAnshari, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Shalat witir itu hak bagi setiap muslim, siapa yang menyukai untuk berwitir lima rakaat maka lakukanlah, , barangsiapa yang suka untuk berwitir tiga rakaat maka lakukanlah, dan barangsiapa yang menyukai untuk berwitir dengan satu rakaat maka lakukanlah.” (HR. Empat kecuali At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Ibnu Hibban, An-Nasa’i menguatkan kemauqufan hadits ini)

[Shahih: Abu Daud 1422]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Shalat witir itu hak bagi setiap muslim (nash ini menjadi dalil bagi yang mengatakan wajibnya shalat witir) siapa yang menyukai untuk berwitir lima rakaat maka lakukanlah, barangsiapa yang suka untuk berwitir tiga rakaat maka lakukanlah (telah kami jelaskan tentang kompromi antara riwayat ini dengan riwayat yang menyelisihnya) dan barangsiapa yang menyukai untuk berwitir dengan satu rakaat maka lakukanlah (tanpa menggabungkan rakaat lain kepadanya, sebagaimana dzahirnya hadits ini).

Hadits ini dishahihkan oleh Abu Hatim, Adz-Dzahly, dan Ad-Daraquthni dalam Al-Ilal. Al-Baihaqi dan selainnya memauqufkan hadits ini. Pengarang (Ibnu Hajar) mengatakan, “Pendapat terakhir inilah yang benar.”

Aku (Shan’ani) berkata, “Hadits ini menempati hukum marfu’, tidak ada faidah memperluas ijtihad dalam hal ini, yakni dalam penentuan derajat hadits.

Tafsir Hadits

Hadits ini menjadi dalil wajibnya shalat witir. Sebagaimana disebutkan juga oleh hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Ahmad,

«مَنْ لَمْ يُوتِرْ فَلَيْسَ مِنَّا»

“Barangsiapa yang tidak berwitir, maka ia bukan dari kami.’ [Dhaif; Dhaif Al Jami 6150]

Yang berpendapat wajibnya shalat witir ini adalah Al-Hanafiyah.

Mayoritas ulama berpendapat tidak wajibnya shalat witir. Mereka berdalilkan dengan hadits Ali Radhiyallahu Anhu, “Witir bukanlah kewajiban sebagaimana perihal shalat fardhu, akan tetapi merupakan shalat sunnah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.” Hadits ini akan dijelaskan belakangan. Sedangkan lafazhnya menurut Ibnu Majah berbunyi,

«إنَّ الْوِتْرَ لَيْسَ بِحَتْمٍ وَلَا كَصَلَاتِكُمْ الْمَكْتُوبَةِ وَلَكِنْ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَوْتَرَ وَقَالَ يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ أَوْتِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ»

“Sesungguhnya witir itu tidaklah wajib dan tidak juga seperti shalat kalian yang difardhukan, tetapi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu berwitir dan beliau bersabda, “Wahai ahli Qur’an berwitirlah kalian, sesungguhnya Allah itu witir (ganjil) menyukai witir.” [Shahih: Shahih Al Jami’ 7860]

Al-Majid Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa Ibnu Al-Mundzir meriwayatkan hadits Abu Ayyub dengan lafazh, ‘Witir itu hak, tetapi bukan kewajiban.” Dan dengan hadits,

«ثَلَاثٌ هُنَّ عَلَيَّ فَرَائِضُ وَلَكُمْ تَطَوُّعٌ»

“Tiga perkara yang bagiku merupakan kefardhuan, tetapi bagi kalian hanya sunnah.” [Maudhu: Dhaif Al-Jami 2561]

Beliau menyebutkan di antara yang tiga itu adalah witir. Walaupun hadits ini dhaif, tetapi hadits ini memiliki riwayat-riwayat pendukung yang menguatkannya. Dan hadits Abu Ayyub yang dijadikan dalil tentang kewajiban witir telah Anda ketahui bahwa yang tepat bagi hadits ini adalah hadits mauquf, kecuali ia menyamai hukum marfu’. Namun demikian, hadits ini tidak dapat disandingkan dengan dalil-dalil yang menunjukkan tidak wajibnya witir. Dan makna wajib juga terkadang diucapkan untuk perkara sunnah yang sangat dianjurkan. Sebagaimana yang telah lalu dalam permasalahan mandi pada hari Jum’at.

Ucapan beliau ‘bi khamsin’ (lima rakaat) atau ‘bi tsalatsin’ (tiga rakaat) maksudnya adalah tidak duduk (untuk tasyahud) kecuali pada rakaat terakhir. Akan datang hadits Aisyah untuk menjelaskan mengenai shalat witir lima rakaat ini.

Kemudian ucapan beliau, ‘bi wahidah’ (satu rakaat), yakni hanya melakukan satu rakaat. Dan telah dkiwayatkan perilaku seperti ini dari sekelompok shahabat. Muhammad bin Nashr dan lainnya mengeluarkan hadits dengan sanad yang shahih dari As-Saib bin Yazid, “Sesungguhnya Umar membaca Al-Qur’an pada satu malam dalam satu rakaat dan tidak shalat selainnya.” Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Muawiyah berwitir dengan satu rakaat dan Ibnu Abbas membenarkannya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *