[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 97

02.09. BAB SHALAT SUNNAH (TATHAWWU’) 03

0337

337 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُخَفِّفُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ حَتَّى إنِّي أَقُولُ: أَقَرَأَ بِأُمِّ الْكِتَابِ» ؟ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

337. Dan Aisyah, ia berkata, “Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu meringankan dua rakaat yang dilakukannya sebelum shalat Shubuh, sampai-sampai aku berkata, “Apakah beliau membaca Ummul Kitab (Al-Fatihah)?” (Muttafaq Alaih)

[Shahih: Al Bukhari 1171 dan Muslim 724]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsif Hadits

Ungkapan, “Apakah beliau membaca Ummul Kitab (Al-Fatibah)?”, yakni apakah beliau membaca Al-Fatihah atau tidak, karena ringannya beliau dalam melaksanakan dua rakaat shalat sunnah tersebut.

Meringankan shalat sunnah sebelum Subuh ini adalah mazhab mayoritas ulama. Akan dijelaskan apa yang beliau baca dalam dua rakaat ini. Al-Hanafiyyah berpendapat, memanjangkan dua rakaat ini, telah dinuqil dari An-Nakha’i, dan telah dibawakan oleh Al-Baihaqi hadits Mursal dari Said bin Jabir. Dalam hadits ini ada rawi yang tidak disebutkan, jadi apa yang telah ditetapkan berdasarkan hadits yang shahih tidak dapat disebandingkan dengan riwayat seperti ini.

0338

338 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَرَأَ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ {قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ} [الكافرون: 1] ، {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ} [الإخلاص: 1] » رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

338. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca pada dua rakaat fajar dengan ‘Qul Ya Ayyuhal Kafiruun’ (surah Al-Kafirun) dan ‘Qul Huwallahu Ahad’ (surah Al-Ikhlas).” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 726]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsif Hadits

Yakni surah Al-Kafirun dibaca pada rakaat pertama setelah surat Al-Fatihah, dan surah Al-Ikhlas dibaca pada rakaat kedua setelah surat Al-Fatihah.

Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah beliau membaca pada dua rakaat fajar bacaan ayat {قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا} sampai akhir ayat di surah Al-Baqarah sebagai ganti dari surah Al-Kafirun dan {قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا} sampai akhir surah Ali Imran sebagai ganti dari surah Al-Ikhlas. Hadits ini merupakan dalil bolehnya meringkas ayat dari tengah surah.

0339

339 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا صَلَّى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ» . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

339. Dan Aisyah Radhiyallahu Anha ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallatn jika telah selesai dari shalat dua rakaat fajar, beliau tidur miring pada sisinya yang sebelah kanan.” (HR. Bukhari).

[Shahih: Al Bukhari 626]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Dalam masalah tidur miring ini, para ulama terbagi menjadi beberapa kelompok. Ada yang berpendapat sangat keras (berlebihan), ada yang longgar, dan ada yang pertengahan. Golongan yang berpendapat keras adalah Ahlu Zhahir (kelompok yang sangat berpegang pada zhahir nash -tekstual-) seperti Ibnu Hazm dan para pengikutnya. Mereka berpendapat wajibnya tidur miring dan menganggap batal shalat Subuh tanpa melakukan hal tersebut. Hal ini berdasarkan kepada perbuatan Rasulullah yang disebutkan dalam hadits ini. Dan juga adanya hadits yang memerintahkan tidur miring, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«إذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الصُّبْحِ فَلْيَضْطَجِعْ عَلَى جَنْبِهِ الْأَيْمَنِ»

“Jika salah seorang di antara kalian shalat dua rakaat sebelum shalat Subuh, maka hendaklah ia tidur miring pada lambung kanannya.” At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih gharib.” [SHAHIH; At Tirmidzi 420]

Berkata Ibnu Taimiyah, “Hadits ini tidak shahih, karena di dalamnya ada Abdul Wahid bin Ziyad. Ia meriwayatkan hadits ini seorang diri, dan hafalannya dipermasalahkan.” Berkata pengarang kitab ini -Ibnu Hajar Al-Asqalani-, “Yang benar hadits ini dapat dijadikan hujjah, akan tetapi memalingkan perintah ini sebagai wajib tidak tepat karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak terus menerus melakukannya.”

Sebagian kelompok terlalu longgar memahaminya. Mereka mengatakan makruhnya tidur miring ini. Mereka berhujjah dengan hujjah bahwa sesungguhnya Ibnu Umar tidak pernah melakukannya dan beliau berkata, “Cukuplah dengan salam.” (HR. Abdurrazaq dalam Al Mushannaf 3/42). Bahkan beliau melarang orang untuk melakukannya. Ibnu Mas’ud berkata, “Apa yang dilakukan orang-orang itu ketika shalat dua rakaat turun (merunduk) seperti merunduknya seekor keledai.” [Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 2/55]

Sebagian kelompok lagi bersikap pertengahan, di antara mereka adalah Imam Malik dan lain-lainnya. Menurut mereka, melakukan tidur miring diperbolehkan jika dimaksudkan untuk mengistirahatkan badannya, dan memakruhkan bagi orang yang melakukannya karena menganggap sunnah. Di antara mereka ada yang menganggapnya sebagai amalan sunnah secara mutlak, entah dilakukan karena istirahat atau tidak. Dikatakan bahwa hal ini disyariatkan bagi orang yang shalat tahajjud pada malamnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdurrazaq dari Aisyah, beliau pernah berkata, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah melakukan tidur miring karena termasuk amalan sunnah, tetapi karena beliau menghidupkan malamnya (dengan shalat tahajjud) sehingga beliau tidur miring untuk beristirahat dari kepenatan tersebut.”

Di dalam hadits ini, ada rawi yang tidak disebutkan namanya. Berkata Imam Nawawi, “Pendapat yang terpilih dalam hal ini, bahwa tidur miring adalah sunnah berdasarkan zhahirnya hadits Abu Hurairah. Aku (Ash-Shanani) berkata, “Pendapat ini yang paling mendekati kebenaran.” Jika hadits Aisyah ini shahih, maka hadits ini mengabarkan tentang pemahaman Aisyah, dan tidak terus menerusnya Rasulullah melakukannya menunjukkan kesunnahannya, kemudian tidur miring ini disunnahkan pada lambung kanan. Ibnu Hazm berkata, “Jika beliau udzur untuk melakukannya ke sebelah kanan, maka beliau hanya berisyarat saja dan tidak tidur miring ke sebelah kirinya.”

0340

340 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ فَلْيَضْطَجِعْ عَلَى جَنْبِهِ الْأَيْمَنِ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ.

340. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian shalat dua rakaat sebelum Subuh, maka hendaklah ia tidur miring pada rusuk yang sebelah kanan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan telah menshahihkannya)

[Shahih: At Tirmidzi 420]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Pembicaraan tentang hadits ini telah berlalu. Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah melakukan tidur miring ini. Inilah riwayat yang menunjukkan perintah tentang hal tersebut. Telah dibahas juga sebelumnya, bahwa hadits ini harus dipalingkan dari makna wajibnya sebagaimana yang Anda ketahui, dan Anda telah mengetahui pendapat-pendapat ulama dalam hal tersebut.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *