[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 96

02.09. BAB SHALAT SUNNAH (TATHAWWU’) 02

0333

333 – وَعَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: «مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمِهِ وَلَيْلَتِهِ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَفِي رِوَايَةٍ ” تَطَوُّعًا “.

وَلِلتِّرْمِذِيِّ نَحْوُهُ، وَزَادَ «أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ» – وَلِلْخَمْسَةِ عَنْهَا «مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ»

333. Dari Ummu Habibah Ummul Mukminin -ibunya orang-orang mukmin-Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa jang shalat dua belas rakaat pada siang hari dan malam harinya, maka akan dibangunkan baginya dengan dua belas rakaat ini rumah di surga.” Diriwayatkan oleh Muslim. Dalam riwayat lain, “Shalat sunnah.”

[Shahih: Muslim 728]

Menurut riwayat Tirmidzi sama dengan teks hadits ini namun beliau menambahkan, “Empat rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya, dua rakaat sebelum shalat fajar.”

[Shahih: At Tirmidzi 415]

Menurut riwayat imam yang lima, darinya, “Barangsiapa yang menjaga empat rakaat sebelum zhuhur, empat rakaat setelahnya maka Allah akan mengharamkan atasnya neraka.”

[Shahih: At Tirmidzi 427]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ummu Habibah Ummul Mukminin -ibunya orang-orang mukmin- (telah dijelaskan namanya dan riwayat hidupnya) ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang shalat dua belas rakaat pada siang hari dan malam harinya (seakan yang dimaksud adalah dilakukan setiap sehari semalam tidak hanya sehari dari hari-harinya dan tidak hanya semalam dari malam-malamnya) maka akan dibangunkan baginya dengan dua belas rakaat ini rumah di surga (akan dijelaskan secara terperinci dalam riwayat At-Tirmidzi) HR. Muslim dan dalam riwayat yang lain (yaitu Riwayat Muslim dari Ummu Habibah) sunnah (untuk menjelaskan maksud dari dua belas rakaat, hal ini merupakan tambahan penjelasan dan jikapun tidak maka hal ini sudah merupakan suatu yang diketahui). Dan riwayat At-Tirmidzi (yaitu dari Ummu Habibah) semisalnya (yaitu sama dengan hadits Muslim) ia menambahkan (sebagai rincian dari yang disebutkan secara global oleh riwayat Muslim) empat rakaat sebelum Zhuhur (yaitu yang sebagaimana yang disebutkan oleh Aisyah Radhiyallahu Anha dalam haditsnya yang telah lalu) dua rakaat setelahnya (dan ini yang disebutkan dalam hadits Ibnu Umar) dua rakaat setelah Maghrib (yaitu yang telah dibatasi oleh hadits Ibnu Umar dengan “yang beliau lakukan di rumahnya.”) dua rakaat setelah Isya (ini juga yang dibatasi beliau dengan “dirumahnya.”) dua rakaat sebelum shalat fajar (ini yang disepakati oleh hadits Ibnu Umar dan Aisyah pada hadits mereka yang telah lalu) dan bagi riwayat imam yang lima (dari Ummu Habibah) barangsiapa yang menjaga empat rakaat sebelum zhuhur dan empat rakaat setelahnya (bisa dipahami bahwa yang dimaksud itu adalah selain dua rakaat yang telah disebutkan sebelumnya. Juga mungkin dipahami empat rakaat dari dua rakaat sebelumnya) maka Allah akan mengharamkan neraka atasnya (yaitu mencegah manusia untuk masuk ke dalam neraka, sebagaimana tercegahnya sesuatu yang diharamkan dari seseorang yang diharamkan atas sesuatu tersebut).”

0334

334 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى أَرْبَعًا قَبْلَ الْعَصْرِ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ، وَحَسَّنَهُ. وَابْنُ خُزَيْمَةَ، وَصَحَّحَهُ.

334. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah mengasihi seseorang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi menghasankan hadits ini, dan Ibnu Khuzaimah menshahihkannya)

[Shahih: At Tirmidzi 430]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Empat rakaat yang disebutkan dalam hadits -empat rakaat sebelum Ashar- tidak disebutkan pada hadits sebelumnya. Jika digabungkan dengan hadits Ummu Habibah yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, maka shalat-shalat sunnah sebelum shalat fardhu dan sesudahnya berjumlah enam belas rakaat.

Adapun shalat dua rakaat sebelum Ashar, sudah termasuk dalam hadits, “Di antara adzan dan iqamah ada shalat sunnah.’ [Al Bukhari 624 dan Muslim 838]

0335

335 – وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ الْمُزَنِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «صَلُّوا قَبْلَ الْمَغْرِبِ، صَلُّوا قَبْلَ الْمَغْرِبِ ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ» كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

(وَفِي رِوَايَةٍ لِابْنِ حِبَّانَ) «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَّى قَبْلَ الْمَغْرِبِ رَكْعَتَيْنِ»

335. Dari Abdullah bin Mughaffal Al-Muzani Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Shalatlah kalian sebelum Maghrib, shalatlah kalian sebelum Maghrib.” Kemudian beliau bersabda pada yang ketiga kalinya, “Bagi yang mau.” Khawatir orang-orang akan menjadikannya sunnah.” (HR. Al-Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 1183]

Dan dalam riwayat Ibnu Hibban, “Bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam shalat dua rakaat sebelum Maghrib. ‘

[Syadz: Ibnu Hibban 617-mawarid; Al-Albani berkata, hadits ini shahih berupa perkataan bukan perbuatan karena ia syadz. Lihat Ash Shahihah 233 dan Adh-Dhaifah 5662. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abdullah bin Mughaffal Al-Muzani, beliau adalah Abu Said. Menurut riwayat yang paling masyhur Abdullah bin Mughaffal bin Ghanam. Termasuk kelompok shahabat yang berbaiat. Menetap di Madinah kemudian pindah ke Basrah dan membangun rumah di sana. Beliau adalah salah seorang dari sepuluh orang yang diutus oleh Umar ke Basrah untuk mengajarkan fikih kepada orang-orang di sana. Beliau wafat pada tahun 60 H. Dikatakan juga setahun sebelum tahun tersebut.

Tafsir Hadits

Maksud dari sabda Rasulullah, “khawatir orang-orang akan menjadikannya sunnah” yakni dikhawatirkan orang-orang akan menjadikannya sebagai suatu amalan rutin yang tidak diperselisihkan, sehingga terkadang menyebabkan hilangnya awal waktu (shalat Maghrib).

Hadits ini menjadi dalil bahwa disunnahkan melakukan shalat sunnah sebelum shalat Maghrib. Inilah yang dipahami dari ucapan beliau “Qabla Al-Maghrib”, bukan sebelum waktu Maghrib, sebagaimana diketahui bahwa shalat sebelum waktu Magrib terlarang.

Menurut riwayat Ibnu Hibban dari hadits Abdullah yang telah disebutkan bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat dua rakaat sebelum Maghrib. Jelaslah bahwa shalat sunnah dua rakaat sebelum shalat Maghrib telah ditetapkan dengan ucapan dan perbuatan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

0336

336 – وَلِمُسْلِمٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: «كُنَّا نُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ غُرُوبِ الشَّمْسِ، وَكَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَرَانَا، فَلَمْ يَأْمُرْنَا وَلَمْ يَنْهَنَا»

336. Berdasarkan riwayat Muslim dari Anas, “Kami selalu shalat dua rakaat setelah terbenamnya matahari, sementara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyaksikan kami, beliau tidak memerintah kami dan juga tidak melarang kami.”

[Shahih: Muslim 837]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Berdasar hadits ini, shalat sunnah sebelum Magrib juga ditetapkan secara taqrir (diamnya Rasulullah terhadap sebuah perilaku ibadah yang menunjukkan keridhaan beliau terhadap ibadah tersebut-pent), sehingga jadilah shalat sunnah dua rakaat ini ditetapkan dengan tiga macam sunnah. Bisa saja Anas belum mendengar hadits Abdullah yang memerintahkan shalat ini. Berdasarkan semua riwayat ini, maka shalat sunnah (rawatib) ada dua puluh rakaat. Apabila digabungkan dengan shalat fardhu yang tujuh belas rakaat, jadi sempurnalah bagi orang yang menjaga shalat sunnah ini dalam sehari semalamnya ia melakukan tiga puluh tujuh rakaat. Jika ditambah dengan tiga rakaat witir, maka lengkaplah empat puluh rakaat sehari semalam.

Ibnul Qayyim berkata, “Sesungguhnya beliau menjaga dalam sehari semalam empat puluh rakaat, tujuh belas rakaat shalat fardhu, dua belas rakaat yang diriwayatkan oleh Ummu Habibah, dan sebelas rakaat shalat malam, maka lengkaplah empat puluh rakaat.”

Tidak diragukan bahwa hitungan ini mencapai apa yang telah disebutkan dari shalat-shalat sunnah selain witir, yakni dua puluh dua rakaat. Jika kita menjadikan empat rakaat sebelum Zhuhur dan sesudahnya tidak masuk ke dalam dua rakaat yang disebutkan dalam riwayat Ibnu Umar, dan ditambahkan dengan riwayat Ummu Habibah yang sesudah Isya, maka semuanya terhitung dua puluh empat rakaat selain witir dan shalat fardhu.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *