[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 95

02.09. BAB SHALAT SUNNAH (TATHAWWU’) 01
ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Makna shalat tathawwu’ adalah shalat yang dilakukan seorang hamba secara tathawwu’. Di dalam Al-Qamus makna tathawwu’ adalah nafilah (sesuatu perkara agama yang mendapat ganjaran ketika dikerjakan dan tidak berdosa kalau ditinggalkan. Dinamakan juga dengan sunnah (yang disunnahkan), fadhilah (keutamaan) dan targhib (dianjurkan), seperti shalat dhuha -Pent)

0330

330 – عَنْ «رَبِيعَةَ بْنِ مَالِكٍ الْأَسْلَمِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ لِي النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: سَلْ، فَقُلْت: أَسْأَلُك مُرَافَقَتَك فِي الْجَنَّةِ، فَقَالَ: أَوَ غَيْرَ ذَلِكَ فَقُلْت: هُوَ ذَاكَ، قَالَ: فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِك بِكَثْرَةِ السُّجُودِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

330. Dari Rabiah bin Ka’ab Al-Aslamy berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah berkata kepadaku, “Mintalah.” Lantas aku berkata, “Aku minta untuk dapat menemanimu di surga.” Beliau berkata, “Atau ada permintaan yang lain.” Aku berkata, “Itulah permintaanku.” Beliau menjawab, “Bantulah aku untuk mewujudkan permintaanmu itu dengan memperbanyak sujud.” (HR. Muslim).

[Shahih: Muslim 489]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Rabiah bin Ka’ab Al-Aslamy adalah termasuk ahli suffah (kelompok orang-orang yang menetap di pelataran Masjid Nabawi -pent). Beliau dikenal dengan panggilan Abu Firas. Salah seorang pembantu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sejak awal menjadi shahabat beliau, dan senantiasa menemani beliau baik dalam keadaan menetap atau dalam bepergian. Meninggal pada tahun 63 H.

Tafsif Hadits

Pengarang kitab Bulugh Al-Maram memahami makna sujud dengan shalat sunnah. Maka ia menjadikan hadits ini sebagai dalil shalat tathawwu’ (sunnah). Seakan-akan ia memalingkan dari hakikatnya. Keberadaan sujud tanpa dengan shalat tidak begitu disukai jika lafazh sujud ini disebutkan dengan terpisah. Lafazh sujud ini walaupun juga tepat untuk shalat fardhu, tetapi mengerjakan sesuatu yang fardhu adalah keharusan bagi setiap muslim. Hanya saja petunjuk Rasulullah dengan sesuatu yang istimewa bagi Rabiah -dengan memperbanyak sujud-diharapkan ia memperoleh apa yang ia minta dari beliau.

Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan kesempurnaan iman Rabi’ah, dengan ketinggian cita-citanya sampai kepada cita-cita yang paling luhur, di atas segala tingkatan, dengan menjauhkan dirinya dari dunia dan segala godaannya.

Hadits ini juga sebagai dalil bahwa shalat adalah amal yang paling utama yang ditunjukkan kepada orang yang seperti dia. Hal itu bisa dipahami, bahwa sungguh tidak ada petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mengabulkan permintaannya itu kecuali dengan memperbanyak shalat. Sementara permintaannya ini adalah permintaan yang paling mulia (menemani Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di surga).

0331

331 – وَعَنْ «ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: حَفِظْت مِنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَشْرَ رَكَعَاتٍ: رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الصُّبْحِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

وَفِي رِوَايَةٍ لَهُمَا: وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْجُمُعَةِ فِي بَيْتِهِ

– وَلِمُسْلِمٍ: «كَانَ إذَا طَلَعَ الْفَجْرُ لَا يُصَلِّي إلَّا رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ»

331. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu ia berkata, Aku menjaga dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sepuluh rakaat; dua rakat sebelum Zhuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Maghrib yang beliau lakukan di rumahnya, dua rakaat setelah Isya’ yang dilakukan di rumahnya dan dua rakaat sebelum Subuh.” (Muttafaq Alaih).

[Al-Bukhari (1172), Muslim (729)]

Dalam riwayat yang lain dari keduanya, “Dua rakaat setelah shalat jum’at di rumahnya.”

[Shahih: Al Bukhari 1165]

Menurut riwayat Muslim, “jika telah terbit fajar, Rasulullah tidak shalat kecuali dengan dua rakaat yang ringan. ‘

[Shahih: Muslim 723]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Aku menjaga dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sepuluh rakaat (ucapan ini bersifat global yang kemudian dirinci dengan ucapan beliau) dua rakat sebelum Zhuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Maghrib yang beliau lakukan di rumahnya (pembatasan kedua rakaat ini -di rumah- menunjukkan bahwa selain kedua ini dilakukan beliau di masjid. Begitu juga ucapannya) dua rakaat setelah Isya yang dilakukan di rumahnya dan dua rakaat sebelum Subuh (tidak dibatasi -di rumah- padahal Rasulullah melakukannya di rumah. Seakan-akan tidak adanya pembatasan ini karena masyhurnya perbuatan ini oleh Rasulullah).

Dalam riwayat yang lain dari keduanya, “Dua rakaat setelah shalat Jum’at di rumahnya (maka ucapan sepuluh rakaat karena dipandang sering dilakukan berulang-ulang setiap hari).

Menurut riwayat Muslim, dari hadits Ibnu Umar “Jika telah terbit fajar, Rasulullah tidak shalat kecuali dengan dua rakaat ringan.” Dua rakaat yang dimaksud adalah dua rakaat yang termasuk dalam jumlah sepuluh rakaat, hanya lafazh muslim ini memberikan faidah tentang ringannya dua rakaat ini, dan beliau tidak shalat setelah terbit fajar selain dua rakaat ini. Meringankan dua rakaat ini adalah mazhab Malik, Syafi’i dan selain keduanya. Dalam riwayat Aisyah disebutkan, “Sampai-sampai aku berkata, “Apakah beliau membaca Ummul Kitab (Al-Fatihah)? Hadits ini akan dijelaskan kemudian.

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil bahwa shalat-shalat sunnah ini dilakukan setelah shalat fardhu. Dikatakan bahwa hikmah disyariatkannya shalat sunnah setelah shalat fardhu adalah sebagai perbaikan terhadap hal yang kurang dalam melaksanakan adab-adab shalat. Demikian juga yang dilakukan sebelumnya, supaya ketika mulai memasuki shalat fardhu ini, hati menjadi terbuka dan terdorong untuk melaksanakannya.

Aku mengatakan, “Imam Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Hakim meriwayatkan hadits dari Tamim Ad-Dari ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَلَاتُهُ فَإِنْ كَانَ أَتَمَّهَا كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ لَمْ يَكُنْ أَتَمَّهَا قَالَ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ اُنْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَتُكْمِلُونَ بِهَا فَرِيضَتَهُ ثُمَّ الزَّكَاةُ كَذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الْأَعْمَالُ عَلَى حَسَبِ ذَلِكَ»

“Perkara yang pertama kali akan dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Jika ia telah menyempurnakannya maka akan ditulis baginya sempurna. Dan jika ia belum menyempurnakannya, Allah berfirman kepada para Malaikat-Nya, “lihatlah, apakah kalian menemukan pada hamba-Ku shalat-shalat sunnah, maka sempurnakanlah untuk hamba-Ku dari kekurangan shalat fardhunya itu dengan shalat-shalat sunnahnya, kemudian zakat begitu juga, kemudian amal-amal yang lain pun melalui proses demikian.” [Shahih: Abu Daud 866]

Ini adalah dalil bagi hikmah disyariatkannya amalan sunnah.

Ucapannya dalam riwayat Muslim, ‘Rasulullah jika telah terbit fajar, beliau tidak shalat kecuali dengan dua rakaat” telah dijadikan dalil bagi sebagian orang yang memakruhkan shalat sunnah setelah terbit fajar, dan telah saya jelaskan hal tersebut.

0332

332 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا -: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ لَا يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ» . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ.

332. Dan dari Aisyah Radhiyallahu Anha, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum Zhuhur, dan dua rakaat sebelum Subuh.” (HR. Al-Bukhari).

[Al Bukhari 1182]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini tidak menafikan hadits Ibnu Umar dalam ucapannya, “Dua rakaat sebelum Zhuhur”, karena tambahan ini diketahui oleh Aisyah dan tidak diketahui oleh Ibnu Umar. Mungkin dapat dipahami bahwa dua rakaat ini adalah bagian dari empat rakaat dan beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukannya dengan dua rakaat dua rakaat. Sedang Ibnu Umar hanya menyaksikan dua rakaat saja. Bisa juga dipahami, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukannya dengan empat rakaat secara sambung. Hal ini dikuatkan oleh hadits Abu Ayyub yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dalam Asy-Syama’il, juga Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah dengan lafazh,

«أَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ لَيْسَ فِيهِنَّ تَسْلِيمٌ تُفْتَحُ لَهُنَّ أَبْوَابُ السَّمَاءِ»

‘Empat Rakaat sebelum Zhuhur tidak dipisahkan dengan salam, empat rakaat inilah yang membuka pintu-pintu langit.’ [Hasan: Abu Daud 1270]

Dan hadits Anas,

«أَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ كَعَدْلِهِنَّ بَعْدَ الْعِشَاءِ، وَأَرْبَعٌ بَعْدَ الْعِشَاءِ كَعَدْلِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ»

“Empat rakaat sebelum Zhuhur menyamai rakaat-rakaat setelah Isya’ dan empat rakaat setelah Isya menyamai rakaat-rakaat malam lailatul Qadar.” Dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam Al Ausath. [Dhaif: Dhaif Al Jami 755]

Berdasarkan riwayat ini, maka sebelum Zhuhur ada enam rakaat. Juga mungkin dipahami bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terkadang shalat empat rakaat dengan ringkas sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu Anha dan terkadang dua rakaat sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma.

*****

– وَعَنْهَا – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ تَعَاهُدًا مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Tidaklah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sangat menjaga shalat-shalat sunnah melebihi dua rakaat fajar.” (Muttafaq Alaih).

[Shahih: Al Bukhari 1169 dan Muslim 724]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Yang dimaksud dengan ta’ahud dalam hadits adalah menjaga. Berdasarkan riwayat yang kuat bahwa, beliau tidak pernah meninggalkan dua rakaat fajar ini, baik dalam perjalanan maupun tidak, dan diceritakan bahwa Al-Hasan Al-Basri mewajibkannya.

Menurut riwayat Muslim,

«رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا»

“Dua rakaat fajar lebih baik daripada dunia dan seisinya.” [Muslim: 725]

Yaitu pahala dua rakaat ini lebih baik daripada dunia, sedangkan yang dimaksud dengan dunia adalah bumi dengan segala isinya baik apa-apa yang dikandung di dalamnya ataupun yang menjadi perhiasan di atasnya. Hadits ini memberikan anjuran untuk melakukan dua rakaat fajar dan dua rakaat ini bukanlah suatu kewajiban karena tidak disebutkan sangsi dalam meninggalkannya, tetapi hanya menyebutkan ganjaran dalam melakukannya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *