[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 93

02.08. BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR 05

0322

322 – وَعَنْ «زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَرَأْت عَلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – النَّجْمَ، فَلَمْ يَسْجُدْ فِيهَا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

322. Dari Zaid bin Tsabit berkata, “Saya membaca surat An-Najm di hadapan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka beliau tidak bersujud padanya.” (Muttafaq Alaih)

[Shahih: Al Bukhari 1073 dan Muslim 577]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Zaid bin Tsabit adalah salah seorang penduduk Madinah, dan kejadian itu terjadi di Madinah. Malik berkata, “Hadits ini memperkuat hadits Ibnu Abbas.”

Jawaban atas hal ini ialah bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kadang tidak sujud, dan kadang bersujud untuk menunjukkan bahwa hal itu hukumnya sunnah, atau mungkin ada sesuatu yang menghalanginya saat itu dari bersujud. Walaupun hadits ini shahih, makna hadits ini adalah meniadakan —sujud-, sedangkan hadits yang lain menetapkan —sujud-, dan hadits yang menetapkan —suatu perkara atau hukum- lebih diutamakan daripada hadits yang meniadakannya.

0323

323 – وَعَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «فُضِّلَتْ سُورَةُ الْحَجِّ بِسَجْدَتَيْنِ» ، رَوَاهُ أَبُو دَاوُد فِي الْمَرَاسِيلِ

323. Dari Khalid bin Ma’dan berkata, “Surat Al-Hajj dimuliakan dengan dua sujud.” (HR. Abu Dawud di dalam Al-Marasil)

[Dhaif: Dhaif Al Jami’ 3983]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Khalid bin Ma’dan nama lengkapnya Abu Abdillah Khalid bin Ma’dan As-Syami Al-Kala’i. Ia adalah seorang tabiin dari penduduk Himsha. Ia berkata, “Saya telah bertemu dengan tujuh puluh orang sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia termasuk orang Syam yang tsiqah, wafat pada tahun 104 H. Ada yang mengatakan bahwa beliau wafat pada tahun 103 H.

Tafsir Hadits

Ibnu Hajar menisbatkan hadits ini kepada Maraasil Abu Dawud dan hadits ini terdapat di dalam Sunan Abu Dawud sebagai hadits marfu’ dari ‘Uqbah bin ‘Amir, dengan lafazh

«قُلْت: يَا رَسُولَ اللَّهِ فِي سُورَةِ الْحَجِّ سَجْدَتَانِ؟ قَالَ: نَعَمْ؛ وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْهُمَا فَلَا يَقْرَأْهُمَا»

“Saya berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Wahai Rasulullah adakah sujud tilawah pada surat Al-Hajj?’ Beliau bersabda, “Ya, dan barang siapa tidak bersujud padanya hendaklah tidak membacanya.’ [Hasan: Abu Daud 1402]

Yang aneh, bagaimana Ibnu Hajar menisbahkan hadits ini kepada kitab Al-Marasil padahal ia ada di dalam Sunan Abu Dawud sebagai hadits marfu’. Namun kemudian Ibnu Hajar menganggapnya sebagai hadits maushul pada nomot berikut ini.

 0324

324 – وَرَوَاهُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ مَوْصُولًا مِنْ حَدِيثِ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، وَزَادَ: فَمَنْ لَمْ يَسْجُدْهُمَا فَلَا يَقْرَأْهَا وَسَنَدُهُ ضَعِيفٌ

324. Hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi secara maushul, dari Uqbah bin Amir, dan ia menambahkan, “Dan barang siapa tidak bersujud padanya hendaklah tidak membacanya.” (Sanadnya dhaif)

[Dhaif: Dhaif Al-Jami’ (3982)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi secara maushul, dari Uqbah bin Amir, dan ia menambahkan, yakni At-Tirmidzi menambahkan di dalam riwayatnya, “Dan barang siapa tidak bersujud padanya hendaklah tidak membacanya” yakni hendaklah tidak membaca surat tersebut atau ayat sajdah. Maksudnya jangan membaca jenis tersebut. Namun, sanad hadits ini dhaif karena keberadaan Ibnu Luhai’ah. Ada yang mengatakan bahwa ia meriwayatkan hadits ini sendirian. Kemudian Al-Hakim menguatkan bahwa hadits ini shahih melalui jalur Umar, anaknya, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abu Darda’, Abu Musa dan Aamir, kemudian Al-Hakim menyebutkannya sebagai hadits mauquf pada mereka. Kemudian Al-Baihaqi menguatkannya di dalam Al-Ma’rifah dari riwayat Khalid bin Ma’dan.

Hadits ini membantah pendapat Abu Hanifah dan orang-orang yang bersamanya yang mengatakan, “Di dalam surat Al-Hajj tidak ada ayat sajdah kecuali hanya satu yang berada di akhir surat.”

Sabda beliau, “Dan barang siapa tidak bersujud padanya hendaklah tidak membacanya” menguatkan hukum syariat sujud tilawah, dan bisa jadi ini adalah dalil orang-orang yang mewajibkannya. Sedangkan orang-orang yang mengatakan bahwa hukumnya tidak wajib berkata, “Ketika orang tersebut meninggalkan sesuatu yang sunnah karena ia mengerjakan sesuatu yang hukumnya mandub, maka selayaknya ia tidak meninggalkan sujud tersebut, atau jika ia tidak mau bersujud maka selayaknya ia tidak membaca surat tersebut.”

0325

325 – وَعَنْ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إنَّا نَمُرُّ بِالسُّجُودِ، فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ، وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلَا إثْمَ عَلَيْهِ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، وَفِيهِ: إنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَمْ يَفْرِضْ السُّجُودَ إلَّا أَنْ نَشَاءَ، وَهُوَ فِي الْمُوَطَّإِ

325. Dan Umar Radhiyallahu Anhu berkata, ‘Wahai manusia, sesungguhnya kami telah melewati sujud -tilawah- maka barang siapa bersujud maka ia telah mendapatkan dan barang siapa tidak bersujud maka tiada dosa baginya.”(HR. Al-Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 1077]

Dan di dalamnya disebutkan, “Sesungguhnya Allah tidak memfardhukan sujud kecuali jika kita mau.” Dan ini ada di dalam Al-Muwaththa’

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Umar Radhiyallahu Anhu berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya kami telah melewati sujud -tilawah- (yakni ayat yang berkenaan dengan sujud tilawah) maka barang siapa bersujud maka ia telah mendapatkan (yakni mendapatkan Sunnah) dan barang siapa tidak bersujud maka tiada dosa baginya.” Dan dalam riwayat Al-Bukhari dari Umar, “Sesungguhnya Allah tidak memfardhukan sujud (yakni tidak mewajibkannya) kecuali jika kita mau.” Dan ini ada di dalam Al-Muwaththa’

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan, Umar berpendapat bahwa sujud tilawah hukumnya tidak wajib. Hal ini berdasarkan ucapan beliau, “…kecuali jika kita mau.” Yakni seseorang yang telah memulai bersujud, maka ia wajib menyempurnakannya karena ia telah keluar dari kondisi tidak diwajibkannya bersujud. Hal ini dijawab bahwa ungkapan Umar tersebut adalah pengecualian yang terpotong dan seharusnya yang ia mau ialah bahwa sujud tersebut tergantung kepada kemauan kita.

0326

326 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقْرَأُ عَلَيْنَا الْقُرْآنَ، فَإِذَا مَرَّ بِالسَّجْدَةِ كَبَّرَ وَسَجَدَ وَسَجَدْنَا مَعَهُ» . رَوَاهُ أَبُو دَاوُد بِسَنَدٍ فِيهِ لِينٌ.

326. Dari Ibnu Umar, “Bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam membacakan Al-Qur’an kepada kami, dan jika melewati ayat sajdah beliau membaca takbir lalu bersujud dan kami bersujud bersamanya.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang di dalamnya terdapat kelemahan)

[Dhaif: Abu Daud 1413]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Karena hadits ini berasal dari riwayat Abdullah Al-‘Amri, ia adalah perawi dhaif. Dan Al-Hakim meriwayatkan dari Ubaidillah, dan ia adalah perawi tsiqah.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya membaca takbir. As-Tsauri terkesima oleh hadits ini. Abu Dawud berkata, “Hadits ini menariknya karena ia membaca takbir.”

Apakah takbir itu sebagai takbir iftitah -pembukaan- atau takbir tanda perpindahan gerakan? Kelihatannya asumsi yang pertama lebih mungkin. Namun bisa juga ia adalah takbir perpindahan karena di situ tidak disebutkan takbir yang lain. Dan ada yang berkata, “Membaca takbir khusus untuk sujud tilawah, walaupun ia tidak disebutkan itu bukan dalil bahwa hal itu tidak ada.”

Sedangkan yang lainnya berkata, “Juga membaca tasyahud dan membaca salam, diqiyaskan kepada kenyataan bahwa ia dimulai dengan takbir maka ditutup dengan salam.” Namun, pendapat ini dibantah bahwa qiyas tidak berlaku di sini, dengan begitu ia tidak bisa menjadi dalil.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa sujud tilawah juga disyariatkan untuk orang yang mendengarkan, berdasarkan ungkapan beliau, “dan kami sujud bersamanya.”Secara zhahir hadits, baik mereka sedang shalat bersama atau salah satunya sedang shalat dan yang lain tidak.

Al-Hadawiyah berkata, “Jika shalat tersebut adalah shalat fardhu, maka hendaklah ia mengakhirkannya hingga mengucapkan salam dari shalat.” Dengan alasan bahwa ia adalah sesuatu yang ditambahkan kepada shalat maka ia akan membatalkan shalat tersebut, juga berdasarkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh Nafi’ dari Ibnu Umar, ia berkata,

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقْرَأُ عَلَيْنَا السُّورَةَ فِي غَيْرِ الصَّلَاةِ فَيَسْجُدُ وَنَسْجُدُ مَعَهُ»

“Saat itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membacakan surat Al-Qur’an kepada kami di luar shalat, kemudian beliau bersujud, maka kamipun bersujud bersamanya.” (HR. Abu Dawud) [Shahih: Abu Daud 1412]

Dan mereka mengatakan, “Dan dianjurkan kepada orang tersebut untuk bersujud jika ia sedang melaksanakan shalat nafilah, karena ia lebih ringan hukumnya.”

Jawaban atas pendapat ini ialah mereka telah berdalil dengan apa yang mereka pahami. Padahal telah jelas dari apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah, bahwasanya beliau sedang membaca surat Al-Insyiqaq di dalam shalat. Kemudian beliau bersujud. Maka orang-orang yang berada di belakangnya ikut bersujud bersamanya. Begitu pula dengan surat Tanzil As-Sajdah, beliau membacanya lalu bersujud. Abu Dawud, Al-Hakim dan At-Thahawi telah meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سَجَدَ فِي الظُّهْرِ فَرَأَى أَصْحَابَهُ أَنَّهُ قَرَأَ آيَةَ سَجْدَةٍ فَسَجَدُوهَا»

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersujud pada shalat Zhuhur, maka para shahabat mengetahui bahwa beliau membaca ayat Sajdah maka mereka ikut bersujud juga.”[Dhaif: Abu Daud 807]

Ketahuilah bahwa ada dzikir yang dibaca saat sujud tilawah yaitu,

«سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ»

“Wajahku bersujud kepada Dzat yang telah menciptakannya dan menggambarnya, dan yang telah membuat pendengaran dan penglihatannya dengan daya dan kekuatan-Nya.” (HR. Ahmad, semua penulis kitab Sunan, Al-Hakim dan Al-Baihaqi) [Shahih: Abu Daud 1414]

Ibnu As-Sakan menshahihkannya dan menambahkan, “Tiga kali.” kemudian Al-Hakim menambahkan di akhirnya,

فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Maha Suci Allah sebaik-baik pencipta.”

Dan di dalam hadits Ibnu Abbas disebutkan,

اللَّهُمَّ اُكْتُبْ لِي بِهَا عِنْدَك أَجْرًا، وَاجْعَلْهَا لِي عِنْدَك ذُخْرًا، وَضَعْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا، وَتَقَبَّلْهَا مِنِّي كَمَا تَقَبَّلْتهَا مِنْ عَبْدِك دَاوُد

“Ya Allah, catatlah pahala di sisi-Mu untukku karenanya jadikanlah ia untukku sebagai simpanan, hapuskan kesalahan untukku karenanya dan terimalah dariku sebagaimana Engkau menerimanya dari hamba-Mu Dawud.” [Hasan: At Tirmidzi 579]

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *