[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 92

02.08. BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR 04

0319

319 – وَعَنْ ثَوْبَانَ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ قَالَ: «لِكُلِّ سَهْوٍ سَجْدَتَانِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَابْنُ مَاجَهْ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ.

319. Dari Tsauban Radhiyallahu Anhu bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Setiap lupa, maka baginya dua kali sujud sahwi setelah mengucapkan salam.” (‘HR. Abu Dawud Ibnu Majah dengan sanad dhaif)

[Hasan: Abu Daud 1038]

Tafsir Hadits

Hadits dianggap dhaif karena di dalam sanadnya terdapat Ismail bin Ayyasy yang diperdebatkan oleh para ulama. Al-Bukhari berkata, “Jika ia meriwayatkan dari penduduk negerinya -yakni Syam- maka ia shahih.” Dan hadits ini diriwayatkan dari orang Syam, maka orang yang mendhaifkannya perlu dicermati lagi.

Hadits ini menjadi dalil atas dua hal:

1. Jika kelupaan tersebut terjadi beberapa kali, maka sujud sahwinya pun sesuai dengan jumlah lupanya, dan masing-masing sujud sahwi dua kali sujud. Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Abi Laila. Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa sujud sahwi hanya sekali saja yang terdiri dua kali sujud, walaupun disebabkan oleh beberapa kali kelupaan. Karena di dalam hadits Dzul Yadain disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bercakap-cakap dan berjalan saat lupa namun beliau hanya melakukan sujud sahwi sekali saja. Seandainya ada yang berkata, “Ucapan lebih diutamakan dari pada perbuatan.” Maka jawabannya ialah hadits tersebut tidak ada ungkapan yang menunjukkan berbilangnya sujud, ia hanya menunjukkan keumuman sujud sahwi untuk setiap orang yang lupa.

Hadits ini menunjukkan bahwa setiap orang yang lupa di dalam shalat. Apapun yang ia lupakan maka disyariatkan kepadanya untuk bersujud dua kali. Tidak dikhususkan pada kondisi-kondisi yang pernah terjadi pada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Tidak juga untuk jenis-jenis yang pernah terjadi padanya dan pemahaman ini lebih baik daripada pemahaman pertama, walaupun itu adalah zhahir hadits. Ini adalah hasil kompromi antara hadits ini dan hadits Dzul Yadain, dengan syarat jika anda katakan bahwa hadits Dzul Yadain tidak menyebutkan jenis lupa yang disebutkan di dalam shalat, karena hal itu adalah objek perbedaan pendapat antara ulama, maka hadits tersebut tidak bertentangan dengan bab ini.

2. Hadits ini adalah dalil bagi mereka yang mengatakan bahwa sujud sahwi dilakukan setelah salam.

0320

320 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «سَجَدْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي {إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ} [الانشقاق: 1] وَ {اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ} [العلق: 1] » رَوَاهُ مُسْلِمٌ

320. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Kami bersujud, bersama Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam pada ayat, “Apabila langit terbelah” -QS. Al-Insyiqaq: 1- dan pada ayat, “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan” -QS. AlAlaq: 1-.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 578]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Ini adalah salah satu hadits tentang sujud tilawah. Dan termasuk di dalam judul yang telah disebutkan oleh Ibnu Hajar di atas, bab sujud sahwi dan yang lainnya.

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya sujud tilawah. Para ulama telah berijma’ atas hal tersebut. Namun mereka berbeda pendapat dalam masalah kewajibannya, dan juga pada tempatnya. Jumhur ulama mengatakan bahwa hukumnya sunnah. Namun Abu Hanifah berpendapat bahwa hukumnya adalah wajib bukan fardhu. Hukum sujud tersebut adalah sunnah bagi pembaca dan pendengarnya jika pembacanya melakukan sujud. Namun ada yang mengatakan bahwa si pendengar harus sujud.

Sedangkan tempat sujudnya, As-Syafi’i mengatakan, “Sujud tersebut dilakukan selain pada Mufashal -surat-surat pendek- sehingga jumlahnya menjadi sebelas tempat.” Al-Hanafiyah dan Al-Hadawiyah mengatakan bahwa jumlahnya ada empat belas tempat. Namun Al-Hanafiyah tidak menganggap adanya sujud tilawah pada surat Al-Hajj kecuali pada Sajdah, dan menganggap ada sujud sahwi pada surat Shaad, sedangkan Al-Hadawiyah kebalikan pendapat Al-Hanafiyah. Ahmad dan beberapa ulama mengatakan bahwa sujud tilawah terdapat pada lima belas tempat, termasuk kedua tempat di surat Al-Hajj dan satu tempat pada surat Shaad.

Kemudian mereka berbeda pendapat, apakah disyaratkan padanya syarat-syarat shalat seperti bersuci dan yang lainya? Beberapa orang mensyaratkannya. Dan yang lainnya tidak mensyaratkannya. Al-Bukhari mengatakan bahwa Ibnu Umar pernah melakukannya tanpa berwudhu, dan di dalam Musnad Abi Syaibah disebutkan bahwasanya Ibnu Umar turun dari kendaraannya lalu menuangkan air, kemudian kembali menaiki kendaraannya lalu membaca As-Sajdah, maka ia bersujud tanpa berwudhu. As-Sya’bi menyepakati pendapat tersebut. Namun juga diriwayatkan dari Ibnu Umar, “Bahwasanya seseorang tidak boleh bersujud kecuali jika ia dalam keadaan bersuci.” Kemudian untuk mengkompromikan kedua riwayat tersebut maka bersuci tersebut dimaksudkan bersuci dari hadats besar.

Menurut saya, pada dasarnya tidak boleh mensyaratkan bersuci kecuali jika ada dalil. Sedangkan dalil yang mewajibkan bersuci adalah untuk mengerjakan shalat, sedangkan sujud tilawah tidak dinamakan shalat, dengan begitu harus ada dalil yang mendasari pendapat mereka yang mewajibkannya. Begitu pula dengan saat-saat yang dilarang untuk mengerjakan shalat, maka sujud tilawah tidak termasuk dalam larangan tersebut.

Hadits ini dalil disyariatkannya sujud tilawah di dalam mufashhal, yang hal ini akan dibahas pada kesempatan mendatang.

Kemudian saya melihat tulisan Ibnu Hazm di dalam Syarh Al-Muhalla, “Sujud tilawah tidak disebut sebagai satu rakaat atau dua rakaat dengan begitu ia bukan shalat. Dan jika ia bukan shalat, maka ia boleh dilakukan tanpa berwudhu, bahkan untuk orang-orang yang sedang junub atau haidh, ia boleh dilakukan tidak ke arah kiblat. Sebagaimana kebanyakan dzikir tanpa perbedaan sedikit pun, karena wudhu tidak diwajibkan kecuali untuk shalat, dan tidak pernah ada nash yang mewajibkannya baik dari Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ maupun qiyas. Jika ada yang berkata, “Sujud adalah bagian dari shalat, maka ia bisa disebut sebagai shalat.” Maka kami jawab, “Takbir adalah bagian dari shalat, membaca Al-Qur’an adalah bagian dari shalat, duduk, berdiri dan mengucap salam adalah bagian dari shalat, apakah ada seseorang yang mengharuskan berwudhu jika ada orang yang hendak melakukan atau mengucapkan hal-hal ini? Mereka tidak mengatakan hal tersebut dan tidak ada seorang pun yang mengatakannya.”

0321

321 – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: «صَ لَيْسَتْ مِنْ عَزَائِمِ السُّجُودِ، وَقَدْ رَأَيْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَسْجُدُ فِيهَا.» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

321. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, “(Bacaan) ‘Shaaad’ tidak mengharuskan untuk bersujud, dan saya telah melihat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam bersujud pada (bacaan) tersebut.” (HR. Al-Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 1069]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Yakni tidak terdapat padanya perintah, anjuran, maupun suruhan untuk sujud, namun yang ada adalah berita dari Dawud Alaihissalam bahwa ia melakukannya. Kemudian Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam bersujud pada bacaan ayat tersebut karena mengikutinya, berdasarkan firman Allah Ta’ala,

{فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ}

”Maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am: 90)

Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa hal-hal yang hukumnya sunnah ada yang lebih kuat dan ada yang lebih lemah. Rasulullah telah bersabda,

«سَجَدَهَا دَاوُد تَوْبَةً، وَسَجَدْنَاهَا شُكْرًا»

“Dawud telah bersujud pada ayat tersebut untuk bertaubat, sedangkan kita bersujud pada ayat tersebut untuk bersyukur.” [Shahih: An Nasa’i 957 ebook editor]

Ibnu Mundzir dan yang lainnya meriwayatkan dengan sanad hasan dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu,

إنَّ الْعَزَائِمَ: حم، وَالنَّجْمِ، وَاقْرَأْ، والم تَنْزِيلُ ” وَكَذَا ثَبَتَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي الثَّلَاثَةِ الْأُخَرِ، وَقِيلَ فِي ” الْأَعْرَافِ ” وَ ” سُبْحَانَ “، وَ ” حم ” وَ ” الم ”

“Bahwasanya yang diperintahkan untuk bersujud ialah pada ayat, (ha-mim), (an-Najm), (iqra) dan (alif lam tanzil)-” Dan telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas tiga tempat yang lain. Dan ada yang mengatakan, “Al-A’raaf, (subhana), (ha-mim) dan (alif lam mim).” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

******

– وَعَنْهُ «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سَجَدَ بِالنَّجْمِ» . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dan dari Ibnu Abbas diriwayatkan, “Bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam bersujud pada surat An-Najm.” (HR. Al-Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 1071

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Hadits ini menjadi dalil adanya sujud pada surat mufashshal, sebagaimana hadits yang pertama juga menunjukkan hal yang sama. Malik berbeda pendapat dalam hal ini, ia berkata, “Tidak ada sujud tilawah pada surat mufashshal. Dan kami telah menyebutkan perbedaan pendapat pada awal surat-surat mufashshal, seperti di dalam Al-Itqan dan yang lainnya, dengan berdasarkan kepada riwayat Ibnu Abbas,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَمْ يَسْجُدْ فِي شَيْءٍ مِنْ الْمُفَصَّلِ مُنْذُ تَحَوَّلَ إلَى الْمَدِينَةِ»

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak bersujud pada salah satu suratpun dari surat-surat mufashshal, setelah beliau pindah ke Madinah.” (HR. Abu Dawud) [Dhaif: Abu Daud 1403]

Namun sanadnya dhaif, karena terdapat Abu Quddamah -Al-Harits bin ‘Ubaid Iyyadi Bashri- yang hadits-haditsnya tidak bisa digunakan sebagai dalil, sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Hafidh Al-Mundziri di dalam Mukhtashar As-Sunan, hal ini didukung oleh hadits berikut ini.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *