[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 91

02.08. BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR 03

0316

316 – وَلِأَحْمَدَ وَأَبِي دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ مَرْفُوعًا «مَنْ شَكَّ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ بَعْدَمَا يُسَلِّمُ» وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ

316. Di dalam hadits Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i dari Abdullah bin Ja’far —marfu’-, “Barang siapa merasa ragu dalam shalatnya, maka hendaklah ia bersujud dua kali setelah mengucapkan salam.” (Ibnu Khuzaimah menshahihkannya)

[Dhaif: Abu Daud 1033, dan dalam ta’liq atas shahih Ibnu Khuzaimah Syaikh Al-Albani berkata: sanadnya Dhaif]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa sujud sahwi dilakukan setelah mengucapkan salam secara umum. Namun hadits ini bertentangan dengan hadits-hadits yang telah Anda ketahui sebelumnya, sehingga pendapat yang mengatakan bahwa orang tersebut bebas memilih lebih masuk akal.

Al-Hafidh Abu Bakar Al-Baihaqi berkata, “Telah diriwayatkan kepada kami bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan sujud sahwi sebelum salam, dan beliau memerintahkan hal tersebut. Lalu diriwayatkan kepada kami, bahwa Rasulullah melakukan sujud sahwi setelah salam. Kemudian beliau memerintahkan hal tersebut. Kedua riwayat tersebut adalah shahih dan masing-masing didukung oleh argumen yang akan sangat panjang jika harus disebutkan. Maka yang lebih baik dari kedua pendapat di atas ialah dengan memberikan kebebasan kepada orang tersebut untuk memilih. Dan inilah pendapat kebanyakan sahabat-sahabat kami.

0317

317 – وَعَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «إذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ، فَقَامَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ، فَاسْتَتَمَّ قَائِمًا، فَلْيَمْضِ، وَلَا يَعُودُ، وَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَتِمَّ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ وَلَا سَهْوَ عَلَيْهِ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَابْنُ مَاجَهْ وَالدَّارَقُطْنِيّ، وَاللَّفْظُ لَهُ، بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ.

317. Dari Al-Mughirah bin Syu’bah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian merasa ragu, kemudian ia berdiri pada saat rakaat kedua dan ia telah sempurna berdiri maka hendaklah ia melanjutkan shalatnya lalu hendaklah ia bersujud dua kali -sahwi-, dan jika ia belum sempurna berdiri, maka hendaklah ia segera duduk dan ia tidak perlu bersujud -sahwi-.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ad-Daraquthni, ini adalah lafazh Ad-Daraquthni dengan sanad dhaif).

[Shahih: Abu Daud 1036]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Al-Mughirah bin Syu’bah, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian merasa ragu, kemudian ia berdiri pada saat rakaat kedua dan ia telah sempurna berdiri maka hendaklah ia melanjutkan shalatnya (tanpa duduk untuk bertasyahud awal) lalu hendaklah ia bersujud dua kali -sahwi- (tanpa menjelaskan kapan waktunya) dan jika ia belum sempurna berdiri maka hendaklah ia segera duduk (untuk membaca tasyahhud awal) dan ia tidak perlu bersujud -sahwi-.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ad-Daraquthni, ini adalah lafazh Ad-Daraquthni dengan sanad dhaif. Karena semua riwayat melalui satu orang yaitu Jabir Al-Ja’fi, dan ia adalah perawi dhaif. Abu Dawud berkata, “Di dalam kitabku tidak ada hadits yang diriwayatkan oleh Jabir Al-Ja’fi kecuali hadits ini.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa tidak perlu melakukan sujud sahwi kecuali jika seseorang tidak melakukan tasyahud awal, bukan karena ia terlanjur berdiri, berdasarkan sabda beliau, “dan ia tidak perlu bersujud -sahwi-“, inilah pendapat beberapa ulama. Sedangkan Al-Hadawiyah dan Ahmad bin Hambal berpendapat bahwa orang tersebut harus melakukan sujud sahwi. Berdasarkan hadits Al-Baihaqi dari Anas,

أَنَّهُ تَحَرَّكَ لِلْقِيَامِ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ الْأُخْرَيَيْنِ مِنْ الْعَصْرِ عَلَى جِهَةِ السَّهْوِ، فَسَبَّحُوا فَقَعَدَ، ثُمَّ سَجَدَ لِلسَّهْوِ

“Bahwasanya beliau bergerak untuk berdiri dari dua rakaat terakhir dalam shalat Ashar karena kelupaan, maka para sahabat membaca tasbih, lalu beliau bersujud, kemudian melakukan sujud sahwi.” (Sunan Al-Kubra (2/343) dan Ad-Daraquthni). Dan semua ini adalah berasal dari perbuatan Anas -mauquf-, hanya saja dalam beberapa riwayat ia berkata, “Ini adalah sunnah.”

Hadits Al-Mughirah lebih dipilih karena ia marfu’, dan ia didukung oleh hadits Ibnu Umar yang marfu’ juga,

«لَا سَهْوَ إلَّا فِي قِيَامٍ عَنْ جُلُوسٍ أَوْ جُلُوسٍ عَنْ قِيَامٍ»

“Tidak perlu kecuali akibat berdiri tanpa duduk -yang seharusnya ia duduk- atau akibat duduk tanpa berdiri -yang seharusnya ia berdiri-.” (HR. Ad-Daraquthni, Al-Hakim dan Al-Baihaqi) Namun di dalamnya terdapat kelemahan. Namun ia juga diperkuat oleh riwayat bahwa hal itu telah dilakukan oleh beberapa orang dan juga dari Rasulullah yang kemudian beliau tidak memerintahkan orang-orang tersebut untuk melakukan sujud sahwi, dan beliau tidak melakukan sujud sahwi.

Menurut saya, An-Nasa’i meriwayatkan dari Ibnu Buhainah,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَّى فَقَامَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ فَسَبَّحُوا بِهِ فَمَضَى؛ فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ»

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang mengerjakan shalat lalu beliau berdiri setelah dua rakaat, maka mereka mengucapkan tasbih, namun beliau melanjutkan shalatnya, dan ketika beliau telah menyelesaikan shalatnya beliau bersujud dua kali, kemudian mengucapkan salam.” [Shahih: An Nasa’i 1177]

Ahmad dan At-Tirmidzi meriwayatkan sekaligus menshahihkannya, dari Ziyad bin Alqamah, ia berkata,

«صَلَّى بِنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ فَلَمَّا صَلَّى رَكْعَتَيْنِ قَامَ وَلَمْ يَجْلِسْ فَسَبَّحَ لَهُ مَنْ خَلْفَهُ فَأَشَارَ إلَيْهِمْ أَنْ قُومُوا، فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ قَالَ: هَكَذَا صَنَعَ بِنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -»

“Al-Mughirah bin Syu’bah mengerjakan shalat bersama kami, saat telah mengerjakan dua rakaat ia berdiri dan tidak duduk, maka orang-orang yang berada di belakangnya mengucapkan tasbih, maka beliau memberikan isyarat kepada mereka untuk berdiri, dan ketika ia telah menyempurnakan shalatnya ia mengucapkan salam lalu bersujud dua kali dan mengucapkan salam, lalu ia berkata, “Itulah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama kami.” [Shahih: At Tirmidzi 365]

Hanya saja ini adalah apa yang dilakukan oleh imam yang telah diucapkan tasbih untuknya. Jadi, bisa saja ia melakukan sujud sahwi karena ia tidak melakukan tasyahud, dan inilah zhahirnya.

0318

318 – وَعَنْ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «لَيْسَ عَلَى مَنْ خَلْفَ الْإِمَامِ سَهْوٌ، فَإِنْ سَهَا الْإِمَامُ فَعَلَيْهِ وَعَلَى مَنْ خَلْفَهُ» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَالْبَيْهَقِيُّ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ

318. Dari Umar Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, Tidak ada keharusan sujud sahwi atas orang-orang yang berada di belakang imam, jika seorang imam lupa maka ia harus melakukan sujud sahwi dan orang-orang yang berada di belakangnya.” (HR. Al-Bazzar dan Al-Baihaqi, dengan sanad dhaif)

[Dhaif: Al Irwa’ 404]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Dan Ad-Daraquthni meriwayatkan di dalam As-Sunan dengan lafazh serupa ditambah,

«وَإِنْ سَهَا مَنْ خَلْفَ الْإِمَامِ فَلَيْسَ عَلَيْهِ سَهْوٌ وَالْإِمَامُ كَافِيهِ»

“Dan jika seseorang yang berada di belakang imam lupa, maka ia tidak melakukan sujud sahwi, karena imam sudah mencukupinya.”

dan semua riwayat tersebut diriwayatkan oleh Kharijah bin Mush’ab, perawi dhaif. Dan dalam bab ini terdapat riwayat dari Ibnu Abbas namun ada perawi yang matruk.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa seorang makmum tidak perlu melakukan sujud sahwi jika ia lupa. Namun ia harus melakukan sujud sahwi jika imamnya lupa. Inilah pendapat Zaid bin Ali, An-Nashir, Al-Hanafiyah dan As-Syafi’iyah. Sedangkan Al-Hadi berpendapat bahwa orang tersebut harus melakukan sujud sahwi berdasarkan keumuman perintah untuk sujud sahwi untuk imam, orang yang shalat sendirian, dan makmum.

Jawaban atas pendapat ini ialah, jika hadits ini benar adanya, tentulah ia mengkhususkan hadits-hadits di atas dan membatasi keumumannya. Jika hadits ini tidak benar maka pendapat Al-Hadi adalah yang benar.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *