[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 90

02.08. BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR 02

0313

313- وَعَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَّى بِهِمْ، فَسَهَا فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ تَشَهَّدَ، ثُمَّ سَلَّمَ.» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ. وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ

313. Dari Imran bin Al-Hushain, “Bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat bersama mereka, kemudian beliau lupa maka beliau bersujud dua kali sujud kemudian membaca tasyahhud lalu mengucapkan salam.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi menghasankannya, Al-Hakim menshahih-kannya).

[Dhaif: At Tirmidzi 395]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsif Hadits

Di dalam As-Sunan disebutkan, “Bahwa kejadian ini adalah saat beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam lupa yang telah disebutkan oleh Dzul Yadain, setelah menyebutkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu di atas hingga ungkapan, “kemudian beliau mengangkat -kepalanya- dan membaca takbir.”, ditanyakan kepada Muhammad bin Sirin, “Apakah beliau membaca salam dalam sujud sahwi?” Ia menjawab, “Dari Abu Hurairah saya tidak mendapatinya, akan tetapi saya diberitahu bahwa Imran bin Al-Hushain menyebutkan, “Kemudian beliau mengucapkan salam.”

Di dalam As-Sunan dari hadits Imran bin Al-Hushain, berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengucapkan salam dalam rakaat ketiga shalat Ashar, kemudian beliau masuk, maka seseorang mendatanginya yakni Al-Khirbaq yang mempunyai tangan yang panjang, hingga ungkapannya- kemudian beliau bertanya, “Apakah ia benar?” Maka mereka menjawab, ‘Ya.’ Kemudian melanjutkan satu rakaat —yang ketinggalan- kemudian mengucapkan salam, kemudian bersujud dua kali lalu mengucapkan salam.” [Shahih: Abu Daud 1018]

Bisa jadi bahwa kejadian seperti ini telah terjadi beberapa kali.

Hadits ini menunjukkan bahwa beliau telah bersujud langsung setelah shalat, yang ditunjukkan oleh huruf ‘fa’ yang berarti ‘maka’, dan juga di dalamnya disebutkan adanya tasyahud. Ada yang mengatakan, “Tidak ada seorangpun yang mewajibkannya.” Dan lafazh tasyahada —membaca tasyahhud- menunjukkan bahwa beliau membaca dua syahadat, dan inilah yang dikatakan oleh beberapa ulama. Dan ada yang mengatakan, “Cukuplah tasyahud yang berada di tengah.” Namun pendapat pertama nampak lebih baik.

Hadits ini juga menunjukkan disyariatkannya membaca salam. Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Imran bin Al-Hushain yang telah disebutkan oleh Ibnu Hajar di atas. Namun hadits di atas tidak menyebutkan dengan jelas bahwa salam tersebut untuk menutup’ kedua sujud sahwi. Bisa jadi salam tersebut merupakan penutup shalat, karena Rasulullah belum membaca salam, lalu melakukan sujud sahwi lalu beliau membaca salam.

0314

314 – وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى أَثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا؟ فَلْيَطْرَحْ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ. ثُمَّ يَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ، وَإِنْ كَانَ صَلَّى تَمَامًا كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

314. Dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu Anhu berkata, ‘”Rasulullah Shallallahu Alaibi wa Sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian merasa ragu saat ia sedang mengerjakan shalat, sehingga ia tidak tahu berapa rakaat yang telah ia lakukan, tiga rakaatkah atau empat rakaat’? Maka hendaklah ia membuang keraguan tersebut lalu melakukan hal yang ia yakini, kemudian bersujud dua kali sebelum mengucapkan salam, jika ternyata ia telah mengerjakan lima rakaat maka ia telah menggenapkan shalatnya, dan jika ia telah menyempurnakan shalatnya maka hal itu menjadi hinaan untuk setan.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 571]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Said Al-Hudri Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “jika salah seorang dari kalian merasa ragu saat ia sedang mengerjakan shalat, sehingga ia tidak tahu berapa rakaat yang telah ia lakukan, tiga rakaatkah atau empat rakaat? Maka hendaklah ia membuang keraguan tersebut lalu melakukan hal yang iayakini, kemudian bersujud dua kali sebelum mengucapkan salam, jika ternyata ia telah mengerjakan lima rakaat (dalam shalat yang seharusnya hanya empat rakaat) maka ia telah menggenapkan shalatnya (yakni kedua sujud tersebut menggenapkan shalat tersebut ia telah mewakili satu rakaat, sehingga seakan-akan yang diharapkan dari shalat empat rakaat adalah rakaat yang genap walaupun harus melebihi empat) dan jika ia telah menyempurnakan shalatnya maka hal itu menjadi hinaan untuk setan (yang telah mengganggu shalatnya).”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa jika seseorang ragu dalam shalatnya, maka hendaklah ia melakukan apa yang ia yakini. Kemudian ia harus bersujud dua kali dan inilah pendapat beberapa ulama, Malik, Syafi’i dan Ahmad. Al-Hadawiyah dan beberapa orang tabi’in mengharuskan orang tersebut untuk mengulangi shalatnya hingga ia betul-betul merasa yakin. Sedangkan beberapa orang yang lain mengatakan, “Orang tersebut harus mengulangi tiga kali, namun jika ia tetap merasa ragu pada kali yang keempat, maka ia tidak perlu mengulanginya lagi.” Dan jelas hadits ini merupakan dalil untuk pendapat pertama.

Hadits ini zhahirnya menjelaskan apa yang dilakukan oleh orang yang merasa ragu secara umum. Baik orang tersebut baru mengalami hal tersebut atau hal itu telah menjadi kebiasaannya. Al-Hadawiyah membedakan antara keduanya, untuk orang yang baru mengalaminya maka hendaklah ia mengulangi shalatnya, dan untuk orang yang telah terbiasa mengalami hal tersebut. Maka hendaklah ia melihat dan mengingat-ingat untuk mendapatkan dugaan kuat apakah ia telah menyempurnakan shalatnya atau belum. Jika hal itu tidak membantunya, maka hendaklah ia mengerjakan shalatnya berdasarkan hitungan terkecil. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadits. Jika biasanya ia bisa mencapai dugaan kuat namun satu kali ia tidak bisa mencapainya maka hendaklah ia mengulangi shalatnya.

Pembedaan ini dibantah oleh hadits shahih di atas, begitu pula pendapat ini ditolak oleh hadits Abdurrahman bin Auf yang diriwayatkan Ahmad, “Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«إذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلَمْ يَدْرِ وَاحِدَةً صَلَّى أَوْ اثْنَتَيْنِ فَلْيَجْعَلْهَا وَاحِدَةً، وَإِذَا لَمْ يَدْرِ ثِنْتَيْنِ صَلَّى أَوْ ثَلَاثًا فَلْيَجْعَلْهَا ثِنْتَيْنِ، وَإِذَا لَمْ يَدْرِ ثَلَاثًا صَلَّى أَوْ أَرْبَعًا فَلْيَجْعَلْهَا ثَلَاثًا، ثُمَّ يَسْجُدْ إذَا فَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ سَجْدَتَيْنِ»

“Jika salah seorang dari kalian merasa ragu di dalam shalatnya, kemudian ia tidak tahu apakah satu rakaat atau dua rakaat yang telah ia lakukan, maka hendaklah ia menganggapnya satu rakaat, dan jika ia tidak tahu apakah dua rakaat atau tiga rakaat yang telah ia lakukan maka hendaklah ia menganggapnya dua rakaat, dan jika ia tidak mengetahui apakah tiga rakaat atau empat rakaat yang telah ia lakukan, maka hendaklah ia menganggapnya tiga rakaat, lalu hendaklah ia bersujud setelah menyelesaikan shalatnya, sambil duduk sebelum mengucapkan salam untuk kedua sujud tersebut.” [Musnad Ahmad 1/190]

0315

315 – وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -. فَلَمَّا سَلَّمَ قِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَحَدَثَ فِي الصَّلَاةِ شَيْءٌ؟ قَالَ: وَمَا ذَاكَ؟ قَالُوا: صَلَّيْت كَذَا وَكَذَا، قَالَ: فَثَنَى رِجْلَيْهِ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ، فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ: إنَّهُ لَوْ حَدَثَ فِي الصَّلَاةِ شَيْءٌ أَنْبَأْتُكُمْ بِهِ، وَلَكِنْ إنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيت فَذَكِّرُونِي، وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ، فَلْيُتِمَّ عَلَيْهِ، ثُمَّ لِيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ – وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ ” فَلْيُتِمَّ ثُمَّ يُسَلِّمْ ثُمَّ يَسْجُدْ ” – وَلِمُسْلِمٍ: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سَجَدَ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ بَعْدَ السَّلَامِ وَالْكَلَامِ»

315. Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat, dan setelah beliau mengucapkan salam dikatakan kepadanya, “Wahai Rasulullah, apakah telah terjadi perubahan pada shalat?’ Beliau menjawab, “Apakah hal tersebut?” Mereka berkata, “Engkau telah mengerjakan shalat begini.” Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam segera menekuk kedua kakinya dan menghadap ke arah kiblat, lalu bersujud dua kali, lalu mengucapkan salam, seraya menghadap kepada orang-orang dan bersabda, “Seandainya terjadi perubahan sesuatu pada shalat tentulah saya memberitahu kalian, akan tetapi sesungguhnya saya adalah manusia seperti kalian, saya bisa lupa sebagaimana kalian lupa, karena itu jika saya lupa maka ingatkanlah saya, dan jika salah seorang dari kalian merasa di dalam shalatnya maka hendaklah ia mencari yang benar, lalu hendaklah ia menyempurnakan shalatnya atas dasar keyakinan tersebut, lalu hendaklah ia bersujud dua kali.” (Muttafaq Alaih)

Di dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan, “Maka hendaklah ja menyempurnakan shalatnya atas dasar tersebut, kemudian hendaklah ia membaca salam lalu bersujud.”

Sedangkan di dalam riwayat Muslim dijelaskan, “Bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan dua sujud sahwi setelah mengucap salam dan bercakap-cakap.”

[Shahih: Al Bukhari 401 dan Muslim 572]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata, ”Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat (yakni beliau lakukan shalat empat rakaat menjadi lima rakaat, dalam satu riwayat disebutkan bahwa Ibrahim An-Nakha’i berkata, “Beliau menambahinya atau menguranginya.”) dan setelah beliau mengucapkan salam dikatakan kepadanya, “Wahai Rasulullah, apakah telah terjadi perubahan pada shalat?” Beliau menjawab, “Apakah hal tersebut?” Mereka berkata, “Engkau telah mengerjakan shalat begini.” Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam segera menekuk kedua kakinya dan menghadap ke arah kiblat, lalu bersujud dua kali, lalu mengucapkan salam, seraya menghadap kepada orang-orang dan bersabda, “Seandainya terjadi perubahan sesuatu pada shalat tentulah saya memberitahu kalian, akan tetapi sesungguhnya saya adalah manusia seperti kalian (yakni dalam sifat sebagai manusia, dan kemudian beliau jelaskan sisi persamaannya) saya bisa lupa sebagaimana kalian lupa, karena itu jika saya lupa maka ingatkanlah saya, dan jika salah seorang dari kalian merasa ragu di dalam shalatnya (apakah ia kelebihan atau kekurangan) maka hendaklah ia mencari yang benar (dengan melakukan atas dasar dugaan kuatnya tanpa menghiraukan keraguannya, sebagaimana yang telah diterangkan pada hadits Abdurrahman bin ‘Auf di atas) lalu hendaklah ia menyempurnakan shalatnya atas dasar keyakinan tersebut, lalu hendaklah ia bersujud dua kali”

Tafsir Hadits

Zhahir hadits mengisyaratkan bahwa mereka mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam menambah rakaat shalatnya. Sehingga hadits tersebut menjadi dalil bahwa jika makmum mengikuti imam dalam satu hal yang ia duga hukumnya wajib, tidak akan membatalkan shalat mereka, karena Rasulullah tidak memerintahkan mereka untuk mengulangi shalat mereka. Hal ini berlaku pada shahabat, karena dimungkinkan terjadinya perubahan hukum pada masa kenabian. Sedangkan untuk saat sekarang jika seorang telah diyakini akan mengerjakan rakaat yang kelima, maka orang-orang yang berada di belakangnya membaca tasbih, jika imam tersebut tidak duduk, maka hendaklah mereka menunggunya sambil duduk, hingga mereka membaca tasyahud bersama tasyahud imamnya, dan mengucapkan salam bersama imamnya, maka shalat mereka tidak batal, bahkan ada yang mengatakan, “Hendaklah mereka memisahkan diri.” Tetapi hendaklah mereka melakukan apa yang wajib mereka lakukan.

Hadits ini menunjukkan bahwa sujud sahwi dilakukan setelah mengucapkan salam, namun ada yang mengatakan bahwa Rasulullah tidak pernah mengetahui bahwa beliau telah lupa, kecuali setelah beliau mengucapkan salam, sehingga hal tersebut tidak bisa dijadikan sebagai dalil. Di samping itu, kenyataannya bahwa ungkapan hadits berbeda-beda sehingga para ulama berbeda-beda pendapat pula.

Beberapa imam hadits berkata, “Hadits-hadits yang menjelaskan masalah sujud sahwi bermacam-macam. Di antaranya hadits Abu Hurairah tentang orang yang merasa ragu di dalam shalatnya sehingga ia tidak mengetahui berapa rakaat yang telah ia lakukan. Hadits tersebut memerintahkan untuk bersujud, namun tidak menjelaskan waktunya, baik sebelum maupun sesudah mengucapkan salam. Hadits ini diriwayatkan oleh Jamaah, memang dalam riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah ditambahkan, “Sebelum mengucapkan salam.” Sedangkan hadits Abu Said, “Tentang orang yang ragu, hendaklah ia bersujud dua kali sebelum mengucapkan salam.” Sedangkan hadits Abu Hurairah tentang berdirinya Rasulullah ke arah sebatang kayu menjelaskan bahwa beliau bersujud sesudah mengucapkan salam. Dan hadits Ibnu Buhainah menjelaskan bahwa sujud tersebut dilakukan sebelum mengucapkan salam.

Berdasarkan keadaan di atas, maka para ulama berbeda pendapat, Dawud berkata, “Sujud sahwi dilakukan persis sepetti apa yang disebutkan dalam masing-masing hadits tanpa memberlakukan qiyas.” Ahmad mengatakan hal serupa dengan tambahan, “Sedangkan untuk kondisi yang tidak disebutkan di dalam hadits maka sujud sahwi dilakukan sebelum salam.” Beberapa ulama yang lain mengatakan bahwa orang tersebut bebas memilih, baik sebelum maupun sesudah salam, untuk sujud akibat kelebihan maupun kekurangan. Malik berkata, “Jika sujud tersebut akibat kelebihan maka ia dilakukan sesudah salam, dan jika diakibatkan oleh kekurangan maka dilakukan sebelum salam.” Al-Hadawiyah dan Al-Hanafiyah berkata, “Hukum asal sujud sahwi adalah sesudah salam.” Mereka mentakwil hadits-hadits di atas, dan argumen mereka akan kami ketengahkan mendatang.

As-Syafi’i mengatakan bahwa hukum asli sujud sahwi ialah sebelum salam. Kemudian ia menjelaskan bahwa semua hadits yang menjelaskan bahwa sujud sahwi sesudah salam telah dinasakh. Kemudian ia meriwayatkan hadits dari Az-Zuhri, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah melakukan sujud sahwi sebelum dan sesudah salam, dan akhir dari perbedaan tersebut adalah sebelum salam.” Hal ini didukung oleh riwayat Muawiyah, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan kedua sujud sahwi sebelum salam.” Padahal ia termasuk shahabat yang hidup pada akhir masa. Pendapat As-Syafi’i sesuai dengan pendapat Abu Hurairah, Makhul, Az-Zuhri dan yang lainnya.

Dijelaskan di dalam As-Syarh, jalan tengah dalam masalah ini ialah bahwa hadits-hadits fi’li maupun qauli yang menjelaskan masalah ini bermacam-macam. Sedangkan mana hadits yang lebih terdahulu maupun mana yang lebih akhir tidak bisa diketahui dengan dalil yang shahih. Sehingga tidak mungkin memberlakukan kaidah nasakh dalam masalah ini. Maka alangkah baiknya jika masalah ini dipermudah saja, sehingga diperbolehkan melakukan sujud sahwi sebelum maupun sesudah mengucapkan salam.

Di antara dalil Al-Hanafiyah dan Al-Hadawiyah ialah hadits Al-Bukhari yang disebutkan di atas. Yaitu dari Ibnu Mas’ud, “Maka Hendaklah orang tersebut menyempurnakan shalatnya, kemudian hendaklah ia mengucapkan salam lalu bersujud.” Hadits ini menunjukkan bahwa sujud tersebut dilakukan setelah salam. Begitu pula dengan hadits Muslim dari Ibnu Mas’ud, “Bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan dua sujud sahwi setelah mengucap salam dan bercakap-cakap.” Yakni salam dari shalat lalu beliau bercakap-cakap dengan para makmum.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *