[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 89

02.08. BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR 01

0311

311 – عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ بُحَيْنَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَّى بِهِمْ الظُّهْرَ، فَقَامَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ، وَلَمْ يَجْلِسْ، فَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ، حَتَّى إذَا قَضَى الصَّلَاةَ، وَانْتَظَرَ النَّاسُ تَسْلِيمَهُ، كَبَّرَ وَهُوَ جَالِسٌ وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، قَبْل أَنْ يُسَلِّمَ. ثُمَّ سَلَّمَ.» أَخْرَجَهُ السَّبْعَةُ، وَهَذَا اللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ. وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: يُكَبِّرُ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ وَيَسْجُدُ. وَيَسْجُدُ النَّاسُ مَعَهُ مَكَانَ مَا نَسِيَ مِنْ الْجُلُوسِ

311. Dari Abdullah bin Buhainah Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat Zhuhur bersama mereka. Kemudian beliau berdiri pada dua rakaat pertama tanpa duduk —tasyahud- orang-orang pun berdiri bersama beliau dan ketika beliau telah menyelesaikan shalatnya. Orang-orang menunggu salam beliau. Tiba-tiba beliau membaca takbir sambil tetap duduk lalu bersujud dua kali sebelum mengucapkan salam, lalu ia mengucapkan salam.” (HR. Tujuh perawi, dan lafazh ini adalah lafazh Al-Bukhari)

Di dalam riwayat Muslim disebutkan, “Beliau membaca takbir pada setiap sujud sambil tetap duduk, sebelum mengucapkan salam, dan orang-orang ikut bersujud bersamanya, sebagai ganti atas apa yang terlupakan yaitu berupa duduk tasyahhud.

[Shahih: Al-Bukhari (1224) dan Muslim (570)]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa apabila seseorang lupa tidak duduk untuk tasyahud awal, maka hal tersebut bisa diganti dengan sujud sahwi. Walaupun sabda beliau, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku mengerjakan shalat” mengisyaratkan bahwa tasyahud awal hukumnya wajib. Kejadian di atas menunjukkan bahwa walaupun tasyahud awal hukumnya wajib, ia bisa diganti dengan sujud sahwi. Namun dari sisi lain hal ini bisa digunakan sebagai dalil bahwa tasyahud awal hukumnya tidak wajib, karena jika hukumnya wajib ia tidak bisa digantikan dengan sujud sahwi, karena sesuatu yang wajib harus diwujudkan langsung tanpa pengganti. Pendapat ini tidak benar karena bisa saja dikatakan sebagaimana yang dikatakan oleh Ahmad bin Hambal, “Ia wajib, namun jika ketinggalan karena lupa ia bisa diganti dengan sujud sahwi.”

Kesimpulannya, argumen yang mengatakan bahwa tasyahud awal hukumnya tidak wajib tidak sempurna, hingga mereka memberikan dalil yang menunjukkan bahwa sesuatu yang hukumnya wajib tidak bisa digantikan dengan sujud sahwi jika seseorang kelupaan melakukannya.

Ungkapan perawi, ‘beliau membaca takbir’ menunjukkan disyariatkannya membaca takbiratul ihram untuk sujud sahwi. Dan juga menunjukkan bahwa takbiratul ihram tidak dikhususkan untuk memulai shalat saja. Dan bahwa takbir tetap dibaca seandainya orang tersebut belum keluar dari shalatnya dengan mengucapkan salam. Namun bacaan takbir untuk perpindahan gerakan tidak disebutkan di dalam hadits ini.

Namun ia disebutkan di dalam hadits riwayat Muslim dari Abdullah bin Buhainah, “Beliau membaca takbir pada setiap sujud sambil tetap duduk, sebelum mengucapkan salam, dan orang-orang ikut bersujud bersamanya”, hadits ini menujukkan disyariatkannya membaca takbir untuk berpindah kepada gerakan yang lain sebagaimana di dalam shalat.

Sabda beliau, “Sebagai ganti atas apa yang terlupakan yaitu berupa duduk tasyahhud” seakan-akan para shahabat memahami hal tersebut dari kondisi saat itu. Lafazh ini adalah tambahan dari perawi hadits. Tidak menceritakan apa yang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lakukan, atau apa yang beliau katakan.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa, waktu untuk sujud sahwi ialah sebelum mengucapkan salam. Akan kami ketengahkan pada bab mendatang, yakni pada hadits yang bertentangan dengan hadits ini, beserta komentar atas hal tersebut.

Riwayat Muslim menunjukkan wajibnya makmum mengikuti imam. Dan mereka wajib mengikuti imam walaupun mereka meninggalkan tasyahud secara sengaja karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyetujui perbuatan mereka. Namun ada kemungkinan bahwa Rasulullah tidak menyadari bahwa ia telah meninggalkan satu kewajiban begitu pula dengan para makmum, hingga mereka memasuki kewajiban yang lain.

0312

312 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «صَلَّى النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إحْدَى صَلَاتَيْ الْعَشِيِّ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ، ثُمَّ قَامَ إلَى خَشَبَةٍ فِي مُقَدَّمِ الْمَسْجِدِ، فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهَا، وَفِي الْقَوْمِ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، فَهَابَا أَنْ يُكَلِّمَاهُ، وَخَرَجَ سَرَعَانُ النَّاسِ، فَقَالُوا: قُصِرَتْ الصَّلَاةُ، وَفِي الْقَوْمِ رَجُلٌ يَدْعُوهُ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ذَا الْيَدَيْنِ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنَسِيت أَمْ قُصِرَتْ الصَّلَاةُ؟ فَقَالَ لَمْ أَنْسَ وَلَمْ تُقْصَرْ فَقَالَ بَلَى، قَدْ نَسِيت، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ، ثُمَّ كَبَّرَ، ثُمَّ سَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ، أَوْ أَطْوَلَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَكَبَّرَ، ثُمَّ وَضَعَ رَأْسَهُ، فَكَبَّرَ، فَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ، أَوْ أَطْوَلَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ.» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ.

وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: صَلَاةُ الْعَصْرِ – وَلِأَبِي دَاوُد فَقَالَ: ” أَصَدَقَ ذُو الْيَدَيْنِ؟ ” فَأَوْمَئُوا: أَيْ نَعَمْ وَهِيَ فِي الصَّحِيحَيْنِ، لَكِنْ بِلَفْظِ: فَقَالُوا…

– وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ: لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَقَّنَهُ اللَّهُ تَعَالَى ذَلِكَ

312. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang mengerjakan salah satu shalat senja, dua rakaat, kemudian beliau mengucapkan salam lalu berdiri ke arah sebatang kayu yang berada di depan masjid, kemudian beliau meletakkan tangannya pada kayu tersebut, saat itu di antara orang-orang terdapat Abu Bakar dan Umar, keduanya takut untuk berbicara kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian orang-orang keluar dengan segera sambil berbincang, “Shalatnya telah diqhashar.” Dan di antara orang-orang tersebut terdapat seseorang yang diberi nama oleh Rasulullah Dzul Yadain, maka ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau lupa atau shalat telah diqhasar?” Beliau menjawab, “Saya tidak lupa dan shalat tidak diqashar.” Orang tersebut berkata, “Engkau telah menguranginya, engkau lupa.” Maka beliau shalat dua rakaat, kemudian mengucapkan salam, kemudian membaca takbir kemudian bersujud sebagaimana sujud biasa, atau mungkin lebih panjang, kemudian beliau mengangkat kepalanya lalu membaca takbir, kemudian beliau meletakkan kepalanya lalu membaca takbir, kemudian bersujud sebagaimana biasa atau lebih panjang, kemudian beliau mengangkat kepalanya dan membaca takbir.” (Muttafaq Alaih, lafazh Al-Bukhari) Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Shalat Ashar.”

[Shahih: Al Bukhari 482, Muslim 573]

Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan, “Beliau bertanya, “Benarkah Dzul Yadain?” Maka mereka memberikan isyarat, yakni, Ya.’ Tambahan ini terdapat di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim namun dengan lafazh, “Mereka berkata……”

[Shahih: Abu Daud 1008]

Di dalam riwayat Abu Dawud yang lain disebutkan, “Ia tidak segera sujud hingga Allah meyakinkannya dalam masalah tersebut. ‘

[Dhaif: Abu Daud 1012]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang mengerjakan salah satu shalat senja (Al-Azhari’ berkata, “Waktu itu ialah antara tergelincirnya matahari hingga terbenam.” Abu Hurairah telah menyebutkan di dalam hadits Muslim, bahwa shalat itu ialah shalat Zhuhur namun pada hadits yang lain ia menyebutkan shalat Ashar. Kemudian ada yang mengkompromikan kedua riwayat tersebut bahwa kejadian tersebut terjadi dua kali) dua rakaat, kemudian beliau mengucapkan salam lalu berdiri ke arah sebatang kayu yang berada di depan masjid, kemudian beliau meletakkan tangannya pada kayu tersebut, saat itu di antara orang-orang terdapat (yakni di antara orang-orang yang mengikuti shalat tersebut) Abu Bakar dan Umar, keduanya takut untuk berbicara kepada Rasulullah (bahwa Nabi Muhammad telah mengucapkan salam pada rakaat kedua) kemudian orang-orang keluar dengan segera (yakni keluar dari masjid) sambil berbincang, “Shalatnya telah diqashar.” Dan di antara orang-orang tersebut terdapat seseorang yang diberi nama oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Dzul Yadain (namanya ialah Al-Khirbaaq, ia diberi gelar tersebut karena tangannya panjang. Dan di antara shahabat Rasulullah terdapat orang lain yang diberi gelar Dzu Asy-Syamalain, dan ia bukan Dzul Yadain, kemudian Az-Zuhri kebingungan lalu menjadikan keduanya gelar untuk satu orang, namun kemudian para ulama menjelaskan kesalahan tersebut) maka ia bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau lupa atau shalat telah diqashar?’ (yakni apakah Allah telah mengurangi syariat shalat empat rakaat menjadi dua rakaat?) beliau menjawab, ‘Saya tidak lupa dan shalat tidak diqashar.’ (yakni seingat Rasulullah) Orang tersebut berkata, “Engkau telah menguranginya, engkau lupa. Maka beliau shalat dua rakaat, kemudian mengucapkan salatn, kemudian membaca takbir kemudian bersujud sebagaimana sujud biasa, atau mungkin lebih panjang, kemudian beliau mengangkat kepalanya lalu membaca takbir, kemudian beliau meletakkan kepalanya lalu membaca takbir, kemudian bersujud, sebagaimana biasa atau lebih panjang, kemudian beliau mengangkat kepalanya dan membaca takbir.

Tafsir Hadits

Hadits ini telah dibahas secara panjang lebar oleh para ulama, hingga menyentuh ilmu-ilmu ushul. Yang paling luas pembahasannya dalam masalah ini ialah Al-Qadhi Iyadh, kemudian Ibnu Daqiq Al-Id di dalam Syarh Al-Umdah. Dan kami telah menambahkan apa yang layak untuk ditambahkan pada catatan pinggirnya.

Hukum fikih yang bisa disimpulkan di antaranya, bahwa hadits in: adalah dalil niat keluar atau menyelesaikan shalat. Jika didasari oleh keyakinan maka tidak membatalkan shalat tersebut, bahkan jika ia telah mengucapkan salam. Pembicaraan seseorang yang lupa tidak membatalkan shalat. Begitu pula dengan orang yang mengira bahwa dirinya telah menyempurnakan shalatnya.

Dan inilah pendapat jumhur ulama, baik yang terdahulu maupun yang sekarang. Juga pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Az-Zubair serta saudaranya Urwah, Atha’, Al-Hasan dan yang lainnya. Begitu pula pendapat As-Syafi’i, Ahmad dan semua ulama ahli hadits, termasuk An-Nashir dari kalangan keluarga Syaikh.

Al-Hanafiyah dan Al-Hadi berpendapat, “Pembicaraan di dalam shalat, baik karena lupa atau karena tidak tahu membatalkan shalat, berdasarkan hadits Ibnu Mas’ud dan Zaid bin Arqam dalam masalah larangan berbicara di dalam shalat. Kemudian mereka berkata, “Dua hadits ini menasakh hadits di atas.”

Jawaban atas pendapat ini, hadits Ibnu Mas’ud disampaikan di Makkah beberapa tahun sebelum disampaikannya hadits nomor ini. Tentunya hadits yang lebih dahulu disampaikan tidak akan menasakh hadits yang datang belakangan. Selain itu hadits Ibnu Mas’ud dan hadits Zaid bin Arqam bersifat umum. Sedangkan hadits nomor ini khusus untuk mereka yang berbicara, karena mengira ia telah menyempurnakan shalatnya sehingga hadits nomor ini mengkhususkan dan membatasi kedua hadits tersebut, maka semua hadits diamalkan tanpa membuang salah satu darinya.

Hadits ini merupakan dalil bahwa, pembicaraan dengan sengaja dalam rangka untuk menyempurnakan shalat tidak membatalkannya, seperti pembicaraan Dzul Yadain, juga ungkapan “lalu mereka berkata -yakni para shahabat-, ‘Ya.” Sebagaimana yang akan disebutkan. Pembicaraan itu adalah pembicaraan dengan penuh kesengajaan untuk memperbaiki shalat, bahkan diriwayatkan bahwa Malik berkata, “Bahwasanya seorang imam jika berbicara seperti pembicaraan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam rangka menanyakan apa yang beliau ragukan dan kemudian para makmum menjawabnya, hal itu tidak akan membatalkan shalat.” Jawaban atas pendapat ini, bahwa saat Rasulullah berbicara karena ia yakin bahwa beliau telah menyempurnakan shalat, sedangkan para makmum berbicara karena menyangka kalau hukum shalat telah diubah, sehingga kedua belah pihak berbicara karena sama-sama menyangka mereka telah menyempurnakan shalat.

Menurut saya, ungkapan bahwa mereka semua berbicara berdasarkan keyakinan dan mereka telah menyempurnakan shalat perlu peninjauan ulang, karena ada di antara mereka yang ragu antara qashar dan lupa, yaitu Dzul Yadain. Kemudian kebanyakan orang berkeyakinan bahwa shalat telah diqashar, dan tentunya keyakinan itu tidak harus diyakini oleh semua orang, dan tentunya tidak diragukan lagi bahwa jika seseorang mengalami kejadian seperti ini ia harus mengamalkan hadits ini.

Sungguh bagus apa yang disampaikan oleh penulis kitab Al-Manar yang menyebutkan pendapat Al-Hadawiyah bahwa terjadi nasakh dalam masalah ini. Kemudian ia menjawab pendapat tersebut sebagaimana jawaban kami, lalu ia berkata, “Dan berharap kepada Allah jika seseorang hamba telah mengamalkan hadits ini lalu menghadap kepada Allah ia bisa menjawab, “Saya telah menerima hadits shahih dari utusan-Mu, dan saya tidak mendapatkan sesuatu pun yang menghalangiku untuk mengamalkan hadits tersebut” semoga jawaban tersebut bisa menyelamatkannya dan memberinya pahala karena ia telah mengamalkan hadits tersebut. Dan saya lebih mengkhawatirkan orang-orang yang berlebih-lebihan, atau mereka dengan berani keluar dari shalat lalu mengulanginya dari awal, karena mereka tidak lebih berhati-hati jika Anda cermati, karena keluar dari shalat dan membatalkan shalat tanpa dalil adalah terlarang.

Hadits ini menunjukkan bahwa banyak gerakan yang bukan bagian dari shalat jika dilakukan karena lupa atau karena menyangka bahwa ia telah menyempurnakan shalatnya maka tidak akan membatalkan shalatnya. Sesungguhnya di dalam riwayat, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar menuju ke rumahnya.” Dan di dalam riwayat lain menyebutkan, “Beliau menyeret selendangnya dengan kesal.” Demikian pula keluarnya orang-orang dengan segera dari masjid —di dalam hadits nomor ini- tentulah apa yang telah mereka lakukan cukup banyak, dan inilah pendapat As-Syafi’i.

Hadits ini menunjukkan bolehnya melanjutkan shalat walaupun telah mengucapkan salam jika hal tersebut dilakukan karena lupa atau karena yakin ia telah menyempurnakan shalat.

Hadits ini menunjukkan bahwa bolehnya melanjutkan shalat, walaupun jeda waktunya lama. Hal ini diriwayatkan dari Rabi’ah yang ia nisbahkan kepada Malik. Namun hal ini tidak begitu terkenal sebagai pendapat Malik. Ada beberapa ulama yang membatasi hal tersebut, sehingga boleh melanjutkan shalat jika jedanya tidak lama. Ada yang mengatakan jaraknya hanya sekitar satu rakaat saja. Dan ada yang mengatakan bahwa jaraknya sekitar satu shalat sempurna saja.

Hadits ini menunjukkan bahwa sujud sahwi dilakukan setelah salam, berbeda dengan hadits sebelumnya.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa sujud sahwi menggantikan kewajiban, berdasarkan hadits, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku mengerjakan shalat.”

Hadits ini juga menunjukkan bahwa jumlah sujud sahwi tidak disesuaikan sebabnya yang mungkin bisa lebih dari satu.

Pada shalat apa kejadian di atas terjadi, di dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu disebutkan, “Shalat Ashar.” Sebagai ganti dari ungkapan di dalam hadits di atas, “Salah satu dari dua shalat senja.”

Dalam riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu disebutkan, “Beliau bertanya, “Benarkah Dzul Yadain?” Maka mereka memberikan isyarat, yakni, ‘Ya.’ Tambahan ini terdapat di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim namun dengan lafazh, “Mereka berkata….”

Saya sampaikan bahwa di dalam riwayat Abu Dawud disebutkan, dengan lafazh, “Maka orang-orang berkata, “Ya.” Dan Abu Dawud berkata, “Bahwasanya tidak ada yang menyebutkan, “Mereka memberikan isyarat” kecuali Hammad bin Zaid.

Di dalam riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, yang lain disebutkan, “beliau tidak segera sujud hingga Allah meyakinkannya dalam masalah tersebut.” Lafazh Abu Dawud, “dan beliau tidak sujud dua sujud sahwi, hingga Allah meyakinkannya dalam masalah tersebut.” Yakni, hingga yakin bahwa beliau mengucapkan salam setelah mengerjakan shalat, baik dengan wahyu maupun beliau mengingatnya, sehingga beliau meyakini apa yang telah terjadi. Dan Allah yang lebih mengetahui dasar ucapan Abu Hurairah tersebut.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *