[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 88

02.07. BAB SIFAT SHALAT 20

0306

306 – وَعَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ لَهُ: أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ: لَا تَدَعَنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِك، وَشُكْرِك وَحُسْنِ عِبَادَتِك» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ بِسَنَدٍ قَوِيٍّ

306. Dari Muadz bin Jabal Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya, “Aku berwasiat kepadamu wahai Muadz janganlah engkau lalai untuk membaca setiap selesai mendirikan shalat, “Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan memperbaiki ibadah kepada-Mu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i, dengan sanad kuat)

[Shahih: Abu Daud 1522]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Muadz bin Jabal Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya, “Aku berwasiat kepadamu wahai Muadz, janganlah engkau lalai (kata ‘wada’a’ berarti ‘taraka’ -meninggalkan, akan tetapi kata ‘wada’a’ dalam bentuk lampau jarang digunakan dan yang sering digunakan ialah kata ‘taraka’, ia juga dipakai di dalam Al-Qur’an, “Maa Wadda’aka Rabbuka” – (Rabbmu tiada meninggalkan kamu) [QS. Adh-Dhuha: 3] untuk membaca setiap selesai mendirikan shalat, “Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan memperbaiki ibadah kepada-Mu.”

Tafsir Hadits

Pada dasarnya, suatu larangan menunjukkan pengharaman sehingga zhahir hadits ini mewajibkan membaca bacaan tersebut setelah shalat. Ada yang mengatakan bahwa larangan tersebut bermakna tuntunan atau anjuran, namun pendapat ini harus didukung oleh argumen. Dan ada yang mengatakan bahwa bisa jadi doa itu wajib untuk Muadz namun tidak untuk yang lainnya. Bacaan ini mencakup semua kebaikan dunia dan akhirat.

0307

307 – وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إلَّا الْمَوْتُ» . رَوَاهُ النَّسَائِيّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ. وَزَادَ فِيهِ الطَّبَرَانِيُّ وَ {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ}

307. Dari Abu Umamah Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa membaca ayat Kursi setiap selesai shalat, maka tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga kecuali kematian.” (HR. An-Nasa’i, dan disahihkan oleh Ibnu Hibban)

[Shahih: Shahih Al Jami’ 6464]

At-Thabrani menambahkan, “Dan ‘Qul Huwallahu Ahad’.”

[Tambahan ini batil – Ash-Shahihah 972 -ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Nama Lengkap Abu Umamah adalah Iyas bin Tsa’labah Al-Haritsi Al-Anshari Al-Khajrazi. Ia tidak ikut serta pada perang Badar karena Rasulullah telah mengizinkannya untuk tidak ikut serta saat itu. Hal itu karena ia sibuk mengurusi ayahnya yang sedang sakit. Sedangkan Abu Umamah Al-Bahili telah disebutkan di atas dan namanya selalu diikuti dengan marganya. Jika tidak disertai dengan nama marga, maka yang dimaksud ialah Abu Umamah bin Iyas.

Tafsir Hadits

Hadits serupa diriwayatkan dari Ali Radhiyallahu Anhu dengan tambahan,

«مَنْ قَرَأَهَا حِينَ يَأْخُذُ مَضْجَعَهُ أَمَّنَهُ اللَّهُ عَلَى دَارِهِ وَدَارِ جَارِهِ وَأَهْلِ دُوَيْرَاتٍ حَوْلَهُ»

“Dan barang siapa membacanya saat ia mulai berbaring, maka Allah akan membuat aman rumahnya, rumah tetangganya dan rumah-rumah di lingkungannya.” (HR. Al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman, namun ia mendhaifkan sanadnya)

Maksud ungkapan beliau Tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga kecuali kematian’ yakni, tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga kecuali jika ia tidak mati, hal ini dihapus dari ungkapan di atas karena dianggap telah dipahami secara umum.

Bacaan ini dikhususkan untuk ayat Kursi karena ia mengandung semua pokok asmaul husna serta sifat ke-Tuhanan-Nya, ke-Maha Tunggalan-Nya, ke-Maha Hidupan-Nya, ke-Mandirian-Nya, Ilmu-Nya, kerajaan-Nya, kekuasaan-Nya dan iradah-Nya, sedangkan surat Al-Ikhlas adalah murni menyebutkan sifat-sifat Allah Ta’ala.

0308

308 – وَعَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّه – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

308. Dari Malik bin Al-Huwairits berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku mengerjakan shalat.” (HR. Al-Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 631]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah sebagai pokok yang sangat agung. Merupakan dalil bahwa apa yang dilakukan oleh Rasulullah dalam shalatnya baik berupa perbuatan maupun ucapan adalah penjelasan dan keterangan atas ayat-ayat Al-Qur’an, maupun keterangan dari hadits-hadits yang memerintahkan untuk mendirikan shalat.

Hadits ini menunjukkan wajibnya mengikuti cara Rasulullah dalam mengerjakan shalat. Maka seluruh perbuatan maupun perkataan yang selalu beliau kerjakan menjadi wajib atas umatnya, kecuali jika ada dalil yang mengkhususkan sesuatu hal, para ulama telah menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, dan Ibnu Daqiq Al-‘Id telah menjelaskannya di dalam Syarh Al-‘Umdah yang kemudian kami tambahi penjelasannya pada catatan pinggirnya.

0309

309 – وَعَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ، وَإِلَّا فَأَوْمِ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

309. Dari Imran bin Hushain Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Kerjakanlah shalat sambil berdiri, jika kamu tidak bisa maka sambil duduk, jika kamu tidak bisa maka lakukanlah di atas satu sisi, jika tidak maka lakukanlah dengan isyarat.” (HR. Al-Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 1117]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Imran bin Hushain Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Kerjakanlah shalat sambil berdiri, jika kamu tidak bisa (mengerjakan shalat sambil berdiri) maka sambil duduk, jika kamu tidak bisa (mengerjakan shalat sambil duduk) di atas satu sisi, jika tidak (bisa mengerjakan shalat sambil tiduran) lakukanlah dengan isyarat (kami tidak menemukan asal tambahan ini di beberapa manuskrip Bulughul Maraam. Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini tanpa tambahan tersebut, begitu pula dengan An-Nasa’i, namun An-Nasa’i menambahkan

فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَمُسْتَلْقٍ فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَمُسْتَلْقٍ {لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا}

“Jika tidak bisa maka kerjakanlah sambil tiduran, dan Allah tidak membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya.”) [1]

Ad-Daraquthni meriwayatkan dari Ali Radhiyallahu Anhu dengan lafazh,

«فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ أَنْ تَسْجُدَ أَوْمِ وَاجْعَلْ سُجُودَك أَخْفَضَ مِنْ رُكُوعِك، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُصَلِّيَ قَاعِدًا صَلَّى عَلَى جَنْبِهِ الْأَيْمَنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى جَنْبِهِ الْأَيْمَنِ صَلَّى مُسْتَلْقِيًا رِجْلَاهُ مِمَّا يَلِي الْقِبْلَةَ»

“Jika kamu tidak bisa bersujud maka lakukan dengan isyarat. Buatlah sujudmu lebih rendah dari pada ruku’mu. Jika ia tidak bisa mengerjakan shalat sambil duduk, hendaklah ia mengerjakan shalat sambil tiduran di atas sisi kanannya, dengan menghadap ke arah kiblat. Jika ia tidak bisa shalat di atas sisi kanannya, hendaklah ia mengerjakan shalat sambil terlentang, kedua kakinya di arah kiblat.” Di dalam sanadnya terdapat kelemahan, dan ada yang matruk.

Ibnu Hajar menjelaskan, “Hadits di atas tidak menyebutkan ‘dengan isyarat’ namun hal itu disebutkan oleh Ar-Rafi’i, akan tetapi ia disebutkan di dalam hadits Jabir,

«إنْ اسْتَطَعْت وَإِلَّا فَأَوْمِ إيمَاءً وَاجْعَلْ سُجُودَك أَخْفَضَ مِنْ رُكُوعِك»

‘jika kamu bisa, jika tidak maka lakukan dengan isyarat dan jadikanlah sujudmu lebih rendah dari pada ruku’mu.” (HR. Al-Bazzar dan Al-Baihaqi di dalam Al-Ma’rifah)

Al-Bazzar mengatakan bahwa Abu Hatim ditanya mengenai hal tersebut maka ia berkata, “Yang benar hadits ini diriwayatkan dari Jabir secara mauquf, sehingga orang yang menganggapnya marfu’ adalah kesalahan.” Hadits ini diriwayatkan juga dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, namun di dalatn sanad keduanya terdapat kelemahan.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa shalat wajib tidak boleh dilakukan sambil duduk kecuali jika ada alasan tertentu, yaitu jika ia tidak mampu atau jika ia takut terjadi masalah darurat, berdasarkan firman Allah Ta’ala,

{وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ}

“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al-Hajj: 78)

dan juga berdasarkan sabda beliau,

«فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ»

“Dan jika kamu tidak bisa, maka sambil tiduran miring.”

Di dalam hadits At-Thabrani,

«فَإِنْ نَالَتْهُ مَشَقَّةٌ فَجَالِسًا؛ فَإِنْ نَالَتْهُ مَشَقَّةٌ فَنَائِمًا»

“Jika ia kesulitan maka sambil duduk, jika ia mengalami kesulitan maka sambil tiduran.”

Hadits ini bantahan atas pendapat yang mengatakan bahwa seseorang yang tidak bisa mengerjakannya sambil duduk, maka gugurlah kewajiban tersebut.

Hadits ini menunjukkan bahwa jika seseorang mengalami kesulitan untuk mengerjakan shalat walaupun kesulitan tersebut hanya berbentuk rasa kesakitan, maka ia boleh mengerjakannya sambil duduk, walaupun dalam- masalah ini ada perbedaan pendapat.

Hadits ini dalil bagi orang yang mengatakan bahwa rasa sakit membolehkan shalat sambil duduk.

Dan di antara bentuk kesulitan ialah orang yang takut merasa pusing jika ia harus mengerjakan shalat sambil berdiri di atas kapal, atau jika ia takut tenggelam, maka ia diperbolehkan mengerjakan shalat sambil duduk.

Hadits ini tidak menjelaskan model duduk yang dianjurkan sehingga bisa dipahami bahwa model duduk apapun diperbolehkan, dan inilah pendapat beberapa kelompok ulama.

Sedangkan Al-Hadi dan yang lainnya berpendapat, “Dengan duduk bersila sambil meletakkan kedua tangan di atas kedua lutut.” Demikian pula pendapat Al-Hanafiyah.

Zaid bin Ali dan beberapa ulama yang lain berpendapat bahwa model duduknya seperti duduk saat tasyahhud. Dan ada yang mengatakan bahwa sesungguhnya perbedaan pendapat ini hanya untuk menentukan manakah cara duduk yang paling baik. Ibnu Hajar menyebutkan di dalam Fath Al-Bari, “Cara duduk yang paling baik diperselisihkan, menurut tiga imam cara duduk yang paling baik ialah duduk bersila, ada yang mengatakan cara yang terbaik ialah duduk iftirasy, dan ada yang mengatakan cara yang terbaik ialah duduk tasyahud akhir, yang masing-masing pendapat didukung oleh hadits.”

Sabda beliau, ‘di atas satu sisi’ ungkapan ini tidak menjelaskan cara tiduran yang dianjurkan, hanya hadits Ali Radhiyallahu Anhu yang diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni membatasinya, “… sambil tiduran di atas sisi kanannya, dengan menghadap ke arah kibiat—” hadits inilah yang menjadi dalil jumhur ulama, yaitu tiduran seperti posisi mayat di dalam kubur.

Bisa disimpulkan dan hadits ini bahwa, jika seseorang tidak bisa mengerjakannya dengan isyarat maka gugurlah kewajiban shalat atas dirinya. As-Syafi’i dan Al-Muayyid mengatakan bahwa isyarat tersebut dengan kedua mata dan kedua kelopaknya. Sedangkan menurut Zufar isyarat tersebut di dalam hati. Dan ada yang mengatakan bahwa orang tersebut harus membaca Al-Qur’an dan bacaan yang lainnya dengan lidah lalu dengan hati, namun hal ini tidak pernah disebutkan di dalam hadits. Disebutkan di dalam ayat Al-Qur’an,

{فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ}

“Ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.” (QS. An-Nisaa’: 103) walaupun hal itu tidak disebutkan secara langsung, tidak menutup kemungkinan wajibnya dengan dalil yang lain. Dan hukum shalat adalah wajib secara mutlak berdasarkan sabda beliau,

«إذَا أُمِرْتُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ»

“Jika kalian diperintahkan untuk melakukan sesuatu maka lakukanlah semampu kalian.” [Shahih: Al Bukhari 7288, Muslim 1337]

Jika ia bisa melakukan shalat meskipun tidak dengan pelaksanaan yang sempurna, ia harus melakukannya karena ia dianggap bisa melakukannya.

0310

310 – وَعَنْ جَابِرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ لِمَرِيضٍ – صَلَّى عَلَى وِسَادَةٍ، فَرَمَى بِهَا – وَقَالَ: صَلِّ عَلَى الْأَرْضِ إنْ اسْتَطَعْت، وَإِلَّا فَأَوْمِ إيمَاءً، وَاجْعَلْ سُجُودَك أَخْفَضَ مِنْ رُكُوعِك» رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ بِسَنَدٍ قَوِيٍّ، وَلَكِنْ صَحَّحَ أَبُو حَاتِمٍ وَقْفَهُ

310. Dari Jabir Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepada seseorang yang sedang sakit dan mengerjakan shalatnya di atas bantal, lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melemparkan bantal tersebut, beliau bersabda, “Shalatlah di atas tanah jika kamu mampu jika tidak maka lakukanlah dengan isyarat, dan jadikanlah sujudmu lebih rendah dari pada ruku’mu.” (HR. Al-Baihaqi dengan sanad kuat, namun Abu Hatim mengatakan bahwa yang benar hadits ini mauquf)

[Dhaif: lihat Taudihul Ahkam 3/480-481. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Al-Baihaqi meriwayatkan di dalam Al-Ma’rifah dari Sufyan At-Tsauri, di dalam hadits tersebut dijelaskan, “Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melemparkan bantal tersebut, lalu orang .tersebut mengambil satu ranting untuk mengerjakan shalat lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melemparkan ranting tersebut, -lalu ia menyebutkan hadits tersebut-.”

Al-Bazzar berkata, “Kami tidak mengetahui seorangpun meriwayatkannya dari At-Tsauri kecuali Abu Bakar Al-Hanafi.” Ketika Abu Hatim ditanya mengenai hal tersebut ia berkata, “Yang benar bahwa hadits dari Jabir adalah mauquf, dan menganggapnya marfu’ adalah satu kesalahan.”

At-Thabrani meriwayatkan dari Thariq bin Syihab dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjenguk seorang yang sedang sakit.” Lalu ia menyebutkan hadits tersebut, namun di dalam sanadnya ada kelemahan.

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa seseorang yang sedang sakit tidak boleh menggunakan sesuatu untuk bersujud sehingga wajahnya tidak menempel pada tanah. Hadits juga menjelaskan bagaimana membedakan antara ruku’ dan sujud yaitu dengan cara membuat sujud lebih rendah dari pada ruku’. Jika orang tersebut tidak bisa berdiri untuk ruku’ maka membuat isyarat keduanya sambil duduk, dan isyarat untuk sujud lebih rendah dari pada isyarat untuk ruku’. Jika ia bisa berdiri, maka ia membuat isyarat ruku’ sambil berdiri, lalu duduk dan membuat isyarat sujud sambil duduk. Dalam masalah ini ada yang berkata, “Hendaklah orang tersebut membuat isyarat ruku’ dan sujud sambil berdiri lalu duduk untuk membaca tasyahud.” Ada yang berkata, “Hendaklah orang tersebut membuat isyarat sambil duduk dan ia berdiri hanya untuk membaca -ayat Al-Qur’an-.” Ada pendapat lain mengatakan, “Telah gugur kewajiban untuk berdiri dari orang tersebut, maka hendaklah ia menunaikan shalatnya sambil duduk, namun diperbolehkan baginya untuk melaksanakannya sambil berdiri, dan jika ia kesulitan untuk duduk, maka ia membuat isyarat ruku’ dan sujud sambil berdiri.”

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *