[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 87

02.07. BAB SIFAT SHALAT 19

0303

303 – وَعَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -، «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَتَعَوَّذُ بِهِنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك مِنْ الْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِك مِنْ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أُرَدَّ إلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ، وَأَعُوذُ بِك مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَأَعُوذُ بِك مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

303. Dari Sa’d bin Abi Waqqash Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memohon perlindungan darinya pada setiap akhir shalat, ‘Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung kepada-Mu dari sifat bakhil, dan saya berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, dan saya berlindung kepada-Mu dari dikembalikan kepada umur yang hina, dan saya berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan saya berlindung kepada-Mu dari azab kubur.” (HR. Al-Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 2822]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Sabda beliau, ‘dubur as-shalat’ -setiap akhir shalat- bisa berarti dua kemungkinan:

Pertama; Doa tersebut dibaca di dalam shalat tersebut sebelum mengucap salam, karena kata dubur adalah bagian dari sesuatu, seperti dubur al-hayawan maka bermakna salah satu organ bagian darinya.

Kedua; Doa tersebut dibaca setelah salam dan inilah makna yang lebih mungkin. Sedangkan lafazh shalat jika tidak diberi embel-embel tambahan maka yang dimaksud ialah shalat wajib.

Meminta perlindungan dari sifat bakhil banyak disebutkan dalam berbagai hadits, yang dimaksud dengan bakhil ialah tidak mau mengeluarkan harta yang seharusnya ia keluarkan berdasarkan hukum syariat, atau berdasarkan adat.

Sifat pengecut ialah gentar menghadapi sesuatu dan tidak segera bereaksi, atau bisa juga dipahami bahwa ia tidak bersegera untuk maju berjihad saat jihad hukumnya wajib, atau tidak bersegera untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran dan lain sebagainya.

Maksud dikembalikan kepada umur yang hina ialah hidup hingga mencapai umur tua renta dan pikun, sehingga kondisinya kembali seperti bayi, dengan kerangka tubuh yang lemah, akal yang kurang dan pemahaman yang dangkal.

Maksud fitnah dunia ialah godaan dari nafsu syahwat dunia dan keindahannya, sehingga melupakan kewajiban dan tujuan penciptaan manusia yaitu untuk beribadah kepada yang menciptakannya, dan inilah yang dimaksud di dalam firman-Nya, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu).” (QS. At-Taghabun: 15) Sedangkan masalah azab kubur telah kami bahas terdahulu.

0304

304 – وَعَنْ ثَوْبَانَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ اللَّهَ ثَلَاثًا، وَقَالَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْك السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

304. Dari Tsauban Radhiyallahu Anhu berkata, “Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah keluar dari shalatnya beliau beristighfar tiga kali kemudian membaca, ‘Ya Allah, Engkaulah As-Salam, dari-Mu keselamatan, maha suci Engkau yang memiliki keagungan dan kemuliaan.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 591]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Tsauban Radhiyallahu Anhu berkata, “Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah keluar dari shalatnya (mengucapkan salam) beliau beristighfar tiga kali (dengan bacaan Astaghfirullah’, disebutkan di dalam Al-Adzkar karangan An-Nawawi, ada yang bertanya kepada Al-Auza’i yaitu salah seorang perawi hadits ini, “Bagaimanakah bacaan istighfarnya?” beliau menjawab, “Astaghfirullah, Astaghfirullah.”) kemudian Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca, Ya Allah, Engkaulah As-Salaam, dari-Mu keselamatan, Maha Suci Engkau yang memiliki keagungan dan kemuliaan.”

Tafsif Hadits

Istighfar ini mengisyaratkan bahwa seorang hamba tidak mampu melaksanakan kewajiban beribadah kepada Tuhannya secara sempurna, karena pasti ada bisikan-bisikan dan angan-angan yang mengganggu, karena itulah dianjurkan beristighfar untuk menutupi kekurangan tersebut. Juga dianjurkan untuk menyifati Tuhannya dengan sifat As-Salaam, sebagaimana Allah telah menyifati diri-Nya, dan makna sifat tersebut adalah bahwa Allah selamat dari segala kekurangan dan cacat, dilihat dari tata bahasa Arab, sifat tersebut dalam bentuk mashdar yang fungsinya untuk menunjukkan penguatan makna.

“Dari-Mu keselamatan”‘, yakni dari-Mu kami memohon keselamatan dari keburukan dunia dan akhirat.

“Maha Suci Engkau yang memiliki keagungan dan kemuliaan” yakni yang memiliki kekayaan yang mutlak dan keutamaan yang sempurna. Ada yang mengatakan bahwa maksudnya Dia-lah yang memiliki keagungan dan kemuliaan untuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Sifat ini adalah salah satu sifat yang sangat agung, sehingga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Biasakanlah membaca, ‘Yaa dzal jalaali wal ikraam’.” Saat melewati seseorang yang sedang mengerjakan shalat kemudian orang tersebut membaca, ‘Yaa dzal jalaali wal ikraam’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Doamu telah dikabulkan.”[Shahih: Shahih Al Jami’ 1250]

0305

305 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنْ رَسُولِ اللَّه – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، فَتِلْكَ تِسْعٌ وَتِسْعُونَ، وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، غُفِرَتْ خَطَايَاهُ، وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ، وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى: أَنَّ التَّكْبِيرَ أَرْبَعٌ وَثَلَاثُونَ

305. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Barang siapa pada akhir setiap shalat membaca tasbih tiga puluh tiga kali, membaca tahmid tiga puluh tiga kali dan membaca takbir tiga puluh tiga kali, itulah sembilan puluh sembilan.” Kemudian beliau bersabda, “Genap seratusnya, Tiada ilah selain Allah yang Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan adalah milik-Nya, semua pujian adalah milik-Nya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” maka dosa-dosanya diampuni walaupun sebanyak bilangan buih di lautan.” (HR. Muslim) Dalam riwayat lain disebutkan, “Bahwasanya takbir dibaca tiga puluh empat kali.”

[shahih: Muslim 597]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Barang siapa pada akhir setiap shalat membaca tasbih tiga puluh tiga kali (yakni membaca ‘Subhanallah’) membaca tahmid tiga puluh tiga kali (yakni membaca ‘Al-Hamdulillah’) dan membaca takbir tiga puluh tiga kali (yakni membaca ‘Allahu Akbar’) itulah sembilan puluh sembilan (yaitu jumlah asmaul husna), Kemudian beliau bersabda, ‘Genap seratusnya, Tiada ilah selain Allah yang Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan adalah milik-Nya, semua pujian adalah milik-Nya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” maka dosa-dosanya diampuni walaupun sebanyak bilangan buih di lautan.

Dalam riwayat Muslim yang lainnya disebutkan, “Bahwasanya takbir dibaca tiga puluh empat kali” sehingga jumlahnya genap seratus, maka seyogyanya kadang-kadang membaca tahlil dan pada kesempatan yang lain membaca takbir yang jumlahnya tiga puluh empat untuk mengamalkan kedua riwayat tersebut. Sedangkan membaca keduanya secara bersamaan -sebagaimana yang dikatakan oleh pensyarah dan juga yang lain-, maka hal itu seyogyanya tidak dilakukan karena tidak ada riwayat yang mendukungnya, dan jumlahnya akan melebihi seratus.

Tafsir Hadits

Hadits ini didasari oleh satu kisah,

«أَنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ أَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَى وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ، فَقَالَ: مَا ذَلِكَ؟ قَالُوا: يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ وَلَا نَتَصَدَّقُ وَيَعْتِقُونَ وَلَا نَعْتِقُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَفَلَا أُعَلِّمُكُمْ شَيْئًا تُدْرِكُونَ بِهِ مَنْ سَبَقَكُمْ وَتَسْبِقُونَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ إلَّا مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ؟ قَالُوا: بَلَى، قَالَ: سَبِّحُوا اللَّهَ»

“Bahwasanya orang-orang miskin dari golongan Muhajirin mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah pergi menuju derajat yang lebih tinggi dan kenikmatan yang abadi?” Maka beliau menjawab, “Apa yang kalian maksud?” Mereka berkata, “Mereka mendirikan shalat seperti kami, mereka berpuasa seperti kami, mereka bersedekah namun kami tidak bisa bersedekah, mereka membebaskan -hamba sahaya- namun kami tidak bisa melakukannya.” Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Maukah kalian aku ajari sesuatu untuk mengejar orang-orang yang telah mendahului kalian dan kalian bisa melampaui orang-orang setelah kalian, dan tidak ada orang yang lebih baik dari kalian kecuali orang yang melakukan apa yang kalian lakukan?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Kalian bertasbih kepada Allah.”

Sedangkan cara membaca tasbih, tahmid, dan takbir tersebut telah kami sebutkan di atas, namun ada yang mengatakan bahwa caranya dengan membaca ‘Subhanallahi wal hamdulillahi wallahu akbar’ tiga puluh tiga kali.

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dari Abu Hurairah Radhyallahu Anhu,

«يُسَبِّحُونَ عَشْرًا وَيَحْمَدُونَ عَشْرًا وَيُكَبِّرُونَ عَشْرًا»

“Kalian membaca tasbih sepuluh kali, membaca tahmid sepuluh kali dan membaca takbir sepuluh kali.” [SHAHIH; Al Bukhari 6329]

Dan ada cara lain sebagaimana disebutkan dalam riwayat,

«يُسَبِّحُونَ خَمْسًا وَعِشْرِينَ تَسْبِيحَةً وَمِثْلَهَا تَحْمِيدًا وَمِثْلَهَا تَكْبِيرًا وَمِثْلَهَا لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ؛ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ؛ فَتَتِمُّ مِائَةً»

“Kalian membaca tasbih dua puluh lima kali, begitu pula dengan tahmid, takbir dan tahlil-seperti di atas- sehingga jumlahnya menjadi seratus.” [Shahih: An Nasa’i 1350]

Abu Dawud meriwayatkan dari Zaid bin Arqam,

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ: اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ أَنَا شَهِيدٌ أَنَّك أَنْتَ الرَّبُّ وَحْدَك لَا شَرِيكَ لَك، اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ إنَّا نَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَبْدُك وَرَسُولُك، اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ إنَّا نَشْهَدُ أَنَّ الْعِبَادَ كُلَّهُمْ إخْوَةٌ. اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ اجْعَلْنِي مُخْلِصًا لَك، وَأَهْلِي فِي كُلِّ سَاعَةٍ مِنْ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ اسْتَمِعْ وَاسْتَجِبْ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، اللَّهُ أَكْبَرُ الْأَكْبَرِ حَسْبِي اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ اللَّهُ أَكْبَرُ الْأَكْبَرِ»

“Bahwasanya setiap akhir shalat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca, “Ya Allah, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, saya bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan, yang Maha Tunggal tiada sekutu bagi-Mu, Ya Allah, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, saya bersaksi bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam hamba dan utusan-Mu, Ya Allah, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, saya bersaksi bahwa semua hamba adalah bersaudara, Ya Allah, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, jadikanlah saya dan keluargaku orang-orang yang ikhlas kepada-Mu setiap saat di dunia maupun di akhirat, wahaiyang memiliki keagungan dan kemuliaan dengarkan dan kabulkanlah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, yang Maha Besar adalah Allah, cahaya seluruh langit dan bumi, Allah Maha besar yang Maha Besar, cukuplah Allah bagiku, sebaik-baik penolong, Allah Maha besar yang Maha Besar.” [Dhaif: Abu Daud 1508]

Abu Dawud meriwayatkan dari Ali Radhiyallahu Anhu,

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا سَلَّمَ مِنْ الصَّلَاةِ قَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْت وَمَا أَخَّرْت وَمَا أَسْرَرْت وَمَا أَعْلَنْت وَمَا أَسْرَفْت وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لَا إلَهَ إلَّا أَنْتَ»

“Bahwasanya jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengucapkan salam dari shalat, beliau membaca, ‘Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, baik yang terdahulu maupun yang akan datang, baik yang tersembunyi, yang terang-terangan maupun yang berlebih-lebihan, dan segala apa yang Engkau lebih tahu daripada aku, Engkau yang mengawalkan dan Engkau yang mengakhirkan, tiada ilah selain Engkau.” [Shahih: Abu Daud 1509]

Abu Dawud dan An-Nasa’i meriwayatkan dari Uqbah bin Amir,

«أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ أَقْرَأَ بِالْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruhku untuk membaca Al-Mu’awwidzaat setiap selesai dari shalat.” [Shahih: Abu Daud 1523]

Muslim meriwayatkan dari Al-Barra’,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَقُولُ بَعْدَ الصَّلَاةِ: رَبِّ قِنِي عَذَابَك يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَك»

“Bahwasanya setelah shalat Rasulullah Shallallahu Alaihi ma Sallam membaca, “Wahai Tuhanku, jagalah diriku dari adzab-Mu pada hari Engkau membangkitkan hamba-hamba-Mu.” [Shahih: Muslim 709]

Khusus untuk shalat Maghrib dan shalat Subuh, selain bacaan di atas ada riwayat lain yang menambahkan,

لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Tiada ilah selain Allah yang Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan adalah milik-Nya, semua pujian adalah milik-Nya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” -Sepuluh kali- (HR. Ahmad)

At-Tirmidzi meriwayatkan Abu Dzar Radhiyallahu Anhu, “Bahwa­sanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«مَنْ قَالَ فِي دُبُرِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَهُوَ ثَانٍ رِجْلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ: لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ عَشْرَ مَرَّاتٍ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ، وَمَحَا عَنْهُ عَشْرَ سَيِّئَاتٍ وَرَفَعَ لَهُ عَشْرَ دَرَجَاتٍ، وَكَانَ يَوْمَهُ ذَلِكَ فِي حِرْزٍ مِنْ كُلِّ مَكْرُوهٍ وَحِرْزٍ مِنْ الشَّيْطَانِ، وَلَمْ يَنْبَغِ لِذَنْبٍ أَنْ يُدْرِكَهُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ إلَّا الشِّرْكُ بِاَللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»

“Barangsiapa setiap setelah shalat, saat masih menekuk kakinya dan belum berbicara, kemudian ia membaca, “Tiada ilah selain Allah yang Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan adalah milik-Nya, semua pujian adalah milik-Nya, yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Sebanyak sepuluh kali, Allah akan mencatat sepuluh kebaikan untuknya, menghapus sepuluh kesalahan, mengangkatnya sepuluh derajat, dan sehari itu ia selalu dalam penjagaan dari segala hal yang tidak disukai, ada penjagaan dari setan, dan tidak ada satu dosapun yang layak terjadi padanya kecuali dosa menyekutukan Allah.’ At-Tirmidzi mengatakan, “Hadits ini gharib hasan shahih.” [Dhaif: 3474]

An-Nasa’i meriwayatkan dari Muadz, ia menambahkan, بِيَدِهِ الْخَيْرُ artinya segala kebaikan berada di tangan-Nya, juga menambahkan, “Setiap sekali ia membaca, maka seakan-akan ia membebaskan satu hamba sahaya.”

At-Tirmidzi dan An-Nasa’i meriwayatkan dari Imarah bin Syabib, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«مَنْ قَالَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ عَشْرَ مَرَّاتٍ عَلَى أَثَرِ الْمَغْرِبِ بَعَثَ اللَّهُ لَهُ مَلَائِكَةً يَحْفَظُونَهُ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ حَتَّى يُصْبِحَ وَكَتَبَ لَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ وَمَحَا عَنْهُ عَشْرَ سَيِّئَاتٍ مُوبِقَاتٍ وَكَانَتْ لَهُ بِعَدْلِ عَشْرِ رَقَبَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ»

Barang siapa membaca, “Tiada ilah selain Allah yang Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan adalah milik-Nya, semua pujian adalah milik-Nya, yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Sebanyak sepuluh kali setiap selesai dari shalat Maghrib, Allah akan mengutus malaikat-malaikat yang akan menjaganya dari setan yang terkutuk, hingga tiba saat pagi, dan Allah akan mencatat baginya sepuluh kebaikan, menghapus sepuluh kesalahan yang menjerumuskan ke dalam neraka -al-Muubiqaat-, dan ia seakan-akan membebaskan sepuluh budak muslim.”

At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan, saya tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Laits bin Saad, dan tidak diketahui bahwa Imarah mendengarkan dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.” [Hasan: At Tirmidzi 3534]

Sedangkan bacaan surat Al-Fatihah dengan niat bermacam-macam tidak pernah ada dalil yang mendasarinya bahkan ia adalah bid’ah.

Sedangkan bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam setelah membaca tasbih, tahmid dan takbir yang dilanjutkan dengan doa adalah sunnah, dan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad sebelum berdoa adalah sunnah.

Sedangkan menjadikan hal itu sebagai adat atau terus menerus, menjadikannya bagaikan sunnah rawatib, kemudian imam berdoa ke arah kiblat membelakangi makmum tidak pernah diajarkan oleh sunnah, bahkan yang jelas ada dalam riwayat ialah bahwa setelah salam, Rasulullah menghadap ke arah para makmum.

Al-Bukhari menulis, ‘Bab Imam Menghadap Ke Arah Makmun Setelah Mengucap Salam’, beliau menyebutkan hadits dari Samurah bin Jundab, dan hadits lain dari Zaid bin Khalid, “Bahwasanya jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menyelesaikan shalat beliau menghadap kepada kami dengan wajahnya.” Secara zhahir, hal ini menjadi kebiasaan beliau secara terus menerus.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *