[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 86

02.07. BAB SIFAT SHALAT 18

0301

301 – وَعَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «صَلَّيْت مَعَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَكَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ وَعَنْ شِمَالِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ

301. Dari Wa’il bin Hujr RA, “Bahwasanya ia mendirikan shalat bersama Nabi SAW, lalu beliau mengucapkan salam ke arah kanan, ‘Assalamu alaikum warahmatullahi wa barakatuh’, dan mengucapkan salam ke arah kiri ‘Assalamu alaikum warahmatullahi wa barakatuh’. (HR. Abu Daud dengan sanad shahih)

[Shahih: Abu Daud 997]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsif Hadits

Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud dari Alqamah bin Wa’il dari ayahnya, di dalam At-Talkhish Ibnu Hajar menisbahkan hadits tersebut kepada Abdul Jabbar bin Wa’il, kemudian ia berkata, “Abdul Jabbar tidak mendengar hadits dari ayahnya.” Sehingga ia menganggap hadits ini munqathi’, namun di sini ia mengatakan bahwa hadits ini shahih. Maka kemudian kami meneliti kembali Sunan Abu Dawud dan ternyata kami dapati bahwa Abu Dawud menisbahkan hadits ini kepada Alqamah, dan telah jelas bahwa Alqamah mendengar hadits dari ayahnya, maka hadits ini selamat dari cacat munqathi’, sehingga anggapan bahwa hadits ini shahih dalam buku ini lebih benar, walaupun hal itu bertentangan dengan penjelasan di dalam At-Talkhish.

Hadits tentang mengucap dua kali salam ini telah diriwayatkan oleh lima belas orang shahabat Rasulullah dengan hadits yang berbeda-beda, ada yang shahih, ada yang hasan, ada yang dhaif dan ada yang matruk, dan semuanya tanpa tambahan ‘Wa barakatuh’ kecuali dalam riwayat Wa’il ini, serta dalam riwayat Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Dan jika riwayat Wa’il ini shahih, maka tambahan ‘Wa barakatuh’ tersebut harus diterima karena ia tambahan yang benar. Sedangkan ketiadaannya di dalam riwayat-riwayat yang lain tidak menunjukkan bahwa tambahan itu tidak ada.

Penyarah buku mengatakan bahwa ia belum pernah mengetahui seorangpun yang mewajibkan tambahan ‘Wa barakatuh’, hanya saja imam Yahya berkata, “Boleh ditambah ‘Wa barakaatuhu wa ridhwaanuhu wa karaamatuhu’ karena tambahan itu adalah tambahan kebaikan.” Padahal Anda telah mengetahui bahwa tambahan yang berdasarkan kepada hadits hanya ‘Wa barakatuh’ saja, dan hadits tersebut adalah hadits shahih, dan tidak ada alasan untuk tidak mengatakan tambahan tersebut, demikian pula pendapat As-Sarakhsyi, Al-Imam dan Ar-Ruyani di dalam Al-Hilyah.

Sedangkan ungkapan Ibnu As-Shalah yang mengatakan bahwa tambahan itu tidak benar cukup membuat terkejut Ibnu Hajar, lalu ia berkata, “Tambahan itu jelas ada di dalam riwayat Ibnu Hibban di dalam Shahih Ibnu Hibban, dalam riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah.” Ibnu Hajar berkata, “Hanya saja Ibnu Ruslan menyampaikan di dalam Syarh As-Sunan bahwa tambahan itu tidak terdapat di dalam riwayat Ibnu Majah.”

Saya telah meneliti kembali Sunan Ibnu Majah dalam cetakan yang sah dan ternyata kami mendapati tambahan tersebut di sana dengan lafazh, ‘Bab Tasliim’. Muhammad bin Abdillah bin Numair memberitahu kami bahwa Umar bin Ubaid memberitahunya dari Abu Ishaq dari Abul Akhwash dari Abdullah, ‘Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengucapkan salam ke arah kanan dan ke arah kirinya, hingga terlihat warna putih pipinya, “Assalaamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuhu.”

Di dalam Talqih Al-Afkar Takhrij Al-Adzkar, ketika An-Nawawi mengatakan bahwa tambahan Wa barakaatuhu’ adalah riwayat tunggal, Ibnu Hajar menyebutkan berbagai jalur riwayat yang menyebutkan tambahan tersebut untuk membantah ungkapan An-Nawawi di atas.

Jika telah jelas bahwa membaca dua salam adalah bagian dari cara shalat Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam, dan beliau telah bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku mendirikan shalat. ‘ Dan ada hadits yang berbunyi, ‘Pembukaannya adalah takbir, dan penutupnya adalah salam.” Yang telah diriwayatkan orang perawi-perawi Sunan dengan sanad shahih, maka mengucap salam hukumnya wajib.

Al-Hadawiyah dan As-Syafi’i mewajibkannya, An-Nawawi mengatakan bahwa itu adalah pendapat jumhur ulama dari kalangan shahabat, tabi’in dan orang-orang setelah mereka.

Menurut Al-Hanafiyah dan beberapa orang yang lainnya, hukum mengucapkan salam adalah sunnah, berdasarkan hadits Ibnu Umar,

«إذَا رَفَعَ الْإِمَامُ رَأْسَهُ مِنْ السَّجْدَةِ وَقَعَدَ ثُمَّ أَحْدَثَ قَبْلَ التَّسْلِيمِ فَقَدْ تَمَّتْ صَلَاتُهُ»

“Jika imam telah mengangkat kepalanya dari sujud lalu duduk, kemudian ia berhadats sebelum mengucap salam maka shalatnya telah sempurna. ‘ [Dhaif: Abu Daud 617]

Mereka berpendapat bahwa salam bukan rukun yang wajib, kalau ia wajib pasti diminta untuk mengulang shalatnya dan di situ Rasulullah tidak memerintahkannya untuk mengucapkan salam.

Saya jawab pendapat di atas adalah, bahwa hadits Ibnu Umar di atas adalah dhaif berdasarkan kesepakatan para penghafal hadits, karena hadits tersebut telah diriwayatkan oleh At-Tirmidzi yang kemudian ia mengomentarinya, “Hadits ini sanadnya tidak kuat, sanadnya mudhtharib.”

Sedangkan hadits Al-Musii’ shalatahu tidak menutupi kewajiban salam ini, karena kewajiban ini tambahan yang datang melalui jalur yang benar. Lalu berargumen dengan ayat, “Ruku’lah kamu, sujudlah kamu” (QS. Al-Hajj: 77) bahwa salam tidak wajib adalah argumen yang tidak sempurna, karena ayat ini bersifat global, yang kemudian dijelaskan oleh perbuatan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, jika seandainya hanya mengamalkan ayat tersebut tentulah membaca Al-Qur’an dan rukun yang lainnya juga tidak wajib.

Hadits ini menujukkan wajibnya mengucapkan salam ke arah kanan dan ke arah kiri, dan inilah pendapat Al-Hadawiyah dan beberapa jamaah. Sedangkan As-Syafi’i berpendapat bahwa yang wajib adalah salam pertama sedangkan salam kedua adalah sunnah. An-Nawawi berkata, “Seluruh ulama mu’tabar berijma’ bahwa tidak wajib kecuali satu salam saja, jika ia mengucapkan satu salam maka sebaiknya ia mengucapkannya ke arah depan dan jika ia mengucapkan dua salam maka sebaiknya ia mengucapkan salam pertama ke arah kanan dan salam kedua ke arah kiri.”

Dalil yang dijadikan hujjah As-Syafi’i adalah hadits Aisyah Radhiyallahu Anha,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ إذَا أَوْتَرَ بِتِسْعِ رَكَعَاتٍ لَمْ يَقْعُدْ إلَّا فِي الثَّامِنَةِ، فَيَحْمَدُ اللَّهَ وَيَذْكُرُهُ وَيَدْعُو ثُمَّ يَنْهَضُ وَلَا يُسَلِّمُ، ثُمَّ يُصَلِّي التَّاسِعَةَ فَيَجْلِسُ وَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَدْعُو ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمَةً»

“Bahwasanya jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat witir sebanyak sembilan rakaat beliau tidak duduk kecuali pada rakaat ke delapan, kemudian beliau membaca tahmid, berdzikir kepada-Nya dan berdoa, lalu berdiri tanpa mengucap salam, kemudian mengerjakan rakaat yang kesembilan, lalu duduk berdzikir kepada Allah dan berdoa kepada-Nya, kemudian mengucapkan salam satu kali.” (HR. Ibnu Hibban) Dengan sanad memenuhi kriteria Shahih Muslim.

Jawaban atas pendapat ini ialah bahwa hadits tersebut tidak bertentangan dengan hadits dua salam, karena hadits dua salam adalah tambahan benar yang harus diterima.

Imam Malik mengatakan bahwa yang disunnahkan hanya satu salam, namun Ibnu Abdul Barr telah menjelaskan kelemahan hadits-hadits yang menjadi dalil pendapat ini.

Al-Malikiyah menjadikan perbuatan penduduk Madinah sebagai argumen untuk mendukung pendapat mereka yang mengatakan bahwa satu salam sudah cukup, karena itu adalah cara yang telah diwarisi oleh penduduk Madinah dari para pendahulu mereka secara turun temurun. Jawaban atas argumen ini ialah para ahli ushul fikih telah bersepakat dalam satu pendapat bahwa perbuatan penduduk Madinah bukan dalil.

Ungkapan perawi, “ke arah kanan dan ke arah kiri” maksudnya bahwa ia menoleh ke arah kanan dan kiri hingga warna putih pipinya terlihat, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Sa’d,

«رَأَيْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سَلَّمَ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ حَتَّى كَأَنِّي أَنْظُرُ إلَى صَفْحَةِ خَدِّهِ» وَفِي لَفْظٍ: ” حَتَّى أَرَى بَيَاضَ خَدِّهِ ”

“Saya melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengucapkan salam ke arah kanan dan ke arah kiri, hingga seakan-akan saya melihat hamparan pipinya.” Dalam riwayat lain disebutkan, “hingga saya melihat warna putih pipinya.” (HR. Muslim dan An-Nasa”i)

0302

302 – وَعَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْت، وَلَا مُعْطِي لِمَا مَنَعْت، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْك الْجَدُّ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

302. Dari Al-Mughirah bin Syu’bah, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada setiap akhir shalat wajib membaca, “Tiada ilah selain Allah yang Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan adalah milik-Nya dan semua pujian adalah milik-Nya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Ya Allah, sungguh tidak ada yang bisa menolak apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang bisa memberikan apa yang Engkau tahan, dan sungguh tidak bermanfaat di hadapan-Mu segala kekayaan bagi pemiliknya.” (Muttafaq Alaih)

[Shahih: Al Bukhari 844, Muslim 593]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Al-Mughirah bin Syu’bah, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada setiap akhir (kata-kata al-dubur di dalam Al-Qaamuus dijelaskan bahwa artinya adalah lawan al-qubul -depan-, sedangkan dubur setiap sesuatu ialah di belakangnya tepat atau pada ujung akhirnya, dan kadang kata-kata al-dubur dibaca al-dabar yang artinya shalat pada akhir waktunya atau al-dabru dan tidak dibaca al-dubur jika yang dimaksud adalah arti kedua ini, jika terjadi itu adalah kesalahan) shalat wajib membaca, Tiada ilah selain Allah yang Maha Tunggal, tiada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan adalah milik-Nya dan semua pujian adalah milik-Nya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Ya Allah, sungguh tidak ada yang bisa menolak apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang bisa memberikan apa yang Engkau tahan (di dalam riwayat Abdun bin Hamid disebutkan tambahan, وَلَا رَادَّ لِمَا قَضَيْت “dan tidak ada yang bisa menolak apa yang telah Engkau putuskan.”) dan sungguh tidak bermanfaat di hadapan-Mu segala kekayaan bagi pemiliknya.

At-Thabrani berdasarkan riwayatnya dari Al-Mughirah dari jalur lain menambahkan setelah bacaan lahul mulku wa lahul hamdu,

يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ

“Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maba hidup dan tidak mati, di tangan-Nya segala kebaikan. ‘

Perawi-perawi tambahan ini tsiqah. Hadits serupa diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari Abdurrahman bin Auf dengan sanad shahih, namun ada tambahan lafazh, “Jika berada di pagi maupun di sore hari….”

Makna sabda beliau, “Sungguh tidak ada yang bisa menolak apa yang Engkau berikan” yakni, jika Allah telah memutuskan untuk memberikan rezeki atau yang lainnya, maka tidak ada siapa pun yang bisa menolaknya.

Makna sabda beliau, “dan tidak ada yang bisa memberikan apa yang Engkau tahan”yakni, jika Allah telah memutuskan untuk tidak memberikan sesuatu kepada seseorang, maka tidak ada siapapun yang bisa memberikannya.

Arti kata al-Jadd sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Bukhari ialah kekayaan atau segala yang dimiliki, makna sabda beliau di atas bahwa kekayaan duniawi seseorang, baik berupa harta, anak, kebesaran dan kekuasaan tidak akan bisa memberinya manfaat atau menolongnya, sesungguhnya yang bisa menolongnya hanya karunia dan rahmat-Mu saja.

Tafsif Hadits

Hadits ini merupakan dalil bahwa doa ini hukumnya mustahab untuk dibaca setelah menunaikan shalat, karena ia mengandung makna mentauhidkan Allah, mengembalikan segala perkara kepada-Nya, begitu pula segala pemberian maupun sebaliknya dan segala kesempurnaan kekuasaan adalah milik-Nya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *