[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 85

02.07. BAB SIFAT SHALAT 17

0299

299 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاَللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمِ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ ” إذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنْ التَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ “.

299. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang dari kalian membaca tasyahud maka hendaklah ia berlindung kepada Allah dari empat perkara, hendaklah ia mengucapkan, “Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung kepada-Mu dari azab Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan maupun kematian dan dari kejahatan fitnah Al Masih ad Dajjal.” (Muttafaq alaih)

Di dalam riwayat Muslim disebutkan, “Jika salah seorang dari kalian telah selesai membaca tasyahud akhir….”

[Shahih: Al Bukhari 1377 dan Muslim 588]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Tasyahud yang dimaksud dalam hadits pertama adalah tasyahud awal dan akhir. Dan dalam riwayat Muslim membatasi keumuman pemahaman riwayat yang pertama, dan menjelaskan bahwa doa memohon perlindungan tersebut dibaca setelah selesai dari tasyahud terakhir. Kemudian penggunaan kata ‘fa”‘ yang berarti segera, menunjukkan bahwa doa ini dibaca sebelum membaca doa pilihan orang yang sedang mengerjakan shalat tersebut.

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil atas wajibnya memohon perlindungan kepada Allah dan empat perkara tersebut, dan inilah mazhab Ad-Dzahiriyah, lbnu Hazm yang merupakan salah seorang dari mereka berkata, “Doa tersebut wajib dibaca pada tasyahud pertama juga.” Berdasarkan mutlaknya hadits Al-Bukhari dan Muslim, serta karena Thawus memerintahkan putranya untuk mengulangi shalatnya saat ia tidak membaca doa tersebut, hal itu bisa ditarik kesimpulan bahwa ia menganggap batal shalat seseorang yang tidak membaca doa ini. Sedangkan jumhur ulama mengatakan bahwa hukumnya adalah mandub.

Hadits tersebut juga mengisyaratkan adanya adzab kubur. Sedangkan yang dimaksud dengan fitnah kehidupan ialah segala yang dialami oleh manusia selama hidupnya, seperti tergoda oleh dunia, nafsu syahwat, kebodohan. Dan yang paling buruk ialah masalah su’ul khatimah. Sedangkan dari fitnah kematian ada yang mengatakan bahwa maksudnya ialah ujian saat kematian, dan mungkin juga bahwa yang dimaksud ialah adzab kubur. Dan ada yang mengatakan bahwa maksudnya ialah pertanyaan —kubur- saat sedang kebingungan.

Al-Bukhari telah meriwayatkan,

«إنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِي قُبُورِكُمْ مِثْلَ أَوْ قَرِيبًا مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ»

“Sesungguhnya kalian akan diuji di dalam kubur kalian, serupa atau seperti fitnah -ujian- Ad-Dajjal.” [Shahih: Al Bukhari 86]

Hal ini bukan pengulangan penyebutan adzab kubur, karena ia adalah bagian dari fitnah tersebut.

Sabda beliau, “‘Fitnah Ad-Dajjal’ diterangkan oleh para ulama bahwa kata fitnah secara etimologi berarti ujian dan cobaan, dan kadang bermakna pembunuhan, pembakaran, tuduhan dan lain sebagainya. Ada juga yang mengatakan bahwa maknanya ialah ujian yang menimpa dan kita tidak bisa bersabar atas ujian tersebut.

Kata Al-Masih bermakna Ad-Dajjal atau Nabi Isa Alaihissaiam. Namun jika yang dimaksud ialah Ad-Dajjal, maka kata Ad-Dajjal harus disebutkan di belakangnya. Disebut al-Masih —dari kata masaha yang berarti mengusap-karena ia menyapu bumi. Atau karena salah satu matanya terhapus atau buta.

Sedangkan Nabi Isa Alaihissaiam disebut juga sebagai Al-Masih, karena ia dilahirkan dalam keadaan terlumuri minyak. Atau karena Nabi Zakaria Alaihissaiam telah mengusapnya. Atau karena tidaklah ia mengusap seseorang yang sedang menderita sakit kecuali pasti orang tersebut akan sembuh. Penulis Al-Qamus menjelaskan bahwa alasan penamaan ini mencapai lima puluh pendapat.

0300

300 – «وَعَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلَاتِي، قَالَ قُلْ: اللَّهُمَّ إنِّي ظَلَمْت نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِك وَارْحَمْنِي، إنَّك أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

300. Dari Abu Bakar RA bahwasanya ia berkata kepada Rasulullah SAW, “ajarilah saya satu doa, untuk saya baca di dalam shalatku”, beliau bersabda, “Ucapkanlah, Ya Allah, sesungguhnya saya telah menganiaya diriku dengan sangat aniaya, dan tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa selain Engkau, maka ampunilah dosa-dosaku, dengan ampunan dari-Mu, dan rahmatilah saya sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 834 dan Muslim 2705]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Bakar As-Shiddiq Radhiyallahu Anhu, ia berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Ajarilah saya satu doa, untuk saya baca di dalam shalatku.” Beliau bersabda, Ucapkan, “Ya Allah, sesungguhnya saya telah menganiaya diriku dengan sangat aniaya (kata-kata Katsiran -banyak-ada yang meriwayatkannya Kabiiran -besar- sehingga boleh dipakai salah satu dari keduanya, namun tidak boleh dipakai keduanya, karena tidak ada yang meriwayatkan keduanya bersamaan) dan tidak ada yang bisa mengampuni dosa-do’sa selain Engkau (merupakan bentuk kesaksian atas keesaan Allah) maka ampunilah dosa-dosaku (permohonan ampunan dari-Nya) dengan ampunan (kata-kata maghfirah disebutkan dalam bentuk nakirah untuk menujukkan keagungannya) dari-Mu (maka hal itu menambah keagungannya) dan rahmatilah saya sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (ucapan ini adalah tawassul dengan sifat Maha Pengampun dan Maha penyayang untuk mendapatkan ampunan dan rahmatnya).”

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil disyariatkannya berdoa secara umum di dalam shalat, tanpa menjelaskan saatnya, yang salah satu waktunya ialah setelah membaca tasyahud, lalu shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu memohon perlindungan dari empat perkara di atas, berdasarkan sabda beliau, “Kemudian hendaklah ia memilih doa yang ia kehendaki.”

Pengakuan telah menganiaya dirinya sendiri adalah sebuah pengakuan bahwa manusia tidak lepas dari hal tersebut seperti melanggar larangan Allah atau tidak sempurna dalam melaksanakan perintah-Nya.

Hadits tersebut juga mencontohkan tawassul dengan nama-nama Allah untuk memohon suatu kebaikan atau berlindung dari keburukan, dan yang dilakukan dengan menggunakan semua sifat yang sesuai dengan permohonannya, seperti sifat Al-Ghafuur Ar-Rahiim untuk memohon ampunan, seperti dalam firman Allah Ta’ala,

{وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ}

“Beri rezekilah kami, dan Engkaulah Pemberi rezeki Yang Paling Utama.” (QS. Al-Ma’idah: 114) untuk meminta rezeki. Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memberikan banyak contoh untuk masalah tersebut.

Hadits ini menganjurkan untuk meminta pelajaran dari orang yang lebih pandai, khususnya dalam masalah doa-doa yang merupakan Jawami’ Al-kalim -doa yang sederhana namun mengandung makna yang luas-.

Ketahuilah, bahwa ada juga doa-doa lain yang dibaca setelah tasyahud dengan lafazh yang lain:

An-Nasa’i meriwayatkan dari Jabir, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam setelah tasyahud membaca doa,

أَحْسَنُ الْكَلَامِ كَلَامُ اللَّهِ، وَأَحْسَنُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ

“Sebaik-baik perkataan adalah kalam Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. ‘ [Shahih: An Nasa’i 1310]

Abu Dawud meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajari mereka doa setelah tasyahud,

اللَّهُمَّ أَلِّفْ عَلَى الْخَيْرِ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ بَيْنَنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنْ الظُّلُمَاتِ إلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ وَالْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّك أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِك، مُثْنِينَ بِهَا، قَابِلِيهَا، وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا

‘Ya Allah, satukanlah hati kami di atas kebaikan, perbaikilah hubungan di antara kami, tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan, selamatkanlah kami dari kegelapan menuju kepada cahaya, jauhkanlah kami dari kekejian baik yang nampak maupun yang tidak nampak, berkahilah kami pada pendengaran kami, penglihatan kami, hati kami, istri-istri kami, anak keturunan kami, berilah kami taubat karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Taubat dan Maha Penyayang, jadikanlah kami orang-orang yang bersyukur atas nikmat-Mu, memuji-Mu dengannya, menerimanya dengan ridha, dan sempurnakanlah nikmat tersebut untuk kami.” (HR. Abu Dawud) [Dhaif: Abu Daud 969]

Abu Dawud juga meriwayatkan dari beberapa orang shahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ لِرَجُلٍ: كَيْفَ تَقُولُ فِي الصَّلَاةِ؟ قَالَ: أَتَشَهَّدُ ثُمَّ أَقُولُ: اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُك الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِك مِنْ النَّارِ، أَمَّا إنِّي لَا أُحْسِنُ دَنْدَنَتَك وَلَا دَنْدَنَةَ مُعَاذٍ، فَقَالَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: حَوْلَ ذَلِكَ نُدَنْدِنُ أَنَا وَمُعَاذٌ»

“Bahwasanya beliau bersabda kepada seseorang, “Apa yang kamu ucapkan di dalam shalat?” Orang tersebut menjawab, “Saya membaca tasyahud lalu aku membaca, “Ya Allah, sesungguhnya saya memohon surga kepada-Mu dan berlindung kepada-Mu dari neraka.” Karena saya tidak bisa menirukan gumananmu -doa dengan suara lirih-, dan tidak juga gumanan Muadz.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sekitar masalah itulah saya dan Muadz berguman.’ [Shahih: Abu Daud 792]

Maka hadits ini menjelaskan bahwasanya seseorang boleh berdoa dengan lafazh apa pun, baik doa tersebut mastsur atau tidak.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *