[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 84

02.07. BAB SIFAT SHALAT 16

0296

296 – وَلِمُسْلِمٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ – إلَى آخِرِهِ»

296. Hadits Muslim dari Ibnu Abbas RA berkata, Rasulullah SAW mengajarkan tasyahud kepada kami ‘segala penghormatan, keberkahan, shalawat, kebaikan…hingga akhir hadits.

[Shahih: Muslim 403]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Bacaan selengkapnya:

«التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلَامُ عَلَيْك أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ»

“Segala penghormatan, keberkahan, shalawat, kebaikan bagi Allah, salam sejahtera bagimu wahai nabi, beserta rahmat dan berkah dari Allah, salam sejahtera bagi kami dan juga bagi hamba-hamba Allah yang shaleh, saya bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Ini lafazh Muslim dan Abu Dawud.

At-Tirmidzi juga meriwayatkan dan menshahihkannya, namun dengan perbedaan sedikit, yakni lafazh ‘as-salaamu… ‘diganti dengan lafazh ‘salam’ dalam bentuk nakirah. [Shahih: At Tirmidzi 290]

Ibnu Majah meriwayatkan seperti lafazh Muslim dengan tambahan, ‘wa asyhadu anna Muhammadan Abduhu wa Rasuuluh’. [Shahih: Ibnu Majah 910]

As-Syafi’i dan Ahmad meriwayatkan dengan menakirahkan ‘salaam’ kemudian keduanya menyebutkan, ‘Wa anna Muhammadan ‘Abduhu wa Rasuuluh’ tanpa lafazh Asyhadu’ dengan tambahan yang lain yaitu lafazh ‘al-Mubaarakatu’ tanpa lafazh ‘wa’ pada bacaan ‘as-Shalawaat’ dan juga pada bacaan At-Thayyibaat’.

As-Syafi’i memilih untuk menggunakan tasyahud Ibnu Abbas ini. Ibnu Hajar berkata, “Ketika As-Syafi’i ditanya, kenapa engkau menggunakan tasyahud Ibnu Abbas ini? Beliau menjawab, ‘Ketika aku melihat bacaan Ibnu Abbas ini lebih luas, dan aku meriwayatkan sebagai hadits shahih dari Ibnu Abbas, saat itu aku telah mendapatkan bacaan yang lebih luas kandungannya dan lebih banyak kata-katanya daripada yang lain, maka aku mengambilnya tanpa memaksa orang yang menggunakan bacaan yang lain selama bacaan itu shahih.”

0297

297 – وَعَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – رَجُلًا يَدْعُو فِي صَلَاتِهِ، وَلَمْ يَحْمَدْ اللَّهَ، وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَقَالَ: عَجِلَ هَذَا ثُمَّ دَعَاهُ، فَقَالَ: إذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ رَبِّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، ثُمَّ يَدْعُو بِمَا شَاءَ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالثَّلَاثَةُ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

297. Dari Fudhalah bin Ubaid berkata, Rasulullah SAW mendengar seseorang berdoa di dalam shalatnya tanpa memuji Allah dan tanpa membaca shalawat kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda, “Orang ini tergesa-gesa.” Kemudian beliau memanggilnya seraya bersabda, “Jika salah seorang dari kalian mengerjakan shalat maka hendaklah ia memulainya dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian membaca shalawat kepada Nabi SAW seraya berdoa dengan apa yang ia kehendaki.” (HR. Ahmad dan Imam tiga. At Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al Hakim menshahihkannya)

[Shahih: Abu Daud 1481]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Fudhalah bin Ubaid adalah Abu Muhammad Fudhalah bin Ubaid Al-Anshari Al-Ausi. Pertama peperangan yang ia ikuti ialah perang Uhud dan juga peperangan sesudahnya. Ia ikut berbaiat di bawah pohon, kemudian pindah ke Syam dan menetap di Damaskus sebagai qadhi (hakim) hingga wafat di sana. Namun ada yang mengatakan bahwa beliau wafat di tempat lain.

Penjelasan Kalimat

‘Fudhalah berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendengar seseorang berdoa di dalam shalatnya tanpa memuji Allah dan tanpa membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka beliau bersabda, “Orang ini tergesa-gesa (dalam berdoa, karena ia tidak melakukan kedua hal di atas) kemudian beliau memanggilnya seraya bersabda, “Jika salah seorang dari kalian mengerjakan shalat maka hendaklah ia memulainya dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya (ada yang mengatakan bahwa memuji dan menyanjung adalah semakna, dan ada juga yang mengatakan bahwa menyanjung lebih luas dari pada memuji) kemudian membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam seraya berdoa dengan apa yang ia kehendaki dari kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat.”

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil wajibnya memuji Allah, membaca shalawat bagi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu berdoa sesuka hati, dan makna ini sesuai dengan hadits Ibnu Mas’ud dan hadits-hadits yang lainnya. Karena hadits-hadits tentang tasyahud menyebutkan pujian dan sanjungan, sehingga hadits ini menjadi penjelas bagi hadits yang bersifat global dalam masalah yang sama. Sedangkan tentang bacaan shalawat akan dibahas pada saatnya.

Pendapat ini berlaku jika doa yang didengar oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tersebut adalah doa yang dibaca oleh orang itu pada saat duduk tasyahud, karena hadits ini tidak secara jelas menjelaskan bahwa doa tersebut dibaca saat duduk tasyahud. Namun Ibnu Hajar menyebutkan hadits ini dalam masalah tasyahud, sehingga merupakan isyarat bahwa doa tersebut dibaca pada saat duduk tasyahud, seakan-akan beliau memahami hal tersebut dari kondisinya.

Hadits ini sekaligus merupakan dalil anjuran untuk bertawassul sebelum berdoa, hal ini senada dengan firman Allah Ta’ala,

{إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 4), sehingga mendahulukan wasilah -yakni ibadah- sebelum memohon pengabulan doa.

0298

298 – وَعَنْ أَبِي مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «قَالَ بَشِيرُ بْنُ سَعْدٍ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمَرَنَا اللَّهُ أَنْ نُصَلِّيَ عَلَيْك فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْك؟ فَسَكَتَ، ثُمَّ قَالَ: قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْت عَلَى إبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْت عَلَى إبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إنَّك حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَالسَّلَامُ كَمَا عَلِمْتُمْ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَزَادَ ابْنُ خُزَيْمَةَ فِيهِ: فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْك إذَا نَحْنُ صَلَّيْنَا عَلَيْك فِي صَلَاتِنَا؟

298. Dari Abu Mas’ud Al Anshari RA berkata, Basyir bin Sa’d berkata, ‘Wahai Rasulullah, Allah telah memerintahkan kepada kami untuk bershalawat kepadamu, bagaimanakah cara kami bershalawat kepadamu?’ maka beliau diam sejenak lalu bersabda, “Ucapkanlah, ‘Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan juga kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau melimpahkan shalawat kepada keluarga Ibrahim, dan berkahilah Muhammad dan juga kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberkahi keluarga Ibrahim di alam ini, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia’, sedangkan bacaan salam maka sebagaimana yang telah diajarkan kepada kalian. (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 405]

Ibnu Khuzaimah menambahkan, “Maka bagaimanakah kami bershalawat kepadamu ketika kami bershalawat kepadamu di dalam shalat?”

[Sanadnya hasan: Ibnu Khuzaimah 711]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abu Mas’ud Al-Anshari adalah Uqbah bin Amir bin Tsa’labah Al-Anshari Al-Khazraji Al-Badri. Ia ikut serta dalam baiat Aqabah pertama saat ia masih kecil. Ia tidak ikut serta pada perang Badar, akan tetapi ia singgah di sana sehingga mendapat tambahan sebutan Al-Badri. Ia tinggal di Kufah dan wafat di sana pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu.

Penjelasan Kalimat

“Abu Mas’ud Al-Anshari berkata, “Basyir bin Sa’d berkata, ‘Wahai Rasulullah, Allah telah memerintahkan kepada kami untuk bershalawat kepadamu (yang ia maksud ialah firman Allah, “Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)) bagaimanakah cara kami bershalawat kepadamu? Maka beliau diam sejenak (yakni Rasulullah diam sejenak, dan dalam riwayat Ahmad dan Muslim ditambahkan, ‘Hingga kami berharap andaikan saja ia tidak bertanya) lalu bersabda, “Ucapkanlah, “Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan juga kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau melimpahkan shalawat kepada keluarga Ibrahim, dan berkahilah Muhammad dan juga kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberkahi keluarga Ibrahim di alam ini, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji.”

Makna Al Hamid adalah, “Sesungguhnya Engkau terpuji dengan segala pujian yang sesuai dengan keagungan-Mu.” Ucapan ini adalah alasan untuk meminta shalawat, yakni karena Engkau terpuji, dan wujud hal itu ialah limpahan pertolongan, tambahan berkah atas nabi-Mu yang telah mendekatkan diri kepada-Mu dengan melaksanakan tugas utamanya dari-Mu berupa risalah.

Bisa juga ia bermakna, “Sesungguhnya Engkau memuji apa yang berhak untuk dipuji, dan Muhammad adalah hamba yang paling berhak untuk mendapatkan pujian dari-Mu, dan berhak untuk dikabulkan bagi orang yang mendoakan untuknya beserta keluarganya, dan inilah makna yang lebih cocok dalam posisi ini, Majiid (Maha mulia) mengandung penguatan makna mulia, karena Al-Majdu berarti kemuliaan.

Ibnu Khuzaimah menambahkan, “Maka bagaimanakah kami bershalawat kepadamu ketika kami bershalawat kepadamu di dalam shalat?” Tambahan ini diriwayatkan juga oleh Ibnu Hibban, Ad-Daraquthni, Al-Hakim, Abu Hatim di dalam Shahih Abu Hatim dan Ibnu Khuzaimah di dalam Shahih Ibnu Khuzaimah.

Hadits tentang membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam diriwayatkan oleh Al-Bukhari bersama Muslim dari Ka’ab bin Ujrah, juga dari Abu Humaid As-Sa’idi. Oleh Al-Bukhari sendiri dari Abu Said. Oleh An-Nasa’i dari Thalhah. Oleh At-Thabrani dari Sahl bin Sa’d. Oleh Ahmad dan An-Nasa’i dari Zaid bin Kharijah.

Tafsir Hadits

Hadits ini dalil atas wajibnya membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam di dalam shalat, berdasarkan zhahir hadits di atas, yakni sabda beliau, “Ucapkanlah”, inilah pendapat beberapa ulama salaf, beberapa imam, As-Syafi’i dan Ishaq, dalilnya adalah hadits ini dan beberapa tambahan yang telah diyakini kesahihannya.

Hadits di atas sekaligus mengisyaratkan wajibnya membaca shalawat kepada keluarga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, inilah pendapat Al-Hadi, Al-Qasim dan Ahmad bin Hambal. Tentunya pendapat yang mewajibkan shalawat kepada Nabi Muhammad berdasarkan wajibnya shalawat kepada keluarganya adalah pendapat yang logis juga, karena isi perintahnya sama, sedangkan apa yang dikatakan oleh An-Nawawi tentang ijma’ ulama yang mengatakan bahwa hukum membaca shalawat kepada kaluarga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah mandub, tidak benar.

Bahkan kami berpendapat bahwa shalawat kepada Nabi Muhammad tidak sempurna, kecuali jika orang tersebut menyebut keluarga Nabi Muhammad juga, karena hadits ini adalah jawaban atas pertanyaan, “Bagaimana kami membaca shalawat kepadamu?” lalu Rasulullah menjawab pertanyaan tersebut dengan tatacara bershalawat kepadanya yaitu dengan membaca shalawat kepadanya lalu kepada keluarganya, dengan begitu orang yang membaca shalawat tanpa menyebut keluarga Rasulullah maka shalawatnya tidak benar, karena ia tidak melakukannya sesuai dengan ajaran Rasulullah.

Begitu pula kelengkapan shalawat yang diajarkan Rasulullah yaitu bacaan, kama shalaita hingga akhirnya, harus dibaca juga, karena ia termasuk cara yang beliau perintahkan.

Dan orang yang memisah-misahkan bacaan di atas lalu berkata bahwa sebagiannya wajib dan sebagian yang lain sunnah tidak berdasarkan dalil apa pun.

Sedangkan argumen yang disampaikan oleh Al-Mahdi, di dalam Al-Bahr, yang mengatakan bahwa shalawat kepada keluarga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam hukumnya sunnah diqiyaskan kepada adzan, yang mana keluarga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak disebut disana. Argumen ini lemah, karena adanya kaidah yang menyebutkan, “Tidak berlaku qiyas dengan adanya nash.” Begitu pula keluarga beliau tidak disebutkan di dalam azan, tidak disunnahkan apalagi diwajibkan. Selain itu karena di dalam adzan tidak terdapat doa untuk Rasulullah, yang ada hanya syahadat -kesaksian- bahwa ia adalah utusan Allah, sedangkan kesaksian bahwa mereka adalah keluarga Rasulullah bukan ibadah.

Berdasarkan keadaan ini, maka penghapusan shalawat kepada keluarga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam beberapa kitab hadits merupakan hal yang tidak selayaknya terjadi.

Saya pernah ditanya tentang bacaan shalawat kepada keluarga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka saya jawab bahwa hal itu benar adanya di kalangan ahli hadits tanpa sedikitpun keraguan, dan mereka adalah para perawi hadits ini. Bisa jadi mereka menghilangkannya dari dalam tulisan mereka karena untuk melindungi diri -taqiyyah-, karena pada zaman Daulah Umawiyah ada orang-orang yang tidak suka bila keluarga Rasulullah disebut. Kemudian hal ini berlanjut dalam masa-masa selanjutnya karena orang-orang mengikuti para pendahulunya, jika tidak demikian maka tidak ada alasan untuk menghilangkannya. Jawaban ini telah saya jelaskan di dalam catatan pinggir kitab Syarh Al-‘Umdah dengan panjang lebar.

Siapakah mereka yang termasuk dari keluarga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam? Ada beberapa pendapat, dan yang paling benar bahwa mereka adalah yang tidak boleh menerima zakat. Menurut tafsiran Zaid bin Arqam yang tentunya karena ia adalah seorang shahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka ia lebih mengetahui maksud perkataan Rasulullah. Dan tafsir adalah salah satu bentuk penjelasan untuk kata-kata yang kurang jelas dan mengandung banyak arti. Zaid menafsirinya bahwa mereka ialah keluarga Ali, keluarga Ja’far, keluarga Uqail, dan keluarga Al-Abbas.

Jika ada yang berkata, “Ungkapan, ‘… ketika kami bershalawat kepadamu di dalam shalat?’ Bisa bermaksud jika kami ingin mendoakanmu di dalam doa kami, dengan begitu hadits tersebut tidak menunjukkan wajibnya membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

Jawaban atas ucapan tersebut ada dua macam:

1. Yang segera terpikirkan, jika ada seorang shahabat menyebutkan kata shalat atau shalawat adalah dalam terminologi syariat bukan dalam arti etimologi kamus, dan makna yang biasa dipakai lebih diutamakan daripada makna asli jika kata tersebut memungkinkan dimaksudkannya kedua makna tersebut.

2. Doa telah disebutkan dengan jelas bahwa ia wajib dibaca di akhir shalat, sedangkan bacaan shalawat tersebut dibaca sebelumnya berdasarkan hadits Fudhalah. Dengan begitu, jelaslah bahwa membaca shalawat hukumnya wajib dan ia dibaca sebelum berdoa, yang wajib dilakukan pada akhir shalat.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *