[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 83

02.07. BAB SIFAT SHALAT 15

0294

294 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: كَانَ إذَا قَعَدَ لِلتَّشَهُّدِ وَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى، وَالْيُمْنَى عَلَى الْيُمْنَى، وَعَقَدَ ثَلَاثًا وَخَمْسِينَ، وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ: وَقَبَضَ أَصَابِعَهُ كُلَّهَا، وَأَشَارَ بِاَلَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ

294. Dari Ibnu Umar RA, bahwasanya jika Rasulullah SAW duduk untuk bertasyahud beliau meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya dan tangan kanannya di atas lutut kanannya, sambil membentuk angka lima puluh tiga. Dan menunjuk dengan jari telunjuknya. (HR. Muslim)

Dalam riwayat Muslim yang lain disebutkan, “Dan menggenggam seluruh jari-jemarinya, sambil menunjuk dengan jari setelah jari jempol –yakni telunjuk.”

[Shahih: Muslim 580]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Para ulama berkata, “Dalam hal ini dipilih jari telunjuk, karena ia berhubungan langsung dengan urat jantung, maka dengam menggerakkannya akan membantu menghadirkannya di dalam shalat. Meletakkan kedua tangan di atas kedua lutut hukumnya mustahab secara ijma’.

Menurut Ibnu Hajar maksud ungkapan sabda beliau, “membentuk angka tiga puluh lima” ialah dengan cara meletakkan jari jempol terbuka di bawah jari telunjuk. Dan makna sabda beliau, “menggenggam seluruh jari jemarinya” ialah menggenggam jari-jemari tangan kanan dengan cara tidak terlalu kuat, sambil menunjuk dengan jari telunjuk. Sedangkan sabda beliau, “dengan jari setelah jari jempol” bertujuan untuk menghindari kerancuan pemahaman.

Kemudian Ibnu Hajar menyebutkan riwayat lain dari Wa’il bin Hujr, “Membuat lingkaran dengan jari jempol dan jari tengah.” (HR. Ibnu Majah) [Shahih: Ibnu Majah 922]

Dengan begitu terdapat tiga cara dalam melakukan hal ini, yaitu:

1. Dengan cara meletakkan jari jempol terbuka di bawah jari telunjuk, tanpa penjelasan apakah jari-jemari yang lain digenggamkan atau tidak.

2. Menggenggam semua jari-jemari dengan cara tidak terlalu kuat, sambil menunjuk dengan jari telunjuk.

3. Membuat lingkaran dengan jari jempol dan jari tengah, sambil menunjuk dengan jari telunjuk.

Cara menunjuk ini juga disebutkan di dalam hadits Ibnu Az-Zubair, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menunjuk dengan jari telunjuk tanpa menggerak-gerakkannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasal dan Ibnu Hibban di dalam Shahih Ibnu Hibban) [Shahih: Abu Daud 989]

Sedangkan di dalam hadits Ibnu Khuzaimah dan Al-Baihaqi dari Wa’il disebutkan, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengacungkan jarinya, lalu saya melihat Beliau menggerakkannya, sambil berdoa dengannya.” Al-Baihaqi berkata, “Bisa jadi yang dimaksud dengan ‘menggerakkannya’ di sini ialah menunjuk, bukan menggerak-gerakkannya, agar hadits ini tidak bertentangan dengan hadits Ibnu Az-Zubair.

Waktu memberi isyarat (menunjuk) adalah ketika mengucapkan lafazh laailaaha illallah’ berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi tentang apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dengan disertai niat untuk mengesakan Allah dan mengikhlaskan diri dalam bertauhid, sehingga cara itu menggabungkan semua cara untuk mengungkapkan ketauhidan yaitu dengan ucapan, perbuatan dan keyakinan. Oleh karena itu, Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam melarang menunjuk dengan dua jari, beliau bersabda kepada orang yang menunjuk dengan dua jari, “Tunggal, Tunggal.”

Kemudian zhahir masalah ini mengisyaratkan bahwa seseorang boleh mengunakan cara mana pun —dari ketiga cara di atas- dalam menunjuk saat duduk tasyahud. Hikmah dari ajaran ini ialah memfungsikan seluruh anggota badan untuk beribadah.

Kemudian bagaimana halnya dengan tangan kiri, maka dalam masalah ini Ad-Daraquthni meriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuapkan lutut kirinya pada tangan kirinya -memegang lututnya dengan tangan kirinya-.” Kemudian lafazh menyuap ditafsiri dengan menempelkan jari-jemari pada lutut, dan cara ini dipakai oleh beberapa ulama. Hikmah dari cara tersebut ialah untuk menjaga agar jari-jemari tidak bermain-main.

Ketahuilah bahwa sabda beliau, “membentuk angka tiga puluh lima” kembali kepada tatacara berhitung orang-orang Arab saat itu, yang terdiri dari angka satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan.

1. Angka Satuan

Angka satuan dengan cara sebagai berikut:

– Angka satu (1) dengan cara menekuk jari kelingking.

– Angka dua (2) dengan cara menekuk jari manis bersama dengan jari kelingking.

— Angka tiga (3) dengan cara menekuk jari tengah bersama jari manis dan jari kelingking.

– Angka empat (4) dengan cara membuka jari kelingking.

– Angka lima (5) dengan cara membuka jari manis bersama jari kelingking sedangkan jari tengah tetap ditekuk.

– Angka enam (6) dengan cara menekuk jari manis dan membuka semua jari.

– Angka tujuh (7) dengan cara menjulurkan jari kelingking ke arah pangkal jari jempol pada telapak tangan.

– Angka delapan (8) dengan cara menjulurkan jari manis di atas jari kelingking tadi.

– Angka sembilan (9) dengan cara menjulurkan jari tengah di atas kedua jari terdahulu.

2. Angka Puluhan

Sedangkan untuk angka puluhan dengan menggunakan jari jempol dan jari telunjuk dengan cara sebagai berikut:

– Angka sepuluh (10) dengan cara menyentuhkan ujung jari jempol pada ujung jari telunjuk.

– Angka dua puluh (20) dengan cara memasukkan jari jempol di antara jari tengah dan jari telunjuk.

– Angka tiga puluh (30) dengan cara menyentuhkan ujung jari telunjuk pada ujung jari jempol, kebalikan angka 10.

– Angka empat puluh (40) dengan cara menumpukkan jari jempol pada ruas tengah jari telunjuk, sambil menempelkan jari jempol pangkal jari telunjuk.

– Angka lima puluh (50) dengan cara menempelkan jari jempol pada pangkalnya.

– Angka enam puluh (60) dengan cara menumpukkan jari telunjuk ke atas jari jempol, kebalikan angka 40.

– Angka tujuh puluh (70) dengan cara menempelkan ujung jari jempol pada ruas tengah jari telunjuk, sambil mengarahkan ujung jari telunjuk ke arah jari jempol.

– Angka delapan .puluh (80) dengan cara menekuk jari telunjuk ke arah pangkalnya dan menjulurkan jari jempol di sisinya.

– Angka sembilan puluh (90) dengan cara menempelkan ujung jari telunjuk pada pangkal jari jempol dan merangkulnya dengan jari jempol.

3. Angka Ratusan dan Ribuan

Sedangkan untuk angka seratus hingga sembilan ratus, maka dengan cara yang digunakan untuk hitungan satuan namun dilakukan dengan menggunakan tangan kiri, demikian pula untuk hitungan angka ribuan dengan cara yang digunakan untuk hitungan puluhan namun dengan menggunakan tangan kiri pula.

0295

295 – وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: الْتَفَتَ إلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَقَالَ «إذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ: التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ، وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْك أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ مِنْ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إلَيْهِ، فَيَدْعُو» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ. وَلِلنَّسَائِيِّ: كُنَّا نَقُولُ قَبْلَ أَنْ يُفْرَضَ عَلَيْنَا التَّشَهُّدُ. وَلِأَحْمَدَ: «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَّمَهُ التَّشَهُّدَ، وَأَمَرَهُ أَنْ يُعَلِّمَهُ النَّاسَ»

295. Dari Abdullah bin Mas’ud RA, Rasulullah SAW menoleh kepada kami kemudian bersabda, “Jika salah seorang dari kalian mengerjakan shalat maka hendaklah ia membaca, “Segala penghormatan bagi Allah, segala shalawat dan segala kebaikan, salam sejahtera bagimu wahai Nabi, beserta rahmat dan berkah dari Allah, slaam sejahtera bagi kami semua dan juga bagi seluruh hamba-hamba Allah yang shaleh, saya bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah, dan saya bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya’ kemudian hendaklah orang tersebut memilih doa terbaik yang diinginkan dan segera memohon dengannya.” (Muttafaq alaih, lafazh Al Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 835 dan Muslim 402]

Dalam hadits An Nasa’i disebutkan, “Dan dahulu sebelum difardhukan tasyahud, kami membaca….”

[An Nasa’i 1163]

Dalam hadits Ahmad, disebutkan, “Sesungguhnya Nabi SAW mengajarinya tasyahud, lalu memerintahkan untuk mengajarkannya kepada para manusia.”

[Ahmad: 3909]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam menoleh kepada kami kemudian bersabda, “Jika salah seorang dari kalian mengerjakan shalat maka hendaklah ia membaca, “Segala penghormatan (maknanya kekekalan, kelanggengan, keagungan, keselamatan dari segala kekurangan atau segala yang bermakna keagungan) bagi Allah, segala shalawat (maknanya shalat yang lima waktu atau bisa juga semua shalat baik yang wajib, yang sunnah atau segala bentuk peribadahan, atau semua doa dan rahmat. Ada yang berpendapat bahwa makna At-Taahiyaat ialah semua bentuk peribadahan dalam bentuk ucapan, sedangkan As-Shalawaat ialah semua bentuk peribadahan dalam bentuk perbuatan) dan segala kebaikan (yakni segala ucapan baik yang layak untuk memuji Allah, atau untuk mengingat Allah, atau bisa juga bermakna semua ucapan baik juga perbuatan baik bahkan maknanya bisa lebih luas dari itu) salam sejahtera bagimu wahai Nabi, beserta rahmat dan berkah dari Allah (salam kepada Nabi Muhammad dikhususkan dan didahulukan atas salam kepada diri sendiri karena keagungan beliau, kemudian salam tersebut diikuti dengan salam diri orang-orang yang shalat) salam sejahtera bagi kami semua dan juga bagi seluruh hamba-hamba Allah yang shaleh (dan ada riwayat yang menjelaskan bahwa ucapan tersebut mencakup semua hamba shaleh, baik yang berada di bumi maupun di langit, sedangkan kata-kata shaleh dijelaskan bahwa maksudnya ialah orang yang memenuhi hak-hak Allah lalu hak-hak hamba-hamba-Nya, dan ia memiliki tingkatan berbeda-beda) saya bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah (yakni tidak ada yang berhak untuk disembah dengan benar selain Dia. Ucapan tersebut membatasi peribadah hanya untuk Allah karena dahulu orang-orang musyrik menyembah Allah bersamaan dengan itu mereka menyembah hal-hal yang lainnya) dan saya bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya (demikian yang disebutkan di dalam enam buku-buku Sunan utama, dan telah keliru Ibnul Atsiir saat menyebutkan di dalam Jami Al Ushul hadits dari Ibnu Mas’ud dengan lafazh,. Wa anna muhammadan rasulullah’ artinya “dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah.” Kemudian ia menisbahkan hadits tersebut kepada Al-Bukhari, Muslim dan kepada perawi yang lainnya, dan kekeliruannya diikuti oleh penulis Taisir Al-Wushul, lalu mereka berdua diikuti oleh Al-Jalal di dalam Dhau An-Nahar, yang menambahkan bahwa lafazh tersebut adalah lafazh Al-Bukhari, padahal lafazh Al-Bukhari adalah apa yang telah disebutkan oleh Ibnu Hajar di atas, maka hendaklah Anda perhatikan) kemudian hendaklah orang tersebut memilih doa terbaik yang dia inginkan dan segera memohon dengannya.”

Al-Bazzar berkata, “Hadits paling shahih dalam masalah tasyahud ialah hadits Ibnu Mas’ud, yang telah diriwayatkan melalui lebih dari dua puluh jalur, kami tidak mendapatkan satu hadits pun yang berasal dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam masalah tasyahud yang lebih kuat, lebih shahih, lebih baik perawi-perawinya dan lebih banyak jalurnya daripada hadits ini” Muslim berkata, “Seluruh manusia berijma’ atas cara tasyahud Ibnu Mas’ud, karena sahabat-sahabatnya tidak saling berselisih, akan tetapi cara yang lainnya mereka saling berselisih satu dengan yang lainnya.” Muhammad bin Yahya Az-Dzahli berkata, “Hadits ini adalah hadits paling shahih yang diriwayatkan dalam masalah tasyahud.” Hadits tasyahud telah diriwayatkan oleh dua puluh empat orang shahabat Nabi Muhammad dengan lafazh yang berbeda-beda namun jumhur ulama memilih hadits Ibnu Mas’ud.

Tafsit Hadits

Hadits ini menunjukkan wajibnya membaca tasyahud berdasarkan sabda beliau, ‘hendaklah ia membaca’, hukum wajib ini dikatakan oleh beberapa keluarga dan yang selain mereka dari para ulama. Namun kelompok yang lain mengatakan bahwa ia tidak wajib, dengan alasan bahwa ia tidak termasuk apa yang diajarkan oleh Rasulullah kepada orang yang shalat dengan cara tidak baik -Al-Musii Shalatahu-.

Kemudian mereka yang mewajibkannya maupun yang menganggapnya sunnah berbeda pendapat dalam masalah lafazh yang digunakan, yang dalam masalah ini telah Anda ketahui kekuatan hadits Ibnu Mas’ud dan sekaligus menjadi pilihan kebanyakan ulama, maka dengan demikian bacaan itulah yang paling benar.

Namun ada beberapa orang yang memilih bacaan lain yang juga diriwayatkan dari para shahabat Nabi Muhammad Sballallahu Alaihi wa Sallam. Ibnu Abi Syaibah menambahkan lafazh, “Wahdahu laa syariika lahu” yang artiya, “Maha Tunggal yang tiada sekutu bagi-Nya.” Di dalam hadits Ibnu Mas’ud, melalui jalur Abu Ubaidah dari ayahnya, akan tetapi sanadnya dhaif. Hanya saja riwayat ini terdapat di dalam Muslim melalui jalur Abu Musa, juga disebutkan di dalam Al-Muwaththa melalui jalur Aisyah Radhiyallahu Anha secara mauquf, juga terdapat dalam riwayat Ad-Daraquthni melalui jalur Ibnu Umar dengan sanad dhaif. Disebutkan di dalam Sunan Abu Dawud, Ibnu Umar berkata, “Saya menambahkan, ‘Wahdahuu laa syariika lahu.”‘ Sehingga zhahir riwayat ini menunjukkan bahwa tambahan tersebut mauquf atau berhenti pada Ibnu Umar.

Ungkapan beliau, “kemudian hendaklah orang tersebut memilih doa terbaik yang dia inginkan” kemudian ditambahkan di dalam riwayat Abu Dawud, “dan segera memohon dengannya”, begitu pula di dalam riwayat An-Nasa’i.

Hal ini mengisyaratkan bahwa doa tersebut hukumnya wajib juga, karena Rasulullah memerintahkannya untuk memohon baik kebaikan di dunia maupun di akhirat.

Berdasarkan hal ini Thawus mewajibkan doa memohon perlindungan yang akan segera kami ketengahkan, sehingga ia memerintahkan putranya untuk mengulangi shalat ketika ia tidak memohon perlindungna kepada Allah dari empat perkara. Pendapat ini didukung oleh sebagian Az-Zhahiriyah. Sedangkan Ibnu Hazm mengatakan, “Doa tersebut wajib dibaca juga di dalam tasyahud pertama.”

Al-Hanafiyah, An-Nakha’i dan Thawus mengatakan bahwa tidak boleh berdoa di dalam shalat kecuali dengan apa-apa yang terdapat di dalam Al-Qur’an, sedangkan yang lainnya mengatakan bahwa tidak boleh berdoa di dalam shalat kecuali dengan doa yang ada tuntunannya (ma’tsur). Namun kedua pendapat di atas dibantah oleh sabda Rasulullah, “kemudian hendaklah orang tersebut memilih doa terbaik yang dia inginkan” dalam lafazh lain disebutkan, “apa yang ia sukai”, sedangkan di dalam lafazh Al-Bukhari disebutkan, “dari berbagai pujian yang ia kehendaki”. Lafazh-lafazh ini menunjukkan kebebasan bagi orang tersebut untuk berdoa dengan apa yang ia kehendaki. Ibnu Sirin berkata, “Tidak boleh berdoa di dalam shalat kecuali dalam urusan akhirat.”

Said bin Manshur meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud,

«فَعَلَّمَنَا التَّشَهُّدَ فِي الصَّلَاةِ: أَيْ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ثُمَّ يَقُولُ: إذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنْ التَّشَهُّدِ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُك مِنْ الْخَيْرِ مَا عَلِمْت مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِك مِنْ الشَّرِّ كُلِّهِ مَا عَلِمْت مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُك مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَك مِنْهُ عِبَادُك الصَّالِحُونَ، وَأَعُوذُ بِك مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَك مِنْهُ عِبَادُك الصَّالِحُونَ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً الْآيَةَ»

“Kemudian Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kami bacaan tasyahud di dalam shalat, lalu beliau bersabda, “Jika salah seorang dari kalian telah selesai membaca tasyahud maka hendaklah ia membaca, “Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu segala kebaikan, baik yang saya ketahui maupun yang tidak saya ketahui, dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan, baik yang saya ketahui maupun yang tidak saya ketahui, Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu kebaikan yang diminta oleh hamba-hamba-Mu yang shaleh, dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang mana hamba-hamba-Mu yang shaleh berlindung dari hal tersebut, “wahai Tuhan kami berikanlah kebaikan kepada kami di dunia dan kebaikan di akhirat,”

Hal lain yang menunjukkan bahwa tasyahud hukumnya wajib ialah, riwayat An-Nasa’i, “dan dahulu sebelum difardhukan tasyahhud, kami membaca….” Ibnu Hajar menghilangkan kelanjutannya yang seharusnya ialah ‘As-Salaamu ‘alallahi, as-Salaamu ‘ala Jibril, as-Salaamu ‘ala miikaa’il kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian membaca bacaan itu, akan tetapi bacalah, At-Tahiyaatu lillah…” Dalam kata-kata ‘difardhukan tasyahud’ mengisyaratkan bahwa hukumnya adalah wajib. Namun An-Nasa’i meriwayatkan hadits ini melalui jalur Ibnu Uyainah, Ibnu Abdul Barr mengatakan bahwa Ibnu Uyainah meriwayatkan hadits ini sendirian. Hadits serupa diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dan Al-Baihaqi dan kedua menshahihkannya.

Di antara dalil yang mewajibkan ialah hadits Ahmad dari Ibnu Mas’ud juga, “Sesungguhnya Nabi Muhammad Shallallahu. Alaihi wa Sallam mengajarinya tasyahhud, lalu memerintahkan untuk mengajarkannya kepada para manusia.”

Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Ubaidah dari Abdullah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajarinya tasyahhud, dan memerintahnya untuk mengajarkan kepada manusia bacaan, At-Tahiyyaatu lillah..:”.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *