[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 82

02.07. BAB SIFAT SHALAT 14

0291

291 – وَلِلْبَيْهَقِيِّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُعَلِّمُنَا دُعَاءً نَدْعُو بِهِ فِي الْقُنُوتِ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ» وَفِي سَنَدِهِ ضَعْفٌ

291. Hadits Al Baihaqi dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kami satu doa untuk kami baca dalam qunut shalat shubuh. Dalam sanadnya terdapat kelemahan.

[Dhaif: Al Baihaqi dalam Al Kubra 2/210, lihat: Al-Irwa 2/174]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Ini adalah hadits yang paling global. Ibnu Hajar menyebutkannya di dalam Takhrij Al-Adzkar dari hadits Al-Baihaqi, dan ia menyebutkan, “Allahumahdini…” hingga akhir doa.

Al-Baihaqi meriwayatkan dari berbagai jalur, salah satunya dari Buraid bin Abi Maryam, dengan lafazh “Saya telah mendengar Ibnu Al-Hanafiyah dan Ibnu Al-Abbas berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berqunut dalam shalat Subuh dan shalat witir pada malam hari dengan kalimat-kalimat tersebut.” Dan di dalam sanad hadits ini terdapat perawi yang tidak diketahui.

Hadits ini juga diriwayatkan dari jalur lain yang disebutkan oleh Ibnu Hajar di sini, yaitu dari Ibnu Juraij dengan lafazh, “Beliau mengajarkan kepada kami satu doa, untuk kami baca dalam qunut shalat Subuh.” Yang di dalam sanadnya terdapat Abdurrahman bin Hurmuz yaitu perawi dhaif, karena itulah Ibnu Hajar mengatakan, “Dalam sanadnya terdapat kelemahan.”

0292

292 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّه – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ، فَلَا يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيرُ، وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ» أَخْرَجَهُ الثَّلَاثَةُ. وَهُوَ أَقْوَى مِنْ حَدِيثِ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ

292. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang dari kalian bersujud, maka janganlah ia duduk sebagaimana duduknya seokor unta, hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum meletakkan kedua lututnya.” (HR. Imam tiga, dan ia lebih kuat daripada hadits Wa’il)

[shahih: Abu Daud 840]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh penulis kitab-kitab Sunan. Namun Al-Bukhari, At-Tirmidzi dan Ad-Daraquthni mencacatnya. Al-Bukhari berkata, “Muhammad bin Abdullah bin Al-Hasan tidak bisa ditelusuri, saya tidak tahu apakah ia mendengarkan hadits dari Abu Az-Zannad atau tidak.” At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini gharib, kami tidak mengetahui bahwa hadits ini berasal dari Abu Az-Zannad kecuali melalui jalur ini.”

An-Nasa’i meriwayatkan hadits ini dari Abu Hurairah namun tidak menyebutkan lafazh, “Hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum meletakkan kedua lututnya.” Ibnu Abi Ad-Dunya meriwayatkan hadits ini dari Abu Hurairah dengan lafazh, “Jika Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sujud, beliau memulainya dengan kedua tangannya sebelum kedua lututnya.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ad-Darawardi dari Ibnu Umar, dan inilah hadits penguat yang akan disebutkan oleh Ibnu Hajar.

Ibnu Khuzaimah menyebutkan di dalam Shahih Ibnu Khuzaimah, hadits dan Mush’ab bin Saad bin Abi Waqqash dari ayahnya, “Dahulu kami meletakkan kedua tangan sebelum kedua lutut, kemudian kami diperintahkan untuk meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan.”

Hadits ini mengajarkan untuk meletakkan kedua tangan sebelum kedua lutut saat turun untuk bersujud. Zhahir hadits ini mengisyaratkan bahwa hal itu hukumnya wajib, berdasarkan lafazh “janganlah ia duduk” yang merupakan bentuk larangan, juga berdasarkan lafazh “hendaklah ia meletakkan kedua tangannya,..” yang merupakan bentuk perintah, namun tidak ada seorang ulama pun yang mewajibkannya, maka jadilah hukumnya sunnah (mandub).

Para ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Al-Hadawiyah, salah satu pendapat Malik dan Al-Auza’i mengamalkan hadits ini, hingga Al-Auza’i berkata, “Kami melihat orang-orang meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya.” Ibnu Abu Dawud berkata, “Itulah pendapat para ahli hadits.”

As-Syafi’iyah, Al-Hanafiyah dan salah satu pendapat Malik mengamalkan hadits Wa’il, dan inilah yang disebutkan oleh Ibnu Hajar pada akhir hadits di atas, “dan ia lebih kuat daripada hadits Wa’il.” Yaitu hadits berikut ini.

0293

293 – «رَأَيْت النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: إذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ» ، أَخْرَجَهُ الْأَرْبَعَةُ، فَإِنَّ لِلْأَوَّلِ شَاهِدًا مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا -، صَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ، وَذَكَرَهُ الْبُخَارِيُّ مُعَلَّقًا مَوْقُوفًا.

293. Saya melihat Rasulullah SAW sujud, beliau meletakkan kedua lututnya sebelumnya kedua tangannya. (HR. Imam empat)

[Dhaif: Abu Daud 838]

Sesungguhnya hadits yang pertama (sebelumnya) dikuatkan oleh hadits Ibnu Umar, dishahihkan Ibnu Khuzaimah dan diriwayatkan oleh Al Bukhari secara mu’alaq mauquf.

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Sesungguhnya hadits yang pertama yakni hadits Abu Hurairah –nomor sebelumnya- dikuatkan oleh hadits Ibnu Umar, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan hal ini telah kami sebutkan di atas, dan hadits tersebut diriwayatkan oleh Al-Bukhari secara mu’allaq mauquf, beliau berkata, “Nafi berkata, “Ibnu Umar meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya.”

Tafsif Hadits

Hadits Wa’il diriwayatkan oleh empat penulis kitab-kitab Sunan ditambah Ibnu Khuzaimah dan Ibnu As-Sakan yang meriwayatkan di dalam Shahih Ibnu Khuzaimah dan Shahih Ibnu As-Sakan dari jalur Syuraik bin Ashim bin Kulaib dari ayahnya. Al-Bukhari, At-Tirmidzi, Abu Dawud dan Al-Baihaqi mengatakan bahwa Syuraik meriwayatkan hadits ini sendirian. Namun ia diperkuat oleh hadits dari Ashim Al-Ahwal dari Anas, ia berkata, “Saya melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam turun bersama takbir hingga kedua lututnya mendahului kedua tangannya.” HR. Ad-Daraquthni, Al-Hakim dan Al-Baihaqi. Al-Hakim berkata, “Hadits ini memenuhi syarat hadits Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.” Al-Baihaqi berkata, “Al-‘Ala bin Al-‘Aththar meriwayatkan hadits ini sendirian, dan ia adalah perawi yang tidak dikenal.”

Hadits Wa’il ini merupakan dalil pendapat Al-Hanafiyah dan As-Syafi’iyah, dan hadits ini diriwayatkan dari Umar, oleh Abdurrazzaq. Juga diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud oleh At-Thahawi. Dan ia juga dipakai oleh Ahmad, Ishaq dan beberapa ulama.

Zhahir ungkapan Ibnu Hajar di dalam masalah ini menguatkan -mentarjih- hadits Abu Hurairah, dan hal ini bertentangan dengan pendapat imamnya yaitu As-Syafi’i, An-Nawawi, “Tarjih salah satu mazhab dari kedua mazhab ini tidak jelas.” Namun pengikut mazhab ini mentarjih hadits Wa’il, dan mengatakan bahwa hadits Abu Hurairah mudhtharrib, karena telah diriwayatkan dua cara ini dari Abu Hurairah.

Ibnul Qayyim telah meneliti masalah ini, kemudian berkata, “Bahwa di dalam hadits Abu Hurairah terdapat pemutarbalikan dari perawi, lafazh “Hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum meletakkan kedua lututnya.” Yang benar adalah, “Hendaklah ia meletakkan kedua lututnya sebelum meletakkan kedua tangannya.”Hal itu berdasarkan apa yang telah disebutkan pada permulaan hadits yang berbunyi, “Maka hendaklah ia tidak duduk sebagaimana duduknya seekor unta.” Dan telah diketahui bahwa ketika unta hendak duduk ia mendahulukan kedua tangannya sebelum kedua kakinya.

Dan telah diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk berbeda dari segenap hewan dalam tatacara mengerjakan shalat, beliau melarang menoleh sebagaimana menolehnya srigala, beliau juga melarang duduk -iftirasy- sebagaimana duduknya hewan buas, juga melarang cara duduk anjing, melarang mematuk sebagaimana cara mematuknya gagak, juga melarang mengangkat tangan sebagaimana kuda mengangkat ekornya, yakni saat mengucap salam, kemudian hal-hal itu disimpulkan dalam ungkapan syair,

إذَا نَحْنُ قُمْنَا فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّنَا … نُهِينَا عَنْ الْإِتْيَانِ فِيهَا بِسِتَّةٍ

بُرُوكِ بَعِيرٍ وَالْتِفَاتٍ كَثَعْلَبٍ … وَنَقْرِ غُرَابٍ فِي سُجُودِ الْفَرِيضَةِ

وَإِقْعَاءِ كَلْبٍ أَوْ كَبَسْطِ ذِرَاعِهِ … وَأَذْنَابِ خَيْلٍ عِنْدَ فِعْلِ التَّحِيَّةِ

Jika kita mengerjakan shalat maka sesungguhnya…. Kita dilarang melakukan enam perkara

Duduk seperti unta, menoleh seperti srigala….Mematuk seperti gagak saat sujud wajib,

Duduk seperti anjing menghamparkan lengannya… Dan seperti ekor kuda saat mengucap salam

Di dalam As-Syarh kami tambahkan,

وَزِدْنَا كَتَدْبِيحِ الْحِمَارِ بِمَدِّهِ … لِعُنُقٍ وَتَصْوِيبٍ لِرَأْسٍ بِرَكْعَةٍ

Kami tambahkan, menekuk kepala bagai keledai…. saat menjulurkan lehernya, juga mengangkat kepala saat ruku’

Di jelaskan di dalam An-Nihayah, yang dimaksud menekuk kepala ialah mengangguk-anggukkan kepala saat ruku’ sehingga posisi kepala menjadi lebih rendah dari pada punggung. Namun An-Nawawi berkata, “Hadits yang menjelaskan masalah menekuk kepala adalah hadits dhaif.”

Ada yang berkata, “Dahulu diperintahkan untuk meletakkan kedua tangan sebelum meletakkan kedua lutut, lalu diperintahkan untuk meletakkan kedua kaki sebelum meletakkan kedua tangan.” Hadits Ibnu Khuzaimah dari Sa’d bin Abi Waqqash yang telah kami sebutkan mengisyaratkan hal itu.

Ibnu Hajar menggatakan bahwa hadits Abu Hurairah mempunyai penguat berupa hadits lain. Namun ungkapan ini segera disanggah bahwa hadits Wa’il mempunyai penguat serupa yaitu hadits yang telah kami sebutkan, yang mana hadits tersebut telah memenuhi syarat Shahih Al-Bukhari maupun Shahih Muslim, menurut Al-Hakim, dengan begitu kekuatannya setara dengan hadits yang menguatkan hadits Abu Hurairah yang telah diriwayatkan oleh Syuraik sendirian.

Berdasarkan penjelasan ini juga berdasarkan penelitian Ibnul Qayyim, maka sebenarnya hadits Abu Hurairah maknanya kembali kepada hadits Wa’il, karena telah terjadi pemutarbalikan oleh perawi, dan hal tersebut tidak bisa dipungkiri karena hal itu memang kadang terjadi di dalam lafazh-lafazh hadits.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *