[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 80

02.07. BAB SIFAT SHALAT 12

0283

283 – وَعَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا سَجَدْت فَضَعْ كَفَّيْك، وَارْفَعْ مِرْفَقَيْك» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

283. Dari Al Barra bin Azib RA, Rasulullah SAW bersabda, “Jika kamu bersujud maka letakkanlah kedua telapak tanganmu dan angkatlah kedua sikumu.” (HR. Muslim)

[Muslim 494]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Al-B arra’ bin Al-‘Azib bin Al-Harits Al-Ausi Al-Anshari Al-Haritsi lebih dikenal dengan sebutan Abu Ammarah. Peperangan pertama yang beliau ikuti ialah perang Khandaq. Ia tinggal di Kufah, berhasil membuka Ar-Rayyi pada tahun 24 H. -dalam satu riwayat-, beliau bersama Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu saat perang Jamal dan perang Shiffin juga Nahrawan, wafat di Kufah pada masa Mush’ab bin Umair.

Tafsif Hadits

Hadits ini menunjukkan wajibnya cara sujud ini. Namun hadits ini berbeda dengan hadits Abu Dawud di dalam Al-Marasil, dari Yazid bin Abi Habib,

«أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَرَّ عَلَى امْرَأَتَيْنِ تُصَلِّيَانِ، فَقَالَ: إذَا سَجَدْتُمَا فَضُمَّا بَعْضَ اللَّحْمِ إلَى الْأَرْضِ، فَإِنَّ الْمَرْأَةَ فِي ذَلِكَ لَيْسَتْ كَالرَّجُلِ»

“Bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam melewati dua orang wanita yang sedang shalat, maka beliau bersabda, “Jika kalian bersujud maka letakkanlah sebagian daging pada tanah, karena sesungguhnya wanita tidak seperti laki-laki dalam masalah ini.” Al-Baihaqi berkata, “Hadits mursal ini lebih baik dari pada kedua hadits maushul sebelumnya —yakni dua hadits yang ia sebutkan di dalam As-Sunan Al-Kubra yang telah ia dhaifkan-.”

Di antara hal yang disunnahkan ialah membuka jari-jari tangan saat ruku’, berdasarkan hadits Abu Dawud dari Abu Humaid As-Sa’idi,

«أَنَّهُ كَانَ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُمْسِكُ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ كَالْقَابِضِ عَلَيْهِمَا وَيُفَرِّجُ بَيْنَ أَصَابِعِهِ»

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meletakkan kedua tangannya pada kedua lututnya seakan-akan beliau menggenggamnya, dan merenggangkan jari-jemarinya.” [Shahih: Abu Daud 731]

Di antara hal yang disunnahkan di dalam ruku’ ialah untuk merenggangkan kedua tangannya dan menjauhkan dari pinggangnya, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Abu Humaid As-Sa’di yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan lafazh ini. Sedangkan di dalam hadits Ibnu Khuzaimah dengan lafazh,

وَنَحَّى يَدَيْهِ عَنْ جَنْبَيْهِ

“Dan beliau menjauhkan kedua tangannya dari kedua pinggangnya.”

Ibnu Hajar menyebutkan hadits Ibnu Buhainah yang beliau sebutkan di dalam Bulugh Al-Maram ini di dalam At-Talkhish sebagai dalil atas keharusan merenggangkan tangan saat ruku’, dan hadits ini adalah shahih, karena ia berkata,

«إذَا صَلَّى فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ إبْطَيْهِ»

“Jika beliau shalat, beliau merenggangkan antara kedua tangannya hingga nampak warna putih ketiaknya.”

Dan hal itu bisa dilakukan saat ruku’ dan sujud.

0284

284 – وَعَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: كَانَ إذَا رَكَعَ فَرَّجَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ، وَإِذَا سَجَدَ ضَمَّ أَصَابِعَهُ» . رَوَاهُ الْحَاكِمُ.

284. Dari Wa’il bin Hujr RA, bahwasanya Rasulullah SAW jika sedang ruku’ beliau merenggangkan jari-jemarinya dan jika sedang bersujud menyatukan jari-jemarinya.” (HR. Al Hakim)

[Shahih: lihat sifat shalat nabi hal 129 –ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Para ulama berkata, “Hikmah disatukannya jari-jemari waktu bersujud agar jari-jemari tersebut tepat mengarah ke kiblat.”

0285

285 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «رَأَيْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُصَلِّي مُتَرَبِّعًا» . رَوَاهُ النَّسَائِيّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ.

285. Dari Aisyah RA ia berkata, “Saya telah melihat Nabi SAW mengerjakan shalat dengan cara duduk bersila.” (HR. An Nasa’i, dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)

[Shahih: An Nasa’i 1660]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Al-Baihaqi meriwayatkan dari Abdullah bin Az-Zubair dari ayahnya, “Saya melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdoa seperti ini -ia meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututmya sambil duduk bersila-.”

Al-Baihaqi meriwayatkan dari Humaid, “Saya melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat sambil duduk bersila di atas kasurnya.” Namun Al-Bukhari menganggapnya sebagai hadits mu’allaq. [Al Bukhari secara mualaq 1/150]

Tafsir Hadits

Para ulama berkata, “Cara duduk bersila tersebut ialah dengan cara meletakkan bagian bawah telapak kaki kanan di bawah paha kaki kiri dan meletakkan bagian bawah telapak kaki kiri di bawah paha kaki kanan, sedangkan kedua telapak tangan berada di atas kedua lutut, dengan merenggangkan jari-jemari sebagaimana saat sedang ruku’.”

Hadits ini mengajarkan tatacara shalat sambil duduk bagi orang yang sedang menderita sakit, karena hadits ini mengkisahkah hal tersebut yakni saat Rasulullah terjatuh dari kudanya sehingga telapak kaki beliau terkilir, maka beliau mengerjakan shalat sambil duduk bersila. Kemudian cara duduk inilah yang dipakai oleh Al-Hadawiyah untuk orang sakit yang mengerjakan shalat sambil duduk berdasarkan hadits di atas, sedangkan ulama yang lain mempunyai beberapa pilihan cara yang lain.

0286

286 – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَقُولُ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَاهْدِنِي، وَعَافِنِي، وَارْزُقْنِي» . رَوَاهُ الْأَرْبَعَةُ إلَّا النَّسَائِيّ، وَاللَّفْظ لِأَبِي دَاوُد، وَصَحَّحَهُ الْحَاكِمُ.

286. Dari Ibnu Abbas RA, bahwasanya Rasulullah SAW membaca di antara dua sujud.”Ya allah ampunilah dosaku, rahmatilah aku, tunjukilah aku, sehatkanlah aku dan berilah aku rezeki.” (HR. Empat Imam kecuali An Nasa’i, lafazh Abu Daud, dan Al Hakim menshahihkannya)

[shahih: Abu Daud 850]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Sedangkan dalam lafazh At-Tirmidzi disebutkan وَاجْبُرْنِي sebagai ganti kata وَارْحَمْنِي dan tidak disebutkan kata وَعَافِنِي, sedangkan Ibnu Majah menyebutkan di dalam riwayatnya kata ارْحَمْنِي وَاجْبُرْنِي namun tidak menyebutkan kata اهْدِنِي َافِنِي, sedangkan Al-Hakim dalam riwayat menyebutkan semua itu kecuali kata وَعَافِنِي.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa dianjurkan untuk berdoa ketika duduk di antara dua sujud, dan zhahir hadits mengisyaratkan bahwa Rasulullah membaca doa tersebut dengan suara jelas -Jahr-.

0287

287 – وَعَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -: أَنَّهُ «رَأَى النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُصَلِّي. فَإِذَا كَانَ فِي وِتْرٍ مِنْ صَلَاتِهِ لَمْ يَنْهَضْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَاعِدًا.» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

287. Dari Malik bin Al Huwairits RA, “Bahwasanya ia telah melihat Rasulullah SAW sedang mendirikan shalat, jika beliau berada pada posisi rakaat ganjil, beliau tidak berdiri hingga duduk dengan sempurna.” (HR. Al Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 823]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Dalam lafazh Al-Bukhari disebutkan,

«فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السَّجْدَةِ الثَّانِيَةِ جَلَسَ وَاعْتَمَدَ عَلَى الْأَرْضِ ثُمَّ قَامَ»

“…. Jika beliau bangkit dari sujud kedua, beliau duduk dan bertumpukan kepada tanah, kemudian beliau berdiri.”

Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Humaid, “…kemudian beliau turun untuk bersujud, kemudian beliau menekuk kedua kakinya lalu duduk hingga semua anggota tubuhnya kembali ke posisinya, kemudian beliau bangun.” Dan saya telah menjelaskan cara duduk tersebut pada pembahasan hadits Al-musii’ shalatahu -orang yang shalat secara tidak baik-.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya duduk sebentar setelah sujud kedua dari rakaat pertama maupun rakaat ketiga, kemudian berdiri untuk melanjutkan rakaat kedua maupun keempat. Duduk ini dinamakan duduk istirahat.

As-Syafi’i mengambil pendapat ini pada salah satu pendapatnya namun pendapat ini tidak terkenal. Sedangkan pendapat beliau yang lebih terkenal dan juga sekaligus pendapat Al-Hadawiyah, Al-Hanafiyah, Malik, Ahmad dan Ishaq, bahwa duduk istirahat ini tidak disyariatkan berdasarkan hadits Wa’il bin Hujr yang menerangkan tatacara shalat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang berbunyi, “Dan jika beliau mengangkat kepalanya setelah bersujud dua kali segera berdiri dengan tegak.” H.R. Al-Bazzar di dalam Musnad Al-Bazzar, akan tetapi menurut An-Nawawi hadits ini dhaif, mereka juga berdalil dengan hadits Ibnul Mundzir dari An-Nu’man bin Ayyasy, “Saya melihat banyak shahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, jika mereka bangkit dari sujud pada rakaat pertama maupun rakaat ketiga segera berdiri sebagaimana semula tanpa duduk terlebih dahulu.”

Bantahan atas pendapat ini, bahwa apa yang mereka sampaikan tidak mematahkan pendapat pertama, karena hal itu hanyalah sunnah, boleh dilakukan maupun tidak, walaupun keberadaan duduk istirahat ini di dalam hadits Al-musii’ shalatahu -orang yang shalat secara tidak baik-mengisyaratkan seakan-akan hukumnya wajib, akan tetapi, sebatas pengetahuan saya, tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa duduk istirahat tersebut hukumnya wajib.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *