[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 79

02.07. BAB SIFAT SHALAT 11

0281

281 – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «أُمِرْت أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ: عَلَى الْجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ إلَى أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ، وَالرُّكْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

281. Dari Abdullah bin Abbas RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Saya diperintahkan untuk bersujud dengan tujuh tulang; dengan kening –kemudian beliau menunjuk dengan tangannya di atas hidungnya- dengan kedua tangan, dengan kedua lutut dan dengan kedua ujung kaki.” (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 812, Muslim 490]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Dan dalam riwayat lain disebutkan, “Wahai umat, kita diperintahkan…”, di dalam riwayat lain disebutkan, “Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam diperintahkan…”, ketiga riwayat tersebut adalah riwayat Al-Bukhari.

Ungkapan hadits, “Kemudian beliau menunjuk dengan tangannya ke hidungnya”, dijelaskan oleh hadits An-Nasa’i. Ibnu Thawus berkata, “Beliau meletakkan tangannya di atas keningnya, lalu mengusapkannya ke arah hidungnya, sambil bersabda, “Ini dihitung satu.” Al-Qurthubi berkata, “Hal ini menunjukkan bahwa hukum asal bersujud adalah menggunakan kening lalu hidung menyertainya.” Ibnu Daqiq Al-‘Id mengatakan yang intinya, bahwasanya beliau telah menganggapnya sebagai satu anggota tubuh, jika tidak tentulah hitungannya akan menjadi delapan tulang.

Dan maksud dari kedua tangan ialah kedua telapak tangan, yang hal ini telah disebutkan secara bersama-sama di dalam satu riwayat. Sedangkan maksud dari kedua ujung telapak kaki ialah dengan cara menegakkannya sambil menjadikan bagian bawah jari-jari kaki sebagai tumpuan, sedangkan kedua tumitnya terangkat, sehingga bagian atas telapak kakinya menghadap ke arah kiblat, cara ini telah dijelaskan di dalam hadits Abu Hamid. Ada yang mengatakan hendaklah jari-jari tangan disatukan, jika tidak maka tentulah akan ada beberapa ujung jari yang tidak menghadap ke arah kiblat. Sedangkan tentang jari-jari kaki telah dijelaskan di dalam hadits Abu Hamid As-Sa’idi dalam bab sifat shalat, dengan lafazh, “Dan menghadapkan jari-jari kakinya ke arah kiblat.”

Hadits ini menunjukkan wajibnya bersujud dengan anggota-anggota tubuh di atas. Karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menyampaikannya dalam susunan kalimat pemberitahuan bahwa hal itu berasal dari perintah Allah kepadanya, atau kepadanya beserta umatnya, dan kata perintah tidak biasanya menggunakan kata ‘kerjakan’ yang maknanya adalah mewajibkan sesuatu.

Namun tetap saja ada perbedaan ulama, Al-Hadaw’iyah dan salah satu pendapat As-Syafi’iyyah berpendapat bahwa hal itu hukumya wajib, berdasarkan hadits ini. Abu Hanifah membolehkan bersujud dengan hidung saja, berdasarkan ungkapan hadits, “dan beliau menunjukkan dengan tangannya ke hidungnya”, Ibnu Hajar menjelaskan di dalam Fath Al-Bari, “Abu Hanifah telah menggunakan ungkapan ini sebagai dalil untuk membolehkan bersujud dengan hidung saja.” Ibnu Daqiq Al-‘Id berkata, “Sebenarnya dalam masalah ini hendaklah tidak ada pertentangan dengan adanya ungkapan jelas yang menyebutkan kata-kata kening, walaupun keduanya bisa dianggap sebagai satu anggota tubuh, namun hal itu bisa digunakan dalam penamaan dan pengistilahan, dan tidak bisa digunakan di dalam masalah hukum.”

Ketahuilah, masalah ini disebutkan dalam As-Syarh, bahwa Abu Hanifah dan salah satu pendapat As-Syafi’i serta kebanyakan ulama mengatakan bahwa yang wajib ialah bersujud dengan kening saja, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di dalam hadits Al-Musii’ shalatahu, “Dan letakkanlah keningmu dengan mantap.” Sehingga hadits ini menjadi sebuah pengkhususan atas hadits di atas, sehingga hadits di atas tidak bermakna wajib.

Tanggapan atas pendapat ini ialah, bahwa untuk menerima argumen di atas harus bisa ditegaskan bahwa hadits nomor ini lebih dahulu muncul dari pada hadits Al-Musii’ shalatahu, sehingga hadits Al-Musii’ shalatahu menjadi penjelas untuk hadits nomor ini dan membawanya ke makna mandub. Karena jika ternyata hadits nomor ini muncul lebih akhir, maka tentu ia menjadi syariat tambahan atas hadits Al-Musii’ shalatahu. Hal itu bisa terjadi di dalam syariat. Jika seandainya tidak mungkin diketahui waktu kemunculan kedua hadits tersebut, untuk lebih hati-hati maka hendaklah kedua hadits tersebut dikompromikan dengan mengamalkan hadits nomor ini. Demikianlah yang dijelaskan oleh penyarah. Kemudian ia menjadikan bersujud di atas kening dan hidung adalah madzhab kebanyakan, lalu kami ganti bahwa ini adalah madzhab Al-Hadawiyah, padahal ini bukan madzhabnya, karena madzhabnya hanya mewajibkan bersujud dengan kening, sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Bahr. Hadits ini menunjukkan kewajiban untuk bersujud di atas anggota-anggota tubuh di atas, dan inilah pendapat kebanyakan ulama serta salah satu pendapat As-Syafi’i. Anda lihat bahwa ia ragu lalu mengatakan bahwa Abu Hanifah mewajibkan bersujud dengan kening, padahal ia membolehkan seseorang untuk memilih untuk bersujud dengan kening saja atau hidung saja. Inilah yang disebutkan di dalam As-Syarh dan di dalam Al-Bahr, “Bahwasannya Abu Hanifah berkata, “Diperbolehkan untuk bersujud dengan yang mana pun, karena keduanya adalah satu anggota tubuh.” Lalu menjadikan perselisihan ini terjadi hanya pada Abu Hanifah saja tanpa diikuti oleh rekan-rekannya.

Disebutkan di dalam ‘Uyun Al-Madzahib karya At-Thahawi, “Bahwasanya Abu Hanifah berkata, “Jika ia hanya bersujud dengan hidungnya saja maka hukumnya sah, dan dengan keduanya maupun ketiganya tanpa alasan.'” Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada yang membolehkan bersujud dengan hidung saja kecuali Abu Hanifah, sedangkan kedua sahabatnya, Muhammad bin Al-Hasan dan Abu Yusuf berbeda pendapat dengannya. Maka tidak layak untuk menisbahkan pendapat ini kepada Al-Hanafiyah.

Zhahir hadits ini menunjukkan wajibnya bersujud dengan semua anggota tubuh tersebut, dan tidak cukup apabila bersujud hanya dengan sebagiannya saja. Sedangkan kening, maka diletakkan di atas tanah dengan mantap berdasarkan hadits, “dan letakkanlah dengan mantap keningmu.”

Zhahir hadits di atas tidak mewajibkan untuk membuka apa pun dari anggota tubuh untuk bersujud. Karena kata-kata sujud bisa terealisasi dengan hanya meletakkan semua itu -di atas tanah- tanpa membukanya. Dan tidak ada perbedaan pendapat bahwa kedua lutut tidak harus dibuka, karena ditakutkan akan menyingkap aurat.

Lalu para ulama berbeda pendapat dalam masalah membuka kening. Ada yang mengatakan bahwa ia wajib dibuka, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Al-Marasil, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat seseorang bersujud di sampingnya, saat itu orang tersebut memakai imamah- -sorban- pada keningnya lalu Rasulullah menyingkap kening orang tersebut.” Namun Al-Bukhari telah meriwayatkan secara Mu’allaq dari Al-Hasan, “Bahwasanya para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam bersujud sedangkan kedua tangannya di atas kainnya, dan ada seseorang di antara mereka yang bersujud di atas sorban.” Hadits ini dianggap maushul oleh Al-Baihaqi, lalu ia berkata, “Ini adalah hadits paling shahih yang mauquf pada sahabat.”

Diriwayatkan beberapa hadits yang menjelaskan, “Bahwasanya Rasulullah bersujud di atas tumpukan sorbannya.” Hadits ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas oleh Abu Nu’aim Al-Hilyah, namun di dalam sanadnya terdapat kelemahan, juga diriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa oleh At-Thabrani di dalam Al Ausath, di dalamnya ada kelemahan juga, juga dari Jabir oleh Ibnu Adi, namun di dalam sanadnya terdapat dua orang matruk, juga dari Anas oleh Ibnu Abi Hatim di dalam Al-‘llal, di dalamnya terdapat kelemahan. Hadits-hadits ini disebutkan oleh Al-Baihaqi dan yang lainnya, lalu ia berkata, “Hadits-hadits yang menjelaskan bahwa bersujud di atas tumpukan sorbannya, tidak ada yang kuat.” Yakni tidak ada yang marfu’, namun hadits-hadits dari kedua sisi tidak ada yang menguatkan makna wajib.

Ungkapan hadits, ‘bersujud di atas keningnya” bisa mengandung kedua makna tersebut -harus terbuka atau boleh ada penghalang-. Walaupun secara gampang bisa dipahami bahwa hendaklah tidak ada penghalang, namun tetap saja kedua hal tersebut boleh dilakukan.

Sedangkan hadits Khabbab, “Kami mengadu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, tentang panasnya pasir pada kening dan telapak tangan kami, namun beliau tidak menanggapi keluhan kami..” Tidak menunjukkan apakah kening terbuka atau tidak, bahkan di dalam hadits Anas yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan, “Bahwasanya salah seorang dari mereka menghamparkan bajunya karena panas lalu bersujud di atas baju tersebut.” Semoga saja hadits ini tidak diperselisihkan, karena yang diperselisihkan ialah konotasi sujud, yang hal itu merupakan titik perselisihan, sedangkan hadits Anas di atas masih ada kemungkinan yang lain.

0282

282 – وَعَنْ ابْنِ بُحَيْنَةَ «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: كَانَ إذَا صَلَّى وَسَجَدَ فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ إبْطَيْهِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

282. Dari Ibnu Buhainah, bahwasanya Nabi SAW mengerjakan shalat, beliau merenggangkan antara kedua tangannya hingga terlihat putih ketiak beliau. (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 807, Muslim 495]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsif Hadits

Hadits ini merupakan dalil disyariatkannya cara ini di dalam shalat. Ada yang berkata bahwa hikmah dari cara tersebut ialah agar setiap anggota tubuh terlihat jelas dan bisa dibedakan dari yang lainnya,, sehingga satu orang yang bersujud seakan-akan seperti orang banyak. Yang dituntut dari cara ini ialah agar setiap anggota tubuh berdiri sendiri tanpa bersandar kepada anggota tubuh yang lain.

Penjelasan ini telah disebutkan di dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh At-Thabrani dan yang lainnya dari Ibnu Umar dengan sanad dhaif,

«لَا تَفْتَرِشْ افْتِرَاشَ السَّبُعِ وَاعْتَمِدْ عَلَى رَاحَتَيْك وَأَبْدِ ضَبْعَيْك؛ فَإِذَا فَعَلْت ذَلِكَ سَجَدَ كُلُّ عُضْوٍ مِنْك»

“Janganlah kalian menghampar sebagaimana menghamparnya seekor hewan buas, bertumpulah kepada kedua tanganmu, dan nampakkanlah kedua ketiakmu, jika kamu melakukan hal itu maka seluruh anggota tubuhmu telah bersujud.” [Shahih: Shahih Al Jami’ 665]

Dan Muslim telah meriwayatkan dari Maimunah,

«كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُجَافِي بِيَدَيْهِ، فَلَوْ أَنَّ بَهِيمَةً أَرَادَتْ أَنْ تَمُرَّ مَرَّتْ»

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam merenggangkan kedua tangannya, jika seandainya satu hewan ternak hendak melewatinya tentulah ia bisa melewatinya.”[Muslim 496]

Jika hadits ini dikaitkan dengan hadits, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku mengerjakan shalat” maka hukumnya menjadi wajib. Namun Abu Dawud telah meriwayatkan dari Abu Hurairah satu hadits yang menjelaskan bahwa hal itu tidak wajib,

«شَكَا أَصْحَابُ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَشَقَّةَ السُّجُودِ عَلَيْهِمْ إذَا تَفَرَّجُوا فَقَالَ: اسْتَعِينُوا بِالرُّكَبِ»

“Bahwasanya para shahabat mengeluhkan kesulitan mereka untuk bersujud jika harus merenggangkan tangan, maka beliau bersabda, “Topanglah dengan lutut.” [Dhaif: Abu Daud 902]

Lalu ia menulis judul khusus yang bernama, “Rukhsah tarki at-Tafriij”, Ibnu Ajlan berkata -yaitu salah seorang perawi hadits tersebut-, “yaitu dengan cara meletakkan siku pada lutut jika harus bersujud dalam waktu yang lama.” Ungkapan hadits, “Hingga nampak warna putih ketiak beliau.’ Tidak menunjukkan -sebagaimana yang dikatakan oleh beberapa orang- bahwa beliau tidak memakai gamis, karena walaupun beliau memakai gamis bisa saja ujung ketiaknya kelihatan, karena lengan gamis itu tidak panjang, sehingga ketiak beliau bisa saja terlihat dari celah lengan gamisnya.

Hadits ini juga tidak menunjukkan bahwa ketiak beliau tidak ditumbuhi rambut, -sebagaimana yang dikatakan sebagian orang- karena bisa jadi yang dimaksud di sini ialah bahwa perawi melihat ujung ketiaknya tidak melihat tengahnya yang biasa ditumbuhi oleh rambut, karena hal itu tidak mungkin ia lihat kecuali dengan susah payah, namun jika apa yang mereka katakan adalah benar, hal itu adalah keistimewaan beliau.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *