[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 77

02.07. BAB SIFAT SHALAT 09

0273

273 – وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقْرَأُ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّورِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

273. Dari Jubari bin Muth’im berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah SAW membaca surat At thur pada shalat Maghrib.” (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 765, Muslim 463]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Di dalam Fath Al Bari dijelaskan bahwa Jubair mendengarkannya saat ia belum masuk Islam.

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa shalat Maghrib tidak dikhususkan dengan surat-surat pendek dari kelompok Mufashshal. Ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca ‘Alif laaam Shaad’ pada shalat Maghrib. Ada juga yang menyebutkan bahwa beliau membaca surat As-Shaffaat, membaca Haa-Miim’ (surat Ad-Dukhan), membaca surat Al-A’la, membaca surat At-Tiin, membaca Al-Mu’awwidzatain, juga surat Al-Mursalaat. Dan beliau juga membaca dengan surat-surat pendek dari kelompok Al-Mufashshal, semua riwayat tersebut ada dalam hadits shahih.

Sedangkan yang selalu membiasakan membaca surat-surat pendek dari kelompok Al-Mufashshal ialah Marwan bin Al-Hakim, tapi Zaid bin Tsabit mengingkarinya seraya berkata, “Kenapa engkau selalu membaca surat-surat pendek dari kelompok Al-Mufashshal, padahal telah diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca dengan surat terpanjang dari dua surat panjang pada shalat Maghrib?” (HR. Al-Bukhari) Yaitu surat Al-A’raf.

An-Nasa’i meriwayatkan, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membagi surat Al-A’raf menjadi dua kali bacaan pada dua rakaat shalat Maghrib.” Beliau juga membaca surat At-Tiin pada shalat Isya’, kemudian beliau menentukan surat Asy-Syams pada shalat Isya’ untuk Muadz, juga dengan surat Al-Lail, juga dengan surat Al-A’la dan lain sebagainya.

Hasil kompromi antara berbagai hadits di atas, bahwa semua itu pernah dilakukan oleh Rasulullah berdasarkan situasi dan kondisi yang sedang terjadi saat itu.

0274

274 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ {الم – تَنْزِيلُ} [السجدة: 1 – 2] السَّجْدَةِ وَ {هَلْ أَتَى عَلَى الإِنْسَانِ} [الإنسان: 1] » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

274. Dari Abu Hurairah RA berkata, “Bahwasanya pada shalat Shubuh hari Jum’at, Rasulullah SAW membaca ‘alif lam mim tanzilu’ –surat As Sajdah- dan juga ‘Hal ata ala Al Insan,” (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 891 dan Muslim 880]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Bahwasanya pada shalat Subuh hari Jumat, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca “Alif laam Miim. Tanziilu” (pada rakaat pertama) dan juga “Hal Ata Ala Al-Insaan” (pada rakaat kedua).

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa, itulah kebiasaan yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada shalat tersebut.

Kemudian ditambahkan penjelasan tentang kebiasaan Rasulullah ini dengan hadits berikut,

0275

275 – وَلِلطَّبَرَانِيِّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ: يُدِيمُ ذَلِكَ

275. Hadits At Thabrani dari Ibnu Mas’ud, “Beliau selalu melakukan hal itu.”

[shahih: Irwa’ Al Ghalil 627]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Rahasia kenapa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membiasakan kedua surat tersebut ialah, karena kedua surat tersebut mencakup semua yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi pada hari Jumat, di antaranya: penciptaan Adam, hari Kiamat, hari pengumpulan di padang Mahsyar yang semua itu terjadi pada hari Jumat, dengan membacanya merupakan peringatan bagi para hamba apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi pada hari tersebut.” Menurut saya, agar orang-orang mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi dan mempersiapkan diri untuk kejadian yang akan terjadi.

0276

276 – وَعَنْ حُذَيْفَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «صَلَّيْت مَعَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَمَا مَرَّتْ بِهِ آيَةُ رَحْمَةٍ إلَّا وَقَفَ عِنْدَهَا يَسْأَلُ وَلَا آيَةُ عَذَابٍ إلَّا تَعَوَّذَ مِنْهَا» . أَخْرَجَهُ الْخَمْسَةُ. وَحَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ.

276. Dari Hudzaifah bin Al Yaman RA berkata, “Saya mengerjakan shalat bersama Nabi SAW, maka tidaklah beliau menemui ayat rahmat kecuali Rasulullah SAW memohon rahmat, dan tidak pula beliau menemui ayat azab kecuali beliau berhenti memohon perlindungan darinya.” (HR. Imam Lima, dan At Tirmidzi menghasankannya)

[Shahih: Abu Daud 871]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini menganjurkan agar seseorang yang sedang shalat merenungi dan meresapi apa yang ia baca, memohon rahmat dari Allah dan memohon perlidungan kepada-Nya dari azab. Mungkin hal ini dilakukan pada shalat malam.

Kami katakan seperti itu karena hadits ini bersifat umum, yang kemudian diperjelas dan dibatasi oleh hadits Abdurrahman bin Abi Laila dari ayahnya, ia berkata,

«سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقْرَأُ فِي صَلَاةٍ لَيْسَتْ بِفَرِيضَةٍ، فَمَرَّ بِذِكْرِ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ فَقَالَ: أَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنْ النَّارِ وَيْلٌ لِأَهْلِ النَّارِ»

“Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca —Al-Qur’an- dalam shalat sunnah, kemudian beliau melewati ayat yang menyebutkan surga dan neraka, maka beliau bersabda, “Saya berlindung kepada Allah dari neraka, neraka Wail untuk penghuni neraka.” (HR. Ahmad, sedangkan Ibnu Majah meriwayatkan maknanya) [Dhaif: Ibnu Majah 1369]

Ahmad meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha,

«قُمْت مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَيْلَةَ التَّمَامِ فَكَانَ يَقْرَأُ بِالْبَقَرَةِ وَالنِّسَاءِ وَآلِ عِمْرَانَ، وَلَا يَمُرُّ بِآيَةٍ فِيهَا تَخْوِيفٌ إلَّا دَعَا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَاسْتَعَاذَ، وَلَا يَمُرُّ بِآيَةٍ فِيهَا اسْتِبْشَارٌ إلَّا دَعَا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَرَغَّبَ إلَيْهِ»

“Saya bangun -untuk shalat- bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada malam timami,. saat itu beliau membaca surat Al-Baqarah, surat An-Nisaa’ dan surat Ali Imran, dan beliau tidak melewati ayat yang memberikan peringatan kecuali pasti beliau memohon perlindungan kepada Allah darinya, dan tidak pula menemui ayat yang memberikan kabar gembira kecuali pasti beliau memohon rahmat kepada Allah dan mengharapkannya.” [Ahmad 6/92]

An-Nasa’i dan Abu Dawud meriwayatkan dari Auf bin Malik,

«قُمْت مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَبَدَأَ فَاسْتَاكَ وَتَوَضَّأَ، ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى، فَاسْتَفْتَحَ الْبَقَرَةَ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إلَّا وَقَفَ، فَسَأَلَ، وَلَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إلَّا وَقَفَ وَتَعَوَّذَ»

“Saya bangun —untuk shalat- bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau memulai dengan bersiwak lalu berwudhu, kemudian beliau berdiri mengerjakan shalat maka beliau membukanya dengan membaca surat Al-Baqarah, tidaklah beliau menemui ayat tentang rahmat kecuali beliau berhenti memohon rahmat kepada Allah, dan tidak pula beliau melewati ayat tentang azab kecuali beliau berhenti dan memohon perlindungan kepada Allah darinya.” [Shahih: Abu Daud 873]

Namun dalam riwayat Abu Dawud tidak disebutkan bersiwak dan berwudhu.

Semua hadits ini berkenaan dengan shalat nafilah, sebagaimana yang dengan jelas disebutkan di dalam hadits pertama. Juga berkenaan dengan shalat malam, sebagaimana yang dijelaskan oleh kedua hadits yang lain, karena sama sekali tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau mengimami orang-orang dengan surat Al-Baqarah maupun surat Ali Imran pada shalat wajib. Lafazh “qumtu” (saya berdiri atau bangun) mengisyaratkan bahwa mereka mengerjakan shalat malam, sehingga perkiraan kami di atas bahwa mungkin hal ini beliau lakukan pada shalat malam menjadi kuat.

Maksud malam timami, sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qamus, yaitu malam terpanjang pada musim dingin yang terdiri dari tiga malam yang hampir sama, atau yang waktu malamnya mencapai dua belas jam atau lebih.

0277

277 – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «أَلَا وَإِنِّي نُهِيت أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا، فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ، وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ، فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

277. Dari Ibnu Abbas RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya saya dilarang membaca Al Qur’an pada waktu ruku’ atau sujud, sedangkan saat ruku’ maka agungkanlah Tuhan, sedangkan saat sujud maka bersungguh-sungguhlah untuk berdoa, karena ia lebih mungkin untuk dikabulkan.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 479]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya saya dilarang untuk membaca Al-Qur’an pada waktu ruku’ atau bersujud (dan mungkin ada yang bertanya, “Jadi apa yang anda baca pada kedua saat itu?” kemudian beliau menjawab) sedangkan saat ruku’ maka agungkanlah Tuhan padanya (dan cara mengagungkannya telah dijelaskan di dalam hadits Muslim dari Hudzaifah, “Ia membaca, (سُبْحَانَ رَبِّي الْعَظِيمِ) “Maha Suci Tuhan-ku yang Maha Agung”) , sedangkan saat sujud maka bersungguh-sungguhlah untuk berdoa, karena ia kbih mungkin untuk dikabulkan.”

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah dalil diharamkannya membaca Al-Qur’an pada saat ruku’ maupun pada saat bersujud, karena makna pada dasarnya sebuah larangan ialah pengharaman. Zhahir hadits mengharuskan membaca tasbih saat ruku’ dan sujud serta berdoa padanya berdasarkan perintah di dalam hadits tersebut. Inilah pendapat Ahmad bin Hambal dan beberapa golongan ahli hadits. Sedangkan jumhur ulama mengatakan bahwa hal itu hukumnya mustahab berdasarkan hadits Al-Musii’ shalatahu. Dalam hadits tersebut Rasulullah tidak mengajarkan hal itu. Jika hal itu hukumnya wajib, tentulah Rasulullah memerintahkannya.

Kemudian ungkapan, “Agungkanlah Tuhan padanya” mengisyaratkan bahwa ia boleh dilakukan walau hanya sekali saja, dengan begitu orang tersebut telah melaksanakan perintah. Abu Dawud meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud,

«إذَا رَكَعَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ: سُبْحَانَ رَبِّي الْعَظِيمِ وَذَلِكَ أَدْنَاهُ»

“Jika salah seorang dari kalian ruku’ maka hendaklah ia membaca, ‘Maha -Suci Tuhan-ku yang Maha Agung’ tiga kali dan itulah yang paling sedikit.” [Dhaif: Abu Daud 886, At Tirmidzi 261, Ibnu Majah 890]

Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, namun Abu Dawud mengatakan bahwa hadits tersebut adalah hadits mursal, demikian pula komentar Al-Bukhari dan At-Tirmidzi.

Ungkapan ‘dan itulah yang paling sedikit’ mengisyaratkan seakan-akan membacanya sekali saja tidak cukup.

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya berdoa saat bersujud dengan doa apapun, baik untuk kebaikan dunia maupun akhirat, dan untuk memohon perlindungan dari keburukan keduanya, karena saat itu adalah waktu mustajab untuk berdoa.

Di antara doa-doa tersebut dijelaskan di dalam hadits berikut ini.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *