[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 76

02.07. BAB SIFAT SHALAT 08

0270

270 – وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُصَلِّ بِنَا فَيَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ – فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ – بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ، وَيُسْمِعُنَا الْآيَةَ أَحْيَانًا، وَيُطَوِّلُ الرَّكْعَةَ الْأُولَى، وَيَقْرَأُ فِي الْأُخْرَيَيْنِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

270. Dari Abu Qatadah RA, Rasulullah SAW mengerjakan shalat bersama kami, maka pada shalat Zhuhur dan Ashar beliau membaca surat Al Fatihah dan dua surat, dan kadang-kadang beliau memperdengarkan ayat tersebut kepada kami, beliau memanjangkan rakaat pertama dan membaca surat Al Fatihah pada dua rakaat yang lainnya. (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 776 dan Muslim 451]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Abu Qatadah Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat bersama kami, maka pada shalat Zhuhur dan Ashar beliau membaca surat Al-Fatihah (pada masing-masing rakaat) dan dua surat (yang beliau baca pada setiap rakaat satu surat) kadang-kadang beliau memperdengarkan ayat tersebut kepada kami (di sini beliau memberitahu seberapakah beliau membaca) beliau memanjangkan rakaat pertama (surat yang beliau baca pada rakaat pertama lebih panjang daripada surat yang beliau baca pada rakaat kedua) dan membaca surat Al-Fatihah pada dua rakaat yang lainnya.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya membaca surat Al-Fatihah pada masing-masing rakaat, dan membaca surat lain pada dua rakaat pertama. Hadits ini juga menunjukkan bahwa cara inilah yang biasa Rasulullah lakukan. Hal ini diperkuat oleh ungkapan, “Kaana Yushalli” (dahulu mengerjakan shalat), karena ungkapan itu biasanya digunakan untuk menunjukkan suatu perbuatan yang dilakukan secara terus menerus.

Kadang-kadang beliau memperdengarkan bacaan kepada mereka. Hal ini menunjukkan bahwa tidak wajib melirihkan suara bacaan pada shalat-shalat sirriyah, dan perbuatan itu tidak mengharuskan adanya sujud sahwi. Ungkapan ‘kadang-kadang’ menunjukkan bahwa hal itu terjadi berkali-kali.

An-Nasa’i telah meriwayatkan dari Al-Bara’

«كُنَّا نُصَلِّي خَلْفَ النَّبِيِّ الظُّهْرَ وَنَسْمَعُ مِنْهُ الْآيَةَ بَعْدَ الْآيَةِ مِنْ سُورَةِ لُقْمَانَ وَالذَّارِيَاتِ»

“Kami mengerjakan shalat Zhuhur di belakang Rasulullah, dan kami mendengar ayat demi ayat dari surat Luqman dan surat Ad-Dzariyat.” [Dhaif: An Nasa’i 970]

Sedangkan Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dari Anas hadits serupa, namun ia sebutkan, {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى} dan {هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ}

Hadits ini merupakan dalil untuk memanjangkan rakaat pertama. Tujuannya adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Abdurrazzaq di akhir hadits Qatadah, “Kami kira dengan itu beliau ingin agar orang-orang bisa mendapatkan rakaat pertama.” Dan Abu Dawud meriwayatkan dari Abdurraazaq dari ‘Atha’ “Sungguh saya menyukai seorang imam yang memanjangkan rakaat pertama pada setiap shalat, sehingga banyak orang yang menyertai rakaat pertama, dan kemudian imam tersebut memendekkan rakaat keduanya.”

Secara zhahir hadits ini menunjukkan bahwa memanjangkan rakaat pertama dengan cara memilih surat yang panjang. Namun Ibnu Hibban mengatakan bahwa memanjangkan di sini dengan cara membaca surat dengan tartil yang sempurna. Muslim meriwayatkan dari Hafshah, “Beliau membaca surat dengan tartil, sehingga surat tersebut menjadi lebih panjang daripada surat yang terpanjang.” Dan ada yang mengatakan bahwa cara memanjangkannya ialah dengan doa iftitah dan doa ta’awudz -doa pembukaan dan doa mohon perlindungan-, sedangkan bacaannya dalam kedua rakaat tersebut adalah sama. Dalam hadits Abu Said yang akan datang menjelaskan hal ini. Al-Baihaqi berkata, “Beliau memanjangkan rakaat pertama jika ia menunggu seseorang, jika tidak maka beliau samakan rakaat pertama dan kedua.”

Hadits ini menjelaskan bahwa, hendaklah tidak membaca apa-apa selain surat Al-Fatihah pada rakaat ketiga maupun keempat. Walaupun Malik telah meriwayatkan dari As-Shunabahi di dalam Al-Muwaththa’, “Bahwasanya ia telah mendengar Abu Bakar telah membaca di dalam rakaat tersebut,

{رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا}

‘Ya Rabb kami janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (QS. Ali Imran: 8)

Imam As-Syafi’i mempunyai dua pendapat dalam masalah dianjurkannya membaca surat selain surat Al-Fatihah pada kedua rakaat tersebut.

Hadits ini menunjukkan bolehnya memberitahukan sesuatu berdasarkan dugaan. Karena untuk mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca satu surat tertentu tidak mungkin diketahui, kecuali jika ia mengetahuinya secara yakin. Namun kondisi bahwa kadang beliau memperdengarkannya tidak bisa meyakinkan seseorang bahwa beliau membaca surat tersebut semuanya. Hadits Abu Said yang akan kami sebutkan menunjukkan bolehnya memberitahu berdasarkan dugaan. Begitu pula dengan hadits Khabbab saat ia ditanya, “Bagaimana kalian mengetahui bacaan Rasulullah pada shalat Zhuhur dan shalat Ashar?” Ia menjawab, “Dari gerakan jenggotnya.” Karena seandainya mereka tahu bacaan beliau pada kedua shalat tersebut dengan yakin, pastilah mereka menyebutkannya.

0271

271 – وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كُنَّا نَحْزِرُ قِيَامَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ، فَحَزَرْنَا قِيَامَهُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ مِنْ الظُّهْرِ قَدْرَ: {الم – تَنْزِيلُ} [السجدة: 1 – 2] السَّجْدَةُ. وَفِي الْأُخْرَيَيْنِ قَدْرَ النِّصْفِ مِنْ ذَلِكَ. وَفِي الْأُولَيَيْنِ مِنْ الْعَصْرِ عَلَى قَدْرِ الْأُخْرَيَيْنِ مِنْ الظُّهْرِ، وَالْأُخْرَيَيْنِ عَلَى النِّصْفِ مِنْ ذَلِكَ.» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

271. Dari Abu Sa’id Al Khudri berkata, ‘Kami mengira-ngira berdirinya Rasulullah SAW pada shalat Zhuhur dan shalat Ashar, maka kami kira lama berdiri beliau pada dua rakaat pertama dari shalat Zhuhur sekitar bacaan alif lam mim –surat As Sajdah-, sedangkan pada kedua rakaat terakhir sekitar setengah dari itu. Sedangkan pada dua rakaat pertama dari shalat Ashar kira-kira selama dua rakaat terakhir dari shalat Zhuhur, sedangkan dua rakaat terakhir dari shalat Ashar kira-kira setengah dari dua rakaat pertama shalat Ashar.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 452]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan kalimat

“Dari Abu Said Al-Khudri berkata, “Kami mengira-ngira (ungkapan ini menunjukkan bahwa yang melakukannya adalah beberapa orang. Ibnu Majah meriwayatkan bahwa yang melakukan hal itu adalah tiga puluh orang shahabat) berdirinya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada shalat Zhuhur dan shalat Ashar, maka kami kira lama berdiri beliau pada dua rakaat pertama dari shalat Zhuhur sekitar bacaan “Alif Laam miim” -surat As-Sajdah- (yakni beliau baca pada setiap rakaat setelah membaca Al-Fatihah) sedangkan pada kedua rakaat terakhir sekitar setengah dari itu (hal ini menunjukkan bahwa beliau membaca sesuatu selain surat Al-Fatihah, hal ini didukung oleh ungkapan berikut ini) sedangkan pada dua rakaat pertama dari shalat Ashar kira-kira selama dua rakaat terakhir dari shalat Zhuhur (dan telah diketahui bahwa pada rakaat ini beliau membaca sesuatu selain surat Al-Fatihah) sedangkan dua rakaat terakhir dari shalat Ashar kira-kira setengah dari dua rakaat pertama shalat Ashar.”

Tafsir Hadits

Hadits-hadits yang membahas masalah ini bermacam-macam, telah diriwayatkan, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengerjakan shalat Zhuhur, kemudian seseorang pergi ke Al-Baqi’, setelah menyelesaikan keperluannya, kemudian ia kembali kepada keluarganya lalu berwudhu, dan orang tersebut masih mendapatkan rakaat pertama bersama Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam disebabkan lamanya berdiri beliau.”

Kemudian Ahmad dan Muslim meriwayatkan dari Abu Said juga, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada dua rakaat pertama dari shalat Zhuhur dalam setiap rakaatnya membaca sekitar tiga puluh ayat. Sedangkan pada dua rakaat terakhir sekitar lima belas ayat, -atau mungkin ia berkata,- setengah dari itu, sedangkan pada shalat Ashar pada dua rakaat pertama dalam setiap rakaatnya membaca sekitar lima belas ayat dan pada kedua rakaat terakhir sekitar setengah dari itu.” Ini adalah lafazh Muslim.

Hadits ini menunjukkan bahwa pada dua rakaat terakhir dari shalat Ashar tidak membaca apa pun selain Al-Fatihah. Sedangkan pada dua rakaat terakhir dari shalat Zhuhur ia membaca sesuatu selain surat Al-Fatihah. Telah kami sebutkan terdahulu hadits Abu Qatadah, “Bahwasanya pada dua rakaat terakhir dari shalat Zhuhur Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca surat Al-Fatihah, dan kadang memperdengarkan ayat (selain Al-Fatihah-peny) kepada kami.” Secara zhahir, hadits ini menjelaskan bahwa beliau tidak membaca apapun selain surat Al-Fatihah pada kedua rakaat tersebut. Dan mungkin hadits ini lebih kuat dari pada hadits Abu Said dari sisi periwayatan, karena hadits Abu Qatadah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim sedangkan hadits Abu Said diriwayatkan oleh Muslim sendiri. Kemudian dari sisi makna, hadits Abu Qatadah lebih kuat, karena ia memberitakan dengan yakin, sedangkan hadits Abu Said memberitakan berdasarkan dugaan dan perkiraan.

Namun kedua hadits di atas mungkin dapat dikompromikan, bahwa pada kedua rakaat tersebut Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kadang membaca sesuatu selain surat Al-Fatihah, dan kadang tidak membaca apapun selain surat Al-Fatihah. Sehingga kesimpulannya bahwa tambahan tetsebut adalah sunnah yang kadang beliau lakukan dan kadang beliau tinggalkan.

0272

272 – وَعَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ قَالَ: «كَانَ فُلَانٌ يُطِيلُ الْأُولَيَيْنِ مِنْ الظُّهْرِ، وَيُخَفِّفُ الْعَصْرَ، وَيَقْرَأُ فِي الْمَغْرِبِ بِقِصَارِ الْمُفَصَّلِ وَفِي الْعِشَاءِ بِوَسَطِهِ وَفِي الصُّبْحِ بِطِوَالِهِ. فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: مَا صَلَّيْت وَرَاءَ أَحَدٍ أَشْبَهَ صَلَاةً بِرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مِنْ هَذَا» . أَخْرَجَهُ النَّسَائِيّ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ

272. Dari Sulaiman bin Yasar berkata, “Si fulan memanjangkan dua rakaat pertama shalat Zhuhur dan memendekkannya pada shalat Ashar. Membaca surat-surat pendek dari kelompok Mufashshal pada shalat Maghrib, sedangkan pada shalat Isya, dengan surat-surat sedang dari kelompok Mufashshal, sedangkan pada shalat Shubuh ia membaca surat-surat panjang –dari kelompok tersebut-. Kemudian Abu Hurairah RA berkata, saya tidak pernah mengerjakan shalat di belakang seseorang yang lebih menyerupai shalat Rasulullah SAW dari orang ini.” (HR. An Nasa’i dengan sanad shahih)

[Shahih: An Nasa’i 981]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biogfafi Perawi

Nama lengkap Sulaiman bin Yasar adalah Abu Ayyub Sulaiman bin Yasar. Ia pembantu Maimunah Ummul Mukminin, saudara dari Atha’ bin Yasar. Salah seorang dari penduduk Madinah dan pemuka tabiin. Ia adalah ulama fikih yang mulia, tsiqah, ahli ibadah, wara’ dan hujjah. Ia juga termasuk salah seorang dari tujuh ahli fikih terkenal.

Penjelasan kalimat

“Ia berkata, “Si Fulan (di dalam Syarh As-Sunnah karangan Al-Baghawi dijelaskan bahwa si Fulan ini ialah penguasa Madinah, dan ada yang mengatakan bahwa namanya ialah Amr bin Salamah, bukan Umar bin Abdul Aziz sebagaimana yang dikatakan oleh beberapa orang, karena Umar bin Abdul Aziz dilahirkan setelah Abu Hurairah wafat. Hadits ini dengan tegas menyebutkan bahwa Abu Hurairah telah mengerjakan di belakang orang tersebut) memanjangkan dua rakaat pertama dari shalat Zhuhur, dan memendekkannya pada shalat Ashar, dan membaca surat-surat pendek dari kelompok Mufashshal pada shalat Maghrib (para ulama berbeda pendapat, surat apakah awal kelompok mufashshal tersebut? Ada yang mengatakan bahwa awalnya ialah surat Ash-Shaffaat atau surat Al-Jaatsiyah atau surat Al-Qitaal atau surat Al-Fath atau surat Al-Hujuraat atau surat As-Shaff atau surat Tabaarak atau surat Sabbih atau Ad-Dhuhaa, dan semua ulama bersepakat bahwa akhir kelompok Mufashshal ialah akhir Al-Qur’an) sedangkanpada shalat Isya’ dengan surat-surat sedang dari kelompok Mufashshal, sedangkan pada shalat Subuh ia membaca surat-surat panjang -dari kelompok tersebut-. Kemudian Abu Hurairah berkata, “Saya tidak pernah mengerjakan shalat di belakang seseorang yang lebih menyerupai shalat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dari orang ini.”

Para ulama berkata, “Yang disunnahkan hendaklah pada shalat Subuh dan shalat Zhuhur dibaca surat-surat panjang dari kelompok Al-Mufashshal, sehingga shalat Subuh menggunakan surat-surat lebih panjang, shalat Ashar dan Isya’ menggunakan surat-surat sedang, dan pada shalat Maghrib menggunakan surat-surat pendek.”

Para ulama mengatakan bahwa hikmah memanjangkan shalat Subuh dan shalat Zhuhur ialah karena waktu shalat keduanya ialah pada saat orang-orang sering terlena dalam tidur. Salah satunya berada di akhir malam sedangkan yang lainnya berada pada saat orang tidur siang. Dengan dipanjangkan shalat tersebut diharapkan orang-orang yang lalai karena tidur ataupun yang lainnya bisa menyertai shalat tersebut. Shalat Ashar adalah saat orang-orang sibuk bekerja, sehingga ia diperingan karena alasan tersebut. Shalat Maghrib dipersingkat, karena waktunya yang singkat. Disamping itu orang-orang perlu untuk berbuka puasa atau makan malam bersama tamunya. Sedangkan waktu Isya’ karena orang-orang sudah merasa ngantuk namun di sisi lain waktunya panjang, maka ia seperti shalat Ashar.

Setelah ini, Anda akan melihat berbagai model cara shalat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang tidak cukup untuk dibahas pada nomor ini.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *