[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 75

02.07. BAB SIFAT SHALAT 07

0267

267 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا قَرَأْتُمْ الْفَاتِحَةَ فَاقْرَءُوا بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، فَإِنَّهَا إحْدَى آيَاتِهَا» رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ، وَصَوَّبَ وَقْفَهُ.

267. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian membaca Al Fatihah, maka bacalah ‘Bismilahirahmanirahim’ karena ia adalah salah satu ayat darinya.” (HR. Ad Daruquthni dan ia menganggapnya mauquf)

[Shahih: Shahih Al Jami’ 729]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini tidak memerintahkan untuk membaca basmalah dengan suara jelas dan tidak juga dengan suara lirih. Isyarat hadits hanya memerintahkan untuk membacanya, entah bagaimanapun caranya. Ad-Daraquthni juga telah menyebutkan hadits-hadits yang memerintahkan untuk membaca basmalah dengan suara jelas di dalam shalat. Hadits-hadits tersebut jumlahnya banyak dan marfu’. Ia riwayatkan dari Ali, Ammar, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Ummu Salamah, Jabir -Radhiyallahu Anhum-dan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu. Setelah menyebutkan hadits-hadits tersebut ia berkata, “Membaca basmalah dengan suara jelas telah diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dari shahabat-shahabatnya, dari istri-istrinya dan dari orang-orang yang tidak kami sebutkan. Hadits-hadits masalah tersebut kami tulis di dalam Kitab Al-Jahri Biha Mufradan. Dan kami mencukupkan dengan apa yang kami sebutkan di sini untuk mempersingkat permasalahan dan memperingannya.” [Sunan Ad Daruquthni 1/331]

Hadits ini menunjukkan perintah membaca basmalah. Basmalah adalah salah satu ayat dari surat Al-Fatihah dan hal itu telah kami jelaskan di atas.

*****

– وَعَنْهُ قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا فَرَغَ مِنْ قِرَاءَةِ أُمِّ الْقُرْآنِ رَفَعَ صَوْتَهُ وَقَالَ: آمِينَ» رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَحَسَّنَهُ. وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika selesai membaca Al-Fatihah beliau mengangkat suaranya membaca, Aamiin.” (HR. Ad-Daraquthni dan beliau menghasankannya, serta Al-Hakim menshahihkannya)

[shahih: Ad Daruquthni 1/335 dan Al Hakim 1/248]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Al-Hakim berkata, “Hadits ini sanadnya shahih, memenuhi kriteria Al-Bukhari dan Muslim.” Sedangkan Al-Baihaqi mengatakan, “Hadits ini hasan shahih.”

Hadits ini menjelaskan disyariatkannya imam membaca Aamiin’ dengan suara jelas. Dan zhahir hadits ini menunjukkan bahwa syariat ini berlaku baik untuk shalat jahriyah maupun sirriyah.

As-Syafi’iyyah berpendapat bahwa ia disyariatkan. Al-Hadawiyah berpendapat bahwa hal itu tidak disyariatkan dengan alasan yang akan kami sebutkan mendatang. Al-Hanafiyah berpendapat bahwa imam membacanya dengan suara lirih pada shalat jahriyah. Sedangkan Malik mempunyai dua pendapat. Pendapat pertama seperti pendapat Al-Hanafiyah, dan pendapat kedua tidak mengatakan hal itu. Dan jelas hadits di atas mendukung pendapat As-Syafi’iyyah.

Hadits ini tidak bertentangan dengan perintah untuk membaca Aamiin’ bagi makmum dan orang yang shalat sendirian. Al-Bukhari telah meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah yang menjelaskan tentang perintah untuk membaca Aamiin’ bagi makmum, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

«إذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوا، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

“Jika imam membaca ‘Aamiin’ maka bacalah ‘Aamiin’, barang siapa yang bacaan Aamiin’-nya bertepatan dengan bacaan Aamiin’ yang diucapkan malaikat, maka semua dosanya terdahulu akan diampuni.” [Shahih: Al Bukhari 780]

Beliau juga meriwayatkan dari Abu Hurairah hadits marfu’,

«إذَا قَالَ الْإِمَامُ وَلَا الضَّالِّينَ، فَقُولُوا: آمِينَ»

“Jika imam membaca waladhalin maka bacalah, Aamiin’.” [Shahih: Al Bukhari 782]

Beliau juga meriwayatkan dari Abu Hurairah hadits marfu’,

«إذَا قَالَ أَحَدُكُمْ: آمِينَ، وَقَالَتْ الْمَلَائِكَةُ فِي السَّمَاءِ: آمِينَ، فَوَافَقَ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ، غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

“Jika salah seorang dari kalian membaca Aamiin’ dan malaikat di langit Membacanya juga, lalu salah satu bacaan dari keduanya bertepatan —bersamaan- dengan yang lainnya, maka dosanya yang telah lampau diampuni.” [Shahih: Al Bukhari 781]

Hadits-hadits di atas menjadi dalil diperitahkannya membaca Aamiin’ bagi makmum. Sedangkan hadits terakhir mencakup makmum dan orang yang shalat sendirian. Dalam masalah ini jumhur ulama yang menganjurkan membaca Aamiin’ berpendapat bahwa hukumnya adalah mandub. Sedangkan ahli Zhahir berpendapat bahwa hukumnya ialah wajib berdasarkan zhahir perintah hadits di atas. Karena itulah mereka mewajibkannya atas setiap orang yang mengerjakan shalat.

Sedangkan Al-Hadawiyah berpendapat bahwa bacaan tersebut adalah bid’ah dan membatalkan shalat. Berdasarkan hadits, “Sesungguhnya shalat ini tidak diperbolehkan di dalamnya apapun dariperkataan manusia.” Namun pengambilan dalil dari hadits ini tidak tepat, karena telah jelas adanya dalil-dalil yang menjelaskan bahwa bacaan tersebut adalah bagian dari bacaan shalat, seperti tasbih dan yang lainnya. Dan juga yang dimaksud perkataan manusia di dalam hadits di atas ialah berbicara dan bercakap-cakap dengan mereka, sebagaimana yang telah Anda ketahui.

0268

268 – وَلِأَبِي دَاوُد وَالتِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ نَحْوُهُ.

268. Abu Daud dan At Tirmidzi meriwayatkan hadits serupa dari Wa’il bin Hujr.

[Shahih: Abu Daud 933]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Yakni Abu Dawud dan At-Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Wa’il bin Hujr serupa dengan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dan disebutkan di dalam As-Sunan dengan lafazh,

«إذَا قَرَأَ الْإِمَامُ وَلَا الضَّالِّينَ قَالَ: آمِينَ وَرَفَعَ بِهَا صَوْتَهُ»

“Jika imam membaca (waladhalin) ia membaca, “Aamiin’ dengan suara keras.”

Dalam riwayat lain,

«أَنَّهُ صَلَّى خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَجَهَرَ بِآمِينَ»

“Bahwasanya ia mengerjakan shalat di belakang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian ia mengeraskan suara bacaan, Aamiin’.”

Makna, ‘Aamiin’ ialah Ya Allah, kabulkanlah. Ada juga yang mengatakan makna yang lain.

0269

269 – وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «جَاءَ رَجُلٌ إلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ: إنِّي لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ آخُذَ مِنْ الْقُرْآنِ شَيْئًا، فَعَلِّمْنِي مَا يُجْزِئُنِي مِنْهُ. فَقَالَ: قُلْ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ» الْحَدِيثُ. رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ. وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالدَّارَقُطْنِيّ وَالْحَاكِمُ.

269. Dari Abdullah bin Abu Aufa, “Seseorang telah datang kepada Nabi SAW, lalu orang tersebut berkata, “Sesungguhnya saya tidak bisa mengambil apa pun dari Al Qur’an, maka ajarilah saya apa yang cukup bagiku”. Beliau bersabda, “Bacalah: Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, allahu akbar, tiada daya dan upaya selain dari Allah yang Maha tinggi lagi Maha Agung.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan An Nasa’i. Dishahihkan Ibnu Hibban, Ad Daruquthni dan Al Hakim)

[Shahih: Abu Daud 832]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abdullah bin Abi Aufa nama lengkapnya adalah Alqamah bin Qais bin Al-Harits Al-Aslami. Ia ikut serta pada Hudaibiyah, Khaibar dan peperangan sesudahnya. Ia masih tinggal di Madinah saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat, lalu pindah ke Kufah dan wafat di sana. Ia adalah shahabat terakhir yang wafat di Kufah.

Lanjutan hadits tersebut terdapat di dalam Sunan Abu Dawud,

«قَالَ: أَيْ الرَّجُلُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا لِلَّهِ فَمَا لِي؟ قَالَ: قُلْ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي وَارْزُقْنِي وَعَافِنِي وَاهْدِنِي، فَلَمَّا قَامَ قَالَ هَكَذَا بِيَدَيْهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: أَمَّا هَذَا فَقَدْ مَلَأَ يَدَيْهِ مِنْ الْخَيْرِ»

“Orang tersebut berkata, “Wahai Rasulullah, bacaan ini adalah untuk Allah, apa bacaan untukku? Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Ucapkanlah: Ya Allah, rahmatilah saya, berilah saya rezeki, ampunilah saya dan berilah saya hidayah.” Ketika berdiri ia mengucapkan doa ini dengan tangannya. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh bacaan ini akan memenuhi tangannya dengan kebaikan.’ Hanya saja lafazh ‘Aliyil Adhim’ -Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung- tidak terdapat di dalam riwayat Abu Dawud.

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan bahwa bacaan di atas bisa menggantikan bacaan surat Al-Fatihah maupun yang lainnya untuk mereka yang tidak bisa membacanya. Zhahir hadits ini mengisyaratkan bahwa belajar Al-Qur’an untuk shalat hukumnya tidak wajib. Karena makna Saya tidak bisa’ yakni saya tidak menghafalnya saat ini. Namun saat itu Rasulullah tidak memerintahkannya untuk menghafal Al-Qur’an. Kemudian beliau memerintahnya untuk membaca bacaan di atas. Padahal orang tersebut mungkin bisa menghafal surat Al-Fatihah sebagaimana ia menghafal bacaan tersebut. Dan bacaan ini telah disebutkan di dalam hadits Al-Musii’shalatahu.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *