[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 74

02.07. BAB SIFAT SHALAT 06

0265

265 – وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الصَّلَاةَ بِالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

– زَادَ مُسْلِمٌ: لَا يَذْكُرُونَ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَلَا فِي آخِرِهَا.

وَفِي رِوَايَةٍ لِأَحْمَدَ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنِ خُزَيْمَةَ: لَا يَجْهَرُونَ بِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

– وَفِي أُخْرَى لِابْنِ خُزَيْمَةَ: كَانُوا يُسِرُّونَ.

وَعَلَى هَذَا يُحْمَلُ النَّفْيُ فِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ، خِلَافًا لِمَنْ أَعَلَّهَا.

265. Dari Anas bahwasanya Nabi SAW, Abu Bakar dan Umar memulai shalat dengan ‘alhamdulilahi rabbil alamin’. (Muttafaq alaih)

Muslim menambahkan: ‘mereka tidak membaca ‘Bismilahirahmanirahim’ pada permulaan bacaan shalat dan tidak juga di akhirnya.

[shahih: Al Bukhari 743, Muslim 399]

Di dalam riwayat Ahmad, An Nasa’i, dan Ibnu Khuzaimah disebutkan, “mereka tidak mengeraskan bacaan ‘Bismilahirahmanirahim’.

[Shahih: An Nasa’i 905-906]

Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah yang lain disebutkan, ‘Mereka membacanya dengan sirr –tidak keras-.

[Sanadnya Dhaif: Ta’liq Shahih Ibnu Khuzaimah 1/250 no 498]

Berdasarkan riwayat ini, maka peniadaan bacaan di dalam riwayat Muslim dianggap satu keanehan oleh orang-orang yang mencacatnya.

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

Dari Anas bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, Umar memulai shalat dengan Alhamdulillahi rabbil alamin, (yakni mereka memulai bacaan dalam shalat dengan lafazh ini. Dalam hadits ini, lafazh Alhamdulillahi rabbil alamin tidak mungkin diartikan sebagai keseluruhan surat Al-Fatihah sebagaimana yang kita katakan di dalam hadits Aisyah terdahulu. Karena jika diartikan sebagai surat Al-Fatihah, hadits ini tidak akan menjadi dalil atas peniadaan bacaan basmalah, bahkan sebaliknya ia mengharuskan bacaan tersebut karena Alhamdulillahi rabbil alamin adalah salah satu nama surat Al-Fatihah. Penjelasan ini berdasarkan riwayat Muslim,) “Tidak membaca ‘Bismillahirrahmaanirrahiim’ pada permulaan bacaan shalat dan tidak juga’ di akhirnya.” (Hal ini mempertegas peniadaan bacaan basmalah. Karena di akhir surat Al-Fatihah tidak ada bacaan basmalah. Atau bisa jadi yang beliau maksud dengan ungkapan ‘dan tidak pula di akhirnya ‘ialah basmalah juga tidak dibaca pada ayat Al-Qur’an yang dibaca setelah bacaan surat Al-Fatihah)

Tafsir Hadits

Hadits ini menjelaskan bahwa ketiga orang tersebut tidak memperdengarkan bacaan basmalah kepada para makmum saat mereka mengerjakan shalat jahriyah. Hal ini mengandung dua kemungkinan; yang pertama mereka membacanya dengan suara lirih atau kemungkinan kedua mereka tidak membacanya sama sekali. Hanya saja riwayat Anas yang diriwayatkan oleh Ahmad, An-Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah menyebutkan, “Mereka tidak mengeraskan bacaan bismillahirrahmaanirrahiim’.”‘Hadits ini bisa dipahami bahwa mereka membacanya dengan suara lirih tidak terdengar.

Hal ini diperkuat dengan hadits riwayat Ibnu Khuzaimah yang lain, “Mereka membacanya dengan sirr-lirih-.” Hadits ini juga bisa dipahami bahwa mereka membacanya dengan suara lirih, sehingga Ibnu Hajar berkata, “Berdasarkan riwayat ini —yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar membacanya dengan suara lirih- maka peniadaan bacaan di dalam riwayat Muslim dianggap satu keanehan atau cacat yang ada pada tambahan Muslim tersebut oleh orang-orang yang menganggap cacat riwayat tersebut.” Sebab cacat di sini karena Al-Auza’i meriwayatkan tambahan tersebut dari Qatadah dengan cara mukatabah, namun cacat ini kemudian dibantah dengan jawaban bahwa Al-Auza’i meriwayatkan tambahan ini tidak sendirian, karena banyak perawi lain yang meriwayatkannya dengan cara shahih.

Hadits ini merupakan dalil bagi mereka yang mengatakan bahwa bacaan basmalah tidak dibaca dengan keras, baik pada awal basmalah maupun pada ayat setelah basmalah, berdasarkan ungkapan hadits, ‘dan tidak pula di akhirnya. ‘Yang maksudnya ialah bacaan Al-Qur’an setelah bacaan surat Al-Fatihah. Dan mereka yang berpendapat bahwa basmalah dibaca pada awal Al-Fatihah mengatakan bahwa maksud dari ungkapan mereka bertiga tidak mengeraskan basmalah ialah mereka membaca dengan suara lirih, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Ibnu Hajar.

Para ulama telah membahas masalah ini dengan panjang lebar. Mereka mengarang beberapa buku dalam masalah tersebut. Dan juga menjelaskan bahwa hadits Anas adalah hadits mudhtharib. Setelah menuliskan hadits Anas, di dalam Al-Istidkar Ibnu Abdul Barr mengatakan, “Karena kondisi hadits ini mudhtharib, maka tidak bisa digunakan sebagai dalil oleh kedua belah pihak dari kalangan ulama fikih. Baik yang membaca basmalah maupun yang tidak membacanya. Dan Anas telah ditanya mengenai masalah tersebut, lalu ia menjawab, “Saya sudah tua dan saya telah lupa.” Maka, dengan begitu hadits tersebut tidak bisa digunakan sebagai dalil.

Namun pada dasarnya basmalah adalah bagian dari Al-Qur’an. Telah terjadi perdebatan panjang di antara ulama dalam masalah ini karena perbedaan madzhab. Namun yang lebih logis ialah bahwa beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam kadang membacanya dengan suara keras dan kadang membacanya dengan suara lirih. Dan kami telah membahasnya dengan panjang lebar pada catatan pinggir Syarh Al-‘Umdah tanpa tambahan di dalamnya.

Dan ada sekelompok ulama yang berpendapat bahwa hukumnya — basmalah- seperti ayat Al-Qur’an yang lain. Yakni dibaca jelas saat Al-Qur’an dibaca jelas dan dibaca dengan lirih —sirr- saat Al-Qur’an dibaca dengan sirr.

Adapun argumen yang mengatakan bahwa jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak membacanya, maka basmalah bukan bagian dari ayat Al-Qur’an. Dan jika beliau membacanya di dalam shalat, maka ia adalah bagian dari ayat Al-Qur’an. Argumen ini tidak benar. Karena seandainya memang benar Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak membacanya di dalam shalat, hal itu tidak berarti menafikan basmalah sebagai bagian dari ayat Al-Qur’an. Karena dalil masalah ini lebih luas dan umum dari argumen di atas. Dan jika dalil khusus tidak ada, maka sesungguhnya dalil umum masih ada.

0266

266 – وَعَنْ نُعَيْمٍ الْمُجْمِرِ، قَالَ: «صَلَّيْت وَرَاءَ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – فَقَرَأَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ، حَتَّى إذَا بَلَغَ وَلَا الضَّالِّينَ قَالَ: آمِينَ وَيَقُولُ كُلَّمَا سَجَدَ، وَإِذَا قَامَ مِنْ الْجُلُوسِ: اللَّهُ أَكْبَرُ. ثُمَّ يَقُولُ إذَا سَلَّمَ: وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إنِّي لَأَشْبَهُكُمْ صَلَاةً بِرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -» . رَوَاهُ النَّسَائِيّ وَابْنُ خُزَيْمَةَ.

266. Dari Nu’aim Al Mujmir berkata, “Saya mengerjakan shalat di belakang Abu Hurairah RA, lalu ia membaca ‘Bismilahirahmanirahim’ lalu membaca Al Fatihah, hingga ketika ia telah sampai pada bacaan ‘waladhalin’, ia membaca ‘Amiin’ dan setiap hendak sujud dan setiap kali bangun dari duduk beliau membaca ‘Allahu akbar’. Kemudian setelah mengucapkan salam beliau berkata, “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh saya adalah orang yang paling menyerupai cara shalat Rasulullah SAW.” (HR. An Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah)

[Sanadnya Dhaif: An Nasa’i 905]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Al-Halabi menyebutkan di dalam Syarh Al-‘Umdah, “Nu’aim Al-Mujmir adalah Abu Abdillah pembantu Umar bin Khaththab’. Ia mendengarkan hadits dari Abu Hurairah dan yang lainnya. Ia diberi gelar sebagai mujmir -pengasap- karena ia diperintahkan untuk mengasapi masjid Madinah -dengan wewangian- setiap hari Jumat hingga tengah hari.

Penjelasan Kalimat

“Nu’aim Al-Mujmir berkata, “Saya mengerjakan shalat di belakang Abu Hurairah, lalu ia membaca basmalah lalu membaca Al-Fatihah, hingga ketika ia telah sampai pada bacaan waladhalin’ ia membaca, Amiiin’ dan setiap hendak bersujud dan setiap kali bangun dari duduk (yakni ketika bangun dari tasyahhud awal, begitu pula ketika bangun dari sujud pertama maupun kedua) beliau membaca Allahu Akbar’ (yakni takbir untuk menandakan perpindahan atau pergantian gerakan), kemudian setelah mengucapkan salam beliau (Abu Hurairah) berkata, “Demi yang jiwaku di tangan-Nya (yakni yang jiwaku berada di dalam kekuasan-Nya) sungguh saya adalah orangyang paling menyerupai cara shalat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.” Al-Bukhari meriwayatkannya sebagai hadits Mu’allaq, selain itu As-Siraj dan Ibnu Hibban meriwayatkannya juga. Kemudian An-Nasa’i membuat bab khusus yakni ‘Al-Jahr bi Bismillaahirrahmaanirrahiim'” (Bab membaca basmalah dengan jelas).

Tafsif Hadits

Hadits ini adalah hadits paling shahih yang menjelaskan tentang masalah ini. Hadits ini menguatkan hukum asal basmalah. Bahwa hukumnya ialah seperti hukum surat Al-Fatihah. Dibaca jelas saat Al-Fatihah dibaca jelas, dan dibaca sirr (lirih) saat surat Al-Fatihah dibaca sirr. Karena sudah jelas bahwa Rasulullah telah membacanya, berdasarkan ucapan Abu Hurairah, “Sungguh saya adalah orang yang paling menyerupai cara shalat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.” Walaupun ucapan tersebut bisa dipahami bahwa yang dimaksud oleh Abu Hurairah dalam sebagian besar gerakan dan ucapannya, namun kemungkinan ini jauh dari makna zhahir ucapan tersebut.

Selain itu, tidak mungkin jika seorang shahabat membuat bid’ah di dalam shalat dengan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, kemudian ia berkata, “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, saya adalah yang paling menyerupai__”

Hadits ini menjelaskan perintah untuk membaca Aamiin’ bagi imam. Ad-Daraquthni telah meriwayatkan di dalam As-Sunan, dari hadits Wa’il bin Hujr,

«سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا قَالَ: غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ قَالَ: آمِينَ، يَمُدُّ بِهَا صَوْتَهُ»

“Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca, ghairil maghdubi alaihim waladhalin lalu beliau membaca, Aamiin.’ Beliau memanjangkan suaranya.” Perawi berkata, “Hadits ini shahih.”

Hadits ini juga menjelaskan disyariatkannya bacaan takbir dalam setiap perpindahan gerakan, sebagaimana yang dijelaskan dengan panjang lebar pada hadits Abu Hurairah berikut ini.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *