[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 73

02.07. BAB SIFAT SHALAT 05

0263

263 – وَعَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ: «صَلَّيْت مَعَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ» . أَخْرَجَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ.

263. Dari Wa’il bin Hujr berkata, ‘Saya mengerjakan shalat bersama Rasulullah SAW, lalu beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya pada dada beliau. (HR. Ibnu Khuzaimah)

[Sanadnya Dha’if, akan tetapi haditsnya shahih dari beberapa jalan lain yang semakna, sebagaimana disebutkan Syaikh Al-Albani dalam Ta’liq Ibnu Khuzaimah no. 479. Ebook editor]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan An Nasa’i dengan lafazh:

«ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ الْيُسْرَى وَالرُّسْغِ وَالسَّاعِدِ»

“Kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas punggung telapak tangan kirinya berserta pergelangan tangan dan lengannya.” [Shahih: Abu Daud 727]

Biografi Perawi

Wa’il bin Hujr Al-Hadrami adalah anak dari salah satu raja-raja Hadramaut. Ia bertamu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu masuk Islam. Rasulullah berdoa untuknya, “Ya Allah, berkahilah Wa’il dan anak keturunannya.” Beliau mengangkatnya sebagai pemimpin beberapa kampung di Hadramaut. Beberapa perawi meriwayatkan hadits darinya kecuali Al-Bukhari. Ia hidup hingga masa Muawiyah dan berbaiat kepada Muawiyah.

Tafsir Hadits

Hadits di atas menunjukkan disyariatkannya meletakkan tangan kanan di atas telapak tangan kiri sesuai dengan gambaran di atas, lalu menempatkannya pada dada, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits ini. An-Nawawi menjelaskan di dalam Al-Minhaj, “Lalu menempatkan kedua tangannya di bawah dadanya.” Kemudian ia menyebutkan di dalam syarahnya An-Najmu Al- Wahhaj, “Ungkapan teman-teman kami ‘di bawah dada’ adalah memaknai lafazh hadits ‘ala shadrihi’ (pada dadanya), seakan-akan mereka menganggap bahwa perbedaan antara keduanya hanya sedikit.” Dan inilah pendapat Zaid bin Ali dan Ahmad bin Isa, Ahmad bin Isa meriwayatkan hadits Wa’il di dalam kitab Al-Amali, dan itulah pendapat As-Syafi’iyah dan Al-Hanafiyah.

Al-Hadawiyah berpendapat bahwa meletakkan tangan di dada tidak disyariatkan, bahkan membatalkan shalat, karena ia melakukan banyak gerakan. Ibnu Abdul Barr berkata, “Dan itulah yang disebutkan oleh Malik di dalam Al-Muwaththa. Ibnu Al-Mundzir dan yang lainnya tidak meriwayatkan pendapat Malik selain pendapat ini. Namun ada yang meriwayatkan dari Malik bahwa ia berpendapat agar membiarkan tangan terjulur ke bawah, kemudian pendapat inilah yang dipakai oleh kebanyakan pengikutnya.”

0264

264 – وَعَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِأُمِّ الْقُرْآنِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

– وَفِي رِوَايَةٍ، لِابْنِ حِبَّانَ وَالدَّارَقُطْنِيّ «لَا تُجْزِئُ صَلَاةٌ لَا يُقْرَأُ فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ»

– وَفِي أُخْرَى: لِأَحْمَدَ وَأَبِي دَاوُد، وَالتِّرْمِذِيِّ، وَابْنُ حِبَّانَ «لَعَلَّكُمْ تَقْرَءُونَ خَلْفَ إمَامِكُمْ؟ قُلْنَا: نَعَمْ. قَالَ: لَا تَفْعَلُوا إلَّا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، فَإِنَّهُ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِهَا»

264. Dari Ubadah bin Ash Shamit, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur’an –surat Al Fatihah-. (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 756 dan Muslim 394]

Di dalam riwayat Ibnu Hibban dan Ad Daruquthni, “Tidak sah shalat yang tidak dibaca di dalamnya pembuka Al Qur’an – surat al Fatihah-.”

[Sanadnya shahih: lihat Al Irwa 302. Ebook editor]

Dalam riwayat Ahmad, Abu Daud, At Tirmidzi dan Ibnu Hibban, “Apakah kalian membaca sesuatu di belakang imam kalian?” Kami menjawab, ‘Ya’. Beliau bersabda, “Janganlah kalian melakukan hal tersebut kecuali untuk surat Al Fatihah, karena sesungguhnya tidak ada shalat bagi orang yang tidak membacanya.”

[Dhaif: At Tirmidzi 311]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Ubadah bin As-Shamit bin Qais Al-Khajrazi Al-Anshari As-Salimi. Ia adalah salah satu pemimpin orang-orang Anshar. Beliau ikut menghadiri Aqabah pertama, kedua, dan ketiga. Ikut serta juga dalam perang Badar dan semua peperangan. Umar mengutusnya ke Syam sebagai hakim dan guru. Beliau tinggal di Himsha, kemudian pindah ke Palestina, dan wafat di Ramallah. Ada yang mengatakan bahwa beliau wafat di Baitul Maqdis, pada tahun 34 H pada umur 72 tahun.

Tafsir Hadits

Ubadah bin Shamit berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur’an -surat Al-Fatihah-.”

Hadits ini menunjukkan bahwa, shalat tidak sah menurut syariat jika tidak membaca surat Al-Fatihah, karena shalat terdiri dari perbuatan dan ucapan. Jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya tidak ada maka ia pun dianggap tidak sah. Dan tidak diistilahkan kurang sempurna, karena istilah ini bisa dipakai jika ketiadaan salah satu unsur tersebut diragukan.

Namun dalam riwayat Ibnu Hibban dan Ad-Daraquthni menyebutkan, “Tidak sah satu shalat yang tidak dibaca di dalamnya pembuka Al-Qur’an -surat Al-Fatihah-.”

Hadits ini menjelaskan bahwa shalat tersebut seakan-akan tidak ada sama sekali, karena sesuatu yang tidak memberikan efek, maka tidak dianggap shalat dalam pandangan syariah.

Hadits di atas merupakan dalil tentang wajibnya membaca surat Al-Fatihah di dalam shalat. Namun, tidak menunjukkan wajibnya pada setiap rakaat. Hanya menjelaskan bahwa ia wajib dibaca dalam shalat secara global. Tetapi ungkapan di atas bisa dipahami bahwa ia harus dibaca setiap rakaat, karena satu rakaat disebut juga shalat berdasarkan sabda beliau setelah mengajarkan satu rakaat kepada seorang sahabat, ,’Lakukanlah semua itu pada setiap shalatmu.” Hal ini menunjukkan wajibnya membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat karena beliau telah memerintahkannya untuk membaca surat Al-Fatihah.

As-Syafi’iyah dan beberapa orang yang lainnya berpendapat bahwa wajib membaca surat Al-Fatihah setiap rakaat. Sedangkan Al-Hadawiyah berpendapat bahwa, surat Al-Fatihah tidak wajib dibaca pada setiap rakaat, tetapi ia wajib dibaca di dalam shalat walaupun hanya sekali. Namun zhahir hadits di atas mendukung pendapat As-Syafi’iyyah. Hal ini bisa dijelaskan dari dua sisi:

1. Di dalam sebagian riwayat disebutkan, bahwa setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajarkan bacaan, ruku, sujud dan tuma’ninah, kemudian perawi berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan shalat seperti ini, sebanyak empat rakaat hingga selesai, kemudian beliau bersabda, “Tidak sempurna shalat seseorang dari kalian hingga ia melakukan semua itu.” Dan jelas- sekali bahwa maksud sabda beliau “ia melakukan semua itu” ialah melakukan semua yang telah dijelaskan termasuk bacaan Al-Fatihah dan yang lainnya pada setiap rakaat, karena beliau telah menjelaskan semua gerakan dan bacaan setiap rakaat.

2. Hal-hal yang beliau sebutkan yang disertai dengan bacaan, meliputi ruku’, sujud, bangun dari ruku’ dan yang lainnya harus dilakukan dalam setiap rakaat, sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam hadits tersebut. Tidak ada riwayat yang menyisihkan bacaan Al-Fatihah dari ruku’, sujud, tuma’ninah dan yang lainnya dalam setiap rakaat. Jadi bagaimana mungkin ada yang mengatakan bahwa hukum bacaan surat Al-Fatihah berbeda dengan hal-hal di atas sehingga bacaan tersebut tidak wajib dalam setiap rakaat? Ini adalah menyisihkan bagian-bagian dalil dari kelompoknya tanpa didasari oleh dalil. Dengan demikian jelas bahwa yang beliau maksud dengan sabda beliau, “Kemudian lakukanlah semua itu dalam setiap shalatmu.” Maksudnya ialah untuk melakukan semua itu dalam setiap rakaat.

Setelah menulis buku ini, saya mendapat hadits riwayat Ahmad, Al-Baihaqi dan Ibnu Hibban dengan sanad shahih, bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepada Al-Khallad bin Rafi’ -ia adalah seseorang yang mengerjakan shalat dengan tidak sempurna-, “ lalu lakukan semua itu pada setiap rakaat.”[Hasan: Shahih Al Jami’ 324]

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga selalu membaca Al-Fatihah dalam setiap rakaat, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim. Beliau bersabda, “Kerjakanlah shalat sebagaimana engkau melihatku mengerjakan shalat.”

Secara zhahir, hadits di atas menjelaskan bahwa surat tersebut dibaca baik dalam shalat jahriyah maupun shalat sirriyah. Baik untuk orang yang mengerjakan shalat sendirian maupun sebagai makmum. Karena zhahir hadits ini menjelaskan hukum untuk orang yang mengerjakan shalat sendirian. Sedangkan seorang makmum tidak diragukan bahwa ia termasuk dalam hukum ini.

Penjelasan di atas diperkuat oleh hadits Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban, “Apakah kalian membaca sesuatu di belakang imam kalian?” Kami menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Janganlah kalian melakukan hal tersebut kecuali untuk surat Al-Fatihah, karena sesungguhnya tidak ada shalat bagi orang yang tidak membacanya.”

Hadits ini dengan jelas menyebutkan wajibnya membaca surat Al-Fatihah bagi makmum. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam hadits Al-Bukhari dan Muslim bahwa perintah tersebut bersifat umum. Mencakup shalat jahriyah maupun shalat sirriyah dalam setiap rakaat.

Dalam hal ini As-Syafi’iyyah berpendapat seperti yang dijelaskan di atas. Yakni Al-Fatihah wajib dibaca makmum, baik dalam shalat jahriyah maupun shalat sirriyah dalam setiap rakaat.

Al-Hadawiyah berpendapat, dalam shalat jahriyah makmum tidak membaca surat Al-Fatihah jika ia bisa mendengarkan bacaan imam, dan ia wajib membacanya jika ia tidak bisa mendengarkannya atau ia sedang mengerjakan shalat sirriyah.

Al-Hanafiyah berpendapat, makmum tidak membacanya baik dalam shalat jahriyah maupun dalam shalat sirriyah. Namun, jelas bahwa hadits Ubadah di atas menolak pendapat-pendapat ini.

Mereka berargumen dengan hadits,

«مَنْ صَلَّى خَلْفَ الْإِمَامِ فَقِرَاءَةُ الْإِمَامِ قِرَاءَةٌ لَهُ»

“Barang siapa mengerjakan shalat di belakang imam maka bacaan imam adalah bacaannya.” [Hasan: Ibnu Majah 857]

Walaupun hadits tersebut dhaif, Ibnu Hajar menyebutkan di dalam At-Talkhish, “Hadits ini masyhur dari jalur Jabir Radhiyallahu Anbu. Hadits ini juga mempunyai jalur-jalur lain dari beberapa shahabat Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam yang semuanya cacat.” Di dalam Al-Muntaqa, disebutkan, “Ad-Daraquthni meriwayatkan hadits tersebut melalui berbagai jalur, namun semuanya dhaif.” Dan yang benar hadits tersebut adalah mursal, sehingga ia tidak bisa digunakan sebagai dalil. Karena hadits tersebut bersifat umum, dan lafazh ‘bacaan imam’ merupakan kata jenis, meliputi semua yang dibaca oleh imam.

Argumen yang lain adalah firman Allah Ta’ala,

{وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ}

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang.” (QS. Al-A’raf: 204)

Dan juga hadits yang berbunyi,

«إذَا قَرَأَ فَانْصِتُوا»

“Jika ia membaca maka dengarkanlah.”

Dalil-dalil di atas bersifat umum meliputi semua bacaan baik, bacaan surat Al-Fatihah maupun yang lainnya. Kemudian hadits Ubadah mengkhususkan surat Al-Fatihah dari yang lainnya.

Kemudian para ulama berbeda pendapat dalam masalah membacanya di belakang imam, ada yang berkata ia dibaca saat imam berdiam diri di antara bacaan ayat Al-Qur’an. Ada yang mengatakan bahwa ia dibaca saat imam berhenti sejenak setelah imam membaca surat Al-Fatihah. Namun kedua pendapat di atas tidak didukung oleh dalil apapun, tetapi hadits Ubadah menjelaskan bahwa ia dibaca saat imam membaca surat Al-Fatihah.

Untuk memperjelas hal tersebut, hadits Ubadah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud,

«أَنَّهُ صَلَّى خَلْفَ أَبِي نُعَيْمٍ وَأَبُو نُعَيْمٍ يَجْهَرُ بِالْقِرَاءَةِ، فَجَعَلَ عُبَادَةُ يَقْرَأُ بِأُمِّ الْقُرْآنِ، فَلَمَّا انْصَرَفُوا مِنْ الصَّلَاةِ قَالَ لِعُبَادَةَ بَعْضُ مَنْ سَمِعَهُ يَقْرَأُ: سَمِعْتُك تَقْرَأُ بِأُمِّ الْقُرْآنِ وَأَبُو نُعَيْمٍ يَجْهَرُ، قَالَ: أَجَلْ، صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بَعْضَ الصَّلَوَاتِ الَّتِي يَجْهَرُ فِيهَا بِالْقِرَاءَةِ، قَالَ فَالْتَبَسَتْ عَلَيْهِ الْقِرَاءَةُ، فَلَمَّا فَرَغَ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ: هَلْ تَقْرَءُونَ إذَا جَهَرْت بِالْقِرَاءَةِ؟ فَقَالَ بَعْضُنَا؛ نَعَمْ، إنَّا نَصْنَعُ ذَلِكَ؛ قَالَ: فَلَا، وَأَنَا أَقُولُ: مَالِي يُنَازِعُنِي الْقُرْآنُ فَلَا تَقْرَءُوا بِشَيْءٍ إذَا جَهَرْت إلَّا بِأُمِّ الْقُرْآنِ»

“Bahwasanya ia mengerjakan shalat di belakang Abu Nu’aim, dan Abu Nu’aim membaca surat Al-Fatihah dengan jelas. Ubadah membaca surat Al-Fatihah juga, saat mereka telah menyelesaikan shalatnya. Beberapa orang yang mendengarkan bacaannya bertanya, “Saya mendengarmu membaca surat Al-Fatihah, padahal Abu Nu’aim membacanya dengan jelas?” Ia berkata, “Ya, Rasulullah pernah shalat bersama kami dalam beberapa shalat jahriyah, saat itu beliau lalai dalam beberapa bacaannya. Setelah beliau menyelesaikan shalatnya beliau menghadap kepada kami sambil bertanya, “Apakah kalian membaca saat saya membaca dengan jelas?” Maka sebagian dari kami berkata, “Ya, kami melakukan hal itu.” Maka beliau bersabda, “Jangan -kalian lakukan- saat saya membaca, kenapa ada yang mengangguku saat saya membaca Al-Qur’an, maka janganlah kalian membaca apapun saat saya sedang membaca Al-Qur’an, kecuali untuk surat Al-Fatihah.” [Dhaif: Abu Daud 824]

Ubadah adalah seorang perawi hadits. Ia membacanya dengan jelas di belakang imam, karena ia memahami sabda Rasulullah agar membacanya dengan jelas di belakang imam, walaupun saat itu Rasulullah menolaknya.

Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu,

«مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَا يَقْرَأُ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ فَهِيَ خِدَاجٌ، فَهِيَ خِدَاجٌ: غَيْرُ تَمَامٍ: قَالَ لَهُ الرَّاوِي عَنْهُ وَهُوَ أَبُو السَّائِبِ مَوْلَى هِشَامِ بْنِ زُهْرَةَ: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ إنِّي أَكُونُ أَحْيَانًا وَرَاءَ الْإِمَامِ، فَغَمَزَ ذِرَاعَهُ وَقَالَ: اقْرَأْ بِهَا يَا فَارِسِيُّ فِي نَفْسِك»

“Barangsiapa mengerjakan shalat di belakang imam dan ia tidak membaca surat Al-Fatihah maka shalatnya kurang, maka ia kurang, maka ia kurang tidak sempurna.” Seorang perawi hadits yaitu Abu As-Sa’ib pembantu Hisyam bin Zahrah berkata kepada Abu Hurairah, “Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya saya kadang melakukan hal itu di belakang imam, maka ia menggamit (memegang) kedua lenganku dan berkata, “Bacalah di dalam hatimu wahai Farisi.” [Shahih: Abu Daud 821]

Dan ia juga meriwayatkan dari Makhul, bahwasanya ia berkata, “Bacalah surat Al-Fatihah pada shalat Maghrib, shalat Isya’ dan shalat Subuh dalam setiap rakaat secara sirr -lirih-.” [Dhaif: Abu Daud 825]

Kemudian ia juga berkata, “Bacalah ia dalam shalat, ketika imam membaca surat Al-Fatihah dengan jelas, dan saat ia diam membaca dengan sirr -lirih-. Jika ia tidak diam, maka engkau membaca sebelumnya, bersamanya atau sesudahnya. Janganlah engkau tidak membacanya sama sekali.”

Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu,

«أَمَرَهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ يُنَادِيَ فِي الْمَدِينَةِ أَنَّهُ لَا صَلَاةَ إلَّا بِقِرَاءَةِ فَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَمَا زَادَ»

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkannya untuk menyeru di Madinah, “Sesungguhnya tidak ada shalat kecuali dengan bacaan surat Al-Fatihah, tidak lebih.”

[SHAHIH; Abu Daud 820]

Dalam lafazh lain disebutkan,

إلَّا بِقُرْآنٍ وَلَوْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَمَا زَادَ

“Kecuali dengan bacaan Al-Qur’an, walaupun hanya surat Al-Fatihah.” [Munkar: Abu Daud 819]

Tetapi Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, “Walaupun tidak lebih dari bacaan surat Al-Fatihah maka ia telah sah.” [Shahih: Al Bukhari 722]

Juga hadits Ibnu Khuzaimah dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, “Bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam berdiri lalu mengerjakan shalat dua rakaat, beliau tidak membaca kecuali surat Al- Fatihah.” [Ibnu Khuzaimah 1/258]

Hadits ini berkenaan untuk orang yang shalat sendirian, untuk mengkompromikan dengan hadits Ubadah yang menunjukkan bahwa seseorang tidak membaca di belakang imam kecuali surat Al-Fatihah.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *