[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 72

02.07. BAB SIFAT SHALAT 04

0260

260 – وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – «أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ، وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

260. Dari Ibnu Umar RA, “Bahwasanya Nabi SAW mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya saat memulai shalat, saat membaca takbir untuk ruku’ dan saat mengangkat kepalanya dari ruku.’ (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 735, Muslim 390]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya saat memulai shalat (telah dijelaskan dalam penjelasan hadits Abu Humaid As-Sa’idi) saat membaca takbir untuk ruku’ (beliau mengangkat tangannya) dan saat mengangkat kepalanya dari ruku.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya mengangkat tangan pada ketiga kesempatan di atas, yaitu saat membaca takbiratul ihram, -telah kami jelaskan-, saat hendak ruku’ dan saat bangkit dari ruku’. Muhammad bin Nashr Al-Marwazi berkata, “Seluruh ulama bersepakat atas hal tersebut, kecuali penduduk Kufah.”

Menurut saya, yang berbeda pendapat dalam ketiga masalah ini hanya Al-Hadawiyah saja. Al-Hadi didukung oleh sabda beliau, “Tidakkah saya melihat kalian?’

Ungkapan hadits yang dimaksud adalah hadits Jabir bin Samurah, dan diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud dan An-Nasa’i,

«كُنَّا إذَا صَلَّيْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قُلْنَا بِأَيْدِينَا السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَأَشَارَ بِيَدَيْهِ إلَى الْجَانِبَيْنِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: عَلَامَ تُؤَمِّنُونَ بِأَيْدِيكُمْ، كَأَذْنَابِ خَيْلِ شَمْسٍ، اُسْكُنُوا فِي الصَّلَاةِ، وَإِنَّمَا يَكْفِي أَحَدَكُمْ أَنْ يَضَعَ يَدَهُ عَلَى فَخِذِهِ ثُمَّ يُسَلِّمَ عَلَى أَخِيهِ عَنْ يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ»

“Dahulu jika kami mengerjakan shalat bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kami gerakkan tangan kami saat membaca ‘Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi…’ —ia menggerakkan kedua tangannya ke samping tubuh-, kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Kenapa kalian memberi isyarat dengan tangan kalian? Tidakkah Aku melihat tangan-tangan kalian seakan-akan ia adalah ekor kuda binal, sesungguhnya cukuplah salah seorang dari kalian meletakkan tangannya di atas pahanya kemudian mengucapkan salam kepada saudaranya yang berada di sisi kanan dan kirinya.” [shahih: Muslim 431]

Jelas hadits ini membahas masalah memberi isyarat dengan tangan saat membaca salam untuk menutup shalat, dan hadits ini jelas sebab musababnya.

Sedangkan sabda beliau, “Diamlah —lawan bergerak- kalian di dalam shalat kalian” Maka ungkapan ini berkaitan dengan gerakan-gerakan yang tidak beliau kehendaki yaitu membuat isyarat, bukannya tidak bergerak sama sekali karena telah diketahui bahwa shalat terdiri dari gerakan-gerakan, diam tidak bergerak secara bergantian dan dzikir kepada Allah.

Di dalam Al-Manar, Al-Muqbili berkata, “Jika kelalaian dari Imam Al-Hadi ini sampai demikian jauh maka tidak mungkin, namun jika hal ini berdasarkan pemahamannya terhadap inti permasalahan maka sungguh ini adalah lebih wara’ dan lebih mulia, dan perbincangan yang banyak dalam masalah ini hanya sekadar bentuk keteguhan pendapat saja. Sesungguhnya masalah mengangkat tangan adalah masalah yang sangat jelas dari pada hanya menampilkan beberapa hadits, karena ia didukung oleh banyak hadits hingga tidak bisa ditandingi lagi, dan hadits-hadits tersebut adalah hadits shahih yang tidak bisa diragukan lagi, karena itulah tidak ada orang yang berbeda pendapat -dengan kebanyakan ulama- dalam masalah ini kecuali dari Al-Hadi saja, kejadian ini adalah kejadian aneh dari seorang ulama, sebagaimana ulama-ulama yang lain seperti Malik, As-Syafi’i dan yang lainnya pastilah memiliki suatu pendapat yang menyimpang, dan hal itu haruslah kita lipat di balik jubah kemuliaan beliau dan kita menjauhinya, tidak mengungkitnya.”

Al-Hanafiyah hanya mengambil takbiratul ihram saja, sedangkan yang lainnya ia anggap tidak disyariatkan, ia berargumen dengan riwayat Mujahid, “Bahwasanya ia mengerjakan shalat di belakang Ibnu Umar, ia melihatnya tidak mengerjakan hal tersebut.” (HR. Abu Dawud) Kemudian juga dengan hadits Ibnu Mas’ud, “Bahwasanya ia melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengangkat tangannya saat memulai shalat seterusnya beliau tidak melakukan hal itu.” [Shahih: Abu Daud 748]

Jawaban atas pendapat ini ialah, bahwa di dalam sanad hadits pertama terdapat perawi bernama Abu Bakar bin Ayyasy, ia adalah perawi yang buruk hafalannya, kemudian hadits tersebut bertentangan dengan hadits Nafi’, Salim dan Ibnu Umar yang telah disebutkan terdahulu yang intinya hadits ini menetapkan hukum mengangkat tangan, sedangkan hadits Mujahid meniadakanya, maka hadits yang menetapkan lebih diutamakan dari pada hadits yang meniadakan. Dan jika hadits Mujahid shahih, maka hadits tersebut hanya menunjukkan bahwa mengangkat tangan pada dua kesempatan setelah takbiratul ihram hukumnya tidak wajib.

Sedangkan hadits yang kedua, yaitu hadits Ibnu Mas’ud, hadits tersebut tidak kuat sebagaimana yang dikatakan oleh As-Syafi’i. Seandainya ia kuat tentulah hadits Ibnu Umar lebih diutamakan karena hadits Ibnu Umar menetapkan satu hukum sedangkan hadits Ibnu Mas’ud meniadakannya. Al-Bukhari telah meriwayatkan dari Al-Hasan dan Hamid bin Hilal, bahwasanya para shahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukannya yakni mengangkat tangan pada ketiga kesempatan di atas. Kemudian Al-Bukhari berkata, “Al-Hasan tidak mengecualikan seorang pun. dari kalangan shahabat.” Al-Bukhari juga meriwayatkan dari syaikhnya, Ali bin Al-Madini bahwasanya ia berkata, “Hendaklah setiap muslim mengangkat tangannya saat hendak ruku’ dan bangkit dari ruku’ berdasarkan hadits Ibnu Umar ini.” Kemudian Al-Bukhari menambahkan, “Dan Ali adalah orang yang paling pandai pada masanya.” Ia juga berkata, “Dan barang siapa mengatakan bahwa hal tersebut adalah bid’ah maka ia telah mencela para shahabat.”

0261

261 – وَفِي حَدِيثِ أَبِي حُمَيْدٍ، عِنْدَ أَبِي دَاوُد: «يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ. ثُمَّ يُكَبِّرُ»

261. Dalam hadits Abu Humaid, yang diriwayatkan oleh Abu Daud, ‘Beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya kemudian beliau membaca takbir.”

[Shahih: Abu Daud 730]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits Abu Humaid yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari telah disebutkan terdahulu, namun hadits tersebut tidak menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengangkat tangannya, kecuali pada saat takbiratul ihram. Sedangkan di sini disebutkan bahwa beliau mengangkat tangannya dalam tiga kesempatan tersebut, serupa dengan hadits Ibnu Umar.

Hadits tersebut selengkapnya ialah,

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا قَامَ إلَى الصَّلَاةِ اعْتَدَلَ قَائِمًا وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا مَنْكِبَيْهِ الْحَدِيثُ؛ تَمَامُهُ: ثُمَّ قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ، وَرَكَعَ ثُمَّ اعْتَدَلَ، فَلَمْ يُصَوِّبْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُقَنِّعْ، وَوَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَاعْتَدَلَ حَتَّى رَجَعَ كُلُّ عَظْمٍ إلَى مَوْضِعِهِ مُعْتَدِلًا»

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam jika hendak mengerjakan shalat beliau berdiri tegak, lalu mengangkat tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya, dan jika ingin ruku’ beliau lalu mengangkat tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya…” Selanjutnya, “…kemudian beliau membaca AllahuAkbar’ lalu ruku’ dengan lurus beliau tidak mengangkat kepalanya dan tidak juga menekuk kepalanya, sambil meletakkan kedua tangannya pada kedua lututnya, kemudian beliau membaca, ‘Sami’allahu liman hamidah’ dan mengangkat tangannya, lalu berdiri tegak hingga seluruh tulang kembali ke tempatnya.” Al-Hadits.

Hadits ini dengan jelas menyebutkan tiga waktu mengangkat tangan tersebut, dan seharusnya Ibnu Hajar menyebutkan, “Dan beliau membaca Allahu Akbar’ agar hadits ini meliputi kedua hal tersebut, karena bisa jadi ada pembaca yang mengira bahwa hadits Abu Humaid ini menjelaskan bahwa Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam hanya mengangkat tangannya saja tanpa membaca takbir.

0262

262 – وَلِمُسْلِمٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ نَحْوُ حَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ، لَكِنْ قَالَ: حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا فُرُوعَ أُذُنَيْهِ.

262. Hadits Muslim dari Malik bin Al Huwairits – seperti hadits Ibnu Umar dengan lafazh – Hingga sejajar dengan ujung-ujung kedua telinganya.

[Shahih: Muslim 391]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Hingga sejajar ujung-ujung kedua telinganya (dalam masalah ini ia berbeda dengan hadits Ibnu Umar maupun hadits Abu Humaid).”

Tafsir Hadits

Dalam masalah ini ada sebagian ulama yang mentarjih hadits Ibnu Umar karena ia telah disepakati, namun ada juga yang mengkompromikan antara hadits Malik bin Huwairits ini dengan dengan hadits Ibnu Umar dan Abu Humaid, sehingga mereka mengatakan bahwa telapak tangan sejajar dengan pundak, sedangkan ujung jari sejajar dengan ujung telinga. Kemudian mereka berdalil dengan hadits Abu Dawud dari Wa’il, “hingga sejajar dengan kedua pundaknya dan kedua jempolnya sejajar dengan kedua telinganya.” Ini adalah jamak -kompromi- yang baik.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *