[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 71

02.07. BAB SIFAT SHALAT 03

0256

256 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ سَكَتَ هُنَيْهَةً، قَبْلَ أَنْ يَقْرَأَ، فَسَأَلْته، فَقَالَ: أَقُولُ: اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْت بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

256. Dari Abu Hurairah RA, “Jika Rasulullah SAW telah membaca takbir, beliau diam sejenak sebelum membaca ayat Al Qur’an, kemudian aku bertanya kepadanya, maka beliau bersabda, “saya membaca, ‘Ya, Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan jarak antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah diriku dari kesalahanku sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, mandikanlah diriku dari kesalahanku dengan air, salju dan embun.’” (Muttafaq alaih)

[Al Bukhari 744 dan Muslim 598]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah membaca takbir (yakni takbiratul ihram) beliau diam sejenak (yakni dalam waktu yang singkat) beliau diam sejenak sebelum membaca ayat Al-Qur’an, kemudian aku bertanya kepadanya (tentang apa yang ia baca saat itu) maka beliau bersabda, ‘Saya membaca, ‘Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku (yakni hapuslah kesalahan yang pernah aku lakukan atau jagalah aku dari kesalahan yang mungkin akan terjadi) sebagaimana Engkau menjauhkan jarak antara timur dan barat (yakni sebagaimana keduanya tidak pernah bertemu maka jadikanlah aku tidak pernah bertemu dengan kesalahan) Ya Allah, bersihkanlah diriku dari kesalahanku sebagaimana pakaian putih dibersihkan dari kotoran (yakni hilangkanlah kesalahan dari diriku seperti pakaian yang dibersihkan) Ya Allah, mandikanlah diriku dari kesalahanku dengan air, salju, dan embun.”

Tafsif Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa bacaan ini dibaca dengan suara lirih, di antara takbir dan bacaan Al-Qur’an, dan bahwa seseorang boleh memilih bacaan ini atau bacaan yang telah disebutkan di dalam hadits Ali Radhiyallahu Anhu di atas, atau bisa juga menggunakan keduanya.

0257

257 – وَعَنْ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: سُبْحَانَك اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِك، وَتَبَارَكَ اسْمُك، وَتَعَالَى جَدُّك، وَلَا إلَهَ غَيْرُك. رَوَاهُ مُسْلِمٌ بِسَنَدٍ مُنْقَطِعٍ. وَرَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ مَوْصُولًا وَمَوْقُوفًا

257. Dari Umar RA, bahwasanya ia membaca, “Maha Suci Engkau, Ya Allah dengan pujian-Mu, Maha suci Nama-Mu, Maha Tinggi kepunyaan-Mu, dan tiada ilah selain Engkau.” (HR. Muslim sanadnya terputus, dan diriwayatkan Ad Daruquthni secara bersambung, dan dia mauquf)

[Muslim 399]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Umar Radhiyallahu Anhu membaca (yakni setelah takbiratul ihram) “Maha Suci Engkau, Ya Allah, dengan pujian-Mu (yakni saya mensucikan-Mu saat saya sedang memuji-Mu) Maha Suci Nama-Mu, Maha Tinggi kepunyaan-Mu dan tiada ilah selain Engkau.”

Tafsir Hadits

Disebutkan di dalam Al-Hadyu An-Nabawi, “Bahwasanya riwayat di atas adalah riwayat yang shahih yang berasal dari Umar, bahwa beliau memulai bacaan shalat dengan bacaan di atas saat ia mewakili Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau membacanya dengan suara keras dan mengajarkannya kepada manusia cara membacanya. Dengan demikian, hadits ini mencapai derajat marfuu’.” Oleh karena itu, imam Ahmad berkata, “Saya tetap berpendapat dengan riwayat yang berasal dari Umar, namun apabila seseorang memulai bacaan shalat dengan sebagian yang diriwayatkan, maka itu sudah cukup baik.”

Terdapat banyak riwayat yang menyebutkan bacaan dengan ‘Inni Wajjahtu…’. Dan pendapat yang mengatakan bahwa hendaklah seseorang memilih salah satu dari bacaan-bacaan tersebut adalah pendapat yang bagus. Walaupun ada riwayat yang menggabungkan antara bacaan dalam hadits nomor ini dengan bacaan Inni wajjahtu…’, yaitu di dalam riwayat Umar yang diriwayatkan oleh At-Thabrani di dalam Al-Kabiir, namun di dalam sanadnya terdapat kelemahan.

Abu Dawud dan Al-Hakim meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha secara marfuu’, “Bahwasanya jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memulai shalat beliau membaca, ‘Subhaanakallahumma…'” Al-Hadits. [Shahih: Abu Daud 776] Perawi-perawinya tsiqah, namun di dalamnya terdapat jalur yang putus, Abu Dawud mencacatkannya, sedangkan Ad-Daraquthni berkata, “Hadits ini tidak kuat.”

0258

258 – وَنَحْوُهُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – مَرْفُوعًا عِنْدَ الْخَمْسَةِ، وَفِيهِ: وَكَانَ يَقُولُ بَعْدَ التَّكْبِيرِ «أَعُوذُ بِاَللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْخِهِ، وَنَفْثِهِ»

258. Hadits serupa dari Abu Sa’id Al Khudri secara marfu’ di dalam riwayat Imam yang lima, dan disebutkan di dalam hadits tersebut, Dan setelah takbir beliau membaca, “Saya berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk, dari bisikan, tiupan dan hembusannya.”

[Shahih: Abu Daud 775]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dan setelah takbir beliau membaca, “Saya berlindung kepada Allah, yang Maha Mendengar (semua perkataan mereka) Maha Mengetahui (perkataan, perbuatan dan kata hati mereka) dari setan yang terkutuk (yang dirajam) dari bisikannya (yakni dari hilang akal atau kesurupan) tiupannya (yakni kesombongan) dan hembusannya (yakni dari syair mereka, semua ini adalah hinaan untuk mereka).”

Tafsif Hadits

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya membaca ta’awudz setelah membaca takbir. Dan zhahir hadits mengisyaratkan bahwa permohonan ini dibaca setelah membaca Inni wajjahtu…’ karena permohonan ini adalah Isti’adzah yang biasanya dibaca sebelum membaca ayat Al-Qur’an.

0259

259 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا -، قَالَتْ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَسْتَفْتِحُ الصَّلَاةَ بِالتَّكْبِيرِ، وَالْقِرَاءَةَ: بِالْحَمْدِ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. وَكَانَ إذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسُهُ، وَلَمْ يُصَوِّبْهُ، وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ. وَكَانَ إذَا رَفَعَ مِنْ الرُّكُوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا. وَكَانَ إذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السَّجْدَةِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ جَالِسًا. وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ. وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ الْيُمْنَى. وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ، وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ الرَّجُلُ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ السَّبُعِ. وَكَانَ يَخْتِمُ الصَّلَاةَ بِالتَّسْلِيمِ» . أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ، وَلَهُ عِلَّةٌ.

259. Dari Aisyah RA, bahwasanya Rasulullah SAW memulai shalat dengan bacaan takbir dan bacaan ‘alhamdulilahi rabbil alamin’ dan jika ruku’ beliau tidak menekuk kepalanya dan tidak mendongakkannya namun antara itu, dan jika mengangkat kepalanya dari ruku’ beliau tidak bersujud hingga berdiri tegak, dan jika beliau mengangkat kepalanya dari sujud beliau tidak bersujud lagi hingga duduk dengan tegak, dan setiap dua rakaat, beliau membaca at-Tahiyat, beliau menduduki telapak kaki kiri dan mendirikan telap kaki kakan, beliau melarang cara duduk setan, melarang seseorang duduk dengan cara menghamparkan kedua lengannya sebagaimana hewan buas menghamparkan kedua lengannya. Dan beliau menutup shalat dengan bacaan salam.” (HR. Muslim, namun ada cacatnya)

[Shahih: Muslim 498]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memulai shalat dengan bacaan takbir (yakni dengan membaca Allahu Akbar, lafazh ini yang disebutkan di dalam Al-Hilyah karangan Abu Nua’im, maksud takbir di sini ialah takbiratul ihram dan kadang disebut juga sebagai takbir pembukaan) dan bacaan Al-Hamdulillahi Rabbil Alamin’ -Segala puji bagi Allah- (yakni dan membuka bacaan dengan Alhamdu lillahi rabbil ‘aalamiin) dan jika ruku’ beliau tidak menekuk kepalanya dan tidak mendongakkannya namun antara itu (yakni sedang-sedang saja) dan jika mengangkat kepalanya dan ruku’ beliau tidak bersujud hingga hingga berdiri tegak (hal ini sesuai dengan hadits Abu Hurairah di atas, “Kemudian angkatlah hingga engkau berdiri dengan tegak”) dan jika beliau mengangkat kepalanya dari sujud (yakni dari sujud yang pertama) beliau tidak bersujud lagi hingga duduk dengan tegak (hal ini sesuai dengan hadits terdahulu, “Kemudian angkatlah hingga engkau duduk dengan tuma’ninah.”) dan setiap dua rakaat beliau membaca At-Tahiyaat (yakni setelah selesai dari dua rakaat beliau membaca tasyahhud, sehingga tasyahhud ini jika di dalam shalat empat rakaat maupun tiga rakaat ia berada di tengah, sedangkan apabila shalat tersebut hanya dua raka’at maka ia adalah di akhir shalat) beliau menduduki telapak kaki kiri dan mendirikan telapak kaki kanan (zhahir ungkapan ini menunjukkan seakan-akan inilah cara duduk beliau dalam setiap duduk antara dua sujud maupun duduk dalam dua tasyahhud. Dan telah disebutkan terdahulu hadits Abu Humaid, “Dan jika beliau duduk dalam dua raka’at beliau duduk di atas kaki kiri dan menegakkan kaki kanan”) beliau melarang cara duduk setan (yang maksudnya ialah, yang diterangkan dalam ungkapan selanjutnya) melarang seseorang duduk dengan cara menghamparkan kedua lengannya sebagaimana hewan buas menghamparkan kedua lengannya (yaitu dengan cara menghamparkan kedua lengannya saat bersujud, sedangkan hewan buas di sini ditafsirkan sebagai anjing) dan dalam satu riwayat disebutkan, “Dan beliau menutup shalat dengan bacaan salam.”

Tafsir Hadits

Hadits ini ada cacatnya, yaitu bahwasanya Muslim telah meriwayatkan dari Abul Jauzaa’ dari Aisyah Radhiyallahu Anha, Ibnu Abdul Barr berkata, “Hadits ini mursal, karena Abul Jauzaa’ tidak pernah meriwayatkan dari Aisyah.” Dan cacat yang lain dari hadits ini ialah bahwasanya Muslim meriwayatkannya dari Al-Auza’i dengan cara mukatabah.

Hadits ini menjelaskan keharusan membaca takbir saat memulai shalat, dan masalah ini telah dibahas dalam hadits Abu Hurairah pada awal bab.

Dengan berdalilkan kepada ungkapan, ‘membuka bacaan dengan Alhamdu’, ada yang mengatakan bahwa basmalah bukan bagian dari surat Al-Fatihah, mereka itu adalah Anas dan Ubai dari kalangan shahabat, dan mereka diikuti oleh Malik, Abu Hanifah dan beberapa orang yang lainnya. Argumen mereka adalah hadits ini.

Jawaban atas pendapat ini ialah bahwa yang dimaksud dengan Alhamdu lillahi rabbil ‘aalamiin’ ialah surat Al-Fatihah keseluruhannya, bukan lafazhnya, karena surat Al-Fatihah juga disebut surat Alhamdu lillahi rabbil ‘aalamiin, sebagaimana yang telah disebutkan di dalam Shahih Al-Bukhari, dengan. demikian ungkapan tersebut tidak menunjukkan bahwa basmalah bukan bagian dari surat Al-Fatihah. Masalah ini akan dibahas lebih lanjut dalam pembahasan hadits Anas, Insya Allah.

Kemudian bahwa beliau tidak menekuk kepalanya dan tidak pula mendongakkannya telah dibahas terdahulu, yaitu ketika membahas kosa kata ungkapan ini.

Selanjutnya, yang dimaksud dengan At-Tahiyyat ialah bacaan pujian yang dimulai dengan At-Tahiyatu lillah yang dijelaskan di dalam hadits Ibnu Mas’ud, dengan begitu hadits ini menjelaskan hukum tasyahhud awal dan tasyahhud akhir.

Namun ia tidak menunjukkan kepada hukum wajib, kecuali jika kita katakan, bahwa cara tersebut adalah penjelasan dari perintah shalat di dalam Al-Qur’an, kemudian suatu perbuatan jika ia berfungsi untuk menjelaskan suatu yang wajib maka hukumnya adalah wajib, atau bisa juga dikatakan bahwa cara tersebut hukumnya wajib berdasarkan sabda beiiau, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku mengerjakan shalat.”

Kemudian para ulama berbeda pendapat dalam masalah hukum tasyahhud, ada yang mengatakan bahwa keduanya wajib, ada pula yang mengatakan bahwa keduanya sunnah dan ada yang mengatakan bahwa yang pertama hukumnya sunnah sedangkan yang kedua hukumnya wajib. Dan Insya Allah, masalah tasyahhud akhir akan kami bahas dalam pembahasan hadits Ibnu Mas’ud.

Orang-orang yang mewajibkan tasyahhud pertama berdalilkan kepada hadits ini, juga dengan sabda beliau, “Jika salah seorang dari kalian sedang shalat maka hendaklah ia membaca, At-Tahiyatu lillah’.”

Orang-orang yang menganggapnya sunnah berargumen bahwasanya ketika Rasulullah Shallallahu Alaibi wa Sallam lupa tidak membaca tasyahhud awal tersebut, beliau tidak mengulanginya kemudian beliau menggantinya dengan sujud sahwi. Seandainya hukumnya wajib tentulah ia tidak bisa digantikan oleh sujud sahwi, seperti ruku’ atau yang lainnya yang merupakan rukun shalat.

Bantahan ini pun dijawab kembali, bahwa hal itu bisa saja terjadi, yakni tasyahhud hukum aslinya ialah wajib ketika orang tersebut ingat, namun apabila ia lupa maka ia bisa digantikan oleh sujud sahwi.

Ungkapan hadits ‘beliau menduduki telapak kaki kiri dan mendirikan telapak kaki kanan’ menunjukkan bahwa inilah cara duduk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam saat duduk di antara dua sujud atau duduk tasyahhud. Inilah pendapat Al-Hadawiyah dan Al-Hanafiyah, namun hadits Abu Humaid yang terdahulu membedakan cara duduk tasyahhud, cara duduk yang disebutkan di dalam hadits ini adalah cara duduk tasyahhud awal, sedangkan cara duduk tasyahhud akhir dengan cara mengedepankan kaki kiri dan menegakkan kaki kanan sambil duduk di atas bokongnya, karena itu para ulama berbeda pendapat, namun kelihatannya hal ini adalah di antara hal-hal yang bisa memilih sekehendak hati.

Ungkapan hadits ‘beliau melarang cara duduk setan’, cara ini bisa dipahami dengan dua kemungkinan, yang pertama yaitu, dengan cara menghamparkan kedua telapak kaki kemudian duduk dengan meletakkan bokong di atas kedua tumit, namun cara ini adalah cara yang dipakai oleh Abaadilah -beberapa orang shahabat yang bernama Abdullah-, ketika duduk untuk membaca tasyahhud akhir, cara ini disebut juga Iq’aa’. Kemungkinan kedua ialah dengan cara meletakkan bokong pada tanah sambil menegakkan kedua betis dan kedua paha, sedangkan tangan diletakkan di atas tanah juga sebagaimana anjing yang sedang duduk, inilah yang dilarang dan juga disebut Iq’aa’.

Sedangkan menghamparkan kedua lengan ketika sedang sujud telah dijelaskan terdahulu. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam telah melarang cara menyerupai hewan seperti cata duduk unta, cara menengok serigala, cara hewan buas menghamparkan lengan, cara duduk anjing, cara mematuk burung gagak dan cara mengangkat tangan saat salam seperti ekor kuda.

Ungkapan hadits ‘Dan beliau menutup shalat dengan bacaan salam’ menunjukkan disyariatkannya membaca salam, sedangkan hukum wajibnya telah kami jelaskan terdahulu.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *