[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 70

02.07. BAB SIFAT SHALAT 02

0254

254 – وَعَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – قَالَ: «رَأَيْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ، وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ، ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلَا قَابِضِهِمَا، وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ، وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى، وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْأُخْرَى، وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ» . أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ.

254. Dari Abu Humaid As Saidi RA, ‘Aku melihat Rasulullah SAW ketika bertakbir beliau meletakkan kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya, dan jika ruku’ beliau meletakkan kedua tangannya pada kedua lututnya, kemudian beliau meluruskan tulang punggungnya, dan jika mengangkat kepalanya beliau berdiri hingga tegak sehingga setiap ruas tulang punggungnya kembali ke tempatnya. Ketika sujud beliau meletakkan kedua tangannya dengan tidak menghamparkannya tidak pula menggenggamnya, ujung jemari kedua kakinya mengarah ke arah kiblat, saat duduk setelah dua rakaat beliau duduk di atas kaki kirinya dengan menegakkan kaki kanannya, ketika duduk pada rakaat terakhir beliau mengedepankan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang lainnya sambil duduk di atas bokongnya,” (HR. Al Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 828]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abu Humaid As-Sa’idi adalah Abu Humaid Abdurrahman bin Sa’ad Al-Anshari Al-Khazraji As-Sa’idi. Dinisbahkan kepada kaum Sa’idi yaitu Abu Al-Khazraj Al-Madani yang kemudian beliau lebih dikenal dengan kuniyah (julukan)nya. Beliau wafat pada akhir pemerintahan Muawiyah.

Penjelasan Kalimat

“Aku melihat Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam bertakbir (untuk takbiratul ihram) beliau meletakkan kedua tangannya (yakni kedua telapak tangannya) sejajar dengan kedua pundaknya (inilah yang dimaksud dengan mengangkat kedua tangan saat takbiratul ihram) dan jika ruku’ beliau meletakkan kedua tangannya pada kedua lututnya (penjelasan untuk hal ini telah disebutkan dalam riwayat Ahmad mengenai kisah seseorang yang mendirikan shalat secara tidak benar, yakni hadits Al-Musii Shalatahu, “Jika engkau ruku’ maka letakkanlah kedua telapak tanganmu pada kedua lututmu, kemudian panjangkan punggungmu, dan mantapkanlah ruku’mu) kemudian beliau meluruskan tulang punggungnya (Al-Khathabi berkata, “Meluruskannya sehingga tidak melengkung. Dalam satu riwayat Al-Bukhari yang lain, disebutkan ilustrasi serupa. Sedangkan dalam riwayat yang lain disebutkan, “Tidak menekuk kepalanya dan tidak mendongakkannya.” Riwayat lain menjelaskan, “Sambil meregangkan jari jemarinya.”) Dan jika mengangkat kepalanya (dari ruku’) beliau berdiri hingga tegak (Abu Dawud menambahkan, “Lafadz hadits, ‘Samiallahuliman-hamidah allahumma rabbana lakalhamdu?” sambil mengangkat kedua tangannya.” Riwayat Abdul Hamid menambahkan, “Sehingga sejajar dengan kedua pundaknya dalam keadaan tegak.”) sehingga setiap ruas tulang punggungnya kembali ke tempatnya (hal ini yang dijelaskan dalam hadits Rifa’ah yang berbunyi, “Sehingga tulang-tulangnya kembali.”) Ketika sujud beliau meletakkan kedua tangannya dengan tidak menghamparkannya (dalam hadits Ibnu Hibban dijelaskan, “Dengan tidak menghamparkan kedua lengannya.”) Tidak pula menggenggamnya, ujung jemari kedua kakinya mengarah ke kiblat (akan dijelaskan pada hadits yang berbunyi, “Aku diperintahkan untuk bersujud di atas tujuh tulang.”) saat duduk setelah dua raka’at (yaitu tasyahud awal) beliau duduk di atas kaki kirinya dengan menegakkan kaki kanannya, ketika duduk pada rakaat terakhir (yakni tasyahud akhir) beliau mengedepankan kaki kirinya dan menegakkan kaki yang lainnya sambil duduk di atas bokongnya.

Tafsir Hadits

Hadits Abu Humaid ini diriwayatkan secara qauli (ucapan) maupun fi’li (perbuatan) yang menjelaskan tata cara shalat beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dan bahwasanya saat melakukan takbiratul ihram beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya yang disertai dengan membaca takbir. Hal ini senada dengan hadits Wail bin Hajar dalam riwayat Abu Dawud yang dalam hal ini telah diriwayatkan dua cara bertakbir, yaitu mengangkat kedua tangan lalu membaca takbir atau membaca takbir lalu mengangkat kedua tangan. Dalam hal ini para ulama mempunyai dua pendapat. Pendapat pertama adalah membaca takbir bersamaan dengan mengangkat tangan dan pendapat yang kedua adalah mengangkat tangan terlebih dahulu lalu membaca takbir. Tidak ada seorang pun yang berpendapat membaca takbir dahulu lalu mengangkat tangan.

Di dalam Al-Minhaj serta syarahnya An-Najm Al-Wahhaj disebutkan: Pertama, mengangkat tangan bersamaan dengan memulai bacaan takbir berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar, “Bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya saat membaca takbir, maka permulaan membaca takbir bersamaan dengan permulaan dengan mengangkat tangan dan tidak harus pula bersamaan pada akhirnya sehingga jika salah satu bertakbir maupun mengangkat tangan telah sempurna maka segera menyempurnakan yang lainnya dan jika keduanya telah sempurna segera menurunkan kedua tangannya dan tidak menahannya terangkat, dan cara ini yang paling benar.

Kedua, mengangkat tangan tanpa disertai bacaan takbir, lalu membaca takbir saat kedua tangannya berhenti kemudian menurunkan kedua tangannya setelah itu. Hal ini berdasarkan hadits hasan yang diriwayatkan Abu Dawud. Hal ini dishahihkan oleh Al-Baghawi dan yang dipilih oleh guru kami berdasarkan hadits Muslim dari Ibnu Umar.

Ketiga, mengangkat tangan bersamaan dengan membaca takbir dan berakhir dengan bersamaan juga, lalu menurunkan kedua tangannya setelah menyelesaikan takbir, alasannya karena mengangkat tangan adalah untuk bertakbir maka keduanya harus bersamaan. Pendapat ini didukung oleh Ibnu Hajar dinisbahkan kepada jumhur.

Demikian yang disebutkan, dan setelah kita meneliti pendapat-pendapat tersebut beserta dalil-dalilnya menunjukkan bahwa hal itu tergantung kepada kita untuk memilih tanpa mengharuskan satu cara.

Abu Dawud, Al-Auza’i, Al-Khumaidi guru Al-Bukhari dan beberapa orang lainnya mengatakan bahwa hukumnya wajib berdasarkan fakta bahwa hal itu dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Ibnu Hajar berkata, “Peristiwa saat Rasululah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya pada permulaan shalat telah diriwayatkan oleh 50 orang shahabat termasuk di antaranya 10 orang yang dijamin masuk surga.” Al-Baihaqi meriwayatkan dari Al-Hakim ia berkata, “Tidak pernah ada hadits yang disepakati oleh para huffazh diriwayatkan oleh empat orang Khulafur Rasyidin, sepuluh orang yang dijamin masuk syurga beserta shahabat-shahabat lainnya walaupun mereka berada di berbagai daerah yang berjauhan selain hadits ini.” Al- Baihaqi berkata, “Seperti itulah yang dikatakan oleh guru kita Abu Abdillah.”

Para ulama yang mewajibkan berkata, “Mengangkat tangan pada saat takbiratul ihram benar-benar terdapat pada tata cara Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat. Padahal beliau pernah bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat saya shalat,, karena itu kami mengatakan bahwa mengangkat tangan pada takbiratul ihram hukumnya wajib.

Selain para ulama di atas, yaitu jumhur ulama termasuk Zaid bin ALi, An-Nashir, Al-Qasim, Al-Imam Yahya begitu pula empat imam madzab mengatakan bahwa hukumnya sunah dan tidak ada yang berpendapat lain, kecuali Al-Hadi yang mengatakan bahwa hukumnya bukan sunah.

Dengan demikian bisa dikatakan bahwa orang yang menunjukkan Al-Zaidiyah tidak berpendapat dengan pendapat ini maka ia telah meriwayatkan dari mereka tanpa berdasarkan ilmu.

Mengenai seberapa tinggi mengangkat tangannya, maka hadits riwayat Abu Khumaid ini menunjukkan bahwa ia sejajar dengan Al-Mankinbain, Al-Mankib adalah pertemuan antara kepala tulang pundak dengan lengan atas dan inilah pendapat As-Syafi’iyah.

Ada yang berpendapat bahwa, ia sejajar dengan ujung kedua telinga berdasarkan hadits Wail bin Hujr, “Hingga sejajar dengan kedua telinga”, kemudian ada yang mengkompromikan kedua hadits ini dan berkata, “Maksudnya, yaitu punggung kedua telapak tangan sejajar dengan pundak, sedangkan ujung jari-jari sejajar dengan kedua telinga sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits Wail yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, “Sehingga tangannya sejajar dengan kedua pundaknya dan kedua jempolnya sejajar dengan kedua telinganya.”

Ungkapan beliau, “Mengokohkan kedua tangannya”, telah diterangkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, “Seakan-akan ia menggenggam keduanya.”

Ungkapan beliau, “Lalu ia meluruskan punggungnya”, telah kami sebutkan penjelasan Al-Khatthabi dalam masalah ini, riwayat lain menyebutkan, “Summahanna” yang artinya serupa dengan makna di depan. Riwayat lain menyebutkan, “Tidak menekuk kepalanya dan tidak mendongakkannya.” Riwayat lain menjelaskan, “Dan ia meregangkan jari jemarinya.”

Ungkapan beliau, “Hingga setiap ruas tulang punggungnya kembali ke tempatnya.” Maksudnya adalah i’tidal dengan sempurna, hal ini sesuai dengan penjelasan riwayat, “Kemudian beliau berdiri sejenak sehingga semua anggota tubuhnya kembali ke tempatnya.”

Hadits ini juga menjelaskan tata cara duduk dalam tasyahud awal dan akhir yang ternyata berbeda. Pada tasyahud akhir beliau duduk tawaruk, yakni meletakkan bokongnya di atas tanah dan mendirikan telapak kaki kanannya. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat dan akan kami jelaskan pada kesempatan mendatang, namun yang pasti As-Syafi’i dan pengikutnya mengamalkan hadits ini.

0255

255 – وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – «عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ كَانَ إذَا قَامَ إلَى الصَّلَاةِ قَالَ: وَجَّهْت وَجْهِي لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ – إلَى قَوْلِهِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إلَهَ إلَّا أَنْتَ، أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُك – إلَى آخِرِهِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ، وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ: إنَّ ذَلِكَ فِي صَلَاةِ اللَّيْلِ

255. Dari Ali bin Abu Thalib RA, bahwasanya jika Rasulullah SAW berdiri dalam shalat beliau membaca, “Saya menghadapkan wajahku kepada yang menciptakan langit dan bumi –hingga sabdanya- … dari orang-orang muslim. Ya Allah Engkaulah Raja, tiada ilah selain Engkau. Engkau Rabb-ku dan aku adalah hamba-Mu… –sampai akhir-. (HR. Muslim) dalam riwayat lain disebutkan, “Hal itu dilakukan pada shalat malam.”

[shahih: Muslim 771]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Bahwasanya jika Rasululah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdiri dalam shalat beliau membaca, “Saya menghadapkan wajahku (yakni aku tujukan ibadahku) kepada yang menciptakan langit dan bumi -hingga sabdanya-, …dari orang-orang muslim (dalam hal ini terdapat dua riwayat, yang pertama ‘wa ana minal muslimin’- dan saya seorang dari orang-orang muslim- inilah yang disebutkan oleh Ibnu Hajar, dan yang kedua ‘wa ana awwalul muslimin’-dan saya orang pertama dari orang-orang muslim- yaitu yang terdapat dalam ayat Al-Qur’an), atau dalam lafadz lainnya Ya Allah, Engkau-lah Raja, tiada ilah selain Engkau, Engkau Rabb-ku dan aku adalah hamba-Mu… -sampai akhir-. (riwayat Muslim)

Tafsir Hadits

Kelanjutan dari doa Iftitah tersebut ialah,

«ظَلَمْت نَفْسِي؛ وَاعْتَرَفْت بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، إنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْك، وَالشَّرُّ لَيْسَ إلَيْك، أَنَا بِك وَإِلَيْك، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْت، أَسْتَغْفِرُك وَأَتُوبُ إلَيْك»

‘Aku telah menzhalimi diriku, mengakui dosa-dosaku maka ampunilah dosa-dosaku sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa kecuali Engkau, dan tunjukilah aku pada akhlak yang paling baik, sesungguhnya tidak ada yang dapat menunjuki pada akhlak yang paling baik selain Engkau dan hindarkanlah aku dari akhlak yang buruk sesungguhnya tidak ada yang dapat menghindarkan dari akhlak yang buruk kecuali Engkau. Kami datang kepada-Mu dan kami taat perintah-Mu, seluruh kebaikan berada dalam kedua tangan-Mu, dan seluruh keburukan tidak berasal dari-Mu, saya bersama-Mu dan saya kepada-Mu, Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi Engkau, aku memohon ampunan-Mu dan bertobat kepada-Mu.”

Sabda beliau, “Yang menciptakan langit dan bumi (yakni menciptakan keduanya tanpa adanya contoh sebelumnya) yang lurus (yakni selalu cenderung kepada agama yang benar, yaitu agama Islam) dan aku bukan termasuk di antara orang-orang musyrik (menjelaskan dan mempertegas makna, “Yang lurus”) ibadahku (yakni semua ibadah dan semua bentuk pendekatan diri kepada Allah Ta’ala. Dan ketika kata tersebut disandingkan dengan ibadah shalat, ini adalah bentuk penyandingan sesuatu yang umum kepada sesuatu yang khusus) hidupku dan matiku (yakni hidupku dan matiku untuk Allah Ta’ala. Maksudnya Dia-lah yang menguasai dan memiliki keduanya). Tuhan sekalian alam (Ar-Rabb artinya raja dan ‘alamin adalah bentuk jamak dari ‘alam yang mencakup seluruh makhluk, di dalam Al-Qamuus dijelaskan bahwa arti al-‘alam adalah semua makhluk atau apa yang terdapat di dalam jagad raya) tiada sekutu bagi-Nya (menguatkan makna, “Tuhan sekalian alam”) Ya Allah, Engkaulah raja (yakni yang memilik seluruh makhluk) aku telah menganiaya diriku (ini adalah sebuah pengakuan kezhaliman atas dirinya, hal ini ia sebutkan terlebih dahulu sebelum memohon ampunan.

Kata labaika maknanya aku selalu menjalankan ketaatan kepada-Mu dan melaksanakan perintah-Mu secara terus-menerus, sedangkan kata sa’daika maknanya, aku menyenangi perintah-Mu dan mengikutinya secara sukarela dan terus-menerus.

Sabda beliau, “Seluruh kebaikan berada di tangan-Mu (ungkapan ini adalah sebuah pengakuan bahwa seluruh kebaikan, baik yang telah diterima oleh seorang hamba atau yang masih diharapkannya dari Allah Ta’ala) dan semua keburukan tidak kembali kepada-Mu (yakni bahwa keburukan adalah bukan sarana untuk mendekatkan diri kepada-Mu atau ia tidak dinisbahkan kepada-Mu, maka tidak boleh mengucapkan kata-kata, “Wahai Tuhan keburukan.” Atau bisa juga maknanya ia tidak akan sampai kepada-Mu, karena yang sampai kepada-Nya hanyalah ucapan yang baik).

Sabda beliau, “Saya bersama-Mu dan kepada-Mu (yakni tempatku berlindung dan tempatku kembali adalah kepada-Mu, dan aku akan selalu dalam kebaikan selama aku bersama-Mu) Maha Suci Engkau (yakni Engkau berhak atas semua pujian, atau bahwa seluruh kebaikan berada pada-Mu).

Bacaan inilah yang secara umum dibaca dalam iftitah shalat.

Dan di dalam riwayat Muslim, “Bahwasanya bacaan ini dibaca oleh Rasululah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam shalat malam.”

Kami tidak menemukan lafazh tersebut di dalam shahih Muslim, akan tetapi hadits Ali-lah yang menjelaskan bahwa bacaan tersebut dibaca pada shalat malam.

Ibnu Hajar di dalam kitab At-Talkhish meriwayatkan dari As-Syafi’i dan dari Ibnu Khuzaimah, bahwa doa tersebut dibaca pada shalat-shalat wajib dan bahwa hadits Ali Radhiyallahu anhu menjelaskan hal tersebut.

Berdasarkan perkataan Ibnu Hajar di atas, bisa disimpulkan bahwa bacaan ini dikhususkan untuk shalat wajib atau bisa juga ia bersifat umum untuk semua shalat, sehingga seseorang boleh memilih untuk membaca bacaan ini sesudah takbiratul ihram atau memilih bacaan yang disebutkan dalam hadits berikut.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *