[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 69

02.07. BAB SIFAT SHALAT 01

0252

252 – عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «إذَا قُمْت إلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغْ الْوُضُوءَ، ثُمَّ اسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ، فَكَبِّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَك مِنْ الْقُرْآنِ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا، ثُمَّ اُسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، ثُمَّ اُسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِك كُلِّهَا» أَخْرَجَهُ السَّبْعَةُ، وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ، وَلِابْنِ مَاجَهْ بِإِسْنَادِ مُسْلِمٍ ” حَتَّى تَطْمَئِنَّ قَائِمًا ”

252. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Jika kamu hendak melaksanakan shalat maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah ke kiblat lalu bertakbirlah, kemudian bacalah apa yang mudah bagimu dari Al Qur’an, kemudian ruku’lah dengan tuma’ninah, kemudian bangunlah hingga tegak berdiri, kemudian sujudlah dengan tuma’ninah kemudian bangunlah lalu duduklah dengan tuma’ninah, kemudian sujudlah dengan tuma’ninah, kemudian lakukan semua itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Imam Tujuh. Lafazh ini lafazh Al Bukhari, sedangkan lafazh Ibnu Majah dengan sanad Muslim, “Bangunlah dengan tuma’ninah)

[Shahih: Al Bukhari 6251 dan Muslim 397]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Jika kamu hendak melaksanakan shalat maka sempurnakanlah wudhumu (Yakni mengerjakannya dengan lengkap) kemudian menghadaplah ke kiblat lalu bertakbirlah (yakni takbiratul ihram) kemudian bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an (ungkapan ini menjelaskan bahwa doa istiftah tidak wajib dibaca, jika wajib tentulah beliau perintahkan, kemudian zhahir ungkapan ini mengisyaratkan bahwa yang dibaca tidak harus surat Al-Fatihah, namun hal ini akan kami jelaskan pada saatnya nanti) kemudian ruku’lah dengan tuma’ninah (hal ini menjelaskan bahwa ruku’ dengan tuma’ninah padanya adalah wajib) kemudian bangunlah (dari ruku’) hingga tegak berdiri kemudian sujudlah dengan tuma’ninah (hal ini menjelaskan bahwa sujud dengan tuma’ninah adalah wajib) kemudian bangunlah (dari sujud) lalu duduklah dengan tuma’ninah (setelah sujud yang pertama) kemudian sujud dengan tuma’ninah (ini adalah sujud kedua. Ini adalah sifat satu rakaat sempurna, yakni berdiri, membaca sebagian dari Al-Quran, ruku’, i’tidal atau bangun dari ruku’, sujud dengan tuma’ninah, duduk antara dua sujud, kemudian sujud dengan tuma’ninah pula dengan demikian sempurnalah satu raka’at) kemudian lakukanlah semua itu dalam setiap shalatmu (baik ucapan maupun perbuatan kecuali takbiratul ihram, karena ia khusus untuk raka’at pertama saja sebagaimana yang telah dijelaskan oleh syariat).”

Tafsir Hadits

Di dalam hadits Ibnu Majah dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dengan sanad yang biasa dipakai Muslim disebutkan, “Bangunlah hingga berdiri dengan tuma’ninah.” Sebagai ganti apa yang disebutkan dalam hadits Al-Bukhari, “Kemudian bangunlah hingga tegak berdiri.” Hadits Ibnu Majah di atas menjelaskan bahwa tuma’ninah saat i’tidal setelah ruku’ adalah wajib.

0253

253 – وَمِثْلُهُ فِي حَدِيثِ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ عِنْدَ أَحْمَدَ وَابْنِ حِبَّانَ ” حَتَّى تَطْمَئِنَّ قَائِمًا ” – وَلِأَحْمَدَ «فَأَقِمْ صُلْبَك حَتَّى تَرْجِعَ الْعِظَامُ» – وَلِلنَّسَائِيِّ وَأَبِي دَاوُد مِنْ حَدِيثِ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ «إنَّهَا لَا تَتِمُّ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ حَتَّى يُسْبِغَ الْوُضُوءَ كَمَا أَمَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى، ثُمَّ يُكَبِّرَ اللَّهَ تَعَالَى وَيَحْمَدَهُ وَيُثْنِي عَلَيْهِ فِيهَا فَإِنْ كَانَ مَعَك قُرْآنٌ فَاقْرَأْ وَإِلَّا فَاحْمَدْ اللَّهَ وَكَبِّرْهُ وَهَلِّلْهُ» – وَلِأَبِي دَاوُد «ثُمَّ اقْرَأْ بِأُمِّ الْكِتَابِ وَبِمَا شَاءَ اللَّهُ» – وَلِأَبِي حِبَّانَ ” ثُمَّ بِمَا شِئْت ”

253. Hadits ini seperti hadits sebelumnya, dari Rifa’ah bin Rafi’ yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Hibban, “Hingga berdiri dengan tuma’ninah.” dan dalam hadits Ahmad, “Maka tegakkan tulang punggungmu hingga tulang-tulang kembali ke tempatnya.”

[Ahmad 4/340 dan Ibnu Hibban 5/88]

Dalam hadits An Nasa’i dan Abu Daud dari Rifa’ah bin Rafi’, “Sesungguhnya shalat salah seorang dari kalian tidak akan sempurna hingga orang tersebut menyempurnakan wudhunya sebagaimana yang Allah perintahkan, kemudian ia mengagungkan Allah memuji-Nya dan menyanjung-Nya.

[Shahih: Abu Daud 857]

Disebutkan dalam hadits tersebut, “Jika engkau menyampaikan hafalan dari Al Qur’an maka bacalah, jika tidak maka bacalah tahmid, takbir dan tahlil kepada Allah.

[Shahih: Abu Daud 859]

Dalam hadits Abu Daud, “Kemudian bacalah Al Fatihah dan apa yang bisa engkau baca atas kehendak Allah.

Dalam hadits Ibnu Hibban, “Kemudian bacalah apa yang engkau kehendaki.”

[Ibnu Hibban 5/88]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Rifa’ah bin Rafi’ adalah seorang shahabat dari kalangan Anshar dan ikut serta pada perang Badar, perang Uhud dan seluruh peperangan bersama Rasululah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia bersama Ali menyaksikan perang Jamal dan perang Siffin. Ia meninggal pada permulaan masa pemerintahan Muawiyah.

Penjelasan Kalimat

“Hingga berdiri dengan tuma’ninah (dan dalam salah satu lafazh hadits Ahmad) maka tegakkan tulang punggungmu hingga tulang-tulang kembali ke iempatnya (yakni tulang-tulang yang ikut turun saat ruku’ sehingga ia kemudian ke tempat asalnya, saat berdiri untuk membaca, yang hal itu hanya bisa terjadi dengan i’tidal yang sempurna)

Dalam hadits An-Nasa’i dan Abu Dawud dari Rifa’ah bin Rafi’, “Sesungguhnya shalat salah seorang dari kalian tidak akan sempurna (shalatnya) hingga orang tersebut menyempurnakan wudhunya sebagaimana yang Allah perintahkan (yaitu yang diterangkan dalam surat Al-Maidah) kemudian ia mengagungkan Allah (yaitu dengan membaca takbiratul ihram) dan memuji-Nya (dengan membaca surat Al-Fatihah, hanya saja ungkapan, “Jika engkau mempunyai hafalan dari Al-Qur’an.” Mengisyaratkan bahwa yang dimaksud dengan ungkapan memuji di atas, bukan bacaan Al-Qur’an akan tetapi ia adalah bacaan iftitah, maka dari hadits di atas bisa disimpulkan bahwa memuji dan menyanjung Allah setelah takbiratul ihram hukumnya wajib) dan menyanjung-Nya.”

Dan dalam riwayat An-Nasa’i dan Abu Dawud yang lainnya disebutkan, “Jika engkau mempunyai hafalan dari Al-Qur’an maka bacalah, jika tidak (mempunyai hafalan Al-Qur’an) maka bacalah tahmid (dengan bacaan-bacaan tahmid, yang bacaan dasarnya ialah Alhamdulillah), takbir (dengan bacaan Allahu Akbar), tahlil kepada Allah (dengan bacaan Laa llaha Illallah, hal ini menunjukkan bahwa bacaan-bacaan di atas menggantikan bacaan Al-Qur’an bagi mereka yang tidak mempunyai hafalan Al-Qur’an).

Dalam hadits Abu Dawud disebutkan, “Kemudian bacalah Al-Fatihah dan apa yang bisa engkau baca atas kehendak Allah.” Dalam hadits Ibnu Hibban, “Kemudian bacalah apa yang engkau kehendaki.”

Tafsir Hadits

Hadits ini adalah hadits yang sangat agung, yang biasa dikenal sebagai hadits ‘Hadits al-Musii’ shalatahu’ (orang yang tidak bagus shalatnya). Hadits ini mengajarkan kepada kita hal-hal yang wajib dilakukan dalam shalat, sehingga ibadah shalat tidak akan sempurna kecuali dengannya.

Hadits ini menunjukkan bahwa wudhu harus disempurnakan oleh orang yang ingin mengerjakan shalat, sebagaimana yang dikandung oleh ayat,

{إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ}

“Apabila kamu hendak mengerjakan shalat.”(QS. Al-Ma’idah: 6), dan yang dimaksud di sini ialah orang yang berhadats sebagaimana yang telah dijelaskan oleh dalil-dalil yang lainnya.

Hadits Al-Bukhari (nomor 252) yang menyebutkan hal-hal tersebut secara garis besar, dijelaskan dengan lebih terperinci oleh hadits An-Nasa’i dengan lafazh,

«حَتَّى يُسْبِغَ الْوُضُوءَ كَمَا أَمَرَهُ اللَّهُ فَيَغْسِلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ إلَى الْمِرْفَقَيْنِ وَيَمْسَحَ بِرَأْسِهِ وَرِجْلَيْهِ إلَى الْكَعْبَيْنِ»

“Hingga orang tersebut menyempurnakan wudhunya sebagaimana yang Allah perintahkan, membasuh mukanya dan kedua tangannya hingga kedua siku, lalu mengusap kepala dan membasuh kakinya hingga kedua mata kaki.”

Keterangan ini menjelaskan bahwa berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung tidak wajib, sehingga hal inilah yang mengakibatkan perintah untuk melakukan keduanya tidak wajib akan tetapi menjadi sunnah.

Hadits tersebut menunjukkan bahwa menghadap ke arah kiblat sebelum membaca takbiratul ihram adalah wajib, hukum ini telah kami terangkan di atas disertai keterangan kemudahan bagi mereka yang mengerjakan shalat sunnah di atas kendaraan.

Ia juga menunjukkan wajibnya mengucapkan takbiratul ihram, yang lafazhnya disebutkan dalam riwayat At-Thabrani dari Rifa’ah, “Kemudian mengucap ‘Allahu Akbar’ begitu pula dalam hadits riwayat Ibnu Majah yang dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, dari Abu Humaid berdasarkan apa yang telah dilakukan oleh Rasululah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Jika beliau hendak mengerjakan shalat beliau berdiri tegak, kemudian mengangkat tangannya, seraya mengucap, “Allahu Akbar.” Hadits serupa diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari Ali Radhiyallahu Anhu dengan sanad shahih memenuhi kriteria sanad Muslim, “Bahwasanya jika beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam berdiri untuk memulai shalat beliau mengucap, ‘Allahu Akbar.” Hadits-hadits ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan takbiratul ihram ialah ucapan, Allahu Akbar.

Hadits tersebut juga menjelaskan bahwa membaca Al-Qur’an di dalam shalat hukumnya wajib, baik surat Al-Fatihah maupun yang lainnya, berdasarkan ungkapan beliau, “Apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an”, “Jika engkau mempunyai hafalan dari Al-Qur’an”, namun hadits Abu Dawud menyebutkan, “Kemudian bacalah Al-Fatihah” sedangkan di dalam hadits Ahmad dan Ibnu Hibban disebutkan, “Kemudian bacalah Al-Fatihah dan apa yang bisa engkau baca atas kehendakmu”, bahkan Ibnu Hibban membuat bab khusus untuk masalah ini “Bab wajibnya seseorang yang sedang mengerjakan shalat untuk membaca Al-Fatihah dalam setiap raka’at” karena tegasnya hadits yang menyebutkan surat Al-Fatihah maka hadits yang menyebutkan, “Apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an” diartikan sebagai surat Al-Fatihah karena surat itu mudah untuk dihafalkan oleh setiap muslim, kemudian hadits tersebut bisa ditafsiri bahwa Rasululah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengetahui bahwa orang yang beliau ajak bicara tidak hafal surat Al-Fatihah, maka jika kondisi orang tersebut seperti itu ia boleh membaca ayat apapun yang ia hafal dari Al-Qur’an, atau bisa jadi hadits ini dimansukh oleh hadits yang menyebutkan surat Al-Fatihah atau mungkin maknanya, “Bacalah yang mudah bagimu dari Al-Qur’an disamping surat Al-Fatihah”, hal ini didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Hibban yang dengan tegas menyebutkan surat Al-Fatihah ditambah dengan ayat-ayat yang lainnya dengan begitu bisa jadi saat perawi menyebutkan, “Apa yang mudah dari Al-Qur’an” ia lupa untuk menyebutkan surat Al-Fatihah. Kemudian hadits yang menunjukkan wajibnya membaca ayat-ayat lain selain surat Al-Fatihah ialah, ‘Kemudian bacalah Al-Fatihah dan apa yang bisa engkau baca atas kehendak Allah atau apa yang engkau kehendaki.”

Hadits ini menunjukkan juga bahwa orang yang tidak mempunyai hafalan Al-Qur’an boleh membaca tahmid, takbir dan tahlil sebagai ganti dari Al-Qur’an tanpa ditentukan jumlahnya dan jenis bacaannya. Namun, ada yang menyebutkan bacaannya sebagai berikut, “Subhanallah, Walhamdulillah, Wala ilaha illallah, wallahuakbar, walahaula walakuwwata illa billah.”

Hadits ini juga menunjukkan atas kewajiban ruku’ yang disertai dengan tuma’ninah. Hadits Ahmad menjelaskan caranya, “Jika engkau ruku’ maka letakkanlah kedua telapak tanganmu pada kedua lututmu, kemudian panjangkan punggungmu, dan mantapkanlah ruku’mu” Dalam riwayat lain disebutkan, “Kemudian ia bertakbir lalu ruku’ hingga sendi-sendinya mantap dan santai.”

Hadits ini juga menunjukkan wajibnya bangun dari ruku’, yang diikuti dengan berdiri tegak dengan tuma’ninah, berdasarkan sabda beliau, “Dan kamu berdiri dengan tuma’ninah.” Ibnu Hajar berkata, “Sesungguhnya hadits ini menggunakan sanad Muslim, disamping itu as-Siraj meriwayatkannya dengan sanad yang memenuhi kriteria Al-Bukhari, maka hadits tersebut memenuhi kriteria Muslim dan Al-Bukhari.”

Hadits ini menunjukkan wajibnya sujud dengan tuma’ninah, kedua hal tersebut telah dijelaskan dalam hadits An-Nasa’i dari Ishaq bin Abi Thalhah, “Kemudian ia bertakbir lalu bersujud, hingga wajah dan dahinya mantap hingga seluruh sendinya mantap dan lega.”

Hadits ini menunjukkan wajibnya duduk di antara dua sujud, disebutkan dalam hadits An-Nasa’i, “Kemudian ia bertakbir lalu ia mengangkat kepalanya hingga duduk tegak di tempat duduknya, dan menegakkan tulang punggungnya.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Jika engkau telah mengangkat kepalamu maka duduklah di atas paha kirimu.” Hal ini menunjukkan bahwa duduk di antara dua sujud dengan cara menggunakan paha kiri sebagai alas duduk.

Hadits ini menunjukkan bahwa semua hal di atas harus dilakukan pada setiap raka’at yang tersisa, kecuali takbiratul ihram, karena sebagaimana telah diketahui bahwa ia wajib dilakukan pada permulaan shalat.

Hadits ini menunjukkan wajibnya membaca sebagian dari Al-Qur’an pada setiap raka’at, berdasarkan apa yang telah Anda pahami dari penjelasan, “Apa-apa yang mudah” Yaitu surat Al-Fatihah, yang diikuti bacaan ayat Al-Qur’an yang Anda kehendaki pada setiap raka’at, dan dalam pembahasan mendatang akan kami bahas hukum membaca sebagian dari Al-Qur’an selain dari Al-Fatihah, pada raka’at ketiga maupun keempat.

Ketahuilah, bahwa hadits ini adalah hadits yang agung, sering disebutkan oleh ulama untuk menjelaskan wajibnya hal-hal yang telah kami sebutkan, dan menjelaskan hal-hal selain di atas adalah tidak wajib, sedangkan kesimpulan bahwa semua yang disebutkan dalam hadits di atas adalah wajib berdasarkan fakta bahwa hadits tersebut menggunakan ungkapan perintah setelah ungkapan beliau, “Tidak akan sempurna suatu shalat kecuali dengan hal-hal yang disebut dalam hadits tersebut.” Sedangkan kesimpulan bahwa yang tidak disebut di dalam hadits tersebut tidak wajib, maka berdasarkan fakta bahwa hadits tersebut muncul untuk mengajarkan hal-hal yang wajib dalam shalat. Dengan demikian, seandainya hadits tersebut meninggalkan suatu hal yang wajib, maka akan terjadi penundaan keterangan pada saat diperlukan yang menurut ijma tidak boleh.

Jika riwayat-riwayat hadits ini telah dikumpulkan, maka yang diambil adalah riwayat yang paling lengkap. Jika ada hadits lain yang bertentangan dengan hadits ini, baik dalam mewajibkan atau sebaliknya, maka hadits ini yang lebih diutamakan, bahkan seandainya ada hadits yang mewajibkan sesuatu dengan kalimat perintah, yang hal tersebut tidak disebutkan di dalam hadits ini, maka perintah tersebut dibawa kepada makna selain wajib karena keberadaan hadits ini, atau bisa jadi kedua-duanya dimaknai secara zhahir apa adanya, lalu dicari hadits lain yang menguatkan salah satu dari keduanya.

Di antara hal wajib yang telah disepakati oleh para ulama akan tetapi tidak disebutkan dalam hadits di atas adalah niat, demikian disebut dalam As-Syarh.

Menurut saya, bisa saja dikatakan bahwa ungkapan beliau, “Jika engkau berdiri untuk shalat’ menunjukkan wajibnya niat, karena niat hanyalah kehendak untuk melakukan sesuatu. Dan ungkapan beliau, “Maka berwudhulah.” Maksudnya adalah hendaklah berwudhu.

Kemudian orang tersebut bisa saja berkata, “Duduk terakhir, adalah termasuk hal wajib yang telah disepakati, namun tidak disebutkan dalam hadits di atas.”

Dan di antara hal yang diperselisihkan ialah membaca tasyahud akhir, lalu membaca shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi ma Sallam pada akhir shalat.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *