[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 68

02.06. BAB MASJID 05

0249

249 – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَا أَمَرْت بِتَشْيِيدِ الْمَسَاجِدِ» أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ.

249. Dari Ibnu Abbas RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Aku tidak diperintahkan untuk memegahkan masjid-masjid.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Hibban menshahihkannya)

[Shahih: Abu Daud 448]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Kelanjutan hadits tersebut ialah apa yang disebutkan oleh Ibnu Abbas,

«لَتُزَخْرِفُنَّهَا كَمَا زَخْرَفَتْهَا الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى»

“Kalian pasti akan menghiasnya sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nasrani lakukan.”

Ungkapan ini berasal dari ucapan Ibnu Abbas, seakan-akan ia memahami bahwa umat ini akan mengikuti perilaku orang-orang Bani Israel.

Di dalam As-Syarh diterangkan, makna tasyiid atau memegahkan ialah meninggikan bangunannya dan memperindahnya dengan syiid yaitu kapur. Sedangkan di dalam al-Qaamuus diterangkan, arti syaada ialah memolesnya atau mengecatnya dengan kapur dan sejenisnya, sesuai dengan keterangan ini, meninggikan bangunan bukan termasuk makna tasyiid.

Hadits ini dengan jelas menunjukkan kepada hukum makruh dan haram, berdasarkan ungkapan Ibnu Abbas, “Sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nasrani memegahkannya” Karena menyerupai mereka adalah haram.

Hal ini mengisyaratkan bahwa sesungguhnya masjid tidak dibangun, kecuali untuk melindungi diri dari panas dan dingin, sedangkan hiasan-hiasan padanya hanya akan menyibukkan hati dari ketaatan, menghilangkan kekhusyuan yang merupakan inti shalat.

Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa menghiasi mihrab diperbolehkan adalah pendapat yang salah.

Dalam Al-Bahr, Al-Mahdi berkata, “Proses pemberian hiasan di Masjidil Haram dan di dalam masjid Nabawi tidak berdasarkan pada pendapat para ulama ahlul hall wal ‘aqdi tidak juga atas persetujuan mereka. Penghiasan itu dilakukan oleh pemimpin negara yang zhalim tanpa meminta izin kepada para ulama terlebih dahulu, kemudian kaum muslimin dan para ulama membiarkannya dengan memendam rasa dongkol.

Ungkapan beliau, “Aku tidak diperintahkan….”, mengisyaratkan bahwa perbuatan itu tidak baik, karena jika hal itu dianggap baik tentulah hal itu akan diperintahkan oleh Allah. Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Umar,

«أَنَّ مَسْجِدَهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ عَلَى عَهْدِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مَبْنِيًّا بِاللَّبِنِ وَسَقْفُهُ الْجَرِيدُ وَعُمُدُهُ خَشَبُ النَّخْلِ» فَلَمْ يَزِدْ أَبُو بَكْرٍ شَيْئًا وَزَادَ فِيهِ عُمَرُ وَبَنَاهُ عَلَى بِنَائِهِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِاللَّبِنِ وَالْجَرِيدِ وَأَعَادَ عُمُدَهُ خَشَبًا ثُمَّ غَيَّرَهُ عُثْمَانُ فَزَادَ فِيهِ زِيَادَةً كَبِيرَةً وَبَنَى جُدْرَانَهُ بِالْأَحْجَارِ الْمَنْقُوشَةِ وَالْجِصِّ وَجَعَلَ عُمُدَهُ مِنْ حِجَارَةٍ مَنْقُوشَةٍ وَسَقْفَهُ بِالسَّاجِ

“Bahwa masjid Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, saat itu temboknya dibangun dari batubata, atapnya terbuat dari pelepah kurma dan tiangnya dari batang-batang kurma. Kemudian pada masanya, Abu Bakar tidak menambahkan apa-apa. Lalu Umar memperluasnya, ia membangunnya dengan model ala bangunan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ia membangunnya dengan batubata, pelepah kurma, dengan tiang-tiang dari batang kayu, kemudian Utsman merombaknya dengan berbagai macam tambahan, ia membangun temboknya dengan bebatuan yang diukir dan kapur, begitu pula atapnya dari kayu jenis terbaik.” [Al Bukhari 446]

Ibnu Bathaal berkata, “Hal ini menunjukkan bahwa selayaknya bangunan masjid adalah bangunan yang sederhana tidak berlebih-lebihan dalam menghiasnya.”

Lihatlah khalifah Umar, biarpun ia berhasil membuka wilayah yang luas dan menguasai harta benda yang banyak beliau sama sekali tidak merubah bangunan masjid pada masanya. Saat itu yang ia lakukan hanya memperbaruinya dikarenakan pelepah-pelepah kurmanya sudah lapuk, saat membangunnya ia berkata, “Lindungilah orang-orang dari hujan akan tetapi hindarilah warna merah atau warna kuning karena hal itu akan mengganggu.”

Kemudian di masa Utsman, walaupun harta bendanya melimpah ia hanya memperindah tanpa bermegah-megahan, walaupun begitu banyak shahabat yang menentangnya.

Orang pertama yang bermegah-megahan dalam masalah masjid ialah Al-Walid bin Abdul Malik, pada akhir masa shahabat. Kemudian para ulama mendiamkannya untuk menghindari fitnah.

0250

250 – وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «عُرِضَتْ عَلَيَّ أُجُورُ أُمَّتِي، حَتَّى الْقَذَاةَ يُخْرِجُهَا الرَّجُلُ مِنْ الْمَسْجِدِ» رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ، وَاسْتَغْرَبَهُ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ

250. Dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda, “Pahala-pahala umatku dipertunjukkan kepadaku hingga (pahala) sampah yang dikeluarkan seseorang dari dalam masjid.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi menilainya sebagai hadits gharib, Ibnu Khuzaimah menshahihkannya)

[Dhaif: Abu Daud 461]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Sampah yang dimaksud di atas adalah segala sesuatu yang tidak bermanfaat yang terdapat di dalam masjid.

Hadits ini menunjukkan bahwa kototan sekecil apa pun yang dibuang oleh seseorang dari dalam masjid akan mendatangkan pahala. Karena itu adalah usaha untuk membersihkan masjid, menghilangkan segala yang mengganggu orang-orang mukmin.

Sebaliknya bisa dipahami bahwa memasukkan kotoran ke dalam masjid adalah suatu kesalahan.

0251

251 – وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

251. Dari dari Abu Qatadah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Jika salah seorang dari kalian memasuki masjid, maka hendaklah ia tidak duduk hingga mendirikan shalat dua rakaat.” (Muttafaq alaih)

[Al Bukhari 444, Muslim 714]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini melarang seseorang duduk di dalam masjid sebelum mendirikan shalat dua rakaat, yaitu shalat Tahiyatul masjid, yang secara zhahir ia adalah wajib, akan tetapi jumhur ulama mengatakan bahwa hukumnya adalah mandub, berdasarkan hadits yang menjelaskan, “Bahwasanya ketika beliau melihat seseorang melangkahi orang lain beliau bersabda, “Duduklah, engkau telah mengganggu.’ [shahih: Abu Daud 1118]

Dalam hadits ini beliau tidak memerintahkannya untuk mendirikan shalat, kemudian kepada seseorang yang sedang beliau ajari tentang rukun Islam yang lima kemudian orang itu berkata, “Aku tidak menambah apa-apa.” Beliau bersabda, “Orang itu selamat jika ia jujur.” [Al Bukhari 46, Muslim 11]

Argumen dalam hadits pertama, yang beliau memerintahkan orang tersebut untuk duduk dibantah dengan jawaban, bahwa dalam hadits tersebut tidak ada ungkapan yang menunjukkan bahwa orang tersebut belum shalat, bisa jadi ia telah mendirikan shalat di belakang lalu ia melangkah ke depan.

Sedangkan yang kedua dibantah dengan jawaban, bahwa di sana ada shalat wajib selain yang lima waktu tersebut seperti shalat jenazah, kemudian ungkapan, “Aku tidak akan menambahinya.” Tidak menutup kemungkinan adanya kewajiban shalat yang lain setelah orang itu mengucapkan ucapan tersebut.

Zhahir hadits mengisyaratkan bahwa perintah mendirikan shalat tersebut berlaku kapan saja, walaupun pada waktu-waktu yang makruh melakukan shalat padanya, dalam masalah ini ada beberapa pendapat, dan telah kami sebutkan di dalam Syarh Al-Umdah, “Orang yang memasuki masjid pada waktu-waktu tersebut tidak boleh mendirikan shalat.”

Dan kami tegaskan kembali bahwa hukum shalat Tahiyatul masjid wajib berdasarkan banyaknya perintah untuk mendirikannya.

Zhahir hadits mengisyaratkan bahwa seseorang yang terlanjur duduk sebelum shalat, maka ia tidak perlu berdiri untuk shalat. Namun ada beberapa orang yang mengatakan bahwa selayaknya ia berdiri untuk shalat berdasarkan hadits Ibnu Hibban, disebutkan di dalam Shahih Ibnu Hibban dari Abu Dzar,

«أَبِي ذَرٍّ أَنَّهُ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: رَكَعْت رَكْعَتَيْنِ قَالَ لَا قَالَ: قُمْ فَارْكَعْهُمَا»

“Bahwa beliau masuk ke dalam masjid, kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya, Apakah kamu sudah shalat dua rakaat?’ Abu Dzar menjawab, “Belum.” Beliau bersabda, “Berdirilah, lalu shalat dua rakaat.”

Kemudian Ibnu Hibban menjelaskan, “Kewajiban untuk mengerjakan shalat Tahiyatul masjid tidak hilang begitu saja karena terlanjur duduk.” Demikian pula apa yang terjadi bersama Sulaik Al-Qhathafani, dalam pembahasan mendatang.

Ungkapan beliau, “Dua rakaat”, tidak menjelaskan jumlah raka’at terbanyak akan tetapi ia adalah raka’at minimal, dengan begitu satu rakaat belum memenuhi kewajiban shalat Tahiyatul masjid.

Dalam As-Syarh dijelaskan bahwa Masjidil Haram dikecualikan dari ketentuan ini, yakni Tahiyatul masjidnya ialah thawaf karena demikianlah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan thawaf pada saat tiba di Masjidil Haram.

Demikian pula yang disebutkan oleh Ibnul Qayim dalam Al-Hadyu.

Namun ada yang mengatakan bahwa saat itu Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak duduk sehingga beliau tidak melaksanakan shalat Tahiyatul masjid, karena shalat Tahiyatul masjid diperintahkan bagi mereka yang ingin duduk di dalam masjid, sedangkan orang yang memasuki Masjidil Haram langsung mengerjakan thawaf kemudian menunaikan shalat di maqam, maka dengan begitu orang tersebut tidak duduk, kecuali ia telah mendirikan shalat.

Jadi, jika orang tersebut memasuki Masjidil Haram, lalu ingin duduk tanpa mengerjakan thawaf maka dianjurkan baginya untuk menunaikan shalat Tahiyatul masjid, seperti apa yang dilakukan pada masjid-masjid yang lainnya.

Begitu pula shalat Ied dikecualikan dari hukum ini, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah melakukan shalat apapun, baik sebelum maupun sesudah shalat Ied.

Jawaban atas pendapat ini adalah bahwa beliau tidak duduk hingga yakin tempat tersebut tidak disyariatkan padanya shalat Tahiyatul masjid, baik saat di tanah lapang maupun di masjid. Beliau pernah mendirikan shalat Ied di masjidnya sekali saja, saat itu beliau tidak duduk, ketika beliau tiba, shalat Ied langsung dimulai, sedangkan tanah lapang tidak disyariatkan shalat Tahiyatul masjid padanya karena ia bukan masjid.

Akan halnya seseorang yang memasuki masjid dan tersibukkan oleh shalat yang lain, yakni jika seseorang memasuki masjid pada saat shalat wajib telah didirikan, maka ia harus segera bergabung untuk shalat wajib tersebut, dan shalat itu telah mewakili shalat Tahiyatul masjid, bahkan saat itu tidak diperbolehkan mendirikan shalat Tahiyatul masjid, berdasarkan hadits, “Jika iqamah telah dikumandangkan atau jika shalat wajib telah dimulai, maka tidak ada shalat selain shalat wajib tersebut.”[Muslim 710]

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *