[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 67

02.06. BAB MASJID 04

0246

246 – وَعَنْهَا «أَنَّ وَلِيدَةً سَوْدَاءَ كَانَ لَهَا خِبَاءٌ فِي الْمَسْجِدِ، فَكَانَتْ تَأْتِينِي فَتُحَدِّثُ عِنْدِي» – الْحَدِيثُ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

246. Dan darinya, sesungguhnya seorang budak wanita mempunyai sebuah kemah dalam masjid, ia selalu datang kepadaku dan mengobrol di sampingku. (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 439, Muslim tidak meriwayatkannya]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Kisah lengkap hadits ini terdapat di dalam Shahih Al-Bukhari dari Aisyah,

«أَنَّ وَلِيدَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ لِحَيٍّ مِنْ الْعَرَبِ فَأَعْتَقُوهَا فَكَانَتْ مَعَهُمْ فَخَرَجَتْ صَبِيَّةٌ لَهُمْ عَلَيْهَا وِشَاحٌ أَحْمَرُ مِنْ سُيُورٍ، قَالَتْ فَوَضَعَتْهُ أَوْ وَقَعَ مِنْهَا فَمَرَّتْ حَدَأَةٌ وَهُوَ مُلْقًى فَحَسِبَتْهُ لَحْمًا فَخَطَفَتْهُ. قَالَتْ: فَالْتَمَسُوهُ فَلَمْ يَجِدُوهُ فَاتَّهَمُونِي بِهِ فَجَعَلُوا يُفَتِّشُونِي حَتَّى فَتَّشُوا قُبُلَهَا قَالَتْ: وَاَللَّهِ إنِّي لَقَائِمَةٌ مَعَهُمْ إذْ مَرَّتْ الْحَدَأَةُ فَأَلْقَتْهُ قَالَتْ: فَوَقَعَ بَيْنَهُمْ، فَقُلْت هَذَا الَّذِي اتَّهَمْتُمُونِي بِهِ زَعَمْتُمْ وَأَنَا بَرِيئَةٌ مِنْهُ وَهَا هُوَ ذَا، قَالَتْ: فَجَاءَتْ إلَى رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَأَسْلَمَتْ، قَالَتْ عَائِشَةُ: فَكَانَ لَهَا خِبَاءٌ فِي الْمَسْجِدِ أَوْ خَفْشٌ فَكَانَتْ تَأْتِينِي فَتُحَدِّثُ عِنْدِي، قَالَتْ فَلَا تَجْلِسُ إلَّا قَالَتْ:

وَيَوْمَ الْوِشَاحِ مِنْ تَعَاجِيبِ رَبِّنَا … أَلَا إنَّهُ مِنْ دَارَةِ الْكُفْرِ نَجَانِي

قَالَتْ عَائِشَةُ: قُلْت لَهَا: مَا شَأْنُك لَا تَقْعُدِينَ إلَّا قُلْت هَذَا؟ فَحَدَّثَتْنِي بِهَذَا الْحَدِيثِ»

“Sesungguhhya seorang budak wanita hitam yang tadinya milik suatu kampung di Arab, kemudian mereka membebaskannya namun ia masih bersama mereka, ia berkata, “Seorang anak kecil perempuan anggota kaum tersebut keluar dengan mengenakan selendang merah dari kulit. Lalu selendang tersebut ditaruh atau jatuh yang kemudian disambar oleh seekor burung pemangsa karena dikira daging. Kemudian mereka mencarinya, tetapi mereka tidak menemukannya, mereka menuduhku (bekas budak tersebut) telah mencurinya, mereka menggeledahku, bahkan mereka menggeledah hingga pada kemaluan anak tersebut. Sungguh saya berdiri bersama mereka, tiba-tiba burung tersebut melintas di sana sambil melemparkan selendang tersebut, sehingga selendang tersebut jatuh di antara mereka. Saya berkata kepada mereka, “Inilah yang kalian tuduhkan kepadaku, kalian telah menuduhku padahal saya tidak bersalah sama sekali, ini dia selendangnya.” Aisyah Radhiyallahu Anha. berkata, “Kemudian wanita tersebut mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan masuk Islam. Ia mempunyai kemah di dalam masjid, ia biasa mendatangiku dan berbincang di sisiku. Ia tidak duduk, kecuali pasti mengucapkan syair,

Kejadian selendang itu adalah keajaiban Tuhan-ku

bukankah Dia telah menyelamatkanku dari negeri kekufuran

Saya berkata kepadanya, “Kenapa setiap duduk engkau pasti mengucapkan syair itu?” Kemudian wanita itu menceritakan kisah tersebut.”

Inilah yang diisyaratkan oleh Ibnu Hajar dengan kata Al-Hadits’.

Hadits ini menunjukkan diperbolehkannya bermalam atau tidur siang di dalam masjid, bagi kaum muslimin yang tidak memiliki rumah, baik laki-laki maupun wanita jika tidak terjadi fitnah, begitu pula diperbolehkan mendirikan kemah dan lain sebagainya.

0247

247 – وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «الْبُصَاقُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

247. Dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda, “Meludah di dalam masjid adalah suatu kesalahan dan hukumannya adalah menguburkannya.” (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 415, Muslim 552]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Meludah (ia disebut juga Al-Busaq dan Al-Buzaq, yaitu air yang keluar dari dalam mulut, sedangkan air yang masih berada di dalam mulut disebut ar-riq, demikianlah penjelasan Al-Qamus. Dalam hadits Al-Bukhari menggunakan lafazh al-Buzaq, sedangkan hadits Muslim menggunakan lafazh at-Tafal) di dalam masjid adalah suatu kesalahan dan hukumannya adalah menguburkannya.”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan bahwa meludah di dalam masjid adalah suatu kesalahan, dan menguburnya dapat menjadi penebus (kafarat)nya. Hadits ini bertentangan dengan hadits terdahulu, yakni, “Hendaklah ia meludah di sebelah kirinya, atau di bawah kakinya.” Secara zhahir, hadits ini menunjukkan baik meludah di dalam masjid maupun tidak. Imam An-Nawawi berkata, “Kedua hadits tersebut bersifat umum, akan tetapi keumuman hadits yang kedua ditakhshih jika meludah tidak di dalam masjid, maka masih ada keumuman kesalahan jika meludah di dalam masjid karena tidak adanya takhsish. Al-Qadhi Iyadh berkata, “Sesungguhnya meludah di masjid yang dianggap sebagai kesalahan hanyalah jika tidak menguburnya, namun jika menguburnya tidak dianggap sebagai kesalahan.”

Inilah pendapat yang dipegang oleh para imam hadits. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Ahmad dan Ath-Thabrani dengan isnad yang hasan, dari hadits Abu Umamah secara marfu’,

«مَنْ تَنَخَّعَ فِي الْمَسْجِدِ فَلَمْ يَدْفِنْهُ فَسَيِّئَةٌ فَإِنْ دَفَنَهُ فَحَسَنَةٌ»

“Barangsiapa meludah di dalam masjid kemudian tidak menguburnya maka dianggap sebagai kesalahan (kejelekan), dan jika ia menguburnya maka dianggap kebaikan.” [Hasan: Shahih Al Jami’ 2885]

Ia tidak menganggap meludah sebagai kesalahan, kecuali ditaqyid dengan tidak menguburkannya.

Dan hadits yang semisal, hadits Abu Dzar dalam riwayat Muslim secara marfu’,

«وَجَدْت فِي مُسَاوِي أُمَّتِي النُّخَامَةَ تَكُونُ فِي الْمَسْجِدِ لَا تُدْفَنُ»

“Dan kejelekan yang aku dapatkan pada umatku adalah meludah di dalam masjid dan tidak menguburnya.” [Muslim 553]

Beginilah pemahaman ulama salaf tentang masalah ini. Dalam kitab Sunan Said bin Manshur dari Abu Ubaidah bin Jarrah,

أَنَّهُ تَنَخَّمَ فِي الْمَسْجِدِ لَيْلَةً فَنَسِيَ أَنْ يَدْفِنَهَا حَتَّى رَجَعَ إلَى مَنْزِلِهِ فَأَخَذَ شُعْلَةً مِنْ نَارٍ ثُمَّ جَاءَ فَطَلَبَهَا حَتَّى دَفَنَهَا وَقَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ حَيْثُ لَمْ تُكْتَبْ عَلَيَّ خَطِيئَةٌ اللَّيْلَةَ

“Bahwa pada suatu malam ia meludah di dalam masjid, kemudian ia lupa menguburnya hingga pulang ke rumah. Maka ia menyalakan api (sebagai obor), lalu berangkat ke masjid mencari tempat ia telah meludah, kemudian ia menguburnya seraya berkata, “Alhamdulillah, kesalahanku belum tertulis pada malam ini.”

Hal ini menunjukkan, ia mengetahui bahwa meludah yang dianggap sebagai suatu kesalahan hanya khusus bagi orang yang meludah kemudian meninggalkan begitu saja tanpa menguburnya.

Telah kami jelaskan pada bab terdahulu tentang kompromi dari hadits-hadits seputar masalah ini. Yakni, dianggap sebagai kesalahan jika meludah ke arah kanan atau ke arah kiblat, namun tidak dianggap kesalahan jika meludah ke arah kiri atau di bawah kaki. Maka hadits ini ditakhsish dan ditaqyid dengannya.

Jumhur ulama mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan ‘menguburnya’ adalah menutupnya dengan tanah, pasir atau kerikil yang ada di dalam masjid. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘menguburnya’ adalah membuangnya ke luar masjid adalah pendapat yang tidak mungkin (pendapat yang salah).

0248

248 – وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ» أَخْرَجَهُ الْخَمْسَةُ إلَّا التِّرْمِذِيَّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ خُزَيْمَةَ

248. Dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi hingga manusia saling berbangga-bangga di dalam masjid.” (HR. Imam Lima kecuali At Tirmidzi, dishahihkan Ibnu Khuzaimah)

[Shahih: Abu Daud 449]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Kiamat tidak akan terjadi hingga manusia saling berbangga-bangga di dalam masjid (yakni dengan mengatakan, “Masjidku lebih bagus daripada masjidmu dalam kemegahan, hiasan dan lain sebagainya.”).”

Tafsif Hadits

Hadits ini merupakan salah satu tanda kenabian, dan ungkapan beliau, “Kiamat tidak akan terjadi”, bisa dipahami bahwa inilah di antara tanda-tanda kiamat. Berbangga-bangga dalam hadits ini bisa dengan perkataan sebagaimana yang telah Anda ketahui dan bisa juga dengan perbuatan, yakni dengan berlebih-lebihan dalam menghiasnya, meninggikan bangunannya dan lain sebagainya.

Hadits ini menunjukkan bahwa berbangga-bangga di dalam masjid hukumnya makruh, ia adalah sebagian dari tanda-tanda kedatangan kiamat, Allah tidak menyukai bermegah-megah dengan bangunan masjid atau menyemarakkan masjid, kecuali untuk ketaatan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *