[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 66

02.06. BAB MASJID 03

0242

242 – وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «إذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ، أَوْ يَبْتَاعُ فِي الْمَسْجِدِ فَقُولُوا لَهُ: لَا أَرْبَحَ اللَّهُ تِجَارَتَك» رَوَاهُ النَّسَائِيّ وَالتِّرْمِذِيُّ، وَحَسَّنَهُ.

242. Dari darinya juga –yaitu Abu Hurairah RA- bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian melihat seseorang menjual atau membeli di dalam masjid, maka katakan untuknya, “semoga Allah tidak membuat untung jual belimu.” (HR. An Nasa’i dan At Tirmidzi menghasankannya)

[Shahih: At Tirmidzi 1321]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil atas haramnya jual beli di dalam masjid dan orang yang menyaksikan transaksi tersebut hendaklah mengatakan dengan jelas, “Semoga Allah tidak membuat untung jual belimu”, baik kepada pembeli maupun penjualnya, sebagai peringatan untuk orang yang melakukannya. Adapun alasannya ialah sabda beliau, “Karena sesungguhnya masjid ini dibangun bukan untuk perkara itu.” Tetapi apakah jual belinya sah? Dalam masalah ini Al-Mawardi mengatakan, “Atas kesepakatan ulama, jual beli tersebut sah.”

0243

243 – وَعَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَا تُقَامُ الْحُدُودُ فِي الْمَسَاجِدِ، وَلَا يُسْتَقَادُ فِيهَا» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ.

243. Dari Hakim bin Hizam ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Hukuman had hendaklah tidak dilaksanakan di dalam masjid, dan demikian pula hukuman qishash hendaklah tidak dilaksanakan di dalamnya.” (HR. Ahmad dan Abu Daud dengan sanad dhaif)

[Hasan: Abu Daud 4490]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Hakim bin Hizam adalah seorang shahabat dari kalangan orang-orang Quraisy yang baik, di masa Jahiliyah maupun setelah Islam. Masuk Islam pada tahun penaklukan Mekah. Beliau hidup selama seratus dua puluh tahun, enam puluh tahun dalam Jahiliyah dan enam puluh tahun dalam Islam. Meninggal di Madinah pada tahun lima puluh empat H. memiliki empat putra semuanya termasuk shahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sal/am, yaitu Abdullah, Khalid, Yahya dan Hisyam.

Tafsir Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Hakim, Ibnu As-Sukni, Ahmad bin Hambal, Ad-Daraquthni dan Al-Baihaqi. Al-Mushannif menyebutkan di dalam At-Talkhis, “Sanadnya tidak masalah.”

Hadits ini merupakan dalil atas diharamkannya melaksanakan hukuman had dan qishas di dalam masjid.

0244

244 – وَعَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: «أُصِيبَ سَعْدٌ يَوْمَ الْخَنْدَقِ فَضَرَبَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – خَيْمَةً فِي الْمَسْجِدِ، لِيَعُودَهُ مِنْ قَرِيبٍ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

244. Dari Aisyah RA ia berkata, ‘Sa’ad terluka pada saat perang Khandaq, maka Rasulullah SAW mendirikan kemah di dalam masjid agar beliau mudah menjenguknya.” (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 463, Muslim 1765]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abu Amr Saad bin Muadz Al-Ausi. Masuk Islam di Madinah di antara baiat Aqabah pertama dan kedua, Bani Abdul Asyhali masuk Islam karena ia masuk Islam. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi gelar kepadanya sebagai penghulu Anshar. Ia adalah orang terkemuka, mulia dan ditaati di kalangan kaumnya. Termasuk shahabat utama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ikut serta dalam perang Uhud dan perang Badar. Pada perang Khandaq pelupuk matanya terluka dan lukanya tidak sembuh hingga akhirnya beliau wafat sebulan kemudian, pada bulan Dzul Qa’dah tahun kelima hijriyah.

Penjelasan Kalimat

“Sa’ad terluka pada saat perang Khandaq, maka Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam mendirikan (atau memasangnya) kemah di dalam masjid agar beliau mudah menjenguknya (yakni agar ia berada dekat kepada Rasululah Shallallahu Alaihi wa Sallam sehingga mudah untuk menjenguknya).”

Tafsir Hadits

Hadits ini menunjukkan diperbolehkannya tidur di dalam masjid, diperbolehkannya seseorang yang sedang sakit walaupun kondisinya terluka untuk tinggal di sana dan diperbolehkannya mendirikan kemah di dalamnya, walaupun harus mengganggu pelaksanaan shalat.

0245

245 – وَعَنْهَا قَالَتْ: «رَأَيْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَسْتُرُنِي، وَأَنَا أَنْظُرُ إلَى الْحَبَشَةِ يَلْعَبُونَ فِي الْمَسْجِدِ» – الْحَدِيثُ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

245. Dan dari beliau juga, ia berkata, “Saya melihat Rasulullah SAW menutupi saat saya melihat orang-orang Ethiopia sedang bermain di dalam masjid.” (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 988, Muslim 892]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsif Hadits

Hadits ini telah dijelaskan di dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari bahwa saat itu mereka bermain dengan tameng dan tombak, sedangkan di dalam satu riwayat Muslim disebutkan bahwa mereka saat itu bermain di dalam masjid dengan tombak. Hadits lain yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari menambahkan bahwa saat itu adalah hari raya, hal ini menunjukkan diperbolehkannya perbuatan seperti itu di dalam masjid pada hari-hari kegembiraan atau hari raya.

Ada yang mengatakan bahwa hal itu dinaskh (hukumnya dihapus) dengan dalil dari Al-Qur’an dan hadits, yaitu firman Allah Ta’ala,

{فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ}

“(Bertasbih) kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya..” (QS. An-Nuur: 36)

dan hadits, “Jauhkanlah masjid dari anak-anak, orang-orang gila, menghunus pedang, melaksanakan hukum had dan perseteruan, lalu ramaikanlah ia pada hari-hari Jumat dan bangunlah tempat-tempat bersuci di depan pintunya.” HR. Ibnu Adi, Atas-Thabrani dalam Al-Kabir dan Ibnu Asakir. [Dhaif: Ibnu Adi 5/219]

Seakan-akan orang itu berkata, “Perseteruan dan menghunus pedang dilarang di dalam masjid maka bermain dengan tombak lebih dilarang lagi.” Tentunya pendapat ini jauh dari permasalahan yang sedang kita bicarakan, karena hadits itu dhaif dan tidak menjelaskan permasalahan kita dengan jelas tidak pula ayat tersebut, di samping tidak ada yang bisa memastikan waktu keluarnya hadits ini sehingga bisa menetapkan hukum naskh terhadap hadits di atas.

Ada yang menyebutkan bahwa saat itu mereka, yakni orang-orang Ethiopia bermain di luar masjid sedangkan Aisyah Radhiyallahu Anha berada di dalam masjid. Cerita ini pun tidak benar, berdasarkan penjelasan dari riwayat-riwayat yang lain, yaitu bahwasanya Umar Radhiyallahu Anhu tidak menyukai perbuatan mereka itu di dalam masjid, maka Rasululah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepadanya, “Biarkanlah mereka” dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata kepada Umar,

«لِتَعْلَمَ الْيَهُودُ أَنَّ فِي دِينِنَا فُسْحَةً وَأَنِّي بُعِثْت بِحَنِيفِيَّةٍ سَمْحَةٍ»

“Biar orang-orang Yahudi mengetahui bahwa di dalam agama kita ada kelonggaran, dan bahwasannya aku diutus dengan ajaran yang lurus dan pemaaf.” [Shahih: Shahih Al Jami’ 3219]

Saat itu Umar berpegang kepada prinsip dasar bahwa masjid harus disucikan dan dimuliakan, kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa sikap berlebih-lebihan akan menghilangkan prinsip dasar agama ini, yaitu kemudahan dan keringanan.

Maka keterangan di atas membantah pendapat At-Thabari yang mengatakan, “Dalam masalah ini dibolehkan bagi para tentara hal-hal yang tidak dibolehkan untuk selain mereka.” Juga mematahkan pendapat yang mengatakan, “Sesungguhnya permainan dengan tombak bukanlah sekadar permainan, tetapi ia adalah latihan bagi para pemberani untuk maju ke medan perang dan merupakan persiapan untuk menghadapi musuh, maka dalam hal itu terdapat kemaslahatan untuk seluruh kaum muslimin dan diperlukan untuk menegakkan agama, maka ia diperbolehkan.”

Sedangkan dibolehkannya Aisyah Radhiyallahu Anha menonton mereka padahal ia adalah orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa seorang wanita boleh melihat kepada sekumpulan orang laki-laki lain tanpa memilah-milah, sebagaimana ia juga melihat mereka saat ia keluar untuk mengerjakan shalat atau saat bertemu di jalanan. Masalah ini akan dibahas tuntas pada babnya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *