[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 65

02.06. BAB MASJID 02

0238

238 – وَلَهُمَا مِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ «كَانُوا إذَا مَاتَ فِيهِمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا» وَفِيهِ: ” أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ ”

238. Dalam riwayat keduanya dari Aisyah RA, “Dahulu jika meninggal orang shalih di antara mereka, mereka membangun masjid di atas kuburannya.” Dalam riwayat itu juga disebutkan, “Mereka adalah seburuk-buruk makhluk.”

[Shahih: Al Bukhari 434, Muslim 529]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dahulu jika meninggal (yaitu orang-orang Nashrani) orang shalih di antara mereka, mereka membangun masjid di atas kuburannya (ungkapan ini berbeda saat beliau berbicara mengenai orang-orang Yahudi, ungkapannya seperti apa yang terdapat dalam hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, yaitu “Anbiyaa’ihim” nabi-nabi mereka)

Tafsir Hadits

Penjelasan yang lebih baik dalam masalah ini ialah bahwa nabi-nabi orang Yahudi juga merupakan nabi-nabi orang Nashrani, karena mereka diperintahkan untuk beriman kepada setiap rasul, dengan begitu semua nabi dari bangsa Israil merupakan nabi untuk orang-orang Yahudi dan Nashrani.

Lafazh “Ulaaika” (mereka) dalam hadits di atas adalah orang-orang Yahudi dan Nashrani, celaan di atas cukuplah sebagai penghinaan untuk mereka. Kemudian lafazh “Ittakhadifu” (membangun atau menjadikan) pada hadits tersebut maknanya luas, menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi melakukannya untuk pertama kali, artinya merekalah yang memulainya dan orang-orang Nashrani mengikuti mereka.

0239

239 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «بَعَثَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – خَيْلًا، فَجَاءَتْ بِرَجُلٍ، فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ مِنْ سِوَارِي الْمَسْجِدِ» . الْحَدِيثُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

239. Dari Abu Hurairah RA ia berkata, “Rasulullah SAW mengirim pasukan berkuda, lalu mereka kembali sambil membawa seorang tawanan, kemudian mereka mengikat tawanan tersebut pada salah satu tiang masjid.” (Muttafaq alaih)

[shahih: Al Bukhari 462 dan Muslim 1764]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Orang yang ditawan dalam kisah tersebut adalah Tsumamah bin Utsal. Hal ini disebutkan dengan jelas di dalam Shahih Al-Bukhari, Shahih Mus­lim dan kitab-kitab yang lainnya. Keputusan mengikat tawanan tersebut bukan atas perintah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, namun beliau menyetujui perlakuan tersebut karena terbukti beliau membiarkan perlakuan tersebut selama tiga hari dan suatu kali beliau pernah berkata kepada orang tersebut, “Bagaimana kabarmu, wahai Tsumamah?”

Ini merupakan dalil bahwa mengikat tawanan di dalam masjid hukumnya boleh, walaupun tawanan tersebut adalah orang kafir, sehingga hukum ini menjadi perkecualian atas hadits yang berbunyi, “Sesungguhnya masjid hanya untuk berzikir kepada Allah dan untuk melakukan ketaatan” [Muslim 285], dan Rasululah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menerima utusan dari Tsaqif di masjid. [Dhaif: Abu Daud 3026]

Al-Khathabi berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa orang musyrik diperbolehkan untuk memasuki masjid jika mereka mempunyai satu keperluan, seperti jika ia ingin menagih utang dari orang yang berada di dalam masjid dan tidak mau keluar menemuinya, atau jika ia ingin mendapatkan suatu keputusan dari seorang hakim yang berada di dalam masjid. Dahulu orang-orang kafir memasuki masjid Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mereka duduk untuk waktu yang lama di sana, kemudian Abu Dawud telah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu,

«أَنَّ الْيَهُودَ أَتَوْا النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ»

“Sesungguhnya orang-orang Yahudi mendatangi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam saat beliau berada di dalam masjid.” [Dhaif: Abu Daud 488]

Sedangkan ayat Al-Qur’an,

{فَلا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ}

“..maka janganlah mereka mendekati Masjidil haram.” (QS. At-Taubah: 28) maksudnya ialah jangan membiarkan mereka menunaikan ibadah haji dan umrah. Hal ini senada dengan kisah yang memicu pengutusan nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam ke Madinah dengan membawa ayat Bara’ah.

Juga hadits yang berbunyi,

«فَلَا يَحُجَّنَّ بَعْدَ هَذَا الْعَامِ مُشْرِكٌ»

“Hendaklah tidak ada seorang musyrik pun menunaikan ibadah setelah tahun ini.”[HR. Al Bukhari 369 dan Muslim 1347].

Demikian pula firman Allah Ta’ala,

{مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلا خَائِفِينَ}

“..mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah)” (QS. Al-Baqarah: 114) ayat ini tidak bisa digunakan sebagai dalil bahwa orang-orang musyrik tidak boleh memasuki masjid. Karena ayat ini turun membicarakan orang-orang yang menguasainya, yang mana mereka memegang kendali hukum dan larangan, sebagaimana yang tersirat di dalam sebab turunnya ayat ini. Ayat ini turun membicarakan orang-orang Nashrani yang menguasai Baitul Maqdis, yang disertai dengan membuang sampah serta kotoran di dalamnya. Begitu pula bahwa ayat itu turun dikarenakan orang-orang Quraisy yang menghalangi Rasululah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang hendak menunaikan ibadah umrah yang akhirnya memicu terjadinya perjanjian Al-Hudaibiyah.

Akan halnya jika mereka memasukinya bukan untuk menguasainya, atau bukan pula untuk melarang orang darinya, atau untuk menakuti orang lain maka ayat di atas tidak berlaku pada mereka, dalam hal ini kelihatannya sang penulis membawa permasalahan ini ke arah bolehnya orang-orang musyrik memasuki suatu masjid selain Masjidil Haram, dan inilah pendapat gurunya.

0240

240 – وَعَنْهُ «أَنَّ عُمَرَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – مَرَّ بِحَسَّانَ يُنْشِدُ فِي الْمَسْجِدِ، فَلَحَظَ إلَيْهِ، فَقَالَ: قَدْ كُنْت أُنْشِدُ فِيهِ، وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْك.» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

240. Dari beliau juga –yaitu Abu Hurairah RA- bahwasanya Umar RA melewati Hassan yang sedang bersenandung di dalam masjid, lalu ia melihat ke arahnya, maka Hassan berkata, “Aku pernah bersenandung di dalam masjid dan di situ ada orang yang lebih mulia darimu.” (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 3212 dan Muslim 2485]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Hassan bin Tsabit adalah penyair Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia bergelar dengan Abu Abdurrahman. Ibnu Abdul Barr menjelaskan biografinya dengan lengkap di dalam Al-Isti’ab, beliau menjelaskan, “Hassan meninggal sebelum tahun empat puluh Hijriyah pada masa Ali Radhiyallahu Anhu. Akan tetapi, ada yang mengatakan bahwa beliau meninggal pada tahun lima puluh Hijriyah dalam usia seratus dua puluh tahun.

Penjelasan Kalimat

“Yang sedang bersenandung di dalam masjid, lalu ia melihat ke arahnya (Umar Radhiyallahu Anhu memandang kepadanya, Hassan pun memahami bahwa Umar tidak menyukai perilaku tersebut) Maka Hassan berkata, “Aku pernah bersenandung di dalam masjid dan di situ ada orang yang lebih mulia darimu” (yakni Rasululah Shallallahu Alaihi wa Sallam).”

Tafsir Hadits

Al-Bukhari telah menyebutkan kisah ini di dalam Bab Bid’u Al-Khalqi -Permulaan Penciptaan-, yang menjelaskan bahwa saat itu Hassan Radhiyallahu Anhu bersenandung mewakili Rasululah Shallallahu Aiaihi wa Sallam menjawab ucapan orang-orang musyrik, dengan begitu hadits ini merupakan dalil diperbolehkannya bersenandung dengan syair di dalam masjid.

Namum hadits ini ditentang oleh banyak hadits, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan dishahihkan oleh At-Tirmidzi dari Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata,

«نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ تَنَاشُدِ الْأَشْعَارِ فِي الْمَسْجِدِ»

“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang bersenandung syair di dalam masjid.” [Shahih: At Tirmidzi 322]

Hadits ini didukung oleh banyak hadits.

Penggabungan dua hadits ini menghasilkan kesimpulan bahwa yang dilarang adalah senandung syair-syair Jahihyah dan syair-syair kebatilan, dan syair-syair yang tidak memiliki tujuan kebaikan, tentunya syair yang dibolehkan ialah syair-syair yang bebas dari cacat-cacat di atas. Ada yang mengatakan bahwa syair yang diperbolehkan ialah syair-syair yang tidak mengganggu orang-orang yang berada di dalam masjid.

0241

241 – وَعَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَنْ سَمِعَ رَجُلًا يَنْشُدُ ضَالَّةً فِي الْمَسْجِدِ فَلْيَقُلْ: لَا رَدَّهَا اللَّهُ عَلَيْك، فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

241. Dan darinya juga –yaitu Abu Hurairah RA-, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mendengar seseorang menanyakan hewan piaraannya yang hilang di dalam masjid maka hendaklah ia mengatakan kepadanya, ‘semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu, karena sesungguhnya masjid ini dibangun bukan untuk perkara itu.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 568]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Barangsiapa mendengarkan seseorang menanyakan piaraannya di dalam masjid maka hendaklah ia mengatakan kepadanya, “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengembalikannya kepadamu (sebagai hukuman baginya karena ia telah melakukan sesuatu yang tidak layak untuk dilakukan di dalam masjid. Zhahir hadits ini mengisyaratkan bahwa ucapan itu hukumnya wajib dan hendaklah diucapkan dengan terang-terangan) karena sesungguhnya masjid ini dibangun bukan untuk perkara itu (akan tetapi ia dibangun untuk berdzikir kepada Allah, mendirikan shalat, menyebarkan ilmu, dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan hal-hal serupa itu).”

Tafsir Hadits

Hadits ini merupakan dalil haramnya menanyakan hewan yang hilang di masjid. Kemudian seandainya yang hilang tersebut bukan hewan atau seandainya hewan tersebut perginya ke arah masjid, apakah menanyakannya di masjid juga dilarang? Ada yang mengatakan bahwa hal tersebut juga dilarang atas dasar alasan yang disebutkan di dalam hadits di atas “Karena sesungguhnya masjid ini dibangun bukan untuk perkara itu.” Oleh karena itu, jika seseorang kehilangan sesuatu di masjid atau dimana pun hendaklah ia duduk di depan pintu masjid lalu bertanya kepada orang-orang, baik yang keluar maupun yang masuk, tentang barangnya tersebut.

Ada perbedaan pendapat dalam masalah mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak di dalam masjid, mereka yang melarangnya berargumen dengan hadits Watsilah yang melarang mengangkat suara di dalam masjid,

«جَنِّبُوا مَسَاجِدَكُمْ مَجَانِينَكُمْ وَصِبْيَانَكُمْ وَرَفْعَ أَصْوَاتِكُمْ»

“Jauhkanlah orang-orang gila, anak-anak dan mengangkat suara di dalam masjid” HR. Abdurrazaq dan Atas-Thabrani dalam Al-Kabir dan Ibnu Majah. [Dhaif: Ibnu Majah 757]

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *