[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 64

02.06. BAB MASJID 01
ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Lafadz ‘masjid’ bisa juga dibaca masjad, dengan sedikit perbedaan makna. Masjid adalah tempat yang dikhususkan (untuk menunaikan shalat), sedangkan masjad adalah tempat jatuhnya kening saat bersujud. Banyak hadits yang menjelaskan keutamaan masjid. Masjid ialah tempat yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, barangsiapa membangun satu masjid untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan harta yang halal, maka Allah akan membangun untuknya satu rumah di surga. Hadits-hadits yang berkenaan dengan bab ini disebutkan di dalam kitab ‘Majma’ Az-zawa”id’ dan beberapa kitab yang lainnya.

0236

236 – عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بِبِنَاءِ الْمَسَاجِدِ فِي الدُّورِ، وَأَنْ تُنَظَّفَ وَتُطَيَّبَ» . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُد وَالتِّرْمِذِيُّ، وَصَحَّحَ إرْسَالَهُ

236. Dari Aisyah RA ia berkata, “Rasulullah SAW memerintahkan agar masjid-masjid dibangun di lingkungan tempat tinggal, agar ia selalu dibersihkan dan diberi wewangian.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan At Tirmidzi, ia menyatakan shahih mursal)

[Shahih: Abu Daud 455]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Dari Aisyah Radhiyallahu Anha ia berkata, “Rasululah Shallalahu Alaihi wa Sallam memerintahkan agar masjid-masjid dibangun di lingkungan tempat tinggal (bisa jadi yang dimaksud duur di sini ialah rumah-rumah yakni tempat-tempat tinggal, berdasarkan bahwa ia disebut juga ad-daar-bentuk tungggal dari duur-. Sedangkan di dalam al-Qamus dijelaskan bahwa makna kata al-daar ialah tempat yang menampung bangunan, pekarangan, negara, kota Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, tempat dan kabilah. Atau bisa juga yang dimaksud dengan kata duur ialah tempat yang di dalamnya dibangun rumah-rumah) agar ia selalu dibersihkan (dari kotoran) dan diberi wewangian”

Tafsif Hadits

Wewangian yang dimaksud bisa berupa pengasapan dengan buhur, yaitu kayu tertentu yang jika dibakar akan mengeluarkan aroma wangi atau dengan yang lainnya. Perintah membangun di sini hukumnya mandub berdasarkan sabda beliau,

«أَيْنَمَا أَدْرَكَتْك الصَّلَاةُ فَصَلِّ»

“Dimanapun engkau menemui waktu shalat maka shalatlah.” HR. Muslim dan juga dari perawi selain beliau dengan riwayat serupa itu.

Dan jika yang dimaksud dengan kata duur ialah rumah-rumah dan tempat-tempat tinggal, maka hadits ini menjelaskan bahwa di antara syarat masjid ialah agar ia diniatkan untuk dipakai oleh siapa pun atau dibangun karena Allah. Karena tempat yang telah dibangun menjadi satu masjid dalam artian khusus, maka tempat-tempat tersebut keluar dari kepemilikan seseorang.

Dalam Syarh As-Sunnah dijelaskan bahwa maksud dari kata duur ialah kawasan tempat tinggal, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

{سَأُرِيكُمْ دَارَ الْفَاسِقِينَ}

“‘..nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik.” (QS. Al-A’raf: 145) karena orang-orang dahulu menyebut kawasan tempat berkumpulnya satu kabilah dengan kata daar. Sufyan berkata, “Maksud membangun masjid di dalam duur ialah membangunnya masjid di dalam beberapa kabilah.”

0237

237 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَزَادَ مُسْلِمٌ ” وَالنَّصَارَى ”

237. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Semoga Allah menghancurkan orang-orang Yahudi, mereka telah menjadikan makam-makam para nabi mereka sebagai masjid.” (Muttafaq alaih, Muslim menambahkan, “Juga orang-orang Nashrani)

[Shahih: Al Bukhari 437 dan Muslim 530]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Semoga Allah menghancurkan orang-orang Yahudi (maksudnya melaknat, sebagaimana yang disebutkan dalam satu riwayat. Dan ada yang menyebutkan bahwa maksudnya ialah membunuh dan memusnahkan mereka) mereka menjadikan makam-makam para nabi mereka sebagai masjtd.”

Tafsir Hadits

Dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Muslim menyebutkan bahwasanya Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Ummu Habibah dan Ummu Salamah menceritakan tentang sebuah gereja yang mereka lihat di Etiopia, yang di dalamnya terdapat gambar-gambar, beliau bersabda,

إنَّ أُولَئِكَ إذَا كَانَ فِيهِمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ، بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وَصَوَّرُوا تِلْكَ التَّصَاوِيرَ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya jika ada orang shalih di antara mereka meninggal mereka membangun masjid di atas makamnya, lalu mereka membuat gambar-gambar tersebut, mereka adalah makhluk paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat.” [Shahih: Muslim 528]

Makna membangun masjid di atasnya lebih luas dari pada hanya sekedar mengerjakan shalat ke arahnya, atau mengerjakan shalat di atasnya. Dalam riwayat Muslim disebutkan,

«لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إلَيْهَا وَلَا عَلَيْهَا»

“Janganlah kalian duduk di atas makam, dan janganlah kalian mengerjakan shalat ke arahnya atau di atasnya.”

Al-Baidhawi berkata, “Ketika orang-orang Yahudi dan Nashrani bersujud untuk makam para nabi mereka sebagai bentuk penghormatan, menjadikannya sebagai kiblat arah shalat dan menjadikannya sebagai patung-patung, Allah melaknat mereka dan melarang kaum muslimin mengikuti jejak mereka.” Ia berkata, “Sedangkan orang-orang yang membangun masjid di sisi makam orang shalih, dengan harapan mendapatkan berkah dengan berada dekat dengan mereka, bukan dalam rangka mengagungkan mereka tidak juga untuk berharap kepada mereka maka hal itu tidak termasuk dalam larangan di atas.”

Komentar saya atas perkataan ini, “Dalam ungkapan di atas disebutkan, ‘bukan dalam rangka mengagungkan mereka’, maka sesungguhnya membangun masjid di dekat makam mereka dan mengharap berkah dari mereka adalah salah satu bentuk pengagungan. Kemudian jelas bahwa hadits-hadits yang melarang bersifat umum tidak pandang bulu akan tujuannya, maka alasan di atas tidak bisa menjadi argumen untuk membolehkan membangun masjid di dekat makam orang shalih. Yang terlihat dari dasar larangan tersebut adalah adanya saddu dzari’ah, menjauhi sikap menyerupai para penyembah patung yang mengagungkan benda mati, yang sebenarnya tidak bisa memberikan manfaat, tidak bisa mendengar, dan tidak pula bisa mencelakakan. Ditambah lagi bahwa mengeluarkan harta kekayaan untuk hal itu hanyalah perbuatan sia-sia dan menghambur-hamburkan harta yang tidak bermanfaat sama sekali. Itulah yang menjadi motif diberikannya penerangan. Yang jelas, bahwa orang yang melakukannya terlaknat. Kerusakan yang ditimbulkan oleh pembangunan di atas makam dari berbagai bentuk monumen atau kubah-kubah sungguh tidak terhitung lagi. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu bahwasanya ia berkata,

«لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – زَائِرَاتِ الْقُبُورِ وَالْمُتَّخِذِينَ عَلَيْهَا الْمَسَاجِدَ وَالسُّرُجَ»

“Rasululah Shallallahu Alaihi wa Sallam melaknat perempuan-perempuan yang menziarahi makam, orang-orang yang membangun masjid di atasnya, dan menyalakan penerangan -pelita- di atasnya.” [Dhaif: At Tirmidzi 320]

Hal ini telah kami bahas tuntas di dalam makalah kami yang kami beri nama Tathhir Al-l’tiqad An Adrani Al-Ilhad.

Dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu di atas, Muslim menambahkan lafazh ‘wa an-nashaaraa’ (dan orang-orang Nashrani) setelah lafazh ‘al-Yahuud’ (orang-orang Yahudi). Hal ini kadang membingungkan, karena orang Nashrani tidak memiliki nabi, kecuali Nabi Isa Alaihissalam berdasarkan fakta bahwa antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak ada nabi lain, sementara itu Nabi Isa masih hidup di langit.

Penjelasan saya atas hal ini bahwa di kalangan mereka terdapat nabi-nabi bukan rasul, seperti Al-Hawariyun dan Maryam berdasarkan satu pendapat, atau bisa juga lafazh Anbiyaa’ihim’ (nabi-nabi mereka) dalam hadits tersebut maksudnya gabungan para nabi dari kalangan Yahudi dan Nashrani, bisa juga maksudnya ialah para nabi dan para pengikut utama mereka akan tetapi kemudian disebutkan para nabi saja tanpa menyebutkan para pembesar pengikutnya secara terperinci. Hal ini didukung oleh satu riwayat dari Muslim, “Dahulu mereka menjadikan makam para nabi dan orang-orang shalih dari kalangan mereka sebagai masjid.”

Oleh karena itu, jika dalam satu hadits hanya disebutkan orang-orang Nashrani maka lafazh haditsnya akan menjadi sebagai berikut ini.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *