[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 63

02.05. BAB ANJURAN BERSIKAP KHUSYU DALAM SHALAT 04

0233

233 – وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إلَى السَّمَاءِ فِي الصَّلَاةِ أَوْ لَا تَرْجِعُ إلَيْهِمْ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

233. Dari Jabir bin Samurah, Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah berhenti (dari perbuatannya) orang-orang yang menaikkan pandangannya ke langit di dalam shalat, atau pandangannya tidak akan kembali kepadanya.” (HR. Muslim)

[Shahih: Muslim 428]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Hendaklah berhenti (dari perbuatannya) orang-orang yang menaikkan pandangannya ke langit di dalam shalat (atau orang tersebut memandang ke atas walaupun bukan ke langit) atau pandangannya tidak akan kembali kepadanya.”

Tafsir Hadits

Dalam Syarh Muslim, An-Nawawi menjelaskan, “Dalam hadits tersebut terdapat larangan yang tegas dan peringatan yang keras dalam masalah tersebut, kemudian telah diriwayatkan ijma’ ulama dalam hal itu, dan larangan ini pada dasarnya bermakna haram.”

Ibnu Hazm berkata, “Perbuatan itu membatalkan shalat.” Al-Qadhi ‘Iyadh berkata, “Kemudian para ulama berbeda pendapat dalam mengangkat pandangan pada saat berdoa di luar shalat, sebagian ulama mengatakan bahwa hal itu makruh, sedangkan kebanyakan ulama membolehkannya.”

0234

234 – وَلَهُ عَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ: «لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ طَعَامٍ وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ»

234. Dalam riwayatnya juga, dari Aisyah RA, ‘Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada shalat saat makanan telah siap dan tidak juga bagi orang yang menahan dua hal busuk.”

[shahih: Muslim 560]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Tidak ada shalat saat makanan telah siap (hal ini telah dijelaskan dalam pembahasan terdahulu, namun hadits ini mengisyaratkan bahwa tidak boleh didirikan shalat pada tempat yang telah dihidangkan makanan padanya. Hal ini berlaku secara umum, baik untuk shalat wajib maupun untuk shalat sunnah, baik orang itu sedang lapar atau tidak, namun hadits terdahulu lebih khusus daripada hadits ini) dan tidak juga bagi orang yang menahan dua hal busuk (yaitu hajat besar maupun hajat kecil, kemudian buang angin atau kentut dimasukkan dalam bab ini juga).”

Tafsif Hadits

Hal ini berlaku jika orang tersebut harus menahan tiga hal tersebut. Jika orang itu merasakan ketidaknyamanan dari ketiga hal tersebut namun ia tidak perlu menahannya, ia boleh meneruskan shalatnya. Sedangkan apabila ia harus menahannya, shalatnya menjadi makruh.

Ada yang berkata bahwa yang dimaksud dalam hadits ini hanya sekadar anjuran, karena hal itu akan mengurangi kekhusyu’an. Sehingga apabila ia takut kehabisan waktu shalat jika harus mendahulukan hajat besar, hajat kecil, maupun kentut, ia boleh mendahulukan shalatnya dan shalatnya benar walaupun makruh. Demikianlah penjelasan An-Nawawi. Namun, mengulangi shalat dalam keadaan tersebut hukumnya disunnahkan. Sedangkan menurut Ad-Dzahiriyah, shalat orang tersebut batal.

0235

235 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «التَّثَاؤُبُ مِنْ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَكْظِمْ مَا اسْتَطَاعَ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَالتِّرْمِذِيُّ، وَزَادَ: ” فِي الصَّلَاةِ

235. Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Menguap adalah dari setan, maka jika salah seorang dari kalian menguap hendaklah ia menahan semampunya.” (HR. Muslim dan At Tirmidzi, ia menambahkan, ‘Di dalam shalat.’)

[Shahih: Muslim 2994, At Tirmidzi 370]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Menguap adalah dari setan (karena ia bermula dari rasa kenyang dan rasa malas, dan kedua hal tersebut sangat disukai oleh setan, maka diibaratkan bahwa menguap adalah dari setan) maka jika salah seorang dari kalian menguap hendaklah ia menahan semampunya, kemudian ia tambahkan, “Di dalam shalat (sehingga berdasarkan tambahan ini perintah untuk menahan ini hanya dalam shalat saja, namun hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa perintah tersebut bersifat umum, baik di dalam shalat maupun tidak, karena kedua riwayat tersebut mempunyai hukum yang sama).”

Tafsir Hadits

Tambahan juga terdapat di dalam Shahih Al-Bukhari’, yang ditambahkan, “Dan hendaklah ia tidak berbunyi, ‘haa’ (mengeluarkan suara saat menguap-Peny.) karena hal itu berasal dari setan, yang ia tertawa karenanya.” [Al Bukhari 3289]

Dan semua ini akan menghilangkan kekhusyu’an. Dan hendaklah orang tersebut meletakkan tangan pada mulutnya, berdasarkan hadits berikut,

«إذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَضَعْ يَدَهُ عَلَى فِيهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مَعَ التَّثَاؤُبِ»

“Jika salah seorang dari kalian sedang menguap maka hendaklah ia meletakkan tangannya pada mulutnya karena setan masuk saat orang menguap.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bukhari, Muslim dan yang lainnya.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *