[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 61

02.05. BAB ANJURAN BERSIKAP KHUSYU DALAM SHALAT 02

0227

227 – وَعَنْ أَبِي ذَرٍّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «إذَا قَامَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَلَا يَمْسَحْ الْحَصَى، فَإِنَّ الرَّحْمَةَ تُوَاجِهُهُ» ، رَوَاهُ الْخَمْسَةُ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ، وَزَادَ أَحْمَدُ ” وَاحِدَةً أَوْ دَعْ ”

227. Dari Abu Dzar RA, Rasulullah SAW bersabda, “jika salah seorang dari kalian mendirikan shalat maka hendaklah ia tidak mengusap kerikil, karena rahmat terdapat di hadapannya. (HR. Imam Lima dengan sanad shahih) kemudian Ahmad menambahkan, “Satu saja atau biarkan saja.”

[Dhaif: Abu Daud 945]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Jika salah seorang dari kalian mendirikan shalat maka hendaklah ia tidak mengusap kerikil (dari wajahnya atau dari tempat sujudnya) karena rahmat terdapat di hadapannya.” Kemudian Ahmad menambahkan dalam riwayatnya, “Satu saja atau biarkan saja?’ (Dalam riwayat ini ada keragu-raguan, karena bisa dipahami bahwa Ahmad menambahkan satu tambahan atas riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Hajar, dengan begitu makna tambahan tersebut ialah, “Maka hendaklah ia tidak mengusap walaupun hanya satu atau biarkan saja.” Namun makna ini bukan yang ia maksud).

Tafsif Hadits

Lafazh hadits tersebut dalam riwayat Ahmad dari Abu Dzar,

«سَأَلْت النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى سَأَلْته عَنْ مَسْحِ الْحَصَاةِ، فَقَالَ وَاحِدَةً أَوْ دَعْ»

“Saya bertanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang segala sesuatu, bahkan hingga hukum mengusap kerikil, maka beliau bersabda, “Satu saja atau biarkanlah.”

Yakni, usaplah satu kali saja atau biarkanlah. Dengan demikian kelihatan bahwa ringkasan yang disebutkan oleh Ibnu Hajar menyebabkan kerancuan makna, seakan-akan beliau menggantungkan pemahaman pembaca hanya lafazh yang beliau sebutkan saja. Seandainya beliau menjelaskan, “Dan dalam riwayat Ahmad Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengizinkan untuk mengusap sekali saja” tentulah hal itu akan lebih baik.

Hadits ini menunjukkan bahwa mengusap kerikil setelah memulai shalat tidak diperbolehkan, sedangkan sebelumnya diperbolehkan bahkan sebaiknya ia usap dahulu sebelum memulai shalat agar konsentrasinya tidak terganggu saat ia mengerjakan shalat, kemudian penyebutan kerikil atau debu hanyalah mengisyaratkan bahwa keduanya adalah benda yang paling sering ditemui, sehingga ungkapan ini tidak menutup kemungkinan adanya benda lain.

Ada yang berkata bahwa illah dari larangan ini ialah untuk menjaga kekhusyu’an, sebagaimana yang diisyaratkan oleh ungkapan Ibnu Hajar dalam bab ini, atau bisa juga untuk menjaga agar tidak terlalu banyak bergerak di dalam shalat.

Kemudian syariat juga telah menyebutkan illahnya yaitu, “karena rahmat terdapat di hadapannya.” Maka hendaklah orang tersebut tidak menghilangkan apa yang menempel pada wajahnya atau apa yang terdapat pada tempat sujudnya kecuali jika hal tersebut menyakitkannya.

Dan larangan ini, zhahirnya menunjukkan kepada makna haram.

0228

228 – وَفِي الصَّحِيحِ عَنْ مُعَيْقِيبٍ نَحْوُهُ بِغَيْرِ تَعْلِيلٍ.

228. Dalam Ash shahih dari Mu’aqib disebutkan hadits serupa, namun tanpa menjelaskan illah-nya.

[Shahih: Al Bukhari 1207 dan Muslim 546]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Mu’aiqib adalah Mu’aiqib bin Abu Fathimah Ad-Dausi. Beliau ikut serta dalam perang Badar. Masuk Islam di Makkah pada masa-masa awal. Ikut dalam hijrah ke Habasyah kedua dan berdiam di sana hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Beliau dipercaya menjaga stempel Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, pada masa Abu Bakar dan pada masa Umar beliau dipercaya menjaga Baitul Mal. Beliau wafat pada tahun 40 H. Namun ada yang mengatakan bahwa beliau wafat pada akhir kekhalifahan Utsman.

Tafsir Hadits

Beliau meriwayatkan hadits serupa dengan hadits Abu Dzar, yang lafazhnya,

«لَا تَمْسَحُ الْحَصَى وَأَنْتَ تُصَلِّي فَإِنْ كُنْت لَا بُدَّ فَاعِلًا فَوَاحِدَةً لِتَسْوِيَةِ الْحَصَى»

“Janganlah engkau mengusap kerikil saat engkau sedang mendirikan shalat, jika terpaksa harus melakukannya maka cukup sekali saja untuk meratakan kerikil.”

Hadits ini tidak menyebutkan alasan larangan tersebut yaitu, “karena rahmat berada di hadapannya.”

0229

229 – وَعَنْ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – قَالَتْ: «سَأَلْت رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنْ الِالْتِفَاتِ فِي الصَّلَاةِ؟ فَقَالَ: هُوَ اخْتِلَاسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلَاةِ الْعَبْدِ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ، وَلِلتِّرْمِذِيِّ – وَصَحَّحَهُ – «إيَّاكِ وَالِالْتِفَاتَ فِي الصَّلَاةِ، فَإِنَّهُ هَلَكَةٌ، فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ فَفِي التَّطَوُّعِ»

229. Dari Aisyah RA ia berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah SAW tentang menoleh di dalam shalat, maka beliau bersabda, “Perbuatan itu adalah pencurian yang dilakukan setan dari shalat seorang hamba.” (HR. Al Bukhari)

[Shahih: Al Bukhari 571]

Dalam riwayat At Tirmidzi yang ia shahihkan disebutkan, “Hindarilah olehmu menoleh di dalam shalat, karena menoleh di dalam shalat adalah kehancuran, jika terpaksa harus menoleh maka cukuplah dalam shalat sunnah saja.”

[Dhaif: At Tirmidzi 589]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsit Hadits

At-Thibi berkata, “Hal tersebut disebut pencopetan (pencurian), karena saat mendirikan shalat seorang hamba sedang menghadap kepada Tuhan-nya, selama itu setan selalu mengincar saat hamba lengah, dan ketika hamba tersebut menoleh, setan segera mengambilnya.

Hadits ini menunjukkan bahwa perbuatan tersebut dibenci. Jumhur ulama berpendapat bahwa selama perbuatan tersebut tidak menyebabkannya berpaling dari kiblat baik dengan dadanya atau seluruh lehernya ia tidak membatalkan shalat.

Alasan makruhnya perbuatan ini ialah karena akan mengurangi kekhusyu’an. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh Ibnu Hajar yang telah memasukkan hadits ini dalam bab khusyu’ ini atau mungkin karena hal itu akan menyebabkannya berpaling dari arah kiblat dengan sebagian anggota badannya, atau karena ia akan memalingkannya dari menghadap kepada Allah.

Sebagaimana diisyaratkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Dzar berikut,

«لَا يَزَالُ اللَّهُ مُقْبِلًا عَلَى الْعَبْدِ فِي صَلَاتِهِ مَا لَمْ يَلْتَفِتْ، فَإِذَا صَرَفَ وَجْهَهُ انْصَرَفَ»

“Allah senantiasa menghadap ke arah hamba-Nya selama hamba tersebut tidak menoleh, jika hamba tersebut menoleh maka Allah akan menoleh darinya.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i) [Dhaif: Abu Daud 909]

Ada yang mengatakan bahwa larangan ini berlaku jika menoleh tersebut tanpa alasan, karena telah diriwayatkan bahwa Abu Bakar Radhiyallahu Anhu menoleh saat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba sedangkan ia sedang menunaikan shalat Zhuhur, dan orang-orang menoleh saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam muncul pada waktu beliau sedang menderita sakit sebelum beliau wafat, yang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan isyarat kepada mereka. Seandainya mereka tidak menoleh, mereka tidak akan mengetahui kedatangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan tidak akan memahami isyarat beliau, yang kemudian beliau mendiamkan perbuatan mereka tersebut.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *