[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 60

02.05. BAB ANJURAN BERSIKAP KHUSYU DALAM SHALAT 01
ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Dalam Al-Qamus dijelaskan bahwa arti khusyu’ ialah khudhu (tunduk), atau hampir seperti itu, karena kata tunduk berkenaan dengan perbuatan badan, sedangkan kata khusyu’ berkenaan dengan suara, pandangan, ketenangan dan perasaan rendah.

Dalam As-Syarh dijelaskan bahwa khudhu’ (tunduk) kadang berasal dari dalam hati dan kadang berasal dari badan, seperti tunduk dalam ketenangan. Al-Fakhrur Razi mengatakan bahwa keduanya harus diperhatikan, demikian disebutkan di dalam tafsirnya.

Di antara ungkapan yang menunjukkan bahwa khusyu’ berasal di dalam hati ialah hadits Ali Radhiyallahu Anhu,

«الْخُشُوعُ فِي الْقَلْبِ»

“Kekhusyu’an adalah di dalam hati.” HR. Al-Hakim.

Menurut saya, di antara hal yang mendukung pendapat itu ialah hadits yang berbunyi,

«لَوْ خَشَعَ قَلْبُ هَذَا لَخَشَعَتْ جَوَارِحُهُ»

“Jika hati orang ini khusyu’ pastilah anggota badannya akan khusyu’ (tenang) pula.”[Dhaif: Dhaif Al Jami 4821]

Juga disebutkan di dalam doa memohon perlindungan,

«وَأَعُوذُ بِك مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ»

“Saya berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’.” [Al Bukhari 1220, Muslim 545]

Kemudian para ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya di dalam shalat, namun jumhur ulama mengatakan bahwa ia tidak wajib. Al-Ghazali telah menjelaskannya dengan panjang lebar di dalam Ihya’ Ulumuddin dan menyebutkan dalil-dalil yang mewajibkannya. Kemudian An-Nawawi mengklaim para ulama telah berijma’ bahwa ia tidak wajib.

0224

224 – عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: «نَهَى رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ يُصَلِّيَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ، وَمَعْنَاهُ: أَنْ يَجْعَلَ يَدَهُ عَلَى خَاصِرَتِهِ

224. Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW melarang orang laki-laki mengerjakan shalat dengan berkacak pinggang.” (Muttafaq alaih dan ini lafazh Muslim), artinya yaitu seseorang meletakkan tangannya pada pinggangnya.

[Shahih: Al Bukhari 1220 dan Muslim 545]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam (ungkapan ini adalah ungkapan berita dari Abu Hurairah, dan beliau tidak menyebutkan ucapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam saat itu, namun hukumnya tetap marfu’) melarang orang laki-laki mengerjakan shalat dengan berkacak pinggang (demikian pula halnya dengan wanita).”

Tafsir Hadits

Ibnu Hajar menjelaskan maksud hadits ini, yakni seseorang meletakkan tangan pada pinggangnya, baik tangan tersebut tangan kanan maupun tangan kiri, atau bahkan kedua-duanya. Akan tetapi penjelasan ini bertentangan dengan apa yang disebutkan di dalam Al-Qamus mengenai hadits, “Al-Mukhashirun (Orang-orang yang mendirikan shalat malam), pada wajah-wajah mereka terdapat cahaya.” Al-Mukhashirun artinya, orang-orang yang mendirikan shalat malam, jika mereka merasa lelah mereka meletakkan tangan pada pinggang mereka. –

Namun saya tidak mendapati takhrij hadits ini, seandainya hadits tersebut shahih, maka jalan untuk mengkompromikan kedua hadits tersebut ialah sebagai berikut, yaitu meletakkan tangan pada pinggang tersebut dilarang jika tidak didorong oleh rasa lelah, sebagaimana yang terdapat dalam tafsir hadits tersebut. Hanya saja tafsir ini bertentangan dalam penjelasan An-Nihayah, yaitu bahwa yang dimaksud dalam hadits kedua ini ialah mereka itu ialah orang-orang yang telah beramal shalih, dan mereka bersandarkan kepada amal shalih tersebut. Disebutkan dalam Al-Qamus, kata Al-Khashirah, artinya As-Syakilah (pinggang atau pinggul).

Makna yang telah disebutkan oleh Ibnu Hajar adalah makna yang banyak dipakai oleh banyak orang. Ada juga orang yang mengatakan bahwa arti Al-Khashirah ialah tongkat untuk bertelekan padanya. Ada juga yang mengatakan bahwa artinya ialah, jika seseorang menyingkat satu surat Al-Qur’an dengan cara membaca satu atau dua ayat dari akhir surat tersebut. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa maksudnya ialah orang yang menyingkat shalatnya dengan cara mempercepat berdiri, ruku’, sujud dan hal-hal yang lainnya.

Hikmah dari larangan ini disebutkan di dalam hadits berikut ini.

0225

225 – وَفِي الْبُخَارِيِّ عَنْ عَائِشَةَ: أَنَّ ذَلِكَ فِعْلُ الْيَهُودِ فِي صَلَاتِهِمْ

225. Dalam shahih Al Bukhari dari Aisyah RA, “Bahwasanya tingkah laku seperti itu adalah tata cara orang Yahudi dalam mengerjakan shalat mereka.”

[shahih: Al Bukhari 3458, Ibnu Hajar menyebutkan secara makna]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Syarah Hadits

Kita telah dilarang untuk menyerupai mereka dalam segala hal. Jadi hikmah dari larangan tersebut bukanlah apa yang telah disebutkan oleh orang-orang bahwa hal itu adalah perbuatan setan, atau karena saat Iblis dikeluarkan dari surga ia bertingkah laku seperti itu, atau karena perbuatan itu adalah perbuatan orang-orang yang sombong, karena pendapat-pendapat ini hanyalah perkiraan semata, dan tentunya apa yang telah disampaikan oleh seorang shahabat lebih benar karena ia lebih tahu tentang sebab munculnya hadits tersebut, dan hadits tersebut bisa jadi adalah hadits marfu’. Jika demikian halnya, maka ia adalah pokok dari permasalahan, dan selanjutnya apa yang telah dicantumkan di dalam kitab Shahih, harus lebih dikedepankan dari pada atsar dari ucapan orang lain.

Ibnu Hajar menyebutkan hadits ini (hadits berkacak pinggang) dalam bab khusyu’ mengisyaratkan bahwa posisi berkacak pinggang bisa menghilangkan kekhusyu’an.

0226

226 – وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «إذَا قُدِّمَ الْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِهِ قَبْلَ أَنْ تُصَلُّوا الْمَغْرِبَ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

226. Dari Anas RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Jika makan malam telah disajikan maka mulailah dengannya, sebelum kalian mendirikan shalat Maghrib.” (Muttafaq alaih)

[Shahih: Al Bukhari 672 dan Muslim 577]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsif Hadits

Ada riwayat lain yang tidak mengkhususkan shalat Maghrib saja, namun berkenaan dengan semua shalat, kemudian maknanya dibatasi oleh hadits nomor ini berdasarkan kaidah yuhmalul muthlaq ‘alal muqayyad (hukum umum dibatasi atau dibawa ke hukum khusus).

Ada juga riwayat yang menyebutkan, “Jika makan malam telah diletakkan dan salah seorang dari kalian sedang berpuasa…”, namun riwayat ini tidak membatasi atau mempersempit makna hadits di atas, berdasarkan pemahaman bahwa penyebutan hukum khusus yang bersesuaian tidak mengharuskan pembatasan atau pengkhususan, dalam kata lain penyempitan makna.

Hadits ini menunjukkan wajibnya mendahulukan makan malam atas shalat Maghrib jika telah disediakan. Lalu jumhur ulama membawa hukumnya kepada hukum mandub. Sedangkan Ad-Dzahiriyah berpendapat bahwa hukumnya adalah wajib, sehingga shalat dianggap batal jika didahulukan atas makan malam yang telah siap, berdasarkan dzahir hadits di atas.

Hadits ini juga menunjukkan keharusan mendahulukan makan malam secara umum, baik orang tersebut merasa lapar atau tidak, baik orang tersebut mengkhawatirkan rusaknya makanan atau tidak, baik makanan tersebut makanan ringan atau makanan berat.

Di sana terdapat banyak penjelasan yang sebenarnya tidak berdasarkan kepada dalil apapun, dalam rangka menemukan illah suatu motivasi di balik perintah tersebut, kemudian ada dari mereka berkata, “Illahnya. ialah terganggunya konsentrasi orang yang sedang shalat karena keberadaan makanan tersebut, sehingga ia akan kehilangan kekhusyu’an.”

Namun ucapan ini tidak berdasarkan kepada dalil apapun, kecuali beberapa shahabat, yang Ibnu Abu Syaibah meriwayatkan dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas,

أَنَّهُمَا كَانَا يَأْكُلَانِ طَعَامًا وَفِي التَّنُّورِ شِوَاءٌ؛ فَأَرَادَ الْمُؤَذِّنُ أَنْ يُقِيمَ الصَّلَاةَ، فَقَالَ لَهُ ” ابْنُ عَبَّاسٍ “: لَا تَعْجَلْ، لَا نَقُومُ وَفِي أَنْفُسِنَا مِنْهُ شَيْءٌ ” وَفِي رِوَايَةٍ: ” لِئَلَّا يَعْرِضَ لَنَا فِي صَلَاتِنَا ”

“Bahwa keduanya sedang menyantap makanan dan di dalam perapian masih ada daging panggang, kemudian seorang muadzin hendak mengumandangkan adzan, maka Ibnu Abbas mencegahnya, “Janganlah tergesa-gesa, kami tidak akan berdiri (untuk mendirikan shalat) sedangkan di dalam hati kami ada keinginan kepadanya (daging tersebut).” Dalam riwayat lain disebutkan, “Agar daging tersebut tidak muncul dalam benak kami saat kami sedang mendirikan shalat.” [Mushanaf Ibnu Abi Syaibah 2/184]

Beliau juga meriwayatkan dari Al-Hasan bin Ali Radhiyallahu Anhuma, bahwasanya ia berkata,

الْعَشَاءُ قَبْلَ الصَّلَاةِ يُذْهِبُ النَّفْسَ اللَّوَّامَةَ

“Makan malam sebelum shalat akan menghilangkan hawa nafsu tercela.”

Riwayat-riwayat ini mengisyaratkan bahwa Illah dari perintah ini adalah apa yang telah mereka sebutkan di atas.

Demikianlah, jika waktu shalatnya masih lapang. Sedangkan apabila waktunya tinggal sedikit sehingga apabila makan malam didahulukan waktu shalat pun akan habis, maka dalam masalah ini ada beberapa pendapat.

Pendapat Pertama; Makan malam harus didahulukan, bahkan walaupun harus kehilangan kesempatan untuk menunaikan shalat pada waktunya, hal ini agar bisa mendirikan shalat dengan khusyu’. Pendapat ini adalah pendapat mereka yang mengatakan bahwa khusyu’ dalam shalat hukumnya wajib.

Pendapat Kedua; Shalat didahulukan untuk menjaga kehormatan waktu tersebut, dan inilah pendapat jumhur ulama.

Kemudian datangnya jamuan makan malam merupakan alasan syar’i untuk tidak mengikuti shalat berjamaah, bagi mereka yang mewajibkan shalat berjama’ah.

Ungkapan beliau, “Maka mulailah dengannya” bisa dipahami bahwa jika kedatangan waktu shalat saat seseorang sedang menyantap makanannya, maka hendaklah ia tidak berlama-lama, telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwasanya jika makan malamnya telah tiba dan beliau mendengar bacaan di dalam shalat, beliau tidak berdiri hingga menyelesaikan makannya.

Lalu hal-hal lain yang mengganggu konsentrasi diqiyaskan kepada makan, karena jika hal itu lebih penting ia harus didahulukan.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *