[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 59

02.04. BAB PEMBATAS (SUTRAH) ORANG YANG SEDANG SHALAT

0221

221 – وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «إذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنْ النَّاسِ، فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ، فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ ” فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ ”

221. Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Jika salah seorang dari kalian ke arah sesuatu yang membatasinya dari manusia (sutrah), kemudian ada orang yang ingin berlalu di hadapannya maka hendaklah ia mendorongnya (menolaknya), jika orang tersebut tetap bersikap keras maka hendaknya ia memeranginya karena sesungguhnya ia adalah setan.” (Muttafaq alaih) dalam riwayat lain disebutkan: “Sesungguhnya ada Qarin yang bersamanya.”

[Al Bukhari 509, Muslim 505, 506]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Jika salah seseorang dari kalian ke arah sesuatu yang membatasinya dan manusia (pada pembahasan yang lalu telah kita bahas seberapa ukurannya dan berapa jarak antara orang tersebut darinya) kemudian ada orangyang ingin berlalu di hadapannya, maka bendaklah ia mendorongnya (menolaknya) (zhahir hadits ini menunjukkan bahwa hal itu hukumnya wajib) jika orang tersebut tetap bersikeras maka hendaklah ia memeranginya (zhahir hadits ini menunjukkan bahwa hal itu hukumnya wajib juga) karena sesungguhnya ia adalah setan (ini adalah alasan perintah untuk memeranginya atau sebab yang mendorong orang tersebut untuk bersikeras, atau bisa jadi inii adalah alasan untuk kedua hal tersebut).

Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah melalui Muslim, “Sesungguhnya ada Qarin yang bersamanya (yaitu setan yang selalu menyertai manusia dan tidak pernah berpisah darinya, sebagaimana yang dijelaskan di dalam Al-Qamus).

Ungkapan Ibnu Hajar tersebut mengisyaratkan seakan-akan tambahan, “Sesungguhnya ada Qarin yang bersamanya” diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Said, namun saya tidak mendapatkanya di dalam Shahih Al-Bukhari, akan tetapi saya mendapatkannya di dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah.

Tafsir Hadits

Hadits ini bisa dipahami bahwa jika seseorang mengerjakan shalat tidak menggunakan sutrah, maka ia tidak boleh mendorong orang yang akan lewat dihadapannya.

Al-Qurthubi berkata, “Orang tersebut menolaknya dengan isyarat dan tolakan yang lembut, jika orang yang akan lewat tersebut tetap bersikeras maka ia boleh memeranginya, yaitu menolaknya dengan lebih keras lagi, dan para ulama telah berijma’ bahwa dalam memerangi orang tersebut tidak perlu menggunakan senjata, karena hal itu akan bertentangan dengan makna shalat yakni untuk terpaku kepada shalat, menyibukkan diri dengannya dan khusyu’ dalam menunaikannya.”

Beberapa kelompok berpendapat bahwa orang yang sedang mendirikan shalat tersebut boleh memeranginya dengan cara apa pun sesuai dengan zhahir hadits, sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa orang tersebut boleh memeranginya dengan sumpah serapah tidak sesuai dengan lafazh hadits di atas, dan hal ini didukung oleh apa yang telah dilakukan oleh Abu Said terhadap seorang pemuda yang hendak berlalu di hadapannya. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Shalih As-Samman, Ia berkata,

” رَأَيْت ” أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ ” فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ يُصَلِّي إلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنْ النَّاسِ، فَأَرَادَ شَابٌّ مِنْ ” بَنِي أَبِي الْمُعَيْطِ ” أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَدَفَعَهُ ” أَبُو سَعِيدٍ ” فِي صَدْرِهِ، فَنَظَرَ الشَّابُّ فَلَمْ يَجِدْ مَسَاغًا إلَّا بَيْنَ يَدَيْهِ، فَعَادَ لِيَجْتَازَ، فَدَفَعَهُ أَبُو سَعِيدٍ ” أَشَدَّ مِنْ الْأَوَّلِ ” الْحَدِيثَ.

‘Pada hari Jum’at saya melihat Abu Said Al-Khudri sedang mengerjakan, shalat ke arah sesuatu sebagai pembatasnya dari manusia (sutrah), lalu seorang pemuda dari Bani Abu Mu’aith ingin berlalu di hadapannya, maka Abu Said mendorong pemuda tersebut pada dadanya, kemudian pemuda melihat sekeliling, akan tetapi ia tidak mendapati jalan lain kecuali jalan itu, maka pemuda itu kembali ingin berlalu di hadapan Abu Said, maka ia msndorong pemuda tersebut dengan lebih keras lagi.” Al-Hadits.

Ada yang mengatakan bahwa orang tersebut hendaklah mendorongnya dengan lembut, jika tetap bersikeras maka ia boleh mendorongnya dengan lebih keras lagi, bahkan jika hal tersebut menyebabkan kematian seseorang yang akan berlalu itu ia tidak bersalah, karena syariat telah membolehkan untuk memeranginya.

Perintah dalam hadits tersebut walaupun zhahirnya menunjukkan kepada hukum wajib, namun An-Nawawi berkata, “Saya tidak mengetahui seorang ulama pun yang mengatakan bahwa hukum menolak ini adalah wajib, bahkan teman-teman kami dengan terang-terangan mengatakan bahwa perintah tersebut bermakna mandub, namun kemudian Ibnu Hajar menyampaikan bahwa Ahlu Zhahir berpendapat bahwa perintah tersebut adalah wajib.

Ungkapan beliau, “Dia adalah setan” menunjukkan bahwa tingkah laku orang tersebut berasal dari setan yang berkeinginan untuk menganggu orang yang sedang mendirikan shalat tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa diperbolehkan mengecap setan kepada orang yang berusaha untuk mengganggu orang yang sedang mendirikan shalat atau mengacaukannya dalam masalah agama, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman Allah Ta’ala,

{شَيَاطِينَ الإِنْسِ وَالْجِنِّ}

“…yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin..” (QS. Al-An’am: 112) maksud ayat tersebut ialah bahwa yang menyebabkan mereka melakukan tersebut adalah setan, dan hal ini didukung oleh hadits Mus­lim, “Sesungguhnya ada Qarin yang bersamanya.”

Kemudian para ulama berbeda pendapat dalam masalah hikmah diperintahkannya untuk mendorong atau menolaknya. Ada yang berkata bahwa hikmahnya Ialah untuk menyelamatkan orang yang akan lewat tersebut dari dosa, dan ada yang mengatakan baliwa hikmahnya ialah karena dengan berlalunya seseorang di hadapannya maka akan mengganggu shalatnya, dan inilah pendapat yang lebih kuat, karena kepentingan orang yang sedang mendirikan shalat dalam menjaga shalatnya lebih besar dari pada kepentingannya untuk menyelamatkan seseorang dari dosa.

Menurut saya, jika dikatakan bahwa hikmah dari perintah tersebut untuk keduanya maka tidaklah begitu aneh, karena ungkapan beliau, “Seandainya seseorang yang lewat di hadapan seseorang yang sedang menunaikan shalat tahu…” mengisyaratkan bahwa di antara hikmahnya ialah menyelamatkan orang tersebut dari dosa, sedangkan hikmah untuk menjaga kesempurnaan shalat orang yang sedang mengerjakan shalat diisyaratkan orang hadits yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Ibnu Umar,

لَوْ يَعْلَمُ الْمُصَلِّي مَا يَنْقُصُ مِنْ صَلَاتِهِ بِالْمُرُورِ بَيْنَ يَدَيْهِ مَا صَلَّى إلَّا إلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنْ النَّاسِ

“Seandainya seseorang yang sedang mengerjakan shalat mengetahui seberapa besar pahala yang berkurang akibat lewatnya seseorang di hadapannya, tentulah ia akan shalat ke arah sesuatu yang membatasiinya dari manusia (sutrah).”

Begitu pula Ibnu Abu Syaibah meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud,

إنَّ الْمُرُورَ بَيْنَ يَدَيْ الْمُصَلِّي يَقْطَعُ نِصْفَ صَلَاتِهِ

“Sesungguhnya berlalu di hadapan seseorang yang sedang mengerjakan shalat akan menghilangkan setengah dari shalatnya.”

Kedua hadits tersebut hukumnya marfu’ walaupunkeduanya mauquf. Hadits pertama berkenaan dengan orang yang mengerjakan shalat tanpa sutrah, sedangkan hadits kedua bersifat umum, baik menggunakan sutrah atau tidak, kemudian hadits yang umum dibawa ke makna hadits yang khusus.

Sedangkan orang yang telah menggunakan sutrah, maka berlalunya seseorang di hadapannya tidak akan mengurangi pahalanya sebagaimana yang dengan jelas telah disebutkan di dalam hadits di atas, dengan demikian perintah untuk mendorong orang yang akan lewat tersebut adalah untuk mengamalkan kaidah Inkarul Mungkar (mengingkari kemungkaran) karena perbuatan tersebut melanggar perintah agama, maka perintah tersebut dimulai dari yang ringan sebelum yang berat.

0222

222 – وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «إذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ شَيْئًا، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَنْصِبْ عَصًا، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَلْيَخُطَّ خَطًّا، ثُمَّ لَا يَضُرُّهُ مَنْ مَرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ» أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَابْنُ مَاجَهْ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ، وَلَمْ يُصِبْ مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ مُضْطَرِبٌ، بَلْ هُوَ حَسَنٌ

222. Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang dari kalian mendirikan shalat maka hendaklah ia meletakkan sesuatu di hadapannya, jika ia tidak mendapati sesuatu maka hendaklah ia mendirikan sebatang tongkat, jika tidak, maka hendaklah ia menggariskan satu garis, maka apa pun yang berlalu di hadapannya tidak akan membahayakannya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan tidak benar orang yang menganggapnya hadits mudhtarib, akan tetapi ia adalah hadits hasan)

[Dhaif: Dhaif Al Jami 569]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Disebutkan di dalam Mukhtashar As-Sunan, “Sufyan bin Uyainah berkata, “Kami tidak mendapatkan apa pun yang memperkuat hadits ini, dan hadits ini tidak diriwayatkan, kecuali melalui satu jalur ini.” Jika Ismail bin Umaiyyah menyampaikan hadits ini selalu bertanya, “Apakah kalian mempunyai sesuatu yang bisa memperkuat hadits ini?’ Dan As-Syafi’i telah mengisyaratkan bahwa hadits ini adalah hadits dhaif. Al-Baihaqi berkata, “Hadits ini boleh dipakai dalam hukum seperti ini, Insya Allah.”

Hadits ini menunjukkan bahwa sutrah bisa dibuat dari apa pun, dalam Mukhtashar As-Sunan disebutkan, “Sufyan bin Uyainah berkata, “Saya telah melihat Syuraik mendirikan shalat Ashar di satu lapangan lalu ia meletakkan pecinya di hadapannya.”

Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan hadits dari Ibnu Umar,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: كَانَ يَعْرِضُ رَاحِلَتَهُ فَيُصَلِّي إلَيْهَا»

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meletakkan hewan tunggangannya secara melintang di hadapannya lalu beliau mendirikan shalat ke arahnya.” [ Al Bukhari 507, Muslim 502]

Dan telah diterangkan bahwa jika seseorang tidak mendapatkan apa pun yang bisa digunakan sebagai sutrah, ia bisa mengumpulkan pasir atau bebatuan. Kemudian Ahmad menganjurkan agar garis yang digunakan untuk sutrah tersebut berbentuk melengkung seperti bulan sabit.

Lalu ungkapan beliau, “Apapun yang berlalu di hadapannya tidak akan membahayakannya”, mengisyaratkan bahwa jika orang tersebut tidak membuat sutrah apa pun yang berlalu di hadapannya akan membahayakannya, baik berkurangnya pahala shalatnya atau membatalkannya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits terdahulu bahwa ia akan memotong, walaupun kata-kata memotong tersebut diperselisihkan maknanya.

Hal ini berlaku jika orang tersebut mengerjakan shalat sendirian atau berlaku sebagai imam, tidak sebagai makmum, karena imamnya adalah sutrahnya atau bahwa sutrah imamnya adalah sutrah baginya sebagaimana yang telah kami jelaskan, yang mana Al-Bukhari dan Abu Dawud telah membuat bab khusus dalam masalah ini. At-Thabrani menyebutkan di dalam Al-Ausath dari hadits Anas secara marfu’,

«سُتْرَةُ الْإِمَامِ لِمَنْ خَلْفَهُ»

“Sutrah imam adalah sutrah untuk orangyang berada di belakangnya.” [Dhaif: Dhaif Al Jami’ 3250] Walaupun hadits tersebut adalah hadits dhaif.

Ketahuilah bahwa perintah dalam hadits ini bersifat umum, yakni perintah untuk menggunakan sutrah ini ditujukkan baik kepada orang yang mendirikan shalat di alam terbuka maupun dalam ruang tertutup.

Telah diriwayatkan,

«أَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: كَانَ إذَا صَلَّى إلَى جِدَارٍ جَعَلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ قَدْرَ مَمَرِّ الشَّاةِ»

“Bahwasanya jika beliau shalat ke arah suatu tembok beliau membuat jarak antara dirinya dan tembok kira-kira selebar jarak yang mungkin untuk dilewati seekor kambing.” [Al Bukhari 496, Muslim 508]

Artinya beliau tidak terlalu jauh dari tembok tersebut, bahkan beliau memerintahkan untuk mendekat ke arah sutrah, dan jika beliau mendirikan shalat ke arah satu tiang, sebatang ranting atau ke arah satu pohon beliau menjadikannya di sisi kanan atau sisi kiri, tidak berada tepat di tengahnya, dan dalam perjalanan biasanya beliau menancapkan pedang atau pisau kecil, kemudian beliau mendirikan shalat ke arahnya, maka benda tersebut menjadi sutrahnya, dan kadang beliau meletakkan hewan tunggangannya secara melintang di hadapannya kemudian mendirikan shalat ke arahnya. Berpijak kepada hal ini, kemudian As-Syafi’iyah mengqiyaskan hamparan sajadah, dengan satu persamaan bahwa kedua-duanya memberitahu orang yang sedang berlalu akan keberadaannya, dan ini adalah pendapat yang benar.

0223

223 – وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «لَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ شَيْءٌ، وَادْرَءُوا مَا اسْتَطَعْتُمْ» أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد، وَفِي سَنَدِهِ ضَعْفٌ

223. Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah SAW bersabda: “Shalat tidak akan terpotong oleh apa pun, dan hindarilah semampumu.” (HR. Abu Daud dan dalam sanadnya lemah)

[Dhaif: Abu Daud 719]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Dalam Mukhtashar Sunan disebutkan bahwa di dalam sanadnya terdapat seseorang bernama Mujalid, yakni Ibnu Said bin Umair Al-Hamadani Al-Kufi. Ia telah dikomentari oleh banyak ulama. Muslim telah meriwayatkan satu hadits melalui orang tersebut akan tetapi disertai oleh rekan-rekan As-Sya’bi. Ad-Daraquthni juga telah meriwayatkan satu hadits melalui orang tersebut dari Anas dan Abu Umamah, At-Thabrani telah meriwayatkan hadits melalui orang tersebut dari Jabir, namun sanadnya lemah (dhaif).

Tafsir Hadits

Hadits ini bertentangan dengan hadits Abu Dzar, yang menjelaskan bahwa shalat seseorang yang tidak menggunakan sutrah bisa terpotong oleh lewatnya wanita, keledai, dan anjing hitam.

Karena pertentangan kedua hadits di atas, maka para ulama berbeda pandangan dalam masalah ini, lalu ada yang mengatakan bahwa maksud hadits Abu Dzar ialah mengurangi pahalanya karena hati orang tersebut akan terganggu dari kekhusyuannya dikarenakan hal yang lewat tersebut, sedangkan maksud tidak terpotong di dalam hadits Abu Said ini ialah tidak batal, yakni tidak ada apa pun yang bisa membatalkan shalat seseorang, walaupun ada hal-hal yang bisa mengurangi pahalanya.

Kemudian ada ulama lain yang berpendapat bahwa hadits Abu Said menghapus hukum hadits Abu Dzar, akan tetapi pendapat ini lemah, karena tidak boleh memberlakukan nasakh (penghapusan hukum) jika kedua dalil tersebut bisa dikompromikan, dan tidak boleh memberlakukan hukum nasakh kecuali jika telah diketahui tanggal atau waktu keluarnya kedua hadits tersebut, dan tidak ada yang tahu hadits yang manakah yang lebih dahulu keluar. Apabila tidak mungkin memberlakukan hukum nasakh maka harus memberlakukan kaidah tarjih (mengamalkan dalil yang lebih kuat), dan jelas bahwa hadits Abu Dzar lebih kuat, karena ia diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, sedangkan hadits Abu Said adalah hadits dhaif.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *