[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 57

02.04 BAB PEMBATAS (SUTRAH) ORANG YANG SEDANG SHALAT 01

0215

215 – عَنْ أَبِي جُهَيْمِ بْنِ الْحَارِثِ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيْ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ، وَوَقَعَ فِي الْبَزَّارِ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ ” أَرْبَعِينَ خَرِيفًا ”

215. Dari Abu Juhaim bin Al Harits RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Seandainya seseorang yang lewat di hadapan seseorang yang sedang menunaikan shalat mengetahui seberapa dosa yang ia tanggung, tentulah jika ia berhenti selama empat puluh lebih baik baginya daripada harus lewat di hadapan orang tersebut.” (Muttafaq alaih, dan ini lafazh Al Bukhari) disebutkan dalam riwayat Al Bazzar dari jalur lain, “Empat puluh musim gugur.”

[Al Bukhari 510, Muslim 507; Al Bazzar 9/239, para perawinya adalah perawi kitab shahih]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Abu Juhaim yakni Abdullah bin Juhaim, dan ada yang mengatakan bahwa namanya ialah Abdullah bin Al-Harits bin As-Shammah Al-Anshari. Ia meriwayatkan dua hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Kedua hadits tersebut ialah hadits ini dan hadits yang berkenaan dengan mengucapkan salam kepada orang yang sedang buang air kecil. Dalam hal ini, Abu Dawud menguatkan bahwa perawi hadits tersebut adalah Abu Al-Juhaim bin Al-Harits bin As-Shammah. Namun ada yang mengatakan bahwa perawi kedua hadits di atas adalah dua orang yang berbeda. Perawi hadits mengucapkan salam kepada orang yang sedang buang air kecil adalah Abdullah bin Al-Harits, sedangkan perawi hadits nomor ini adalah Abdullah bin Juhaim.

Penjelasan Kalimat

“Seandainya seseorang yang lewat di hadapan seseorang yang sedang menunaikan shalat mengetahui seberapa dosa yang ia tanggung (lafazh مِنْ الْإِثْمِ tidak terdapat dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Ibnu Hajar menjelaskan di dalam Fath Al-Bari, “Sesungguhnya lafazh tersebut tidak terdapat di dalam riwayat Al-Bukhari kecuali dalam riwayat beberapa perawi, yang mana para perawi tersebut tidak dianggap sebagai ulama.” Selanjutnya ia berkata, “Dan merupakan aib bagi At-Thabari yang menisbahkannya kepada Al-Bukhari dalam kitab Al-Ahkaam, begitu pula ia merupakan aib bagi pengarang kitab Al-‘Umdah yang menisbahkannya kepada Al-Bukhari dan Muslim.”

Akan tetapi, anehnya di sini Ibnu Hajar menisbahkannya kepada Al-Bukhari dan Muslim, dengan begitu ia telah jatuh ke dalam permasalahan yang menimpa pengarang kitab Al-‘Umdah).

Lafazh, “Tentulah jika ia berhenti selama empat puluh lebih baik baginya dari pada harus lewat di hadapan orang tersebut (dalam hadits di atas tidak dijelaskan maksud empat puluh, yang kemudian dijelaskan di dalam hadits Al-Bazzar dari perawi yang sama dengan sanad selain sanad Al-Bukhari dan Muslim) empat puluh musim gugur (yakni empat puluh tahun).”

Tafsif Hadits

Hadits ini merupakan dalil atas haramnya berlalu di hadapan seseorang yang sedang mengerjakan shalat, yaitu antara tempat ia meletakkan keningnya saat sujud hingga tempat ia menapakkan kedua telapak kakinya dan ada yang mengatakan batasan yang lain.

Larangan ini bersifat umum untuk setiap orang yang sedang menunaikan shalat, baik ia mengerjakan shalat wajib atau shalat sunnah, ia shalat sebagai imam atau sedang mengerjakan shalat sendirian.

Ada yang mengatakan bahwa larangan ini berkenaan khusus dengan orang yang sedang menjadi imam atau sendirian, tidak berkenaan dengan makmum, yang mana seseorang yang lewat di hadapannya tidak dipermasalahkan, karena sutrahnya (batasnya) adalah sutrah imamnya, atau imamnya adalah sutrahnya. Pendapat ini dibantah dengan jawaban bahwa tujuan disyariatkannya sutrah adalah untuk menghilangkan kondisi yang tidak mengenakkan dari orang yang sedang mendirikan shalat, bukan dari orang yang akan lewat. Kemudian zhahir larangan ini khusus untuk mereka yang berlalu atau lewat, tidak berkaitan dengan orang yang sengaja berdiri, duduk atau tiduran di hadapan orang yang sedang mengerjakan shalat. Akan tetapi, jika kita menilik alasan dari larangan tersebut, yaitu adanya gangguan terhadap orang yang sedang mengerjakan shalat maka berdiri, duduk, atau tiduran semakna dengan orang yang lewat di hadapannya.

0216

216 – وَعَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: «سُئِلَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ – عَنْ سُتْرَةِ الْمُصَلِّي. فَقَالَ: مِثْلُ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ» أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

216. Dari Aisyah RA ia berkata, “Pada perang Tabuk, Rasulullah SAW ditanya tentang sutrah orang yang sedang mendirikan shalat, maka beliau menjawab, “Bagaikan ujung akhir pelana.” (HR. Muslim)

[Muslim 500]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsif Hadits

Hadits ini menganjurkan orang yang sedang mendirikan shalat untuk membuat sutrah, paling tidak seperti ujung akhir sebuah pelana yang kira-kira setinggi dua per tiga hasta, dan hal itu boleh menggunakan benda apa pun yang ia dirikan di hadapannya.

Menurut para ulama, hikmah dari anjuran untuk membuat sutrah ini ialah untuk membatasi pandangan dari apa-apa yang ada di seberang sutrah dan menjadi tanda bagi orang yang akan lewat di dekatnya. Berdasarkan hal ini maka sutrah berupa garis saja tidak cukup, walaupun hal itu telah disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, akan tetapi hadits tersebut dhaif dan muththarib, namun Ibnu Hajar menghasankannya dan membantah pendapat yang mengatakan bahwa hadits tersebut adalah hadits muththarib. Ahmad berpendapat dengan hadits ini, ia berkata, “Garis cukup sebagai sutrah.”

Hendaklah otang yang sedang mendirikan shalat tersebut mendekat ke arah sutrahnya, sehingga jarak antara dirinya dan sutrah tersebut tidak lebih dari tiga hasta, jika orang tersebut tidak mendapatkan batang kayu, maka ia bisa mengumpulkan bebatuan, debu atau barang bawaannya.

An-Nawawi berkata, “Para ulama menganjurkan untuk mendekat ke arah sutrahnya, sekadar bisa untuk sujud saja, begitu pula jarak antara barisan dalam shalat.”

Anjuran untuk mendekat ke arah sutrah beserta hikmahnya telah dijelaskan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya dari Sahl bin Abu Hatsamah secara marfu’

«إذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إلَى سُتْرَةٍ فَلْيَدْنُ مِنْهَا لَا يَقْطَعُ الشَّيْطَانُ عَلَيْهِ صَلَاتَهُ»

“Jika seseorang dari kalian sedang mengerjakan shalat ke arah sutrahnya maka hendaklah ia mendekat kepadanya, agar setan tidak bisa memotong sbalatnya, [Shahih: Abu Daud 695]

dalam hadits keempat dalam bab ini akan membahas hal senada.

Akan tetapi pendapat yang mengatakan bahwa ukuran minimal satu sutrah adalah setinggi ujung akhir pelana dibantah oleh hadits berikut ini.

0217

217 – وَعَنْ سَبْرَةَ بْنِ مَعْبَدٍ الْجُهَنِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «لِيَسْتَتِرْ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ وَلَوْ بِسَهْمٍ» أَخْرَجَهُ الْحَاكِمُ.

217. Dari Sabrah bin Ma’bad Al Juhani ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Hendaklah seorang dari kalian membuat sutrah dalam shalatnya walaupun hanya dengan anak panah.”

[Dhaif: Dhaif Al Jami’ 801] [1]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Biografi Perawi

Sabrah bin Ma’bad Al-Juhani tinggal di Madinah dan ia termasuk orang-orang Bashrah.

Tafsir Hadits

Hadits ini memerintahkan untuk membuat sutrah, yang kemudian jumhur ulama membawa perintah tersebut kepada makna mandub atau sunah, yang faedahnya telah Anda ketahui bahwa dengan keberadaannya -sutrah-, maka shalat seseorang tidak akan terpotong oleh apapun. Sedangkan apabila tidak membuat sutrah, maka bisa jadi shalatnya akan terpotong oleh hal-hal yang akan kami sebutkan mendatang.

Ungkapan beliau, “…walaupun hanya dengan anak panah” menunjukkan bahwa sutrah tersebut bisa tebal maupun tipis dan tidak dibatasi oleh bentuk ujung akhir pelana.

Kemudian para ulama menganjurkan sebaiknya orang tersebut membuat sutrah agak ke sebelah kanan atau kirinya tidak berada tepat di depannya.

__________________

[1] Peringatan: Pada awalnya syaikh Al-Albani mendhaifkan hadits ini dalam Dhaif Al Jami 801, tetapi kemudian beliau menshahihkannya dalam Silsilah Hadits Shahih 2783, lihat Taraja’at Al-Albani, bab dari dhaif ke shahih, no 85. Ebook editor]

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *