[ UIC 10.4 ] Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram 58

02.04 BAB PEMBATAS (SUTRAH) ORANG YANG SEDANG SHALAT 02

0218

218 – وَعَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «يَقْطَعُ صَلَاةَ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ – إذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَ يَدَيْهِ مِثْلُ مُؤَخِّرَةِ الرَّحْلِ – الْمَرْأَةُ، وَالْحِمَارُ، وَالْكَلْبُ الْأَسْوَدُ – الْحَدِيثُ» وَفِيهِ «الْكَلْبُ الْأَسْوَدُ شَيْطَانٌ» أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

218. Dari Abu Dzar RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “akan memotong shalat seorang lelaki muslim –apabila di hadapannya tidak terdapat sesuatu seperti ujung akhir pelana- wanita, keledai dan anjing hitam.” (Al hadits) dalam hadits tersebut juga disebutkan, “anjing hitam adalah setan.” (HR. Muslim)

[shahih: Muslim 510]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Penjelasan Kalimat

“Akan memotong shalat seorang lelaki muslim (yakni merusaknya atau mengurangi pahalanya) apabila di hadapannya tidak terdapat sesuatu seperti ujung akhir pelana (ini sebagai contoh saja, karena sebagaimana yang telah Anda ketahui bahwa anak panah bisa juga digunakan sebagai sutrah) wanita (maksudnya ialah lewatnya seorang wanita di hadapannya akan memotong shalatnya) keledai dan anjing hitam. Al-Hadits (yakni selengkapnya hadits tersebut. Yang kelanjutannya ialah, “Saya bertanya, “Apa bedanya warna hitam dari warna merah, kuning atau putih?” Ia menjawab, “Wahai anak saudaraku, saya telah menanyakan hal serupa kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian beliau bersabda,) “Anjing hitam adalah setan.”

Tafsir Hadits

Hadits ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah baik lebih ringkas maupun lebih panjang.

Hadits ini menunjukkan bahwa shalat seseorang yang tidak menggunakan sutrah akan terpotong oleh lewatnya hal-hal di atas, yang secara zhahir maksud terpotong di sini ialah batal.

Kemudian para ulama berbeda pendapat dalam hal mengamalkan hadits di atas, lalu ada yang berkata bahwa yang bisa memotong shalat seseorang ialah wanita dan anjing hitam saja, sedangkan keledai tidak memotongnya, berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas dalam masalah tersebut, “Bahwasanya beliau berlalu di hadapan shaf atau barisan shalat dengan keledai, akan tetapi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak mengulangi shalatnya dan tidak memerintahkan para shahabat untuk mengulangi shalatnya.” HR. Al-Bukhari dan Muslim, lalu para ulama tersebut memakai hadits ini sebagai batasan atau penjelas dari hadits nomor ini.

Ahmad berkata, “Yang memotong shalat seseorang ialah anjing hitam saja, sedangkan keledai tidak memotong shalat tersebut berdasarkan hadits Ibnu Abbas di atas, sedangkan wanita juga tidak memotong shalat berdasarkan hadits dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, bahwasanya beliau berkata, “Suatu malam Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang mengerjakan shalat, sedangkan Aisyah berbaring di arah kiblatnya, ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hendak sujud beliau menggamit kaki Aisyah maka ia menekuk kedua kakinya dan jika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdiri, beliau menyelonjorkan kakinya kembali.”

Dengan begitu, seandainya lewatnya seorang wanita memotong shalat seseorang tentulah berbaringnya Aisyah di hadapan beliau akan memotong shalatnya.

Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa shalat tersebut tidak akan terpotong atau batal oleh sesuatu apa pun. Mereka mengatakan bahwa maksud hadits tersebut adalah berkurangnya pahala, bukan berarti batal, karena hati orang tersebut akan tersibukkan oleh sesuatu yang lewat tersebut. Dan ada di antara mereka yang mengatakan bahwa hadits ini dimansukh (dihapus hukumnya) dengan hadits Abu Sa’id, “Shalat tidak akan terpotong oleh sesuatupun.” Hadits ini akan dibicarakan mendatang.

Ada hadits lain yang berbicara dalam masalah ini, “Bahwasanya shalat terpotong oleh orang Yahudi, orang Nashrani, orang Majusi dan babi.” Akan tetapi hadits ini dhaif, ia diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Ibnu Abbas, lalu Abu Dawud mendhaifkannya.

0219

219 – وَلَهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ نَحْوُهُ دُونَ الْكَلْبِ

219. Darinya juga, melalui Abu Hurairah RA diriwayatkan hadits serupa tanpa menyebutkan anjing.

[Shahih: Muslim 511]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsif Hadits

Demikianlah yang tertulis di dalam Bulugh Al-Maram, akan tetapi ketika saya membaca hadits tersebut saya dapati dalam riwayat Muslim ada lafazh anjing juga,

«يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْمَرْأَةُ وَالْحِمَارُ وَالْكَلْبُ، وَيَقِي مِنْ ذَلِكَ مِثْلُ مُؤَخِّرَةِ الرَّحْلِ»

“Hal-hal berikut akan memotong shalat, yaitu wanita, keledai dan anjing, dan hal itu bisa dihindari dengan sesuatu seperti ujung akhir pelana.”

0220

220 -[وَلِأَبِي دَاوُد، وَالنَّسَائِيُّ، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ نَحْوَهُ، دُونَ آخِرِهِ]

220. Dari Abu Daud dan An Nasa’i melalui Ibnu Abbas diriwayatkan hadits serupa, tanpa menyebutkan akhirnya. Sedangkan lafazh wanita dikhususkan bagi yang sedang haidh.

[Shahih: Abu Daud 703]

ـــــــــــــــــــــــــــــ

[سبل السلام]

Tafsir Hadits

Dalam riwayat Abu Dawud dari Syu’bah disebutkan, “Qatadah memberitahu kami, ia berkata, ‘Saya telah mendengar Jabir bin Zaid meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas -Syu’bah memarfu’kannya- ia berkata,

«يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْمَرْأَةُ الْحَائِضُ وَالْكَلْبُ»

“Wanita yang sedang haid dan anjing akan memotong shalat.” HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah, selain Abu Dawud.

Lafazh, ‘tanpa menyebutkan akhirnya’, yakni tidak menyebutkan tambahan yang terdapat dalam hadits Abu Hurairah dalam riwayat Mus­lim, “dan hal itu bisa dihindari dengan sesuatu seperti ujung akhir pelana”, dalam hal ini Ibnu Hajar telah menggunakan kata ganti -nya- walaupun ia belum sebutkan apa yang ia maksud, akan tetapi pastilah yang ia maksud adalah akhir dari hadits Abu Hurairah bukan akhir dari hadits Abu Dzar, karena kata ganti selalu kembali kepada yang paling dekat.

Kemudian saya memeriksa Sunan Abu Dawud, ternyata lafazhnya adalah, “Wanita yang sedang haidh dan anjing akan memotong shalat”, dengan demikian bisa juga yang beliau maksud tanpa akhirannya di atas adalah tanpa akhiran hadits Abu Dzar, yakni “Anjing hitam adalah setan.” Karena ia telah menyebutkan lafazh hadits Abu Dzar tanpa menyebutkan lafazh hadits Abu Hurairah, walaupun tetap tidak menutup kemungkinan kembali kata ganti -nya- kepada kata ganti hadits Abu Hurairah. Wallahu A’lam.

Karena hadits ini adalah hadits shahih, maka kata-kata ‘wanita’ pada hadits sebelumnya harus dibatasi dengan kata-kata ‘wanita haidh’, berdasarkan kaidah ‘membawa yang muthlaq kepada yang muqayyad, dengan demikian wanita yang berlalu tidak akan memotong shalat seseorang kecuali jika ia sedang haidh, sebagaimana kata-kata ‘anjing’ dibatasi dengan warna hitam pada beberapa hadits. Sehingga anjing yang berlalu tidak akan memotong shalat seseorang kecuali jika ia berwarna hitam. Jadi bisa disimpulkan bahwa yang berlaku dalam hukum ini hanyalah wanita yang sedang haidh atau anjing yang berwarna hitam berdasarkan kaidah ‘Hamlul muthlaq ‘alal muqayyad’.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

Download Sumber

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *